
Pagi ini Shania sedang duduk santai ditaman belakang. Tak ada kegiatan yang lebih menyenangkan baginya kecuali membaca dan meresapi ayat suci al-qur'an.
"Berikah aku kenikmatan membacanya ya Robb" Itulah doa yang selalu ia panjatkan selepas memurojaah al-qur'an.
Hari ini Shania tak ada jadwal kuliah, Cici sudah ia antar terlebih dahulu ke sekolah dan disana ditemani mbak Anggi. Siang nanti barulah ia pergi ke toko kue untuk mengecek perkembangannya. Semenjak menikah dengan Fahri kesibukannya di toko ia limpahkan pada Ghina. Fahri tak ingin Shania terlalu capek mengurusi semuanya, apalagi dia masih study di kampus.
Drtttt....
"Assalamualaikum Shannniaaaaa" Teriak orang diseberang. Seketika Shania menutup telinganya karena sakit mendengar teriakan itu.
"Waalaikumsalam. Gimana kabarmu Zizah?" Zizah sudah kembali ke tempat mengejar mimpinya sebulan yang lalu. Ia kembali diantar Shania bersama suaminya dan juga abi umi. Hubungan mereka juga sudah membaik karena Zizah sudah mengikhlaskan sepenuhnya Fahri pada Shania.
"Aku baik Shan, Kamu gimana?" Saat ini Zizah berada di masjid Amr bin Ash, masjid yang terkenal di Mesir.
"Alhamdulillah aku juga baik sayang, kamu sedang apa?"
"Aku habis taklim. Tiba-tiba aja rindu kamu, ehh udah ada calon ponakan belum?" Tanya Zizah dengan nada menggoda. Pipi Shania memerah karena malu.
"Doakan aja yaaaa... semoga cepet dapet momongan. Kamu kapan nyusul nih? Aku kan juga ingin foto di pernikahan lagi" Katanya sambil cekikikan.
"Apaan sih? Jodoh aja masih belum ada" Jawab Zizah memalingkan wajah dari layar.
"Masa sih? sama kak Haikal gimana?" Shania berusaha mengintrogasi sahabatnya. Ia juga ingin Zizah cepat menikah sepertinya.
"Kak Haikal siapa? aku enggak kenal" Zizah berusaha menahan tawa. Ia masih belum ingin semua orang tahu tentang hubungan mereka yang belum pasti. Sebenarnya Haikal sudah mengajak Zizah menikah dalam waktu dekat ini, tapi Zizah tak mungkin meninggalkan kuliahnya. Ia masih ingin menyelesaikan studynya, Haikal pun memahaminya.
"Kalo bohong tuh hidung tambah mancung lo" Seru Shania, ia tau sahabatnya berbohong. Tapi ia juga tidak mau memaksa Zizah untuk jujur, ia takut jika ada sebuah problem diantara mereka.
"Doakan yang terbaik Shan. Aku masih ingin fokus study" Jawab Zizah. Shania pun tersenyum senang. Akhirnya sahabatnya sudah move on dari suaminya.
__ADS_1
Mereka pun berbincang banyak. Menceritakan kegiatan masing-masing. Hingga tak sadar hampir sejam.
Zizah mengakhiri teleponnya karena ia harus melanjutkan studynya lagi.
Shania melihat jam disana. Sudah saatnya ia pergi ke toko. Maka ia pun bersiap dan mengambil kunci mobil. Ia mengendarai mobilnya menuju pusat toko roti.
"Assalamualaikum semua" Sapa Shania pada semua pegawainya. mereka menjawab dengan serempak. Shania tersenyum melihat kekompakan mereka. Ia melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
"Gimana Ghin perkembangannya? muluskan?"
Ghina mengacungkan jempol. Gadis itu sangat disibukkan dengan urusan toko roti, ia juga sangat bersyukur karena mendapat pekerjaan disini sebab bisa membiayai sekolah adik-adiknya. Ayah Ghina sudah meninggal ketika ia lulus smp sedangkan ia adalah anak pertama. Jadi serasa semua tanggungan ada padanya.
"Baiklah" Shania menaruh tubuhnya di sofa. Ia masih malas duduk dikursi kerjanya. Ia menscroll hpnya. Melihat adakah pesan atau telepon dari sang suami.
"Ahhh masa bi lupa punya istri disini" gerutu Shania. Ia sedikit kesal dengan Fahri yang semenjak pagi tidak menghubunginya. Padahal Fahri tau jika hari ini Shania sangat free.
"Sabar dong Shan! mungkin dia lagi meeting" Ternyata Ghina mendengar gerutuan Shania. Wanita itu malu dan menutup mukanya dengan bantal disana.
Drtttt....
"Asslamualaikum bi" Sapa Shania antusias. Fahri yang baru saja duduk langsung tersenyum senang.
"Waalaikumsalam istri cantikku" Jawabnya. Fahri baru saja selesai meeting dan ada beberapa masalah dikantor, jadi ia belum sempat menelepon istrinya.
"Kenapa baru telepon? kenapa gak kasih kabar dulu? " Tanya Shania merajuk. Ghina yang ada di sudut ruangan hanya tersenyum melihat temannya seperti itu.
"Maaf sayang, tadi habis meeting sama ada beberapa masalah disini. Kamu sedang apa sekarang?"
"Aku nungguin kamu bi. Kamu kapan sih pulangnya? aku kangen" Fahri tertawa. Baru kali ini Shania selebay ini padanya. Entah gombal atau memang beneran.
__ADS_1
"Kok ketawa sih bi? Aku beneran lo" Ia merengek dan sedikit kesal. Fahri pun memohon maaf.
"Yaudah yang, aku selesaikan tugasku dulu biar bisa cepet pulang"
"Cepet bi.. Aku kangen banget pokoknya"
"Iyah sayang. Ya udah Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Shania mematikan saluran telepon itu. Ia melihat ada sebuah apel di meja didepannya. Entah mengapa ia membayangkan nikmatnya buah itu.
"Ghina... ini aku makannya" Shania memang wanita baik dan sopan. Meskipun itu kantornya tapi ia selalu meminta izin pada si penghuni dan ia juga tau kalau itu adalah buah yang disajikan oleh OB.
"Makan aja kali Shan. Itu emang disediakan disitu" Sahut Ghina yang masih fokus dengan laptopnya.
"Ahhhh enak sekali" gumam Shania. Ia benaf-benat merasakan nikmatnya buah. Satu buah apel sudah habis ia makan, ia pun mengambil lagi buah anggur kemudian jeruk dan pir. Entahlah ia habis berapa, rasa buah di meja itu sangat berbeda dengan yang lain.
"Habis?" Tanya Ghina heran. Di meja itu tadi ada sebuah piring besar dengan berbagai macam buah. Kini hanya tinggal piringnya saja.
Shania hanya nyengir dan mengunyah kembali makananya.
Sekarang Shania merasakan kantuk yang sangat. Ia ingin sekali tidur, tapi filenya belum ia cek.
"Huaammmm" ia menguap kemudia menyandarkan kepalanya ke sofa. Dalam hitungan menit matanya sudah terpejam tidur.
"Tidur?" Ghina heran. Ia tadi melihat Shania asyik makan buah, kini sudah pulas tertidur dengan posisi duduk. Ia pun membiarkan temannya itu tetap seperti itu. Ia tak ingin menganggu.
Haiii....
jangan lupa like,komen dan vote yaaaa
__ADS_1
aku cinta kalian๐๐
๐ท : choirul_amaliyah26