Surga Baruku

Surga Baruku
16


__ADS_3

"Mama nanti datang kan ke ulang tahunnya toko rotiku?" Tanya Shania antusias. Ia sudah menyiapkan itu jauh-jauh hari.


"Iya sayang. Papa kamu sampai ambil kerja setengah hari tuh demi acara kamu" ujar Hamidah sambil menggerakkan kepalanya kearah suami yang berjalan menuruni tangga.


Shania mengikuti arah pandang mamanya. Ia tersenyum dan berlari menghambur dalam pelukan papanya.


"Makasih pah"


"Iya sayang. Demi anak semata wayah papa"


Cup....


Abdullah mencium pucuk kepala anaknya. Hamidah terseyum melihat kelakuan dua orang itu.


Orang tua Shania masih menganggap putrinya adalah anak kecil yang tak tau apapun. Terkadang Shania malu dengan perlakuan orang tuanya apalagi didepan umum.


Shania sangat mencintai kedua orang tuanya. Walaupun mereka menganggap Shania masih kecil dan butuh banyak bimbingan tapi Shania tetap diberi kepercayaan penuh dalam mengambil keputusan. Begitu juga keputusannya dalam rumah tangga kemarin. Abdullah dan Hamidah tak pernah menyalahkan pihak manapun, ia tau jika jalan yang diambil oleh mereka adalah yang terbaik.


"Udah yuk makan dulu sayang" ucap Hamidah pada keduanya yang masih sibuk bicara. Hamidah menyiapkan makanan di piring anak dan suaminya.


"Habis ini mau langsung ke toko Shan?" Tanya Abdullah setelah makan.


"Iyah lah pa. Doakan semoga acaraku sukses!"


Abdullah mengangguk dan mengusap kepala Shania ditambah senyumnya.


Selesai sarapan Shania dan papanya bersiap ke tempat masing-masing. Mereka membawa mobil sendiri karena tempat tujuan mereka berbeda arah.


Dalam perjalanan Shania menyalakan murrotal quran untuk menemaninya. Sesekali bibirnya ikut bergumam mengucapkan lafadz seperti dimurrotal.


Dug...


" Loh kenapa nih?"


Shania bingung menatap kiri dan kanannya. Mobil yang ia kendarai tiba-tiba mogok. Entah apa penyebabnya padahal ia rutin mengservis mobil kesayangannya.


"Aduh kenapa juga nih mobil. Perasaan baru minggu lalu deh diservis"


tok... tok... tok...


"kenapa mobilnya Shan"


Shania menoleh kearah kaca mobil, ia mendengar sebuah ketukan dan ternyata itu Fahri. Shania membuka kaca mobilnya


"kenapa mobilmu?" tanya Fahri lagi.


"enggak tau kak. tiba-tiba aja mogok, padahal baru di servis" jawabnya polos. Laki-laki itu tersenyum singkat mendengar nada suara Shania.


" Sini biar aku liat. Boleh kan?"


Fahri siap melipat lengan kemejanya. Ia sudah berdandan sangat tampan dengan kemeja biru muda dan celana warna navi.


"Emang kakak bisa?" Shania menyelidik, ia menatap Fahri heran karena memang penampakan Fahri adalah pria pebisnis yang hanya tau urusan kantor bukan masalah mesin.

__ADS_1


"kan aku bilang mau lihat. Entah bisa atau tidak heheheh" jawabnya nyengir. Shania ikut tertawa dengan ucapan Fahri.


Shania ikut keluar mobil. Ia melihat Fahri membuka depan mobilnya dan sedikit mengotak-atik mobinya.


"biar aku telepon montir aja deh kak. Kasian tuh baju kantornya entar kotor."


"iya sih. aku juga enggak paham nih apa yang rusak heheh..."


Shania mengambil ponselnya dan menghubungi montir yang biasanya mengurusi mobil dia.


"Kita tunggu sampai mereka sampai aja. Entah kamu aku antar ke toko" kata Fahri.


Sebenarnya Shania tidak enak hati memlihat kebaikan Fahri tapi mau bagajmana lagi, ahh.


Setelah montir itu datang, Shania masuk kedalam mobil Fahri. Mereka melaju menuju toko roti milik Shania.


"Persiapan acara udah berapa persen Shan?" tanya Fahri sambil fokus menatap kedepan.


"Hampir 100% lah kak. kan acaranya nanti malam"


" bagus deh. Wah kamu sukses banget jadi pebisnis muda" puji Fahri. Shania hanya tersenyum.


Setibanya di toko roti itu, Shania langsung turun. Fahri tetap dimobil karena memang ia sudah sedikit terlambat.


"Maafin aku ya kak jadi ngerepotin."


"Santai aja kali Shan. Udah aku berangkat dulu"


"iya kak. Jangan lupa datang nanti malam! ajak Shania juga ya!"


"Assalamualaikum semua!" ucap Shania sedikit keras ketika masuk toko.


"Waalaikum salam" jawab mereka serempak.


"Tumben datangnya agak siang mbak?" tiba-tiba Ghina datang dari arah dapur.


"Tadi mobilku mogok huft"


"Loh terus gimana mbak sekarang?"


"Udah dibawa montir ke bengkel. Syukurlah tadi ketemu sama kak Fahri" jawab Shania sambil tersenyum simpul.


"ehemmm... ehemmm..." Ghina berdehem keras. Secara spontan wajah Shania memerah, entah malu atau menahan amarah.


"Apaan sih Ghin. Dia emang baik tau! suka nolongin orang " Shania mengelak. Wajah putih mulus itu tetap merona.


" Siapa sih mbak yang bilang dia jahat. Apalagi kalau yang ditolongin si mbak Shania pasti dia garcep"


Shania meliriknya kesal. Kesal campur malu menjadi satu. Kemudian ia pergi meninggalkan Ghina yang terus tertawa


cekikikan.


"Loh mbak... mbak Shania kok pergi" Ghina terus mengikuti arah jalan Shania. Tapi tiba-tiba ada seorang karyawan yang menghentikannya dan mengajak dia berbincang.

__ADS_1


"Ah sialan deh" gumamnya kesal karena tak berhasil menggoda Shania lagi. Tapi apa boleh buat, ia harus profesional dengan pekerjaannya.


Persiapan acara sudah hampir sempurna. Acara ulang tahun toko dirayakan cukup mewah karena memang roti buatan toko Shania itu sudah menjadi primadona di kota besar itu.


Shania mengundang pihak keluarganya, teman kampus dan teman lamanya. Tidak lupa ia mengundang mertua dan bu Wiji sekeluarga.


" Alhamdulillah ya Ghin semua udah kelar. Semoga acara berjalan lancar." ungkapnya sambil menatap seluruh dekor disana. Ghina yang duduk disamping Shania hanya tersenyum.


Malam pun tiba, semua keperluan sudah siap. Para pegawai juga sudah rapi dengan pakaian mereka. Shania berjalan kesana kemari untuk menyalami semua tamu undangan. Ia terlihat sangat cantik dengan gamis model mewah berwarna coklat susu, ditambah krudung yang senada.


"Assalamualaikum anak umi yang cantik" berjalan mendekat seorang wanita dengan aura wajah teduh, Cantik dan kalem pastinya.


Shania tersenyum dan memeluk ibu mertuanya. Disamping umi Fatimah ada ayah mertuanya. Dia mengelus kepala Shania ketika dalam pelukan wanita itu.


"Silahkan dicoba hidangan nya umi abi" Shania mengarahkan kedua orang tua sekaligus guru qur'annya itu ketempat dimana makanan tersedia.


"Aku kesana dulu ya umi. mau lihat yang lain"


Shania pergi menemui tamu yang lain setelah mendapat izin dari orang tuanya.


"kak Shania" Teriak seorang anak kecil dari ujung pintu masuk. Siapa lagi kalau bukan Cici si comel.


"Hai anak cantik " Shania mencubit pipi gembul itu dengan gemes. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan pendamping Cici. Tapi tak ada, Fahri tak ada disana.


"kita kembalan kak" Cici menunjukkan bajunya.


Ah iya aku tak menyadarinya, batin Shania.


"kok bisa kebetulan ya" tanya Shania sambil menciumi pipi Cici.


"Anaknya cantik sekali mbak" Seorang tamu datang kemudian melakukan seperti Shania, yaitu menoel pipi Cici. Shania hanya senyum, tak menanggapinya.


"kesini sama siapa baby?" Shania bertanya menyelidiki karena hampir 10 menit tak kunjung datang pengasuh Cici atau bahkan Fahri.


"sama itu" katanya sambil menunjuk Fahri. Pria itu sedang sibuk berbincang dengan mama dan papa Shania di antara gerumunan orang.


Shania tersenyum, seperti ada rasa tenang dan bahagia disana. Entah apa namanya ia merasa mulai nyaman dengan keberadaan Fahri dalam hidupnya.


"Ahhh... jahat banget aku. semudah ini melupakan kak Zu" gumam Shania dalam hati. Kadang perasaan bersalah pada Zu muncul. Hingga saat ini ia tak tau keadaan pria itu, entah meninggal atau masih hidup.


"kak Shania ayo kesana. aku mau itu" Cici yang berada digendongan Shania menunjuk kearah es buah. Dengan senang hati Shania menuruti kemauan Cici.


Mereka berjalan ketempat yang ditunjuk Cici. Beberapa tamu undangan berbisik membicarakan Shania. Ada yang mengatakan sangat cocok antara mereka. Ada juga yang mengatakan anak siapa itu dan lain sebagainya.


"kalian disini ternyata" Fahri datang dari arah belakang. Ia menepuk tangan Cici yang berada dipundak Shania.


Shania menoleh. Ia tersenyum pada pria tampan yang menggunakan batik warna coklat model premium itu.


"Cici turunlah dari gendongan kak Shania. Kasihan dia" Fahri berusaha mengambil Cici, tapi anak itu tak mau turun.


"biar aja lah kak"


mohon maaf baru up soalnya aku lagi sibuk banget hari ini. tapi ini episode terpanjang sih selama kubuat hihihi.

__ADS_1


jangan lupa like, coment and vote yang semua. aku cinta kalian😘


__ADS_2