
Hari ini adalah hari pertama Shania masuk kuliah. Ia menempuh pendidikan di kampus yang ia impikan. Ada peran Fahri disana.
Fahri adalah salah satu alumni dengan ipk cumluade di kampus itu. Ia juga kenal dengan dosen bahkan rektor disana karena memang Fahri orang yang aktif dan juga ia menjadi pengusaha muda.
Hal pertama yang dilakukan mahasiswa baru adalah ospek. Shania menjalani ospek layaknya mahasiswa baru lainnya. Meskipun usia Shania hampir 22 tahun tapi wajahnya masih awet muda layaknya anak sma.
Banyak katingnya yang berusaha menggoda Shania karena dia terlihat anggun dan santun, tidak seperti kebanyakan anak muda yang apabila digoda akan malu kadang juga malah ganjen😂
Shania hanya tersenyum ketika ada yang mendekatinya dan bertanya lulusan mana. Ahhh mereka masing anak-anak, batin Shania.
"Hari ini kita seminar lo. narasumbernya ganteng uhhh pengusaha muda lagi" celetuk salah satu mahasiswi disana.
Shania masih fokus dengan kertas-kertasnya. Jadi ia belum tahu jika sekarang ada seminar.
"Shania, ayo ke aula sana" ajak teman Shania, Devi namanya.
"Mau ngapain kesana?" tanya Shania heran. Devi memutar bola matanya gemas dengan kelakuan cuek Shania.
"Ada seminar kalee... kamu gak denger seisi kelas heboh karena narasumbernya ganteng banget"
"Oh" sahut Shania sambil berdiri dari duduknya.
Devi tercengang dengan ekspresi temannya itu.
Acara seminar dimulai. Pemandu acara sedang sibuk menyampaikan susunan acaranya. Shania tenang menatap kedepan, ia lebih fokus pada acara ini daripada teman-temannya yang sibuk memotret dan menjadikan hasil fotonya sebagai status.
"Baiklah kita sambut narasumber kita hari ini, Tuan Fahri hamzah abraham selaku ceo abraham corp"
Shania yang fokus pada acara itu sedikit kaget.Ia tidak menduga kalau Fahri mengurusi perusahaan besar milik keluarga Abraham. Ia mengira kalau Fahri hanya karyawan biasa yang jauh dari jabatan ceo. Bukan karena apa-apa, tapi Fahri sangat sederhana. Tak pernah Shania melihat kesombongan dalam diri Fahri, yang ada Fahri itu sabar dan rendah hati.
"wahhh tampan sekali"
"udah nikah belum ya"
"uhhh mau deh jadi istri kedua kalo udah punya yang pertama"
Suara remaja-remaja itu saling bersautan kesana kemari. Shania yang mendengar sedikit menyinggung senyum, lucu sekali.
"Ganteng banget ya Shan." Ternyata Devi juga terpengaruh dengan mahasiswi lainnya. ia juga terlihat sedikit heboh walaupun tak seheboh kawan yang lain.
"hmmmm..." jawab Shania sambil berusaha menahan tawa.
Acara berjalan lancar. Selepas acara itu Shania pergi ke kelasnya lagi. Ia bersiap untuk pulang. Karena tak membawa mobil ia menghubungi pak Man supir papanya untuk datang.
__ADS_1
Shania mengotak-atik hpnya sambil duduk disalah satu kursi disana. Sesekali ia mengedarkan pandangan ke lingkungan kampus.
"Shania"
"Loh kak Fahri belum pulang?"
Shania bertemu pria itu. Ia berdiri tepat disamping Shania, sepertinya ia datang dari gedung dekan.
"belum. kamu kenapa gak pulang?"
"Aku nunggu pak Man kak. Males bawa mobil sendiri jadi minta dijemput"
"Oh kalau begitu bareng aku aja Shan. kita searah kan" saran Fahri. Shania hanya tersenyum, ia sedikit sungkan jika lagi-lagi merepotkan Fahri.
"Enggak deh kak entar ngerepoti"
"Apaan sih Shan. udah ayo"
Karena sedikit dipaksa Shania mau. Ia berjalan beriringan dengan Fahri hingga menimbulkan kecurigaan banyak mata. Banyak yang membicarakan Shania, entah iri atau takjub.
"kak aku jadi gak enak deh sama fans kamu" kata Shania ketika tengah berjalan.
Fahri menatap Shania bingung.
Fahri hanya mengangkat bahunya cuek.
Didalam mobil mereka saling diam. Shania menatap keluar mobil sedang Fahri berusaha fokus dengan kemudinya walaupun hati Fahri berdegup kencang.
Entah ini nervous atau apa, perasaannya aneh. Antara senang bisa bertemu Shania hingga mengantarkannya pulang dan perasaan malu juga canggung.
Tapi Fahri sangat pandai menutupi gelagat gugupnya. Ia hanya diam dan menggerakkan kepalanya pelan seolah ia sedang bersenandung.
"Gimana kuliahnya tadi Shan?" akhirnya ia mendapat sebuah pertanyaan untung menghilangkan gugup.
"Ah... ya begitu aja kak. Kurasa aku sudah terlalu tua untuk menikmati masa-masa ini hehehe" jawabnya sambil nyengir kuda.
"kalau untuk kamu Shan, saat ini adalah masa dimana kamu harus fokus. Udah gak sama kayak anak-anak baru lulus sma."
Shania mengangguk senang.
Mobil Fahri berhenti disebuah sekolah anak. Shania heran tapi tetap diam tak mau disangka sebagai orang yang banyak bertanya.
"Kita ke sekolah Cici dulu ya! ini waktunya dia pulang" kata Fahri sambil melepas sabuk pengaman. Shania juga melakukan hal serupa.
__ADS_1
"kak Shania" teriak seorang anak kecil. Siapa lagi kalau bukan Cici.
Ia terlihat sangat lucu dengan setelan seragam sekolah motif kotak-kotak. Ditambah dasi kupu-kupu dan rok selutut. Ahhh imut sekali kau Cici, batin Shania.
Fahri dan Shania berjalan mendekat kearah Cici. Bocah itu langsung menghambur dipelukan Shania. Karena terlalu keras menabrak tubuh Shania, keseimbangan wanita itu lemah dan akan jatuh tapi dengan sigap Fahri menghadangnya.
"Cici hati-hati dong" Tegur Fahri.
"gak papa kak. jangan dimarahin! kasian dia" sahut Shania membela Cici.
Mereka bertiga pun berjalan kearah mobil. Cici menggandengkan kedua tangannya pada Fahri dan Shania sehingga terlihat seperti pasangan muda yang sangat cocok.
"Istrinya cantik banget pak" sahut seorang ibu-ibu.
"bu...." belum sempat Fahri menjelaskan, Shania menahannya. Ia tak mau terjadi keributan atau salah faham disana.
"Maaf mas kalo tadi aku ngelarang mas buat jelasin. Aku cuma gak mau menimbulkan keributan aja" tutur Shania ketika mereka sudah ada didepan mobil. Karena merasa bersalah pada Fahri Ia menundukkan kepala.
"Enggak papa Shan. santai aja" sahut Fahri karena ia tau Shania takut padanya. Padahal Fahri sangat senang dengan hal itu. Senang kalau dia dikatakan cocok dengan Shania.
Mereka melanjutkan perjalanan pulang. Cici duduk dipangkuan Shania. Awalnya bocah kecil itu bercerita segala kegiatannya disekolah karena memang Fahri selalu menanyakan apa saja yang dilakukan disekolah.
Fahri sudah terlihat seperti sosok papa yang perhatian. Bahkan Fahri mengenal beberapa guru disana supaya bisa mengotrol Cici secara intensif.
Rasa kagum menyeruak dihati Shania. Bahkan ia yang seharusnya menjadi calon ibu tak tau apa yang harus ia lakukan ketika memiliki anak.
Lama kelamaan Cici lelah dengan ceritanya sendiri, ia tidur dipelukan Shania. Secara spontan tangan itu mengusap lembut kepala Cici
Shania merasa cukup bersyukur ketika ia menikah dengan Zu tak memiliki anak, karena ia takut anaknya tak mendapat kasih sayang seorang ayah.
"Sudah sampai Shania." Fahri menepikan mobilnya.
"oh iya. mampir dulu kak!"
"enggak deh. Cici tidur entah ganggu"
Shania pun menggendong Cici dan meletakkannya di kursi penumpang. Ia mengganjal tubuh Cici dengan guling supaya tidak jatuh.
"udah kak. Beneran nih gak masuk dulu?"
"kapan-kapan aja Shan."
Jangan lupa like,coment and vote gengs...
__ADS_1
doakan semoga karyaku ini cepet tamat yah