
"Bi....." Teriak Shania. Baru saja pria memejamkan mata karena seharian meladeni Cici dan istri manjanya itu. Ia harus bangun lagi memenuhi panggilan Shania.
Entahlah saat ini Shania jauh dari kata dewasa. Bertambah besar usia kandungannya ia semakin manja dan cerewet. Fahri kadang frustasi dengan semua ini, tapi ia tak mungkin bisa marah pada wanita tercintanya itu.
"Apa yang?" Tanya Fahri pelan, terdapat kantung mata disana. Ia terlihat bergitu acak-acakan dan lelah.
"Sinu aku cium sebelum tidur" Shania tersenyum jail. Entahlah ini memang bawaan bayi atau kemauan Shania sendiri untuk menguji kesabaran pria tampan didepannya.
Fahri menyodorkan pipinya dan menepuk pelan. "Ayo silahkan!"
Shania menghujani seluruh wajah Fahri dengan ciuman hingga berlabu pada bibir. Perasaan senang dan kesal itu menjadi satu, setelah mendapat ciuman Shania merentangkan dua tangan untuk memberi pelukan, Fahri hanya menurut.
"Tidurlah disampingku aku tak akan mengganggumu" Shania tempat disampingnya.
Fahri langsung naik keatas kasur dan mencari posisi ternyaman, dalam hitungan menit saja Fahri sudah hilang dibawah alam sadarnya.
"Maafkan aku bi! aku selalu membuatmu lelah" Gumam Shania sambil membelai wajah tampan itu.
Entahlah Shania juga tak paham dengan keadaan dirinya sekarang, ia merasa sulit mengontrol emosinya dan apapun yang dilakukan Fahri selalu salah. Apalagi ditambah kondisi dirinya yang masih mual dan muntah.
"Apa kau menyesal jika aku hamil anak kedua dan ketiga kita bi? " Shania bergumam, seolah ia meminta jawaban dari Fahri yang sudah berkelana didunia mimpinya.
Air matanya menetes, ia iba pada sang suami. Tidak hanya bekerja tapi Fahri juga mengurusi semua keperluan Shania, bahkan jika Cici tidak bersama Aisyah pastilah Fahri yang mengurusinya.
Oh ya! pengasuh Cici sudah habis masa kontraknya. Jadi Cici bolak-balik rumah dan panti, kasihan bocah itu.
"Emmm...." Shania merasakan mual sekarang. Ia langsung turun dari ranjangnya dan membuat guncangan disana. Fahri yang sudah terlelap harua bangun lagi dan menatao khawatir pada Shania. Ia menyusul istrinya ke kamar mandi
"Huekkk"
"Huekk"
"Huekkk"
Setelah merasa cukup membaik Shania keluar kamar mandi. Didepan pintu ada Fahri dengan wajah paniknya. Pria itu menatap Shania iba.
"Ini semua salahku" Batin Fahri. Ia merasa bersalah pada Shania karena rela sakit-sakitan untuk mengandung anaknya.
__ADS_1
"Sudah membaik yang?"
"Kenapa kamu disini bi? kenapa enggak tidur? Apa gara-gara kaget aku? Maaf.." Shania tertunduk lesu. Air matanya menetes, ia merasa sangat berdosa pada Fahri.
"Hei kenapa menangis? Maafkan aku karena tidur saat kamu muntah tadi"
Shania memeluk Fahri, ia membenamkan wajahnya ke dada bidang milik suaminya. Aroma parfum khas itu menyeruak diseluruh rongga hidungnya bercampur keringat, ia yakin jika Fahri begitu lelah.
"Aku yang seharusnya minta maaf bi. Aku membuatmu menjadi suami sekaligus istri dan aku.... " Shania tak kuat menugucapkan kata-kata, ia merasa bersalah.
Fahri tersenyum, ia menggiring Shania duduk di tepi ranjangnya dan ia berjongkok didepan istrinya. Tangannya langsung mengusap butir air yang keluar dari kedua mata manis itu.
"Aku yang membuatmu menderita dan aku harus bertanggung jawab sayang" Ucapnya lembut, senyuman itu mengulas dengan sendirinya.
Fahri membimbing Shania untuk berbaring disampingnya. Ia merangkulkan tangan kekar itu diperut sangat istri, sebelum itu ia mencium dan menngusap lembut.
"Tidur yang nyeyak ya baby! jangan buat mama kesakitan oke"
Shania pun didekapan Fahri dengan senyumnya yang tak hilang sampai mimpinya datang.
"Kak Zu. Kau masih hidup?"
Zu memegang tangan Shania, tapi segera ditepis oleh Shania. Entah mengapa genggaman itu sudah tak nyaman baginya. Tidak seperti dulu yang hangat dan menentramkan hati.
Zu tersenyum seolah ia Fahri keadaan Shania. Ia pun pergi menjauhi Shania, berjalan terus tanpa mendengar teriakan dan tangisan Shania karena kepergian Zu membuat Shania menyesal.
"emmm.... kak Zu ja... jangan pergi"
Sakit...
Sangat sakit hati itu mendengarkan penuturan Shania walaupun hanya dalam mimpi. Ia membelakangi istrinya tak ingin mendengar ucapan Shania entah apa yang ia lakukan didunia mimpinya.
"Kak Zu ja.. jangan...." Suaranya bergetar. Ia menangis tak henti-henti, ternyata pria yang ia cinta bahkan menjadi cinta pertamanya pergi tak memperdulikan hatinya yang sakit, sakit karena tak ada kepastian antara mereka.
Shania menoleh, ia merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya. Butiran air mata itu masih berlinangan, tapi hatinya tenang melihat wajah dibelakang tubuhnya. Ia menggenggam tangan kekar itu.
"Nyaman" Gumam Shania. Genggaman itu begitu tentram dan nyaman. Ia suka berlama-lama digenggam seperti itu, hatinya berbunga bahagia hingga lupa kejadian beberapa menit lalu.
__ADS_1
"Lupakan dia dan kau akan bahagia bersama ku" Tuturnya. Shania mengangguk dan langsung memeluknya. Pria itu tertawa senang.
"Te..terima kasih bi"
Fahri mengernyitkan dahi, ia bingung dengan mimpi Shania. Sebentar tapi memanggil nama Zu sekarang ia memanggil Fahri.
"Atau jangan-jangan dulu ia memanggil Zu dengan sebutan bi" Fahri mengacak rambutnya frustasi. Ia cemburu dengan mimpi Shania. Biarlah ia dikatakan egois tapi memang ia ingin berada dimanapun Shania berada walaupun itu didalam mimpinya.
" Aku akan mengintrogasinya nanti saat sudah sadar" Fahri ingin memejamkan kembali matanya tapi alarmnya sudah berbunyi dan itu tandanya waktu sholat tahajjud. Ia pun bergegas mengambil air wudhu dan sholat.
Fahri menatap Shania tak tega membangunkannya. Wajahnya sangat pucat dengan tubuh yanh sedikit kurusan, mungkin efek dari mualnya.
"Beri aku kekuatan ya robb" Itulah doa Fahri. Ia ingin selalu diberi kuat dalam segala hal, ibadah hingga menjaga perasaannya untuk sang istri.
Selepas sholat dan wiridan singkat Fahri kembali duduk disamping istrinya tidur. Ia mengusap lembut kepala itu dan terkadang ia menciumnya.
"Aku tak akan menyesal membuat anak kita walaupun kelima " Ia terkekeh, merasa lucu. Ia mendengar ucapan Shania tadi malam walaupun kantung matanya tak mampu terbuka kembali.
Fahri membuka laptopnya, ia akan menggarap tugas kantor disaat seperti ini. Disaat Shania tenang jauh dari rasa mual dan penyakit manjanya.
Tugasnya telah usai bertepatan dengan suara adzan subuh di masjid komplek. Ia menatap Shania hendak membangunkan tapi ternyata ia sudah mendengar adzan itu juga.
"Assalamualaikum sayang" Sapa Fahri. Shania nampak cantik dan seksi ketika bangun tidur.
Bumil itu merentangkan tangannya meminta peluk pada pria berkoko yang dipanggilnya "bi"
Cup!
Shania mengecup bibir Fahri sekilas kemudian bangkit menuju kamar mandi seolah ia mendapat vitamin sehingga bisa semangat melakukan aktifitasnya.
hai...
hai readers maaf baru up✌ soalnya lagi ada beberapa masalah tapi insya Allah akan lebih rajin lagi.
jangan lupa like, komen dan vote yaaa
I love you
__ADS_1
📷 : choirul_amalia26