Surga Baruku

Surga Baruku
21


__ADS_3

Shania dan Cici pergi menemui anak panti lain. Tinggallah Fahri dan Zizah disana, mereka saling diam. Bukan karena canggung, tapi lebih tepatnya Fahri malas bertemu Zizah sedangkan Zizah entah harus mengatakan apa.


"Gi... gimana kabar kakak?" ia sangat gugup. Kepalanya tertunduk sejak tadi dan tak berani menatapnya.


"Aku baik. Permisi aku mau ke Cici dan Shania" Fahri berlalu di depan Zizah. Ia matanya hendak keluar. Hatinya sakit diacuhkan oleh pria yang sudah ia cintai sejak lama itu. Zizah sadar kalau dulu perbuatannya salah. Tapi dengan sikapnya yang baik sekarang ini sudah menunjukkan kalau ia sudah berubah dan tubuhlah perasaan itu pada Fahri. Bahkan ia pergi ke Mesir untuk menghilangkan perasaanya, agar ia lupa cara mencintai Fahri. Tapi entahlah, perasaan itu masih saja bersemayan dihati.


"Sebegitu buruknya aku?" tanyanya pada diri sendiri. Air matanya sudah bergenang dipelupuk.


"Kak Fahri, mana Zizah?" Shania mencari temannya itu disekitar Fahri, tapi tak ada. Fahri hanya mengangkat bahu tak peduli.


Shania mulai curiga, ia merasa ada yang tidak beres antaranya dengan Zizah. Shania menatap Fahri lekat tapi Fahri seolah tak peduli dan pura-pura asyik dengan bocah-bocah itu.


Shania berdiri. Ia mencari keberadaan Zizah. Fahri yang tau Shania pergi hanya diam, ia tak mau Shania tau masa lalunya.


"Sebelum ia tau masa lalu ku aku harus menyatakan perasaan ini. Entah diterima ataupun tidak. Aku tak mau Zizah mengacaukan semuanya." gumam Fahri dalam hati.


"Zizah kau disini rupanya. Yuk kesana" Ia mengajak Zizah berkumpul lagi. Ia berusaha membuang pikiran negatifnya. Toh itu masalah mereka. Shania tak berhak ikut campur.


Zizah menatap jam di tangannya.


"Sorry Shan. kayaknya gue harus balik sekarang soalnya udah ada janji sama temen"


"Yaudah yuk pulang. Ini juga udah sore"


Mereka pergi menemui bu Wiji dan mohon pamit. Sebelum keluar Shania mendatangi Cici. Ia mau pamit pulang pada bocah gembul itu.


"Sayang kakak pulang dulu ya. Kamu harus pinter ya " pesan Shania. Cici menatapnya dan mengangguk. Shania berdiri dan berpamitan pada Fahri.


"kak aku pulang dulu. Assalamualaikum"


"Aku juga pamit kak. Assalamualaikum" sambung Zizah.


"Waalaikum salam. hati-hati di jalan"


Shania melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak ada percakapan antara mereka. Sesekali Shania melirik Zizah, ia sedang melamun entah memikirkan apa.


Sesampainya didepan rumah Zizah, Shania izin tak mampir karena ia harus segera sampai rumah.


Didalam mobil tak henti-hentinya pikiran Shania melayang entah memikirkan apa. Ia ingin tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh Zizah dan Fahri. Tapi disisi lain ia juga tak mungkin ikut campur.


"Ahhhh...." ia mengendus kesal pada dirinya sendiri.


Sekarang sudah memasuki waktu sholat Magrib. Shania yang baru saja sampai rumah langsung menuju kamarnya. Ia melihat mamanya sedang repot didapur dengan pembantu.

__ADS_1


Selepas sholat Shania membuka mushafnya. Ia ingin bermunajat pada sang Ilahi, memohon ampun atas dosa dan semua kesalahannya.


Drttt....


Drtttt...


Drtttt ...


ponsel milik Shania berbunyi. Ia melepas mukenah dan pindah keatas kasur. Ia mengangkat telepon itu.


"Assalamualaikum, ada apa kak?" Tanpa basa-basi lagi. Ia sedikit kesal pada Fahri karena membuat sahabatnya diam dan sakit hati. Entah apa masalahnya tapi selama ini Zizah tak pernah mengeluh tentang kak Fahri. Mungkin saja pertemuan pertama mereka tadi kak Fahri sudah menyinggungnya.


"Waalaikum salam" jawabnya pelan.


"Nah ketahuan nih kalau habis buat salah, jawab Salamnya aja gak keras" gerutu Shania dalam hati.


"Aduhhhh kenapa aku deg-degan gini. Masih jawab salam juga ahhhh...." gerutu Fahri disudut lain. Ia bingung seperti anak muda yang akan menyatakan cinta.


Lama ia tak mengatakan apapun, karena memang hatinya masih tak karuhan.


"Ada apa sih,kak? Cepet deh ngomong" kata Shania sedikit keras. Ia benar-benar dengan Fahri, ia merasa Fahri tidak gantleman dan menghadapi masalah dengan Zizah.


"Gini Shan.... Emmm" Gagal lagi. Ahhh ia mengutuk dirinya yang terkesan bodoh.


"Aku sudah ada didepan rumah. Cepat bukakan pintu tutt..." Fahri mematikan telepon secara sepihak. Ia sangat grogi bertemu Shania kali ini. Antara takut ditolak dan... Entahlah, semoga saja.


Dengan rasa malas Shania meraih kerudung instan. Ia mengenakannya dan sedikit bercermin. Setelah dirasa sudah rapi ia berjalan turun.


Dalam hatinya ia kesal, mengapa Fahri tak langsung masuk saja. Bilang permisi pada pak satpam. Ahhhh menyebalkan.


"Pak biarkan mobil putih itu masuk" kata Shania pada satpam dirumahnya.


Mobil putih bersih dan kokoh milik Fahri masuk kedalam halaman rumah Shania. Kemudian ia turun dan berjalan kearah Shania.


Fahri terlihat gugup, raut mukanya tegang. Shania sudah menduga kalau ia akan mengakui semua kesalahannya pada Zizah.


Tapi apa pentingnya Shania bagi Fahri jika menjelaskan semuanya padanya??? Ahh terserahlah.


"Aduh kenapa tuh muka udah jutek aja ya Allah" batin Fahri. Nyalinya sedikit ciut melihat raut muka Shania. Ia merasa jika Zizah sudah menceritakan semua masalahnya pada Shania. Kemungkinan terbesar jika Shania akan menolaknya.


"As... assalamualaikum"


"Waalaikum salam. masuk kak" Shania berjalan dahulu.

__ADS_1


Fahri menarik nafasnya dalam.


"Loh ada kamu Fahri" Sapa Abdullah, papa Shania. Fahri merasa sedikit lega. Ia menjabat tangan calon mertuanya itu (pede gila lo)πŸ˜…


" Silahkan duduk. Ada apa nih malem-malem ke sini" Tanya Abdullah. Ia duduk didepan Fahri. Shania pamit kebelakang mengambil cemilan dan minuman.


"Kayaknya ini waktu yang pas nih buat bilang ke bapaknya" batin Fahri.


"Begini om. Emmm.... Saya punya niat dan rencana. Kan usia saya sudah mau kepala 3. Hmm... niat saya mau melamar Shania jika dia berkenan" Ahhhh bodoh kenapa ngomong ke calon mertua lebih sulit sih dari pada presentasi proyek.


Abdullah yang menyimak setiap perkataan Fahri sedikit kaget. Ia kaget karena Fahri seorang pengusaha muda, tampan dan berkarisma mau menikahi anaknya yang sudah janda. Apalagi jandanya ditinggal suaminya dan tak ada informasi meskipun perginya Zu dijalan yang benar.


"Hmmm... Kalau saya terserah pada Shania. Semua keputusan ada padanya" jawab Abdullah.


Shania datang, ia membawa tiga cangkir dan beberapa cemilan kemudian duduk disamping papanya.


"Bagaimana sayang?" Tanya Abdullah sambil merangkul anaknya. Shania bingung, ia mengerutkan keningnya tak paham.


"Bagaimana apanya?" kemudian Shania menatap Fahri.


"Loh Shania belum tau Fahri?" Tanya Abdullah. Fahri hanya menjawab dengan menggelengkan kepala dan tersenyum. Tampak seperti pria bodoh


Ahhh kenapa cinta bisa membuat orang jadi bodoh sih!


Kemudian Abdullah menjelaskan pada anaknya. Fahri hanya tertunduk, ia sangat gerogi.


Nampak raut muka kaget diwajah Shania. Ia menatap Fahri dan papanya bergantian.


"Ohhh ternyata ini yang membuat kak Fahri bersikap aneh hari ini" batin Shania. Ia tersenyum mengingat kelakuan Fahri hari ini.


"Gimana nak,mau?"


" Shania tak bisa langsung ambil keputusan ini. Beri aku waktu tiga hari untuk istikhoroh setelah itu aku akan menjawabnya"


Fahri hanya pasrah. Ia tak mungkin memaksa Shania. Tapi hatinya sudah lega, ia bisa bernafas bebas sekarang. Sebuah perasaan yang ia pendam cukup lama akhirnya tersampaikan juga.


Fahri pun pamit pulang karena hari sudah malam. Sebenarnya pak Abdullah mengajaknya makan malam bersama tapi ia masih terlalu canggung berdekatan dengan Shania. Maka ia pamit undur diri dan pulang kerumah.


Haiii... hai.... hai..... mohon maaf ya baru up soalnya bener2 buntu nih pikiran dan juga kegiatan aku hari ini padet banget. Doakan saja semoga sehari bisa up sampai 2 episod.


dukung terus aku yaaa! jangan lupa like, koment dan vote biar aku lebih semangat


Aku cinta kalian😘😘😘

__ADS_1


πŸ“· : choirul_amaliyah26


__ADS_2