
Bel alarm dari hp Shania berbunyi, pertanda waktu Sholat tahajjud. Ia segera bangun dan sedikit menggerakkan tubuhnya supaya menetralkan persendian.
"Alhamdulillah masih dikasih kesempatan sholat sama allah" gumamnya sambil menyinggung senyum.
Shania bangkit dari tidurnya, ia berjalan ke kamar mandiri kemudian sholat di pojok kamarnya.
Ditempat lain, pria itu bangun dan melaksanakan sholat malam. Dalam doanya ia menyelipkan agar diberi jodoh yang sholihah, cantik dan pastinya sayang pada dirinya dan Cici.
"hikss... hiksss... hiks... kak Shan"
Fahri berdiri dan melihat Cici tidur diranjang ukuran jumbo itu. Ia seperti mengigau karena matanya tetap terpejam walaupun keluar air mata.
Fahri mendekatinya. Ia berusaha menenangkan bocah itu agar tidak menangis.
Ia memeluknya penuh sayang.
"kamu demam Ci?" ia bertanya seolah minta dijawab. Karena dahinya sangat panas, jadi Fahri kaget.
"Aku lupa dia masih bocah"
Fahri melipat tangannya dipinggang. Baru pertama kali ini ia mengurusi anak kecil sakit walaupun ia sudah menganggap Cici seperti anak sendiri tapi semua kebutuhan bocah itu diurus Pengasuhnya.
Setelah pulang dari pesta sebenarnya Cici akan dibawa langsung ke kamarnya. Tapi ia kasihan mau membangunkan pengasuh Cici. Mau tak mau ia bawa Cici kekamarnya.
"ahh... aku kompres aja" ia mengambil kain handuk kecil juga air diwadah kemudian ia pasangkan kain itu didahi Cici. Setelah beberapa saat bocah itu sudah tenang dan tidur lagi.
***
Pagi hari ini Shania siap menuju kampus. Ia sangat cantik dengan jilbab warna toska itu. Walaupun sebenarnya tubuh Shania agak lelah tapi ia tak ingin ketinggalan pelajaran hari ini, apalagi sekarang mata kuliah pak Restu temennya Fahri. Ia harus menunjukkan kalau dia tak kalah jauh dengan si jenius Fahri.
"Berangkat bawa sayang? mobilmu di bengkel kan?"
Shania mengangguk, ia duduk di tempat makan dan sedang mengunyah roti isi coklat.
"pak Man ada kan ma? atau aku naik taxi online aja lah" jawabnya.
"pak Man kan harus ikut papa dan mama keluar kota. kamu pakai taxi online aja ya"
"Baiklah. ya udah aku berangkat dulu. Assalamualaikum mamaku"
" iya sayang. Waalaikum salam"
Setibanya di kampus, Shania langsung disambut beberapa temannya yang ia undang kemarin ke acara anniversary toko. Banyak dari mereka yang kaget jika Shania adalah owner toko roti besar itu. Hanya Devi yang telah mengetahui semua, semenjak di kampus itu Shania sangat dekat dengan Devi. Mereka sangat akrab karena banyak kesamaan antara mereka.
__ADS_1
"Aku kira kamu gak masuk. emmm... di anterin pak Fahri?" Devi menyelidik, ia mencari disisi kanan dan kiri Shania.
"apaan sih. aku kesini naik taxi. mobilku masuk bengkel"
Mereka berbincang sambil jalan. Jam pertama adalah mata kuliah pak Restu. Ia tak ingin telat di jam pelajarannya takut dikatakan tak profesional.
"Eh elo tau gak sih Shan. kemarin tuh semua orang pada ngomongin kamu pas jalan sama pak Fahri apalagi ada anak kecilnya. Ihhh tapi kalian cocok banget" Sedikit lebay memang Devi itu tapi Shania suka karakternya. Shania hanya tersenyum, ia berjalan mendahului Devi karena tak mau ketahuan malu.
Selesai mata kuliah pak Restu, Shania dan Devi pergi ke kantin. Lapar sudah ditahannya sejak pagi karena hanya roti yang mengganjal perut.
Seperti biasa, sepanjang jalan selalu ada mata yang menatap mereka. Laki-laki maupun perempuan. Tak hanya Shania yang cantik, Devi juga sama cantiknya. Tapi muka Devi nampak lebih ceria dan bar-bar tidak seperti Shania yang kalem.
Drttt....
Drtttt....
Drtttt...
"iya Assalamualaikum mbak Aisyah"
"......."
"Loh sakit apa mbak?"
"......."
"......."
"aku naik taxi aja kasian kak Fahri entar."
"......."
"yaudah aku tunggu didepan kampus"
Shania merapikan barangnya. Ia bersiap untuk ke rumah Fahri, padahal makanannya baru saja datang.
"mau kemana Shan. keburu aja deh" tanya Devi keheranan melihat Shania bingung merapikan barangnya.
" Aku harus pulang sekarang deh. soalnya ada urusan mendadak. Assalamualaikum"
"Wa... waalaikumsalam" Devi menatap kepergian Shania heran. Tapi yah namanya Devi ia tetap melanjutkan makannya karena baru saja datang.
Raut muka Shania sedikit panik. Ia merasa harus segera sampai rumah Fahri tapi Aisyah melarangnya karena Fahri akan menjemputnya sendiri setelah ini.
__ADS_1
"ayo masuk" seseorang membuka kaca mobilnya. Terlihat Fahri disana dengan seragam kantor. Senyum manisnya tak pernah pudar ketika menatap sosok wanita sholihah itu.
Shania masuk dikursi sebelah pengemudi. Awalnya Fahri yang akan membukakan pintu itu untuknya, tapi dengan sigap Shania melarang.
"Dia baik-baik aja kan kak?"
"Siapa?" Fahri bingung
"Cici. katanya mbak Aisyah tubuhnya panas banget. terus manggil-manggil namaku?"
"Oh jadi ini rencana kamu Ais. Wah pinter banget adikku ini"gumam Fahri tersenyum. Jadi ceritanya tadi Aisyah menelepon Fahri. Ia mengatakan jika Shania tak bisa pulang dari kampus karena mobilnya masih di bengkel jadi tadi si Shania meminta jemput Fahri, tapi karena malu maka ia menghubungi Aisyah. Awalnya Fahri tak percaya dengan ucapan adiknya tapi karena ada sebuah rasa maka tanpa berfikir panjang ia langsung meluncur ke kampus dan meninggalkan pekerjaannya.
"gimana mas? iya kan?" Shania masih tanpa cemas dan khawatir. Ia belum mengetahui kebenarannya yang dibuat-buat oleh Aisyah.
Ahhh entahlah apa nasibnya Fahri jika semuanya ketahuan.
Memang pagi tadi saat tidur Cici memanggil nama Shania tapi hanya sebentar. Setelah itu ia tidur lagi seperti sedia kala.
Saat tiba rumah, Shania langsung keluar. Ia berjalan sedikit cepat walaupun ia berusaha mengiringi langkah Fahri yang santai.
"kak kenapa kamu santai banget? dia sakit lo.." Shania tak terima dengan kelakuan Fahri yang terkesan menyepelekan. Sejak dimobil tadi Fahri berusaha mengajak bicara Shania tapi tak pernah ia hiraukan. Sekarang satu-satunya konsentrasi Shania adalah Cici.
"Dimana dia kamar kak?"
"itu" ia menunjukkan dengan acungan kepala. Shania kesal tapi membiarkan sikap aneh Fahri, ia menuju kamar itu.
"Gimana keadaanya mbak Aisy?" Shania duduk disisi lain tempat tidur Cici. Bocah itu sekarang tengah tidur tenang.
"Udah baikan Shania. Semoga aja cepat sembuh" Aisyah sangat ahli dalam akting. Ia akan meminta bayaran ke kakaknya yang telah membuat sebuah drama ter elit itu.
"Ayo kita keluar. biar dia sama pengasuhnya"
Shania berat meninggalkannya tapi karena Aisyah meyakinkannya maka ia menurut.
Diruang tamu sudah ada bu Wiji dan juga Fahri. Mereka terlihat asyik berbicara sambil diselingi tawa. Shania merasa sedikit sungkan karena mengganggu family time mereka.
"Ayo nak Shania sini. " bu Wiji menepuk tempat kosong di samping. Shania pun menurut dan duduk disana.
jangan lupa like and coment. aku hari ini udah up dua loooo..π’π’π’ demi kalian pembaca tercintakuuuuhhh
aku cinta kalianππ
follow ig ku choirul_amaliyah26
__ADS_1