
Makan malam berjalan lancar. Semua menikmati masakan itu dengan tenang.
"Eheeemmmm" Abdullah berdehem. Sepertinya ia akan mengatakan hal serius kali ini.
"Sesuai janji Shania yang akan menjawab pertanyaan nak Fahri dalam waktu 3 hari. Ini adalah waktunya. Saya tidak bisa memaksa, maka semua saya serahkan pada Shania. Bagaimana sayang?"
Semua menatap Shania. Mereka menunggu jawaban dari wanita itu.
Hati Fahri tak karuhan. Ia sangat gerogi menunggu Shania menjawab. Ahhh lama batin.
"Sesuai dengan hasil istikhorohku. Aku berharap kak Fahri menerima dengan lapang dada karena semua Insya Allah adalah petunjuk dari sang pencipta." ia berhenti sejanak dan mengambil nafas dalam.
"Aku menerima kakak menjadi calon imamku. Jadilah yang terakhir untuk" katanya pelan.
Fahri kaget sekaligus senang. Awalnya ia tertunduk kini sudah mendongakkan kepala karena senangnya. Ia menatap Shania yang tertunduk malu. Wajahnya merah merona.
"Alhamdulillah" itu katanya mampu ia ucapkan.Rasa senang dan terharu berkumpul menjadi satu, apalagi hal ini disaksikan oleh kedua orang tua Shania.
"Alhamdulillah Shania menerima mu Fahri. kira-kira kapan kau akan membawa ibumu kemari untuk melamarnya" ucap Abdullah. Kini ia mulai kembali serius, ia tak ingin ada namanya pacaran. Ia berharap Fahri segera menikahi Shania.
"Insya Allah minggu depan om saya akan mengajak ibu kemari" jawab Fahri.
Setelah prosesi menegangkan itu, mereka semua pindah keruang tamu. Bercanda ria sambil menggoda Cici. Fahri tak henti-henti mencuri padang pada Shania. Ia tampak sangat cantik dengan tawa lepasnya.
Setelah itu Fahri pamit pulang. Ia menggendong Cici yang sudah tertidur dipangkuannya. Shania mengantarkannya sampai depan rumah.
"Terima kasih ya sudah mau menerimaku" kata Fahri sambil berjalan beriringan dengan Shania.
"Aku juga terima kasih karena kakak tak mempermasalahkan Statusku."
"Status tidak penting bagiku. Yang terpenting sekarang adalah hati" Jawab Fahri. Kini ia masuk kedalam mobil dan menidurkan Cici dikursi penumpang, ia mengganjal tubuh kecil itu dengan bantal.
__ADS_1
Fahri melambaikan tangan tanda ia pamit. Hatinya sungguh senang, baru kali ini ia merasakan hatinya hidup dengan cinta.
Tak henti-hentinya bibir itu menyinggung senyum. Sesekali ia membayangkan kejadian tadi. Begitu indah skenario Allah untuknya.
*****
Shania berencana pergi ke kampus. Ia sudah selesai berdandan dengan make up natural juga hijabnya. Ia berjalan kebawah menemui papa dan mamanya, ternyata Shania sedikit telat.
"Maaf Shania telat turun" katanya dan langsung duduk disamping sang mama. Ia mengambil nasi dan lauknya.
"Ada apa ini? kenapa kau terlihat sangat bahagia sayang" kata Hamidah, ia pura-pura lupa dengan kejadia semalam.
"Aku biasa aja mah" jawabnya sambil memalingkan wajah. Dia malu karena kalau boleh jujur hatinya sangat gembira walaupun tadi malam ia tampak dewasa dihadapan semua orang.
Shania bergegas menyelesaikan makannya sebelum lebih diejek oleh mamanya. Ia bersiap dan pamit berangkat.
"Aku berangkat dulu pah.. mah Assalamualaikum"
"Dia tampak kembali ceria ya pah" kata mamanya sambil memandang kepergian Shania. Ia terharu, ternyata ada yang membantu anaknya keluar dari keterpurukannya.
Abdullah mengelus pundak istrinya. Ia ikut senang dengan semua ini.
Shania tiba dikampus, entah mengapa perasaanya hari ini sungguh bahagia. setelah duduk di kelas ia melihat Devi datang, maka ia berdiri lagi dan mencium pipinya lama. Devi menatap Shania heran.
"Kesambet setan ancol lo" kata Devi sambil mengelus pipinya. Shania hanya nyengir.
"Semoga aja setan ancolnya tampan" sahutnya asal.
Ditempat lain, sebuah gedung besar perusahaan milik keluarga Abraham. Seorang pria duduk diatas kursi kebesarannya tersenyum sambil membayangkan kejadian tadi malam. Hatinya begitu berbunga. Entahlah, baru kali ini ia merasakan namanya jatuh cinta bertepuk dua tangan. Keduanya saling mencintai.
Bukan maksudnya tak ada yang mencintainya, tepatnya ia masih trauma dengan namanya cinta. Kadang ia berfikir jika hatinya sudah mati ditutupi rasa benci terhadap seorang wanita.
__ADS_1
Shania mengubahnya, perlahan cinta itu hadir dan tumbuh sehingga akan siap dipanen bunga-bungannya.
"Ahhh kau merusak semua pekerjaanku Shan" gumamnya. Ia begitu rindu dengan wanita itu tapi Fahri tak punya keberanian lebih untuk mengirim pesan kecuali ada kepentingan.
Tokk...
Tok...
Tok....
"Masuk"
"Assalamualaikum pak. Maaf siang ini ada rapat dengan perusahaan Sultan corp. Kita ada mengadakan pertemuan di restoran xx" kata sekretarisnya. Fahri berfikir sejenak kemudian menganggukkan kepala.
Ia bersiap untuk menuju tempat itu. Ia mengambil jasnya yang ia gantung di tempatnya. Kemudian Fahri menata rambut sebentar dan tersenyum.
Ia mengambil ponselnya dan menatap gambar seseorang disana.
"Aku ingin sepertimu kawan. Kau berjihad sampai syahid. Aku akan berjihad sampai syahid juga meskipun kita menempuh jalan berbeda." ucap Fahri
Foto itu adalah gambar dirinya dan Zu ketika ia berkunjung ke Yaman. Hamparan tanah luas seperti gurun ditambah terik matahari tak meninggalkan kesan tampan.
Dua pria itu adalah pria mulia yang ingin masuk kedalam surga yang sama. Zu berjihad melawan orang dholim sedangkan Fahri berjihad menyelamatkan istri Zu yang janda karena jihadnya.
hey semua.... maafin aku up cuma dikit. tapi habjs ini insya allah part nya menegangkan kok.
plis komen dong dibawah biar aku tau seberapa banyak pencinta cerita ini okeπ
jangan lupa like and vote temen2
Aku cinta kalianππππππ
__ADS_1
π· : choirul_amaliyah26