Surga Baruku

Surga Baruku
36


__ADS_3

Pagi ini entah mengapa Shania menjadi sosok pemalas. Ia hanya berkubung dibalik selimutnya dan enggan untuk bangkit. Setelah sholat shubuh seharusnya ia bersiap didapur membuat sarapan untuk dua jagoaannya. Tapi karena Fahri sudah seminggu keluar kota dan Cici sedang menginap di panti maka ia punya alasan untuk tetap terlelap.


Jadwal kuliah Shania juga longgar. Mungkin ia akan pergi ke kampus setelah dhuhur, jadi tak ada kegiatan apapun setelah ini.


Drttt....


Drttt....


Drttt....


"Siapa yang mengganggu tidurku" Gerutu Shania berusaha membuka matanya yang sudah terpejam.


Terpampang jelas dilayar hp itu "Suamikuโค" nama sang penelepon. Shania langsung terbelalak dan bangun dari tidurnya. Ia merasa senang mendapat telepon dari sang suami.


"Assalamualaikum bi" Sapa Shania antusias.


"Waalaikum salam sayang. Sepertinya bangun tidur yaa? Suaranya kok serak"


Shania hanya tersenyum mendengar ucapan sang suami.


"Iyah bi. Hari ini aku malas melakukan apapun" Jelasnya. Fahri mengernyit heran. Tak biasanya Shania menjadi wanita pemalas. Apa lagi bukan di hari weekend. Tapi ia tak mempermasalahkan karena Shania adalah tipe perempuan paling rajin yang ia kenal.


"Lanjutkan tidurmu sayang. Jangan lupa sarapan yaa I love you"


"Cuma gitu aja bi?" Kata Shania dengan nada suara manja. Fahri heran, ia tak paham dari maksud 'cuma gitu aja?'


"Memangnya kamu mau apa sayang?"Tanya Fahri dengan nada suara sangat lembut dan penuh perhatian.


Shania yang awalnya merajuk kini tersenyum.


"Aku ingin kau bernyanyi balonku ada lima bi hihihi"


"Hah? menyanyi lagu anak sayang? aku tak bisa bernyanyi" Fahri heran dengan permintaan sang istri. Ia menduga jika Shania sangat merindukannya hingga membuatnya harus berbuat hal teraneh itu.


"Ayolah bi" Bujuk Shania. Fahri pun menurut, ia tak ingin membuat istrinya merajuk.


Shania senang mendengarkan suara suaminya. Apalagi suaminya sedang bernyanyi. Meskipun suaranya sangat jelek tp entahlah ia sangat menyukainya.


"Terima kasih sayang. Aku cinta banget sama kamuuuuu" Ahhh lebay banget.


"Iya aku juga. Sudah yaa kamu istirahat sayang. Kita lanjutkan nanti"

__ADS_1


Mereka pun mengakhiri telepon. Fahri termenung sebentar mengingat permintaan istrinya untuk bernyanyi. Ia menggelengkan kepalanya berusaha menghiraukan hal tadi. Sekarang pun ia mulai beraktifitas dengan beberapa berkas dan file.


"Aku rindu padamu kak" Gumam Shania kembali tidur.


*****


"Kamu bahagia sekarang?"


"Apa dia bisa membahagiakanmu? setidaknya apakah dia tak pernah menyakitimu?"


Shania terdiam, ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk orang didepannya. Pria yang kini berdiri dengan baju koko dan juga sarung. Itu adalah pakaian favorit Shania pada pria itu.


"Jika kamu diam berarti memang ia mampu membuatmu bahagia. Berbahagialah umma"


Pria itu pergi menjauh. Entahlah ia berjalan lurus kearah sebuah cahaya terang benerang. Tapi Shania tak ada keinginan menyusulnya. Ia tetap ditempat dan menatap kepergiannya. Padahal dulu ia tak akan pernah mau ditinggal sendirian. Entahlah.


"Hei kenapa disini?" Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Shania. Wanita itu menoleh dan menatapnya, ia matanya meleleh seketika dan tubuhnya tak mampu membawa beban. Maka ia jatuhkan bobot tubuhnya kepada pria itu. Ia memeluk erat sambil sesenggukan.


"Tenang sayang ada aku disini" Ucap pria itu sambil mengelus kepalanya.


" Astagfirullah .... Hah... hah... hah" Shania ngos-ngosan. Ia kembali bermimpi Zu, tapi lebih anehnya ada sosok Fahri disana yang menghiburnya dan Shania lebih memilih Fahri.


Tubuhnya semakin lemas. Untung saja ia berada diatas kasur jadi tidak terlalu menyusahkannya. Apalagi dirumah tak ada siapapun kecuali dirinya sendiri.


"Kak Zu" Shania terbelalak, entah mengapa tiba-tiba mulutnya mengucapkan hal demikian.Itu semua diluar kendalinya. Dengan segera ia beristigfar.


"Maafkan aku bi" Lirihnya. Ia ingat jika ada hati yang harus dijaga.


Setelah ia merasa cukup membaik, ia pergi ke kamar mandi. Kepalanya masih pusing ditambah lagi rasa mual tiba-tiba.


"Hueekkk.... huekkkk..."


Ia memijat perutnya. Tubuhnya kembali melemah. Matanya juga mulai berkunang-kunang. Segera ia lari keatas kasur agar hal yang tak diinginkan tidak terjadi.


****


"Terima kasih atas kerja samanya dan semoga kita bisa bertemu lagi" Empat orang itu saling bersalaman.


Ahhh akhirnya semua telah tuntas. Fahri melirik jam ditangannya. Ia ingin segera pulang dan memberi kejutan pada sang istri. Ia berjanji akan pulang dalam waktu dua minggu, tapi dalam waktu sepuluh hari semua tugasnya telah usai.


"Kita pulang sekarang ya Rudi" Kata Fahri pada asistennya. Fahri pun mengiyakan dan segera melajukan mobil kearah kota mereka asal. Semua barang mereka sudah dikemas didalam mobil sebelum rapat terakhir, jadi setelah rapat mereka bisa langsung pulang.

__ADS_1


Tiba di rumah, Fahri langsung menurunkan semua barangnya dibantu Rudi.


"Kau bawa dulu saja mobilnya. Besok kau libur tapi bawa kemari mobilku" Ucap Fahri. Rudi pun mengangguk paham dan pamit pulang.


Fahri langsung membuka rumahnya dengan kunci yang ia miliki. Ia tak ingin mengganggu sang istri. Biasanya jam segini Shania memurojaah quran nya ditaman belakang, atau terkadang membuat kue didapur. Ia ingin memberi kejutan pada sang istri.


tuk..


tuk..


tuk...


Suara sepatu Fahri terdengar nyaring. Itu tandanya tak ada aktifitas lain dirumah. Ia menengok kearah dapur dan ternyata kosong. Fahri pun melanjutkan langkahnya ke taman belakang. Ia membayangkan Shania pasti terkejut dan senang.


"Assa...." Belum selesai ia mengucap salam tapi sosok sang istri tak ada.


"Padahal mobilnya ada didepan, kenapa orangnya tak ada" Gumam Fahri. Ia pergi menuju kamarnya. Ia ingin mandi dulu kemudian mencari keberadaan sang istri.


Ceklek....


Fahri mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar. Sebuah selimut besar terbentang diatas kasur. Fahri menatap khawatir kearah sana.


"Apa itu istriku?" Batin Fahri. Ia segera berjalan kearah sana kemudian menyibakkan sedikit benda itu. Ia ingin tau siapa dibalik sana.


"Sayang" Ucap Fahri kaget. Shania meringkuk disana dengan wajah pucat. Ia berusaha membuka matanya yang terpejam, nampak didepan sosok pria yang sangat ia rindukan. Shania tersenyum dengan mata yang masih terpejam.


"Kau sudah pulang?" Tanya Shania dengan suara serak. Fahri mengangguk dan duduk disamping sang istri. Ia meletakkan punggung tangan didahi Shania.


"Tidak panas" Kata Fahri heran. Tapi mengapa istrinya terlihat sakit.


"Kau kenapa yang? ada yang sakit kah?" Tanya Fahri khawatir. Shania hanya menggelengkan kepala.


"Cepat mandi bi! bau tak enak" Seru Shania, seketika Fahri menciumi dirinya sendiri. Mencari sisi mana yang dikatakan bau.


"Biasa saja. Sama seperti biasanya" Gumam Fahri. Tapi ia pun tetap pergi ke kamar mandi karena memang tujuan awalnya akan mandi


**haiiiii..... kembali lagi dong yaaaa


jangan lupa like,komen dan votee biar aku semangat gitu


aku cinta kalian๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜—๐Ÿ˜—๐Ÿค”๐Ÿค”

__ADS_1


๐Ÿ“ท : choirul_amaliyah26**


__ADS_2