Surga Baruku

Surga Baruku
09


__ADS_3

Setelah bertamasya ke Puncak bersama anak panti, Shania langsung melajukan mobilnya menuju rumah mamanya. Ia sangat merindukan segala hal dari ibunya itu. Masakannya, perhatiannya, bahkan senyum dan elusan itu ia rindukan.


Shania menepikan mobilnya sebentar, ia akan membelikan oleh-oleh untuk mamanya. Orang tua sangat menyukai segala jenis kripik, ia membelikan rempeyek dan beberapa kerupuk ikan.


"Semoga mama suka" gumamnya sambil keluar toko.


Ia melajukan kembali mobil itu menuju arah rumah orang tuanya. Jarak antara rumah sang ibu dengan panti sekitar 30 menit.


Shania tipe anak yang mandiri walaupun dulu masih ada Zu ia akan pergi kerumah orang tuanya sendiri jika Zu sedang sibuk.


Tibalah Shania didepan gerbang rumah besar nan megah itu. Rumah milik keluarga Abdullah, papa Shania. Ia adalah seorang pengusaha batu bara di luar pulau, jadi bisa dibayangkan kekayaannya. Tapi Pak Abdullah jarang sekali pulang. Ia sibuk dengan bisnisnya yang jauh itu.


tin... tin.. tin...


"grekkkk" suara pagar dibuka.


"Assalamualaikum pak. mama ada kan?"


"Waalaikum salam non Shania. ibu ada dirumah kok" jawab satpam itu. Ia segera membawa mobilnya masuk lebih dalam kerumah. Ia parkir mobil itu dihalaman rumah yanh luas.


"Assalamualaikum " ucapnya sedikit berteriak.


"Waalaikum salam sayang" Wanita paruh baya itu datang dari arah dapur.


"Mama gimana kabarnya? baik kan? ini ada oleh-oleh untuk mama"


"Alhamdulillah mama baik-baik saja nak. Kamu gimana? kok kayak sedikit kurusan?"


Deg.... Shania kaget mendengar pertanyaan ibunya. Apakah tubuhnya sangat kurus? Padahal belum genap seminggu ia merasakan kesedihan ini.


"Aku ba.. baik ma. kayaknya aku makan tambah banyak deh" jawabnya sedikit gugup.


Mereka berjalan beriringan menuju sofa, tempat ternyaman untuk diskusi.

__ADS_1


"Mama gak bisa paksa kamu untuk jujur. Tapi mama berharap jika kamu punya masalah dengan suamimu selesaikan dengan baik. Jika tak mampu pulanglah"


Deg...


Shania terteguh dengan ucapan terakhir ibunya.


pulang??? Apa ini namanya firasat seorang ibu?


"Mama bicara apa sih.. aku baik kok" ia berusaha tersenyum menghilangkan guratan kesedihan diwajahnya.


Setelah berbincang panjang lebar, Shania izin kekamar. Ia sangat rindu dengan kamar semasa remajanya itu.


Masih tetap rapi...


Para pembantu dirumah itu tetap menata dan membersihkan kamar Shania walaupun ia sudah berkeluarga dan memiliki rumah sendiri.


"hah... tak terasa aku akan merasakan masa lajang kembali" Seakan ucapannya itu melepas beban berat.


Shania tertidur dengan anganannya tadi.


"Shania sholat magrib dulu yuk! habis itu makan" teriak mamanya dari balik pintu.


Shania menggeliat diatas kasur. Ia mengernyitkan matanya untuk mengumpulkan kesadaran.


"Ia ma habis ini turun."


Shania makan malam bersama mamanya saja. Papa Shania baru saja berangkat lagi keluar pulau.


"mah... ini masakan enak banget sih? siapa yang masak" tanya basa-basi. Shania sangat hafal dengan rasa masakan orang-orang. Ia tau jika itu adalah masakan sang mama tapi tak apalah.


"hmmm... tinggal belum dua tahun sama suami udah lupa sama rasa masakan mamanya" ucap hamidah sedikit menyinggungnya.


"Maaf maa.... aku tau ini masakannya mama. aku hanya sekedar ingin memastikan ya hehehe"

__ADS_1


Selesai makan bersama mamanya, Shania pergi keruang tv diikuti sang mama. Mereka berbincang panjang lebar sambil tertawa menceritakan masa lalu mereka.


"Shania, gimana kabar Zu di Palestina? Eummm.. dia begitu berani ya"


Shania gelagapan ketika mendapat pertanyaan itu. Apa yang harus ia katakan? sudah lebih dari 2 bulan ia tak mendapat kabar dari Zu, entah status apa yang ia sandang sekarang.


"Al.. alhamdulillah mah" jawabnya gugup.


Terdapat guratan kesedihan disana. Raut muka Shania yang awalnya bahagia tiba-tiba sedih. Hamidah mampu mengetahuinya, naluri seorang ibu sangat tinggi terhadap anaknya.


"Besok kamu masih disini kan?" Hamidah berusaha mengalihkan pembicaraannya. Ia tak ingin membuat anak semata wayangnya itu sedih.


Ia tau menjadi seperti Shania tidaklah mudah. Bolak-balik ditinggal suami keluar pulau saja sering membuatnya kesepian apalagi anaknya ini. Menikah baru seumur jagung sudah ditinggal berjihad dalam waktu tidak menentu.


Hamidah tak ingin terlalu ikut campur urusan rumah tangga Shania, ia sudah menyerahkan semua tanggung jawabnya kepada Zu dan ia percaya itu.


"Oh iya mah. Aku sekarang punya kesibukan baru loh... Aku ikut bantu-bantu di oanti asuhan"


"oh ya? panti asuhan dimana? mama juga punya temen yang mengelolah panti"


"Ada deh. Entarlah kapan-kapan mama aku ajak ke sana. siapa tau mama mau jadi donatur tetap heheh"


"siaplah kalau masalah itu"


Perbincangan mereka pun selesai. Shania izin pamit masuk kamar, tubuhnya sudah sangat lelah karena pergi kepuncak tadi.


Ia berencana pulang lusa. Ia tak ingin mamanya mengetahui masalahnya karena memang raut muka Shania tak bisa dibohongi jika ia sedang dalam masalah besar. Ia ingin menjadi wanita dewasa yang menyelesaikan masalahnya sendiri.


mengambil ponselnya barangkali ada pesan penting. Ia juga lupa belum mengecek perkembangan cabang toko rotinya. Sudah dua hari masalahnya ini membuat Shania lupa segala hal terkecuali pada sang pencipta. Bagaimanapun masalah yang Shania hadapi, ia tak ingin menjadi hamba yang lupa diri, kurang bersyukur dan selalu mengeluh.


"Alhamdulillah.. Ghina memang bisa diandalkan" ia tersenyum.


Selesai mengerjakan pekerjaannya, Shania pergi ke kamar mandi. Ia membersihkan diri kemudia melakukan ritual perawatan diri.

__ADS_1


Ditatapnya wajah dicermin. Tubuh itu terlibat kurus dalam dua hari, mata panda itu terlihat muncul disana. Ini sebab masalah yang ia hadapi, mungkin


__ADS_2