Surga Baruku

Surga Baruku
43


__ADS_3

"Kak Zu!" Teriak Shania mendekati pria itu. Zu terlihat sedang bersembunyi dibalik bangunan runtuh. Tidak seperti biasanya, Zu tidak lari meninggalkan Shania. Dengan senangnya Shania lari kearah Zu ingin menanyakan kenapa hubungan mereka hanya seumur jagung. Bukannya Shania tidak mencintai Fahri tapi rasa penasaran itu sudah tersemat dihati sejak dulu.


"Jangan mendekat" Ucap Zu tanpa suara dari kejauhan. Sepertinya ia sedang bersembunyi.


"Yang jangan kesana" Fahri menghadang, ia memeluk istrinya agar tidak mendekati Zu.


"Aku hanya ingin tanya kenapa ia menceraikanku, itu saja bi" Jelas Shania. Tapi Fahri tetap tak memberi kesempatan pada Shania. Ia memeluk kuat tubuh Shania yang meronta.


Ketika Shania sedikit tenang Fahri merenggangkan pelukannya kemudian mengusap kepala Shania.


Ahhh kesempatan!, batin Shania. Wanita keluar dari pelukan Fahri dan berlari mendekati Zu. Rasanya senang bisa melihat Zu dengan keadaan baik-baik saja walaupun sudah tidak ada hubungan antara mereka.


Dorrrr!


"Shaniaaaaaaaaaaa" Teriak Fahri.


"Ahhhh perutku sakit ahhhh!"


Fahri kaget, ia sedang lembur dengan beberapa tugasnya dan belum tidur hingga waktu menunjukkan pukul 12 malam.


Ia melihat istrinya memegang kuat perut besar itu dalam keadaan tidur, Fahri panik padahal waktu melahirkan Shania masih dua minggu lagi. Ia mendekati istrinya.


"Sayang.... apa perut sakit?" Tanya Fahri mengusap perut itu. Shania masih saja memejamkan matanya, sepertinya ia bermimpi.


Beberapa menit kemudian Shania sudah tenang kembali.


mungkin saja tadi efek dari bunga mimpi, batin Fahri. Ia kembali mengerjakan tugasnya yang tertunda baru saja.


"Mimpimu sangat ekstrim sayang" Gumam Fahri sambil tersenyum.


*****


Pagi ini setelah sholat subuh Shania langsung pergi ke dapur menyiapkan sarapan untuk dua jagoannya. Tapi pikirannya masih tak tenang, ia masih teringat mimpinya tadi malam.


Hampir berkali-kali ia memimpikan Zu, tapi kenapa disana ada Fahri. Hatinya sakit seolah ia berhianat pada dua pria itu. Setitik cinta masih tersisa untuk Zu tapi sudah didominasi oleh Fahri, pria yang kini menjadi ayah dari janinnya.


"Maaf" Gumam Shania. tiba-tiba saja itu yang terlontar dari bibirnya.


"Hayooo ngapain ngelamun sih" Fahri datang langsung memeluk istrinya yang tengah memasak. Shania mengeratkan pelukan tangan itu seolah tak ingin ditinggal.

__ADS_1


"Gapapa bi." Jawabnya kemudian mendongakkan kepala mencium pipi yang ditumbuhi rambut tipis itu.


Fahri tersenyum melihat istrinya. Ia sangat senang melihat Shania manja padanya.


Fahri membantu Shania menyiapkan makan pagi. Ia menata semua masakan istrinya di meja makan. Walaupun Shania hamil besar tapi ia tetap tak mau adanya pembagi dirumah. Entah sampai kapan Shania menyerah mengurusi semuanya sendiri.


Setelah semua siap, Fahri pergi ke kamar bersiap ke kantor. Sedangkan Shania pergi ke kamar Cici membangunkan bocah itu untuk bersiap ke sekolah.


"Sudah siap bi?" Tanya Shania yang melihat suaminya sedang menyisir rambutnya.


"Kurang sedikit sayang" Fahri mengambil dasi dan memasangnya. Dengan sigap Shania mengambil alih peran itu, ia memutar-mutar dasi Fahri hingga terbentuk dengan rapi.


Cup! Fahri mencium singkat bibir istrinya. Fahri yang sedari tadi sedikit menundukkan badannya hanya fokua dengan bibir yang mecucu itu. Terlihat Shania fokus memasang dasi hingga lupa mengkondisikan bibirnya.


"Bi...." Rengek Shania. Fahri tersenyum tanpa dosa. Ia menggunakan parfumnya dan menarik Shania dalam dekapan Fahri.


"Aku cinta kamu karna Allah, yang"


Deg!


Hati Shania sakit, ia ingat betul kata-kata itu dulu diucapkan oleh orang yang spesial juga. Shania tak ingin membedakan antara Fahri dan Zu. Maka dari itu ia tak ingin ada kesamaan antara keduanya. Tapi mengapa? mengapa pagi yang cerah ini Fahri mampu mengobrak-abrik hatinya.


Ahhh sakit sekali, batin Shania.


"Kenapa yang?" Tanya Fahri kaget dengan kelakuan Shania.


"Enggak papa bi. Perut sakit kamu tekan" Jawabnya berbohong, spontan Fahri mengelus perut itu.


"Maafin papa ya jagoan" Ucap Fahri sambil berjongkok didepan perut Shania.


"Makan yuk bi kasihan Cici nunggu dibawah" Shania berusaha membuang pikiran buruknya. Ia tak ingin Fahri tau apa yang sedang ia pikirkan karena jika itu ketahuan maka Fahri akan tersakiti.


Shania dan Fahri berjalan menuruni tangga ke tempat makan. Cici sudah duduk manis dengan segelas susu disana.


"Hallo sayang"


Cici menoleh, ia tersenyum dan memeluk papanya ketika sudah berdiri disamping Cici. Fahri mencium pipi gimbul itu bertubi-tubi. Walaupun Cici sudah beranjak besar tapi wajah menggemaskannya tidak pudar. Ia tetap menjadi bayi bagi Fahri.


"Siap sekolah hari ini?" Fahri melontarkan pertanyaan dengan suara yang semangat seakan siap menghadapi perang.

__ADS_1


"Sangat siap!" Sahut Cici tak kalah lantang. Shania tersenyum melihat kelakuan keduanya. Kesedihan yang ia rasakan tadi perlahan hilang, entah lupa atau pura-pura lupa.


"Makan yang banyak ya biar nanti disekolah kuat" Fahri menyodorkan beberapa potong ayam ke piring Cici. Ia sangat senang melihat bocah itu makan dengan lahap.


"Enggak pa. Kata bu guru kalau sarapannya banyak malah bikin ngantuk dan Cici mau diet biar makin cantik" Cici mengembalikan dua potong ayam itu dan hanya tersisa satu.


Fahri tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan bocah usia lima tahun itu, oa baru mengetahui kalau Cici sudah beranjak besar dan bertambah pintar.


"Ya sudah kalau gak mau buat mama dan adik bayi saja" Fahri memindahkan kembali dua potong ayam itu ke piring shania.


"Kok jadi aku yang disuruh makan?" Protes Shania. Fahri melanjutkan makannya dan pura-pura tak tau.


Dengan pasrah Shania menikmati dua potong ayam itu.


" Aku juara satu" Cici menghabiskan makanannya duluan. Ia merasa menang dari mama dan papanya.


"Papa juara dua" Sahut Fahri enteng.


"Berarti mama kalah yeeee" Ejek Fahri. Shania hanya tersenyum, entahlah suaminya mendadak kekanak-kanakan.


"Oke... oke.... hadiah buat dua jagoan mama adalah...."


Cup!


Cup!


Shania mencium dahi keduanya cukup lama. Ahhh ia sangat mencintai keluarganya ini.


Setelah merasa sudah memberi hadiah untuk suami dan anaknya Shania memerintahkan keduanya untuk segera berangkat ke tempat masing-masing.


"Sudah.... sudah... ayo berangkat" Perintah Shania seolah ia ibu tiri. Dengan kompaknya Cici dan Fahri mencium pipi Shania.


"Assalamualaikum ma"


"Waalaikum salam


**Akuuuu up lagi dongg....


Jadi temen-temen jangan lupa like,komen dan vote yaaahh

__ADS_1


Aku sayang kalianπŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™


πŸ“· : choirul_amaliyah26**


__ADS_2