Surga Baruku

Surga Baruku
14


__ADS_3

"Ternyata Allah memberi yang terbaik untuk kita" gumam Shania pelan. Ia bersyukur karena akhirnya bisa menerima keputusan Zu dengan lapang dada. Memang kemarin-kemarin ia sudah mulai menerima tapi semakin kesini hatinya semakin ikhlas. Bayangan Zu perlahan hilang berganti dengan sosok yang masih abstak.


Shania masih enggan mengisikan ruang hatinya yang kosong. Ia lebih senang menghabiskan waktunya untuk anak panti dan juga usahanya toko roti itu.


Tepat hari ini adalah hari dimana masa iddah Shania selesai. Tapi ada sedikit guratan kekecewaan ketika mengingat Zu. Sempat terbesit dibenaknya harapan Zu mengajaknya rujuk, tapi semua itu hanya harapan.


Dua hari yang lalu Shania telah menghubungi salah satu jasa katering langganannya. Ia juga menelepon Ghina untuk mengirimkan beberapa roti. Rencananya Shania akan mengadakan tasyakuran kecil-kecil karena masa iddahnya telah selesai. Ia juga berencana akan pulang kerumah mamanya dan tidak tinggal di panti lagi.


Kesedihan menyelimuti panti asuhan Miftahul Huda. Terlebih si Novi dan juga Aisyah. Mereka merasa Shania sudah menjadi bagian terpenting dari panti asuhan.


"tenang aja mbak novi. Aku ini cuma pindah tidur kerumah. Aku pasti sering-sering kepanti kok" katanya sambil mengelus punggung Novi.


Shania berjalan kearah sofa. Ia sedikit lelah karena mempersiapkan acaranya. Ia mengambil hp dari saku roknya dan melihat beberapa notif disana.


"Rencananya mau kuliah dimana Shan?"


"Eh..." Shania sedikit kaget dengan suara itu. Ia menoleh dan melihat Fahri berdiri disana. Ia menggunakan setelan jas lengkap dengan jam tangan matoanya, perfect.


"A.. aku kak?"


Fahri tersenyum melihat Shania. Sangat lucu dan menggemaskan.


"iya lah. emang disini ada siapa lagi hmmm?"


Shania hanya cengengesan.


"Aku rencananya mau di univ xxx jurusan menejemen bisnis kak, menurut kakak gimana?"


Shania yakin Fahri sangat berpengalaman. Bukan hanya Fahri sudah menjadi ceo tapi ia juga menjadi mahasiswa terbaik dengan ipk cumlaude saat S1 nya di Indonesia. Kemudian Fahri melanjutkan S2 nya di oxford inggris pada jurusan yang sama.


"Wahh bagus tuh. aku kenal sih beberapa dosen disitu. biar aku daftarin aja"


"Ahh... enggak kak. entar ngerepoti kakak."


"Enggak. tenang aja"


Shania pun menerima semua itu dengan senang hati.


"lumayan lah gak usah repot-repot" Batin Shania sambil tersenyum.

__ADS_1


Acara tasyakuran telah selesai. Shania sudah bersiap pulang, semua barangnya sudah ia kemas kedalam mobil.Pak Man supir papanya sudah menunggu dimobil. Begitu berat bagi Shania akan meninggalkan tempat berkah itu. Semua tawa dan sedih mereka lalui bersama.


"kak Shania" teriak seorang anak kecil. Siapa lagi kalau bukan Cici.


Shania yang hendak masuk mobil menoleh kearah suara. Cici yang awalnya berada digendongan Fahri meminta turun paksa.


"Cici, kak Shania pulang dulu ya" pamit Shania sambil jongkok didepan Cici.


"enggak boleh. Aku maunya sama kak Shania hikss... hiks..." Cici menangis dalam pelukan Shania. mereka memang sudah sangat dekat dan akrab.


"Cici dengerin kak Shania dulu deh" Shania berusaha membujuk bocah kecil itu tapi tangisan Cici semakin histeris. Fahri yang berdiri tak jauh dari sana datang menghampiri mereka, ia juga akan berusaha membujuk Cici.


"Enggak bang Fahli Cici enggak mau. Cici mau kak Shania disini" beberapa alasan ia buat-buat agar Cici mau ikut dengannya dan membiarkan Shania pulang, tapi Cici tetap tak mau dan malah mempererat pelukannya.


"ya sudah kak Fahri saya akan tinggal disini sebentar."


Ia berdiri sambil menggendong Cici. Shania mendekati mobil dan mengatakan pada pak Man jika ia pulang nanti sore. barang-barang tersebut akan tetap dibawa pak Man.


"Apa agenda kita hari ini?" tanya Shania mengalihkan Cici agar tidak menangis lagi.


"emmm... kita ketaman yuk beli es klim" katanya sambil menatap Shania dan Fahri bergantian.


Mereka pun masuk kedalam mobil untuk menuju tempat yang diminta Cici. Fahri sudah sangat memanjakan Cici layaknya anak sendiri apalagi usia Fahri akan memasuki kepala 3. Itu tandanya ia sudah saatnya nikah.


"kak Shania cantik sekali" puji Cici disela-sela keheningan mereka dalam mobil. Fahri yang mendengar itu mengiyakan dalam hati dan sedikit menyinggung senyum.


Shania yang duduk disamping Fahri dapat melihat raut muka pria itu. Cici juga tak sungkan-sungkan menoel-noel pipi Shania dalam pangkuannya.


Wajah Shania merah seperti kepiting rebus, sangat malu.


"kita sudah sampai" kata Fahri sambil melepas sabuk pengaman.


Karena Shania memangku Cici dalam keadaan tidur jadi ia agak kesulitan melepas tali itu. Fahri dengan sigapnya langsung melepaskannya benda itu.


"Sini biar Cici aku gendong" kata Fahri. Ia mengarahkan tangannya pada Shania.


"enggak papa kak biar aku aja" jawab Shania menolak. Tapi Fahri tak langsung menyerah.


"enggak biar aku aja. nanti kamu gak kelihatan jalan kalo gendong dia. Cici makin gendut ini" kata Fahri. Mau tak mau Shania menyerahkan anak kecil itu pada Fahri.

__ADS_1


"be...rat banget kamu Ciii...." kata Fahri sambil mengambil alih Cici dari Shania.


Shania tersenyum melihat ekspresi Fahri.


"hmm katanya minta jalan-jalan eh ini malah tidur" gerutu Fahri sambil terus berjalan beriringan dengan Shania.


Sesekali Shania menoel pipi gembul milik Cici yang menempel pada pundak Fahri.


"kita kesana yuk mas" ucap Shania menunjuk kearah kursi taman. Fahri hanya mengikutinya.


Banyak orang berlalu lalang disana. Kebanyak mengantar anak mereka bermain, ada juga yang bersama kekasihnya.


"Ahhh hatiku sakit" gumam Shania. Ia tiba-tiba teringat Zu.


"pasangan so sweet"


"cantik sama ganteng anaknya lucu deh"


"pingin nyubit pipinya papanya deh. gemes"


Shania diam seolah tak mendengarnya. Hatinya masih sangat tertutup untuk siapapun bahkan Fahri yang ada disampingnya.


Berbeda dengan Fahri. Pria itu sedikit menyinggung senyum, ada gejolak senang dan bangga bahwa ia dikatakan suami dari wanita cantik disebelahnya.


"ahhh... berat juga ni bocah" ucap Fahri ketika mereka sudah duduk dikursi. Shania hanya tersenyum, untung ia tak jadi menggedong Cici.


"capek banget ya kak Fahri" tanya Shania.


Fahri tersenyum malu. Ia malu karena ketahuan tak kuat menggendong Cici. Padahal maksud ia mengatakan hal itu agar Shania menawarinya sebuah pijitan tapi lagi-lagi zonk.


"Mana es klim nya bang Fahri" tiba-tiba Cici bangun dari tidurnya. Ia masih menyandarkan kepalanya pada dada bidang Fahri, tubuhnya masih lemas.


"udah bangun?" tanya Shania menatap anak kecil itu. wajahnya sedikit ditundukan menatap Cici. Fahri menatap kain penutup rambut itu, baunya harum walau berjarak.


"heemm..." Cici mengangguk pelan.


"tunggu sini dulu deh. biar aku yang beli." kata Shania. Ia hendak berdiri tapi Fahri menahannya.


"aku aja yang beli. kamu disini sama Cici"

__ADS_1


"baiklah"


__ADS_2