
Setelah kejadian Hamidah menangkap basah sang putri, kini Shania lebih lega. Ia terperlu lagi menutupi semua masalahnya. Walaupun berat Hamidah dan juga Abdullah menerima semua. Ia yakin Shania mampu melewati semua masalahnya dengan ikhlas dan tabah.
Pagi ini Shania berencana ke dapur untuk membantu teman-teman panti untuk memasak. Ketika hendak menuju ia melihat Aisyah anak bu Wiji.
"Shania" teriak Aisyah. Ia merasa seneng dengan keberadaan Aisyah di panti tapi ia juga sedikit sedih karena mengetahui kisah wanita itu.
Shania tersenyum pada Aisyah
"iya mbak Aisyah. gimana kabarmu?" tanya Shania yang sudah sejajar dengan Aisyah.
"Alhamdulillah Shan. kamu baik-baik saja kan?"
"Seperti yang mbak liat. aku baik."
Shania dan Aisyah berbincang sebentar dan sesekali tertawa. Mereka masih sama-sama muda, tapi perbedaan mereka ada pada beban yang ditanggung masing-masing. Kadang Shania iri melihat Aisyah yang tertawa lepas seakan tak menanggung beban tapi entah dibalik itu semua.
Selepas berbincang ringan, Shania menuju dapur. Jadwal seperti biasa adalah membantu pengurus panti untuk memasak. Sedangkan Aisyah pergi menemui ibunya. Katanya ia akan bergabung dengan Shania dan pengurus panti untuk masak.
"Sekarang masak apa mbak Novi?"
"Kita buat ayam kecap dan capjay mbak Shania" jawab Novi. Novi adalah ketua bagian konsumsi. Ia begitu baik dan mudah berinteraksi dengan Shania.
"Assalamualaikum semua" Dengan nada ceria Aisyah datang. Ia sudah siap dengan apronnya.
"Waalaikum salam, sudah siap masak nih" goda Shania. Aisyah hanya tersenyum dan mulai memotong-motong sayur.
"kau sangat lihai mbak" Shania memuji Aisyah.
"ahh kau bisa saja. Aku baru belajar dari mbak Novi. iya kan?" ia mengedipkan mata pada Novi. Novi tersenyum melihat kelakuan dua cewek yang umurnya dibawahnya.
"Ahhh.... akhirnya selesai juga masak kita." Shania bernafas lega.
Lelah sudah pasti dirasa. Meskipun didapur ada sekitar 5 orang pengurus yang memasak ditambah Shania dan Aisyah tapi rasa lelah itu masih melekat ditubuhnya. Bayangkan ia memasak untuk 300 anak panti asuhan, yap sangat banyak.
Selepas memasak Shania langsung mandi. Ia menuju taman belakang. Suasana disana sangat disukai Shania, apalagi tanamannya beragam juga dirawat oleh orang-orang panti. Ia membawa laptop, alat tulis dan juga al-quran karena rencananya selesai mengurusi data toko roti Shania akan memurojaah quran.
__ADS_1
"hoamm.... kenapa disini anginnya semir-semir. ahhh membuatku mengantuk" gumamnya.
Tapi Shania tak benar-benar dengan ucapannya barusan. Ia tetap sigap menatap laptop yang menyajikan diagram perkembangan toko rotinya. Sekarang toko roti itu dikelola Ghina secara penuh. Shania hanya menanda tangani setiap jurnal yang dikirim anak buahnya kepanti.
Lepas membaca dokumen dan file yang dikirim dari toko, Shania membuka mushafnya. Ia membaca quran dengan tartil dan fasih sehingga terdengar begitu merdu.
Tak jauh dari sana dibalik pohon besar ada sepasang mata yang mengawasinya. Shania tak mungkin sadar karena konsentrasinya penuh pada benda suci didepannya.
"kak Shania" teriak seorang gadis. Berambut lurus dengan potongan seperti dora, ia sangat menggemaskan.
"Hallo Cici" Shania meletakkan alqurannya. Ia berjongkok mengimbangi Cici. Diciumnya pipi gimbul itu deng gemas.
"Dengan siapa kamu disini?"
"sama bang fahli" jawabnya polos. Shania langsung mengedarkan pandangannya. Ia mencari sosok pria tampan dengan setelan jasnya. Tapi nihil Fahri tak ada disana.
"mana kak Fahri?" Tanya Shania berusaha mencari keberadaanya.
Shania masih dalam masa iddah. Ia ingin betul-betul menjauh dari namanya laki-laki karena sejujurnya Shania masih sangat mencintai Zu.
"Ah biarlah" gumamnya.
Shania memangku Cici dan bertukar cerita. Cici menceritakan semua yang menurutnya menarik. mulai dari pergi ke mall sampai tidur berdua dengan Fahri.
Shania heran, mungkin memang Fahri begitu mencintai gadis kecil itu. Ia sudah menganggap Cici sebagai putrinya sendiri.
"Cici apa bang Fahri pernah marah ke kamu?"
"perlah sekali. karena cici makan snack yang dibelikan kak Aisyah. Cici waktu itu batuk kak"
"Ohhh" Shania hanya menganggukan kepala paham. Fahri sangat protektif.
"kak Shania istlinya kak Fahli ya?"
Shania tersentak kaget hingga tak sengaja membuat Cici kaget juga. Bocah yang umurnya belum genah 5 tahun kenapa bisa mengatakan hal seperti itu.
__ADS_1
Jantung Shania sedikit berdegup kencang. Entahlah ucapan bocah itu membuat sekujur tubuhnya menegang kemudian lemas tak bertulang.
"Ayo kita masuk! disini panas" Shania mengalihkan pembicaraannya.
***
"Suara itu menenangkan jiwa ku" gumamnya.
Ia pergi dari tempat persembunyiannya setelah melihat Cici berlari kearah Shania. Ia tak ingin dicap sebagai laki-laki penakut karena ketahuan mengintip seorang cewek.
Fahri masuk panti, ia mendatangi ibunya. Bukannya Fahri tak pernah ke panti selama masa iddah Shania berlangsung. Tapi Fahri sangat memahami jika masa iddah seorang perempuan tak diperbolehkan bertemu laki-laki. Maka ia akan masuk kedalam panti menunggu waktu yang pas. Seperti saat ini Shania sedang sibuk dengan Cici maka ia tak perlu takut masuk tempat itu.
"mas Fahri ngapain ngelamun sih" Tiba-tiba Aisyah menepuk pundak kakaknya pelan. Fahri terperanjak kaget.
"Apaan sih dek. ngagetin aja"
"hahahaha... mas Fahri mah ngelamun. Entar kesambet lo"
Fahri mengusap krudung Aisyah. Ia sangat gemas melihat kelakuan adiknya itu.
"Mas Fahri kusut nih krudungku ah" katanya manja.
Fahri hanya tersenyum jail.
****
Shania berjalan sambil menggendong Cici. Ia sangat menyukai anak kecil. Apalagi seusia Cici. Ia sangat lucu dan cantik
"hai Cici"
"Cici"
"itu Cici sama kak Shania"
Semua anak panti saling berebut memanggil nama anak kecil yang berada digendongan Shania. Cici hanya tersenyum senang sambil sesekali melambaikan tangannya.
__ADS_1
"itu kak Fahri" teriak Cici. Shania yang masih fokus dengan anak-anak kecil langsung berjalan menghindari keberadaan Fahri