Surga Baruku

Surga Baruku
24


__ADS_3

maaf untuk episode 23 review nya agak lama. entah kenapa. pokoknya aku usahakan sehari minimal seepisode๐Ÿ˜Š


Fahri hendak memejamkan mata untuk tidur. Hari memang sudah sangat larut, ia tak ingin kesehatannya terganggu sebelum acara semua berjalan dengan baik.


Bibirnya tak henti-henti menyinggung senyum. Entahlah, ia merasa hidupnya berwarna lagi dengan adanya Shania


Drttt...


Drtt...


Drttt ....


kak maafin aku. Aku bener-bener bodoh waktu itu. Bisa kan kak memaafkan aku


Fahri membaca pesan itu bingung. Ia tak tahu siapa pengirim pesan tersebut karena tak ada nama dibalik nomernya. Fahri cuek, ia meletakkan ponselnya lagi.


Apa tak ada lagi kesempatan bagiku? sebegitu bencinya kamu padaku?


"Apaan sih. Siapa yang berani menggodaku dimalam ini" gumam Fahri. Ia kesal dengan pesan teror itu. Dengan segera ia menelepon nomer tak jelas itu


"Hallo!Assalamualaikum. Ada perlu apa anda mengirim pesan pada saya dimalam hari ini? tak ada pekerjaaan?" Fahri menyergap orang tersebut. Sebenarnya ia masih punya hati. Tapi karena ini sudah malam dan waktunya tidur, ia tak suka ada yang mengganggu istirahatnya.


"Ini aku kak. Zizah"


Fahri geram. Ia meremas ponsel yang masih bersandar ditelingannya. Matanya menatap lurus kedepan seperti pandangan nanar.


"Ada perlu apa kau meneleponku?" tanya Fahri datar. Ia tak suka Zizah mengganggu kehidupannya yang sekarang.


" Aku ingin kita baikan kak. Dan memulai semuanya dari awal" katanya ragu. Ia tau Fahri masih mau menerimanya. Ia mengaku salah, tapi hatinya sudah terlanjur terisi penuh dengan namanya Fahri hingga hilang semua rasa malunya.


tutt...


Fahri mematikan telepon itu secara sepihak. Ia kesal dan langsung merebahkan dirinya.


******


Saat ini adalah waktunya makan siang. Shania yang berada ditoko roti meminta Ghina untuk makan bersamanya direstoran terdekat. Ia ingin menceritakan hal yang baru saja terjadi antaranya dan Fahri, sekaligus ia meminta pendapat pada wanita itu.


Brakk....


"lo bener-bener dilamar Shan?" Tanya Ghina. Ia reflek memukul meja, itu membuat Shania kaget.


Shania hanya mengangguk dengan pertanyaan itu dan tersenyum.


"Wahh... Wah... kurang ajar lo. gue nih dari dulu gak nikah-nikah elo udah mau dua kali hahahahhah....." gerutu Ghina. Mereka memang berbicara bisa jika diluar kantor. karena memang mereka adalah teman dekat.

__ADS_1


"Tapi gue ikut seneng Shan. Soalnya pak Fahri itu tampan dan mapan. Sama deh kayak elo, cantik dan kaya. Udah langsung aja!" katanya sambil mengacungkan jari telunjuk.


Shania terkekeh dengan kelakuan sahabatnya hingga membuat orang disekitar mereka menatap aneh pada Ghina.


Setelah jam istirahat berlalu, Shania kembali keruangnya. Ia baru saja melaksanakan sholat di musholla..


Drtt...


Drtt....


Drtt....


Aku mohon jangan kau sebarkan dulu hubungan kita ini pada siapapun. Aku takut ada pihak yang tak suka (Kak Fahri)


Shania menatap heran pada pesan itu. Tapi jika dipikir kembali memang itu sangat membahayakan hubungan mereka. Maka, Shania menyetujuinya.


Baik kak, hanya keluarga inti kita saja yang tau soal ini.( Shania)


"tapi tadi udah terlanjur cerita ke Ghina. Gimana ini?" ia cemas meskipun sebenarnya ia percaya pada Ghina.


"Ghina cepat ke ruangan saya" perintah Shania melalui telepon.


Dengan cepat Ghina sampai dihadapan Shania. Ia takut ada sebuah pekerjaannya yang salah dan mendapat teguran keras dari Shania.


"iya tuan ada apa?" Ia tertunduk takut.


"Hanya itu tuan?" tanyanya lagi.


"Sudah, silahkan keruangmu!"


Ghina mengumpat dalam hati. Ia sebal pada perintah Shania yang terkesan alay. Tak mungkin ia menyimpang berita menyenangkan ini, ahhh tapi sudahlah itu privasinya.


******


Hari menuju pertunangan semakin dekat. Shania masih saja sibuk dengan urusan toko, ia menyerahkan semua acara pertunangan itu pada sang mama. Mulai dari dekorasi rumah hingga makanan.


Pagi ini ia segera pergi ke butik yang diberitahu Fahri. Pria itu telah memesankan pakaian satu set untuk Shania dan dirinya untuk acara lamaran tersebut. Fahri tak ingin terlalu sering bertemu wanita pujaan hatinya itu. Ia ingin acara tunangan nanti akan menjadi acara paling mendebarkan baginya.


"Permisi mbak saya mau mengambil baju yang dipesan kak Fahri" kata Shania pada salah satu pegawai meja resepsionis.


"kau calon istrinya Fahri ya?" tiba-tiba ada seorang wanita datang. Ia juga berhijab seperti Shania. Shania mengangguk dan menjabat tangan orang tersebut.


"Saya yang merancang baju kalian berdua. Ayo ikut aku! akan aku tunjukkan bajumu" kata orang itu sambil merangkul pundak Shania.


Mereka berjalan kearah ruang ganti. Disana sudah ada sebuah gamis wanita berwarna mint muda dengan beberapa aksesoris didada dan tangannya. Shania kagum dengan desain pakaiannya. Sangat indah, batin Shania.

__ADS_1


"Apa kau suka dengan model ini?" tanya Zia, selaku pemilik butik.


"Aku suka banget. Ini bagus dan eksklusif ya" jawab Shania sambil menyentuh pakaian itu.


"Hmmm.... Fahri memaksaku untuk membuatkanmu pakaian model terbaru dan inilah hasilnya"


"terima kasih" Shania menjabat tangan Zia.


"sudahlah ini tugasku. Silahkan kau coba dulu barang kalo ada yang kurang"


Shania berjalan keruang ganti, ia mencoba pakaian indah itu.


"Ahhh ini sangat pas ditubuhku" gumam Shania sambil menatap tubuhnya di cermin ruangan itu.


"Woowww kau sangat cantik. "pekik Zia. Ia senang melihat Shania menggunakan baju itu. Ia rasa sangat pas dan cocok.


Setelah selesai dengan fitting baju, Shania membawa baju itu ke dalam mobil. Tinggal milik Fahri disana, ia bilang akan mengambilnya sendiri nanti.


"Semoga ini menjadi yang terakhir ya Allah" Doa Shania sebelum melajukan mobilnya.


Setelah fitting baju, Shania menuju kampus. Ia ada jam kuliah hari ini, hanya satu.


Devi sudah menunggu didepan taman, ia rindu pada Shania.


"Shaniaaaaa" teriak Devi. ia memeluk Shania.


"Ada apa Dev?" tanya Shania heran.


"Gue mau kasih tau elo kalo gue minggu depan akan terbang ke Malaysia"


"kenapa tiba-tiba sih? ada acara apa disana?"


"Mama sama papaku pindah kesana. Tapi lo tenang aja gue kesana cuma emmm... semingguan lah habis itu gue pulang ke Indonesia lagi" jelasnya. Sebenarnya Shania sedih karena takut Devi tak bisa hadir di acara pernikahannya. Ia ingin semua sahabatnya ikut bahagia dihari itu.


"Tapi kamu beneran balik lagi kan kesini?"


"iya gue janji bakalan balik. Emang kenapa sih? kayak gak mau gue tinggalin dihari bahagia lo" celetuk Devi. Shania langsung kaget.


"Apa dia tau gue mau nikah?" batinnya.


"Udah yuk masuk!" ajak Shania mengalihkan pembicaraan.


Hai... hai.... semuaaaa..


jangan lupa like,komen dan vote yaaaa

__ADS_1


Aku sayang kalian banget deh๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š๐Ÿ˜™


๐Ÿ“ท: choirul_amaliyah26


__ADS_2