
Hari ini memasuki bulan ke dua Shania melalui masa iddahnya. Ia menjalani hidup dengan baik. Tetap berkomunikasi dengan sang ibu juga mertuanya. Tapi mama Shania belum mengetahui perceraiannya dengan Zu. Ia masih belum sanggup menceritakannya. Setiap kali mamanya telepon dan meminta Shania pulang, ia selalu beralasan jika pekerjaanya banyak dan belum mendapat waktu yang pas.
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan ini semua dari mamamu?" tanya bu Wiji. Shania hanya diam mematung, ia sangat bingung.
"cepat beritahu dia nak. orang tuamu berhak tau. kau anak tunggal"
"Iya bu. rencananya besok atau lusa saya akan memghubungi mama"
****
tiing... tong... tiing... tong....
"kemana ini anak huft. ditelepon gak bisa. Astagfirullah"
"Rumah kayak gak kerawat. sebegitu sibuknya ya sampai tak sempat mencari orang untuk membereskan rumah"
Hamidah berdiri tepat diluar pagar rumah Zu. Ia masih belum tau jika anaknya sudah mendapat talak dari sang suami.
Geram Hamidah menunggu Shania yang tak kunjung membuka pintu, ditelepon juga tak bisa.
"Assalamualaikum "
Hamidah menoleh dan berusaha tersenyum. Ia menduga pria itu adalah tetangga Shania. Ia bersyukur akhirnya ada orang yang mau membantunya.
"Waalaikum salam. Anda tetangga Shania."
"kalau boleh tau anda mamanya Shania?" Fahri mengalihkan pembicaraanya. Ia melihat wanita berbalut krudung lebar dan menebak jika itu adalah mama Shania karena wajah mereka banyak kemiripan.
"iya saya mamanya. kalau boleh tau dia dimana ya mas?"
Deg....
Fahri kaget ketika mengetahui jika mama Shania tak tau anaknya dalam masa iddah. Fahri mengira Shania adalah wanita manja dan rapuh dalam menanggapi masalah tapi buktinya Shania mampu menyembunyikan pada orang tersayangnya.
"Em... em.. " Fahri bingung harus menjawab apa. Kalau pun bohong pasti nanti akan ketahuan dan jika jujur mungkin saja ibu Shania akan syok.
"Bisa kita pergi kesuatu tempat dulu bu. kita bicarakan baik-baik" katanya penuh kehati-hatian.
Hamidah menatap lelaki itu curiga. Matanya terlihat menyelidik tapi masih sopan, Fahri mengetahui itu pun hanya tersenyum.
"Tenang saja tante. saya orang baik dan ini kartu nama saya" ia menyerahkan kartu itu yang ia simpan dibalik jasnya.
Hamidah terbelalak, pria didepannya adalah CEO Abraham corp. Ia sempat ingat dengan perusahaan itu yang bekerja sama dengan perusahaan suaminya.
__ADS_1
"baiklah. kita akan kemana?" tanya Hamidah setelah sedikit percaya.
"ikut arah mobil saya saja bu"
Fahri pun masuk kedalam mobilnya. Ia mengemudikan mobil keluar komplek perumahaan elit itu diikuti oleh mobil Hamidah.
Pikiran Hamidah masih bingung. Hanya untuk menjawab itu semua saja ia harus pergi kesuatu tempat.
"huftt... Semoga putriku baik-baik saja"
Didalam mobil Fahri sibuk menelepon ibunya yang berada di panti. Ia tak bisa semena-mena menelepon Shania saat ini karena keadaanya dalam masa iddah.
"Assalamualaikum ibu" kata Fahri ketika panggilan itu tersambung.
"Waalaikum salam nak. Ada apa?"
Fahri pun menceritakan kejadian itu pada sang ibu. Bu Wiji sedikit bingung untuk mengambil keputusan. Maka ia memanggil Shania dan menceritakan pada wanita itu.
Setibanya di restoran ternama dikota itu, Fahri mengajak Hamidah masuk. Tertangkap raut muka sedih campur tegang disana. Hamidah khawatir keadaan anaknya.
drt...
drtt...
drtt..
"iya bu bagaimana?"
".. "
"Baiklah"
Fahri mendekati tempat duduknya. Ia berusaha mengambil udara disana. Sedikit ia merasakan sesak.
"Mohon maaf bu.. ekheemm" ia gugur
"Saya salah satu anak pengasuh panti Miftahul Huda. Dan saya sedikit mengetahui keadaan Shania saat ini."
"Memangnya kenapa anak saya? katakan sejujurnya!"
"Emm... saya akan mengatakan sedikit saja. Selebihnya Shania yang akan mengjelaskan. saat ini Shania menjalani masa iddah bu"
bugh.....
__ADS_1
Sakit hati Hamidah. Selama ini firasat yang ia rasakan terbukti. Rumah tangga anaknya tidak dalam baik-baik saja. Ia sudah merasakan hal itu ketika Shania berkunjung kerumahnya beberapa waktu lalu. Raut muka anaknya menanggung beban berat hingga terlihat agak kurusan.
"A... apakah Zu syahid di Palestina?"
"Sebaiknya ibu ikut saya saja. Biar Shania yang menjelaskan nanti karena ini bukan hak saya"
Fahri ingin meraih tangan Hamidah karena terlihat lemas. Tapi ia sungkan takut dikira tidak sopan.
"Bisakah kau bantu aku untuk berjalan. Tenaga ku habis sepertinya" ucap Hamidah pelan. Pandangannya nanar lurus kedepan.
Dengan sigap Fahri memapah Hamidah.
*Panti Asuhan*
"Silahkan masuk bu" ajak Fahri ia membawa Hamidah keruang tamu panti. Untuk saat ini ia tak berani berkeliaran bebas di panti karena Shania ada disana. Bukan karena apa-apa tapi karena Shania masih dalam masa iddah. Ia sangat menghormati ajaran islam walaupun bukan lulusan Yaman seperti Zu.
Dulu Fahri pernah satu pesantren dengan Zu hingga ia lulus SMA. Karena ia terpaut lumayan jauh usianya dengan Zu maka saat Zu lulus terlebih dahulu Zu langsung melanjutkan pendidikannya di Yaman dan Fahri tetap di Indonesia karena papanya memiliki sebuah perusahaan yang harus ia kelolah.
"bu! ini ada mamanya Shania" ucap Fahri ketika melihat sang ibu. Bu Wiji mengangguk dan masuk kedalam. Ia hendak memanggil wanita muda itu.
Fahri keluar panti. Ia menuju musholla untuk melaksanakan sholat dhuhur karena waktu hampir habis.
" Ya robb.. jika engkau mengizinkan aku ingin seperti utusanmu yang menikahi istri Sahabatnya yang hilang dalam peperangan"
Shania keluar menuju ruang tamu. Matanya menitikkan air mata. Malu dan sakit ia rasakan jadi satu. Ia telah tega membohongi ibunya sendiri, wanita yang mengorbankan nyawa ketika melahirkan dirinya.
bugh....
Shania lari memeluk kaki sang ibu ketika Hamidah tengah duduk melamum. Ia kaget mendapati Shania bersujud dikakinya dengan derai air mata. Isak tangis pilu itu terdengar jelas ditelinga Hamidah, sangat mengiris hati.
Rasa kecewa yang memenuhi hati Hamidah ia singkirkan sejenak. Sebenarnya ia sangat kecewa dengan kelakuan anak tunggalnya. Tapi tak mungkin Hamidah menambah penderitaan putrinya itu.
"Maafkan Shania ma. Shania ngaku salah hikss... hiksss... hikss...."
"bangun nak! mama tak suka kau seperti ini" Hamidah membopong anaknya berdiri agar ia bisa melihat raut muka Shania. Miris ia rasakan. Gadis yang ia besarkan hingga menjadi wanita cantik kini terlihat kurusan tak terawat. Sekitar matanya menghitam, pipinya tirus dan senyum indahnya hilang tak seperti dulu.
"Apa yang terjadi Shania? kenapa kamu sembunyikan ini semua dari mama"
"maaf maa... maaf... hukum aku"
hello teman-teman... jangan lupa like vote and koment
plisslah aku yakin ini cerita menarikkan sebelas duabelas lah sama punya kak asma nadia (pede gila)
__ADS_1
mohon dukungannya dan semoga lekas selesai🤗