Surga Baruku

Surga Baruku
39


__ADS_3

"Assalamualaikum ibu" Sapa Shania saat melihat wanita tua nan ayu itu berkumpul bersama anak-anak panti.


Rona kebahagian terpancar dari wajah semua orang, terlebih ibu mertuanya yang sudah lama tidak ia temui. Anak-anak panti kegirangan melihat Shania. Senyum mereka seakan mengembang.


"Bagaimana kabarnya adik-adik?" Sapa Shania dengan suara lantang.


"Alhamdulillah kak"


"Mama.."


Shania menoleh pada sumber suara. Senyumnya mekar. Bocah dengan baju seragam kotak biru murah itu tengah digendong Aisyah.


Ia merentangkan kedua tangannya seolah meminta untuk memelukknya, dengan senang hati Cici lari kearah mamanya dan mencium pipi itu. Shania menggendong Cici. Ia merasa bersalah karena lama menitipkan anaknya di panti.


"Turunkan dia sayang!" Shania menoleh. Tatapan pria itu seolah tak ingin dibantah. Shania awalnya tak menggubris tapi sedetik kemudian ia ingat jika dirinya sedang hamil.


"Sama papa sini nak" Perintah Fahri. Cici langsung membentangkan tangannya kearah pria itu. Rindu pada papanya lebih besar karena hampir dua minggu mereka tak bertemu.


"Tambah cantik aja" Puji Fahri sambil menciumi pipi anaknya itu. Cici tertawa geli terkena bulu halus diwajah Fahri.


Pria itu merangkul pundak Shania. Ia mengajak istrinya keruang khusus milik ibunya. Ia ingin segera menceritakan semua berita gembira ini.


"Bu, ayo kita keruang ibu!" Ajak Fahri. Ibu dan Aisyah pun bangkit dan ikut menuju ruangnnya.


Dalam tempat itu tak henti-hentinya Fahri mengusap perut Shania. Seperti ada magnet yang menarik telapak tangannya untuk mendekat kepermukaan yang masih datar itu.


"Bagaimana keadaan mu Shania? katanya habis sakit?" Bu Wiji baru saja dari kamar mandi. Ia juga ikut duduk di sofa bersama anak dan menantunya.


"Alhamdulillah sudah membaik bu"


"Tapi aku melihatmu masih pucat" Aisyah datang dengan membawa beberapa cangkir teh, ia meletakkan di atas meja ruang itu.


"Iya tapi sekarang jauh lebih baik dari tadi" Jawabnya sambil tersenyum menatap Fahri.


"Oh ya bu! langsung sajalah. Aku gak mau menyimpan berita gembira ini terlalu lama" Ucap Fahri sambil menatap wanita yang duduk disampingnya, Shania membalas tatapan itu dengan senyumnya yang manis.


"Ada berita apa ini? cepat beritahu ibu!" Ucap bu Wiji antusias. Fahri tertawa melihat ibunya.

__ADS_1


"Shania....." Bu wiji dan juga Aisyah menatap lekat pada Fahri, kemudian bergantian pada Shania. Mereka tak sabar mendengarkan ucapan Fahri.


"Cepatlah mas!" Pekik Aisyah tak sabar. Fahri senang melihat ketegangan mereka.


"Shania mengandung anakku" Ujarnya cepat. Bu Wiji dan Aisyah tersenyum bahagia. Mereka saling memandang saking kagetnya dan segera mendekati Shania. Mereka tak peduli dengan keberadaan Fahri, bahkan Aisyah mendorong Fahri agak memberinya tempat.


"Kamu beneran hamil nak?" Tanya bu Wiji dengan raut muka bahagia. Ia masih belum percaya seratus persen jika bukan Shania yang mengatakan.


Shania mengangguk pelan.


"Shania beneran hamil bu" Jelas Shania. Bu Wiji langsung memeluknya dan mencium kedua pipi Shania. Hatinya begitu senang mendengar berita bahagia itu, setelah ini ia akan menjadi seorang nenek.


Bu Wiji sangat mencintai anak kecil. Dia sudah mendambakan seorang bayi hadir dirumah mereka jauh sebelum Shania dan Fahri saling kenal. Bahkan saat Fahri sudah kelas 2 sma bu Wiji masih menginginkan anak bayi, tapi dilarang oleh Fahri karena ia malu punya adik bayi.


"Kamu harus lebih intensif mengawasi istrimu, Fahri. Jangan biarkan dia bekerja keras dan jangan lupa mengingatkannya makan dan minum susu. Oh iya vitamin jangan sampai lupa" Cerocos bu Wiji, Fahri mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal sedangkan Shania senang melihat Fahri kebingungan. Ahh ini pengalaman pertamanya menjaga wanita hamil.


"Cici akan punya adik ya?" Bocah itu yang awalnya sibuk dengan mainannya sekarang sudah berdiri tepat didepan perut Shania. Ia mengetuk perut Shania yang datar dengan punggung tangannya. Semua tertawa melihat tingkah bocah gimbul itu.


"Kamu sudah makan nak?" Tanya bu Wiji penuh perhatian. Ia tahu rasa tidak nyaman saat hamil muda, maka ia harus menekankan pada Fahri untuk selalu siaga pada Shania.


Shania mengangguk, entahlah ia merasa malas berbicara sekarang walaupun pada mertuanya mungkin ini bawaan jabang bayi.


"Nasi goreng buatan dia" Shania menunjuk suaminya. Ia sungguh tak sopan dengan kelakuannya menunjuk-nunjuk suami. Tapi memang itu bawaan embrio di perutnya.


"Nasi goreng? kamu ngasih istri kamu makanan junk food Fahri?" Pekik bu Wiji. Fahri kaget dan gelagapan.


"Seharusnya orang hamil dikasih makan buah dan sayur, bukannya nasi goreng" Gerutu bu Wiji.


"Shania yang minta bu. Tiba-tiba aja aku ingin makan nasi goreng dan saat itu aku belum tahu kalau aku hamil. Kita baru mengetahuinya sebelum kesini"


Bu Wiji pun mengangguk paham. Fahri hanya menggeleng kepala mendengar keposesifannya ibunya.


"Emmm.... Kita pamit dulu lah bu. Biar Shania istirahat" Fahri berdiri dan menjulurkan tangan pada ibunya untuk mencium dengan khitmad pinggung tangannya.


"Iya sudah hati-hati dijalan. Jangan ngrbut Fahri! Ingat disini ada benihmu!"


Mereka pun pulang menuju rumah meninggalkan ibunya dan juga Aisyah, adikknya.

__ADS_1


Cici didudukkan dibelakang oleh Fahri. Tak lupa ia memasangkan sabuk pengaman pada bocah gembul itu dan mendekatkan semua mainannya agar dia diam dan tenang.


"Mama adik Cici sedang apa sekarang?" Tanya Cici polos. Shania tersenyum mendengar itu.


"Dia masih bobok sayangku"


"Emmm yang! mau langsung pulang atau kerumah mama Hamidah dulu memberitahunya?"


"Pulang aja bi. Aku ngerasa gak enak badan nih" Shania memegang tengkuknya dengan wajah lelah. Fahri pun menurut dan melajutkan mobilnya kerumahnya sendiri.


"Ingin makan apa siang ini yang?" Baru saja turun dari mobil Fahri langsung menanyakan hal itu. Shania nampak berfikir, pria itu malah cekikikan melihat ekspresi sangat istri.


"emangnya apapun yang aku inginkan kamu mau menurutinya?" Tanya Shania menatap lekat sang suami. Fahri mengangguk seakan ia sanggup mencarikan apapun yang istrinya inginkan


"Aku mau makan gudeg jogja bi"


"Baiklah" Fahri mengeluarkan kunci mobilnya dari saku celana. Ia berencana akan membelikan gudeg khas Jogja di dekat taman kota.


"Wait bi!"


"Aku maunya gudeg Jogja yang dekat balioboro"


Whaaatttt! Fahri menghentikan langkahnya, ia menelan ludahnya kasar. Ada perasaan menyesal menawari Shania makan apapun. Ia mengira Shania adalah Shania yang dulu ia lihat pertama kali. Makan makanan biasa yang tak mungkin sulit untuk dituruti. Tapi nyatanya bawaan bayi memang sangat menyusahkannya.


"Gimana bi? Ayo aku keburu laper"


Fahri terlonjak kaget dari lamunannya. Ia tersenyum getir pada sang istri.


Shania terkekeh. Ia hanya menggoda Fahri. Suaminya memang selalu sempurna tak pernah melakukan kesalahan padanya hingga muncul ide untuk membuat suaminya merasa bersalah tak sanggup menuruti keinginannya. Tapi wajah itu terlihat begitu menyedihkan.


"Aku hanya bercanda bi. Makan apapun aku mau kok. Makan kamu pun aku juga mau" Shania mengedipkan matanya dan lari dari Fahri setelah menggoda sang suami. Fahri tak sabar ingin menuruti permintaan terakhir istrinya.


hai readers maaf baru up✌ soalnya lagi ada beberapa masalah tapi insya Allah akan lebih rajin lagi.


jangan lupa like, komen dan vote yaaa


I love you

__ADS_1


📷 : choirul_amalia26


__ADS_2