
Kehamilan Shania memasuki bulan ke lima. Sudah tak ada lagi drama mual, muntal dan marah. Emosi Shania saat ini sudah stabil, ia sudah terlihat lebih mantap menjadi sosok seorang ibu karena sifat penyayangnya tak pernah berubah.
Pagi ini Shania siap ke kampus, walaupun membulat seperti bola basket Shania tetap melakukan aktifitasnya seperti sebelum hamil. Ia juga rajin mengecek toko rotinya, memasak untuk makan siang Fahri dan mengantarkannya ke kantor. Sebenarnya Fahri sudah melarangnya melakukan semua aktifitas itu. Tapi Shania tetaplah Shania yang keras kepala. Ia tak bisa dicegah selagi ia mampu.
"Huh.... huh... huh...." Shania mengatur nafasnya. Semenjak hamil ia lebih sering ngos-ngosan, mungkin karena energinya harus dibagi dua.
"Ya ampun bumil lo harus hati-hati" Teriak Devi. Ia melihat sahabatnya terduduk dibangku taman kampus dengan menyeka keringat. Sungguh Devi tak tega.
Shania tersenyum dengan kekhawatiran Devi tapi tetap dengan nafas yang naik turun.
"Aku baik-baik aja. memang orang hamil seperti itu Dev"
"Tapi aku tak tega. Kenapa kamu tidak mengambil cuti aja sih. Suami kamu berperan penting di kampus bisa kan minta dia untuk mengajukan surat izin. Ahhh aku tak tega"
" Aku baik-baik saja, oke! ke kelas yuk!"
Shania menarik tangan Devi membawanya ke kelas. Ia faham kekhawatiran sahabatnya itu. Dulu saat awal hamil Fahri pun lebih posesif jadi ia tak menyalahkan sahabatnya itu.
Selama pembelajaran dikelas Shania sangat menikmati seperti dulu sebelum ia hamil. Ahhh rindu masa-masa itu saat ia bisa hang out bareng teman-temannya.
"Pulang sama siapa Shan?"
"Oh em... naik taksi pak"
Dosen muda tampan dua tahun diatas usia Fahri itu mendekati Shania yang sedang bersiap pulang. Devi pamit pulang dulu karena ada saudaranya yang mendadak sakit. Sedangkan yang lain sudah tak ada disana, hanya ada dirinya dan pak Arman.
Shania sangat tak nyaman dengan situasi ini. Ia merasa pak Arman ada maksud terselubung padanya. Yaahhh meskipun tak boleh suudhon tapi ia sudah merasa yang aneh.
"Mau pulang bareng saya? kita searah kan"
Ahhh orang ini! Apa dia tak tahu dalam perut ini ada benihnya kak Fahri. Perut sudah buncit masih saja digoda, batin Shania.
"Tak perlu pak saya mau ke kantor suami saya. Mohon maaf" Shania ngibrit meninggalkan pak Arman, ia tak ingin menimbulkan masalah lain yang merugikan dirinya, pak Arman juga janin dalam perutnya.
"Alhamdulillah sudah gak ada"
"Siapa yang gak ada yang?"
__ADS_1
Hah! Shania kaget, di depannya sudah ada Fahri. Pria itu tampak khawatir dengan ucapan Shania. Tapi ia berusaha menutupi.
"Tak apa bi. Kamu kenapa ada disini?"
"Memang tak boleh ya suaminya kesini?" Tanya Fahri sambil cemberut, Shania tertawa. Semenjak beberapa minggu lalu Fahri sering merajuk dan kadang mual dipagu hari. Apa mungkin rasa sakit ini dipindah oleh tuhan padanya.
"Bukan begitu yang, kan aku hanya bertanya ihh" Shania mencubit lengah kekar dibalik jas itu. Fahri pura-pura mengadu kesakitan.
"Pulang yuk! " Aja Shania, Fahri pun menggandeng tangan Shania.
Ahhh! Seisi kampus ricuh melihat keuwuwan mereka. Para cewek asyik menggosipkan Shania karena merasa iri mempunyai suami tampan dan mapan. Sedang para cowok menginginkan posisi Fahri yang didekap Shania.
***
"Halo Fahri junior sedang apa kau didalam?" Fahri mendekatkan telinganya ke perut Shania sambil tangannya terus mengusap. Sesekali ia mencium perut itu gemas.
"Aku sedang menunggu martabak telur bi" Jawab Shania dengan suara menyerupai bayi seolah baby itu yang mengatakan.
"Sayang ngidam martabak telur?"
"Kalau kamu mau membelikan dengan senang hati aku akan memakannya" Jawab Shania terkekeh.
"Tunggu rumah yang! aku akan membelikannya"
"Yeesss" Ucap Shania pelan.
Sambil menunggu sang suami Shania mengambil mushafnya. Ia rindu berkomunikasi dengan sang pencipta. Jalan terbaik baginya bersyukur atas apa yang Allah berikan padanya adalah dengan memurojaah qurannya. Segala yang ia inginkan selalu Allah wujudkan, suami tampan dan mapan juga seorang anak yang lucu walaupun bukan anak kandungnya juga kehadiran baby dalam perutnya. Ahhh sungguh sempurna nikmat yang ia dapat.
Drtt...
Drttt....
Drttt....
"Assalamualaikum ma"
"Waalaikumsalam nak. Kapan kamu akan berkunjung ke rumah. Mama rindu sekali padamu. Lupa ya punya mama setelah hamil ahhh"
__ADS_1
"Ya ampun mama enggak kayak gitu. Aku juga rindu pada mama. Emmm nunggu kak Fahri ya kita kesana sama Cici juga kok"
"Baiklah! jangan bohongin mama lo"
Mereka mengakhiri teleponnya setelah membahas acara untuk 7 bulanan. Rencananya acara itu akan diadakan dirumah mama Hamidah karena memang acara 4 bulanan sudah diadakan bersama anak panti.
"Assalamualaikum yang ini mar..."
Ahhhh Fahri tersenyum, ia melihat istrinya tertidur di sofa dengan memeluk qurannya. Mungkin ia terlalu lama diluar hingga Shania lelah menunggu.
"Mama mana pa" Teriak Cici. Fahri mendekatkan jari telunjuknya dibibir mengisyaratkan untuk diam. Cici hanya ber O dan mengangguk.
Ia mengambil quran itu dari pelukan Shania. Niatnya ingin memindahkan anaknya.
"Hmmm" Shania bergumam. Ia membuka mata dan melihat pria itu. Senyum terukir dan langsung melayangkan ciuman pada pria yanh rela meluangkan waktu untuk dirinya.
Fahri menenteng kantong plastik warna putih dan menunjukkan pada Shania dengan senyum " Ini " Ucapnya.
Shania tersenyum dan langsung menarik dari Fahri, ia sangat mencintai pria romantis itu.
" Terima kasih bi" Shania langsung mencomot potongan martabak telur itu. Ahhh mantap.
"Enak gak? aku mau dong" Fahri memajukan mulutnya minta disuapi. Dengan senang hati ia memasukkan bekas gigitnya pada Fahri.
"Enak bi?"
"Enak banget apalagi bekas gigitannya kamu. Ahhh mantap"
Shania terkekeh dengan kelakuan Fahri. Mereka pun menghabiskan satu kotak martabak hanya berdua sambil diselingi tawa.
Cici datang dengan raut muka jutek. Ia kesal karena ternyata dari tadi memanggil papanya tapi tak dihiraukan.
"Ahhh papa mama" Teriak bocah itu. Cici sudah berdiri disamping dua orang kasmaran itu.
"Aku dicuekin"
Haii maaf baru up✌ hpnya lagi eror.
__ADS_1
love you 😚😙
jangan lupa like, koment dan vote yaaa