
Hari berganti hari, Shania sudah sibuk dengan berbagai kegiatannya. Mulai dari jadwal kuliah yang bertambah padat, mengurusi toko roti miliknya yang ada beberapa cabang juga ia tak lupa panti asuhan milik bu Wiji yang rajin ia datang.
Karena kesibukannya yang padat Shania hampir lupa dengan kesedihannya dulu. Saat dimana ia terpuruk dan sakit. Tak hanya jiwa yang sakit, batinnya pun ikut merasakan kesedihan.
Untuk masalah Zu anggota keluarganya sudah mengikhlaskan. Toh hingga saat ini ia tak memberi kabar atau apapun. Pertandanya ia sudah syahid.
Umi Fatimah adalah orang yang Zu. Ia mengikhlaskan semua yang Allah kasih padanya, apapun itu. Walaupun saat ini Zu tak ada kabar tapi umi Fatimah tak bingung mencari karena memang pergi ke tanah perang Palestina berarti menjemput maut.
Shania mulai belajar ikhlas dengan keputusan Zu. Pria itu sangat dewasa dan bijak. Andaikan hingga saat ini Shania tidak di talak mungkin lah harinya sangat rumit. Mengharapkan seseorang yang entah bagaimana nasibnya.
"Habis pulang kampus mau kemana lo?" Tanya Devi.
"Aku harus ke toko roti dan rencananya bulan depan aku mau meresmikan toko roti baru yang ada di luar kota" Jelasnya. Devi hanya menganggukkan kepala.
Setibanya di toko, Shania langsung menuju ruangnya. Ia mengerjakan beberapa berkas penting tentang perkembangan toko rotinya.
Drttt....
Drtttt...
Drttt...
"Iya hallo assalamualaikum" Shania mengangkat ponsel itu tanpa melihat siapa yang menelepon.
" Assamualaikum sayang. ini umi"
"Eh... umi. bagaimana kabarnya?" tanya Shania spontan.
"Umi dan abi baik-baik saja sayang. Kamu gimana,baik kan? kenapa tak pernah kemari? lupa sama umi, iya hmmmm?"
"aduh" Shania menepuk jidatnya. Ia merasa malu sekaligus bersalah pada sang umi karena memang akhir-akhir ini ia sangat sibuk hingga tak sempat untuk mendatanginya, bahkan menanyakan kabar pun tidak.
"Maaf umi. Akhir-akhir ini waktu Shania habis dengan urusan toko. Insya Allah sepulang dari toko aku akan kesana. Emmm... umi mau roti apa nih biar aku bawakan?"
__ADS_1
Fatimah tersenyum melihat kebingungan Shania.
"Terserahlah. Segera kesini ya sayang"
"Iya umi. insya allah"
Mereka mengakhiri teleponnya dengan salam.
Shania sangat senang karena ibu mertuanya masih menganggap dia sebagai menantu walaupun hubungannya dengan Zu sudah berakhir.
Karena semua tugasnya sudah beres, Shania bersiap pergi ke rumah mertuanya. Ia meminta pada karyawannya untuk menyiapkan beberapa roti untuk dibawa kerumah umi Fatimah.
Setelah siap, Shania melajukan mobilnya ke arah rumah umi. Dalam setiap langkah mobilnya tak henti-henti Shania berdzikir mengucap syukur atas nikmat hidup dan sesekali ia bersholawat. Setibanya di depan rumah mewah itu ia tak perlu keluar mobil untuk mengenalkan diri pada satpam karena pak Joko sudah mengenalnya.
"Silahkan non. lama gak ke sini ya" sapa pak Joko. Shania hanya tersenyum.
Hmmm.... pak Joko pun sampai tau jika ia lama tak berkunjung kerumah orang tua sekaligus gurunya itu.
"Assalamualaikum " Shania memencet bel. Pintu dibuka oleh seorang perempuan cantik dengan kerudung syar'i nya. Senyum itu seketika mengembang.
"Ya allah Zizah yaa? lama tak bertemu" Shania langsung menghambur dipelukan Zizah. Gadis itu membalasnya.
Mereka masuk rumah dengan sedikit heboh. Jadi ternyata niat umi menyuruhnya ke rumah karena Zizah sedang pulang. Ahhh umi sangat so sweet.
Umur Shania dan Zizah adalah sebaya. Mereka berteman Akrab sejak di Asrama. Apalagi Shania juga menghafalkan quran nya di orang tua Zizah.
"Gimana keadaanmu di sana? Baik kan?" Shania antusias mengajukan beberapa pertanyaan pada Zizah. Dengan sabar gadis itu menjawab satu persatu.
"Aku baik-baik aja. Sekarang kan waktu liburan jadi aku sekalian pulang dan.... emm.... aku turut berduka atas hubungan kalian" Zizah salah satu orang yang sangat terpukul dengan berita ini. Awalnya ia akan pulang saat uminya memberi tahu tapi karen banyak tugas yang gak mungkin ditinggalkan maka ia pun mengurungkan niatnya.
"Udahlah itu kan dulu" jawabnya berusaha menyinggung senyum. Hatinya terasa sakit saat mengingatnya
"oh iya ini aku bawa banyak roti" Shania mengalihkan pembicaraan, Zizah pun tahu itu.
__ADS_1
"tambah rame ya toko roti kamu. Kata umi kamu mau buka beberapa cabang?" Gadis berhijab dan ceria itu menikmati roti dengan lahap. Ia sangat suka semua jenis roti apalagi roti dari toko Shania.
Shania memegang tangan Zizah seolah ia meminta kekuatan. Pandangannya sendu disambut oleh pernik mata Zizah yang merasa kasihan.
Shania mengambil nafas dalam dan menghembuskan pelan.
"Toko itu milikmu. Aku hanya mengelolahnya ketika kau masih menempuh pendidikan di Mesir. Jadi, segera selesaikan study anak manis" Shania menoel hidup mancung milik Zizah. Ia tau Zizah larut dalam kesedihannya. Maka dari itu ia berusaha mengalihkannya.
"Enggak Shania, aku tidak ahli dalam dunia bisnis. kamu urus aja tuh toko! aku bagian menghabiskan semua roti hehehe"
"Hmmmm....." Shania menghembuskan nafas pasrah. Ia sudah menduga kalau Zizah pasti akan menolak menerima toko roti itu. Shania pun juga tak mungkin memaksa karena bisnis itu harus dijalani dengan enjoy.
"Oh ya umi mana?"
"Tadi sih sholat. Lihat aja deh dimusolla!" Perintahnya. Shania langsung menuju tempat sholat dirumah itu.
"Assamualaikum umi" Ia melihat sang umi sedang membaca al-quran. Tenang sekali suaranya. Ahhh jadi rindu diasrama
"Waalaikum salam sayang" umi Fatimah menuntaskan bacaannya dan terseyum menghadapi Shania.
"Tadi didepan ada Zizah mi"
"Ia dia pulang. Maaf umi tadi gak bilang soalnya mau kasih kejutan untukmu" Shania hanya tersenyum dan memeluk wanita yang menggunakan mukenah itu.
Setelah itu Shania dan dua orang itu berbincang-bincang di teras belakang. Mereka menceritakan semua hal mulai dari yang lucu,inspirasi dan lainnya. Mereka layaknya keluarga harmonis, tak sekalipun ada yang menyinggung tentang masalah Zu dan Shania. Karena itulah Shania sangat senang berkumpul dengan keluarga itu walaupun telah ditalak sang suami.
Jangan lupa like,komen dan vote....
Sorry baru up soalnya pikiranku buntu..
doakan semoga aku mendapat inspirasi
dan mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan.
__ADS_1
i love you semuaa😘😘😘😘
📷 : choirul_amaliyah26