
Persiapan untuk acara tujuh bulanan sudah hampir sempurna. Meskipun harus bolak-balik rumah ke rumah mertuanya tapi ia tak masalah, yang terpenting adalah kebahagiaan Shania.
Istri Fahri itu terlihat lebih sehat sekarang, mungkin karena emosinya sudah stabil dan ia juga sudah bisa menyesuaikan dengan keadaan hamilnya.
"Cici sini sama mama" Shania memanggil anak bungsunya. Meskipun dalam kandungan ada seorang janin hasil usahanya dengan Fahri tapi ia tak membedakan rasa sayang dan cintanya pada Cici, anak angkatnya. Ia bahkan merasa bahwa Cici lah sumber kebahagiaannya, dia yang mengajarkan pada Shania peran seorang ibu. Kadang juga Cici yang membuat Shania belajar sabar akibat kelakuannya.
"Sebentar ma aku mau sama kakek"
Bocah itu tengah bermain dengan pak Ahmad, papa Shania. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan gagah itu sangat menyayangi Cici tanpa memandang status. Inilah yang membuat Cici tambah cinta dan sayang pada keluarga barunya.
"Emuaahhhh"
Shania kaget, ia menoleh dan melihat sosok tampan dengan muka lelah yang dipaksa senyum. Siapa lagi kalau bukan Fahri, suami tercintanya.
"Sudah pulang bi?" Tanya Shania. Pria itu kini berjongkok tepat didepan perut sang istri. Tangannya reflek mengusap perut buncit itu sambil sesekali diciumi. Shania tertawa menahan ngeli.
"Dia aktif kan hari ini?" Tanya Fahri. Shania mengangguk.
"Ehhh liat nih dia gerak lagi, mungkin tau didepannya ada papa pulang"
"Oh iya." Fahri meraba daerah-daerah yang ditendangi anaknya.
"Jagoan papa gak boleh nakal yaa! jaga mama untuk kita semua" Nasehat Fahri pada janin Shania kemudian ia menciumnya.
"Loh Fahri sudah pulang rupanya"
"Eh mama. iya baru aja sampai" Fahri mencium tangan orang yang melahirnya sosok tercintanya dengan takdim. Wanita paruh baya itu terlihat masih awet muda, wajahnya masih cantik dengan perpaduan jawa-arab. Papa dari Hamidah adalah orang arab yang merantau di Indonesia sedangkan mama dari Hamidah asli orang Indonesia. Jadi tak ayal wajah Hamidah sangat cantik.
"Antar suamimu mandi Shan. Habis magrib kita langsung makan malam"
Shania mengangguk dan mengantar suaminya ke kamar. Ia menyiapkan pakaian untuk Fahri. Akhir-akhir ini Shania lebih suka Fahri menggunakan koko dan sarung walaupun saat makan malam. Kadang Fahri lembur kerja juga tetap menggunakan baju koko dan sarung.
"Yang"
__ADS_1
"Apa bi?" Shania yang awalnya membaca quran menoleh kearah suara tersebut.
"Kenapa ya semakin hari aku semakin cinta ke kamu" Gombal Fahri. Shania yang awalnya gak peduli langsung senyum.
"Apaan sih norak banget sih bi" Seru Shania sambil memukul lengan suaminya. Fahri sangat senang menikmati ekspresi malu yang muncul dari wajah Shania.
Fahri tetap menatap wajah itu. Entah apa lah itu wajah Shania semakin hari memang semakin menggoda. Tubuhnya yang terbalut gamis menyimpang sesuatu yang menggugah hasrat Fahri.
Ia beruntung memiliki istri seperti Shania yang sangat menjaga etika dan tutur kata. Apa lagi dari segi berbusana Shania sangatlah sopan walaupun ia masih belum berani menggunakan cadar.
"Bi jangan gitu kalau mandangin aku ah"
Fahri tertawa, pria itu sangat tampan dan gagah. Marahnya saja masih terlihat tampan dan menyejukkan apalagi jika tertawa seperti ini.
"Kamu juga jangan gitu kalau lihat aku. Aku emang ganteng sayang" Ucap Fahri kepedean, Shania terkekeh.
"Ayo ah bi makan malam! kayaknya semua sudah menunggu kita"
Mereka berdua menuruni tangga. Tangan Shania tak pernah lepas dari genggaman Fahri. Entahlah ia seperti takut kehilangan.
"Kamu gak malu bi?" Tanya Shania berbisik.
"Ngapain malu sama istri sendiri juga"
Oh iya! ngapain malu sama suami sendiri juga, apalagi ini rumah orang tua sendiri, batin Shania.
Acara makan malam dimulai, Shania menyiapkan nasi dan lauk untuk Fahri kemudian ia menyiapkan untuk Cici. Bocah itu semakin pintar, semenjak Shania hamil dia tidak semanja dulu apalagi pengasuhnya sudah tidak bekerja lagi.
Cici makan dengan lahap, kadang butiran nasi itu menyangkut di pipinya karena terlalu semangat.
"Mau mama suapin nak?" Tanya Shania. Ia rindu memanjakan Cici.
"Enggak mau. Kata papa Cici mau punya adik jadi gak boleh manja. Kasian mama"
__ADS_1
Shania melirik Fahri, pria itu hanya mengangkat kedua pundaknya cuek.
"Hmmm pintar sekali Cucu nenek" Sahut bu Hamidah sambil mengusap kepala Cici.
Selepas makan mereka berkumpul diruang tv. Inilah yang Fahri sukai dari keluarga Shania. Pasti ada family time dalam sehari. Entah hanya menanyakan apa saja yang dilakukan dalam sehari atau hanya bersenda gurau.
"Acara tujuh bulanan kita lusa kan ma" Tanya pa Ahmad memastikan.
Ahhh bu Hamidah sudah mati-matian menyiapkan acara itu untuk cucu pertamanya. Shania awalnya tak mau terlalu heboh tapi ibunya yang meminta acara meriah itu. Biarlah apa kata yang tua.
"Papa sudah membagikan undangannya kan untuk kollage nya papa. Kamy juga Fahri sudahkan"
"Sudah ma" Jawab keduanya serempak, seketika semua tertawa.
Mereka pun berbincang sambil bersenda gurau, menceritakan masa kecil Shania yang diam dan memang tidak banyak tingkat. Fahri tertawa terbahak-bahak ketika menceritakan kejadian lucu tentang Shania. Bumil itu hanya manyun dan pura-pura merajuk.
"Sudah.... sudah.. waktunya tidur" Pak Ahmad berusaha membuyarkan guyonan mereka. Memang waktu sudah menunjukkan pukul 9, Cici sudah tidur di karpet empuk bersama mainnya. Semua tersenyum melihat bocah gimbul yang tidur dengan pulas. Fahri mengangkatnya dan membawa kekamar mereka. Shania mengikuti dari belakang Fahri.
"Ayo yang sini tidur" Fahri menepuk tempat disisinya. Cici ia letakkan dipojok.
"Cici mana bi?" Ia heran kenapa Cici tak ada dikamar ini sedangkan tadi saat masuk kamar Fahri sedang membawa Cici ke kamar ini.
"Ini" Fahri menunjuk kebelakang punggungnya. Ia menidurkan Cici dipojok kasur dengan alasan agar Cici tidak jatuh. Ahhh padahal...
"Jahat banget Cici ditaruh situ" Shania meletakkan dua tangannya dipinggang. Seakan marah pada Fahri.
"Biar gak jatuh sayang" Ia mengeles. Shania hanya menggelengkan kepala.
"Aku tuh rindu sama dia yang" Tiba-tiba saja Fahri sudah berdiri dibelakang Shania yang sedang melakukan perawatannya didepan cermin. Ia mengelus perut besar itu sambil memandang wajahnya dan wajah istrinya lewat cermin.
"Kesana dulu bi! nanti aku gak selesai-selesai" Sergap Shania, pria itu menurut dan kembali keatas kasurnya.
Haii maaf baru up✌ hpnya lagi eror.
__ADS_1
love you 😚😙
jangan lupa like, koment dan vote yaaa