Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 9


__ADS_3

Blush..


Tepat di depan matanya, terdapat bibir seseorang. Kiara lalu sedikit mendongak untuk memastikan siapa orang di depannya yang berdiri terlalu dekat dengannya ini.


Deg deg deg...jantung Kiara serasa ingin melompat. Matanya membulat sempurna, Feril menatapnya juga.


Feril meniup wajah Kiara, menyadarkan Kiara dari keterpakuannya. Kiara hendak mundur atau mungkin bergeser ke samping. Baru juga akan bergerak. Grep..


Tangan Feril sudah menarik tubuh Kiara ke dalam dekapannya. Tanpa pikir panjang Feril langsung menempelkan bibirnya dengan bibir Kiara. Mata Kiara langsung membulat, pipinya sudah memerah. Tak sangka akan mendapat ciuman mendadak dari bosnya. Hanya beberapa detik bibir mereka menempel.


Feril menatap lekat mata Kiara, tak ada yang mengeluarkan suara. Feril kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Kiara. Sedang Kiara pikirannya mengatakan ini tak boleh terjadi, bosnya menciumnya seenaknya saja. Padahal baru juga kenal 3 hari.


Tetapi tubuh Kiara merespon lain, tubuhnya menerima dengan senang hati perlakuan Feril terhadapnya. Bahkan saat tahu Feril akan menciumnya lagi, Kiara dengan tidak tahu malunya memejamkan matanya dan menyambut bibir Feril.


Pagutan, hisapan terjadi antar bibir keduanya. Feril memegangi tengkuk Kiara untuk memperdalam lagi ciumannya. Suara pintu lift yang akan terbuka, membuyarkan kegiatan keduanya.


Kiara mendorong tubuh Feril, lalu beringsut menjauh. Kiara menunduk malu, takut ada orang di depan lift. Feril menyadari tindakannya yang sudah kelewatan. Diusapnya bibirnya sendiri, memastikan tak ada warna lipstik Kiara yang menempel di bibirnya. Setelah memastikan bibirnya bersih Feril berbalik.


Ternyata lift sudah berhenti di lantai ruangannya. Keduanya menghela nafas lega, tak ada seorang pun di lantai itu. Feril melangkah keluar dari lift, diikuti oleh Kiara.


Feril memastikan benar tak ada seorangpun, Feril lalu menarik tangan Kiara untuk membawanya masuk ke ruangannya.


"Bapak mau apa?" Tanya Kiara saat sudah berada di dalam ruangan Feril. Genggaman tangan Feril juga belum terlepas. Feril menatap Kiara intens.


Jantung Kiara berdegub kencang saat di tatap seperti itu. Tangan Feril yang bebas mengusap bibir Kiara.


Kiara yang sudah kembali akal sehatnya, langsung menepis tangan Feril dan berusaha melepas genggaman tangannya. Feril terkekeh saat tangannya tak terlepas juga.


"Pakailah lipstik ini setiap hari, aku suka." Ucap Feril dengan senyum menggoda sambil mengusap bibirnya sendiri. Lalu melepaskan tangan Kiara.


"Dasar bos mesum.!!" Gumam Kiara pelan, namun masih dapat di dengar Feril namun tak menghiraukannya kemudian dia duduk di kursi kerjanya.


Kiara terus menggerutu dalam hati. Kok dia rela aja dicium bosnya itu, pacar juga nggak.


Kiara memulai kerjanya, dia ingat belum membuatkan kopi untuk Feril. Segera saja dia ke pantry. Saat mengantar kopi, Kiara sedikit was was untuk berdua saja dalam satu ruangan. Kiara takut akan dicium lagi.


Kiara masuk setelah dapat ijin, Kiara mengintip dulu Feril sedang apa. Feril tampak serius berkutat dengan laptop didepannya.


"Ini kopinya pak." Kiara meletakan kopi di meja. Setelahnya dia bergegas pergi keluar.

__ADS_1


Kiara sedikit bernafas lega, dia bisa memulai pekerjaannya.


....


"Kenapa Nat?" Tanya Gea.


"Ini nih. Dari pagi sampai malam begini, kekasihku nggak ada kabar. Biasanya juga selalu balas chat aku. Tadi pagi chat aku cuma di read aja. Terus sore ini, diread aja nggak." Keluh Natasya.


"Sabar, mungkin aja lagi sibuk banyak kerjaan dia hari ini. Jam segini kalau disana kan lagi jam sibuknya kerja." Gea mencoba untuk menenangkkan pikiran Natasya.


"Ya mungkin saja." Ucap Natasya dengan nada lemah.


"Jadi nginep sini?" Tanya Gea memastikan.


"Iya lah jadi. Sepi tahu di apartemen aku."


"Oke, lagian kenapa sih kamu betah LDRan? Disini banyak lo cowok yang suka sama kamu." Ucap Gea santai sembari menata tempat tidurnya.


"Aku udah cinta mati sama kak Feril. Dia itu cinta pertama aku. Ya walaupun bukan yang jadi pacar pertama aku." Terang Natasya mengingat pertemuan pertamanya dengan Feril.


Kala itu, Mahendra Kusuma pemimpin sekaligus pemilik Kusuma Grup datang ke rumah keluarga Ardanta. Natasya kala itu baru berusia 13 tahun. Mahendra datang bersama putranya Feril yang berusia 16 tahun. Sedari kecil Feril sudah tertarik dengan dunia bisnis. Karena itulah setiap ada kesempatan sang ayah mengajaknya pergi bersama kalau ada urusan bisnis, atau sekedar ke kantor.


Mahendra mengajak Feril masuk ke dalam rimah keluarga Ardanta. Feril dikenalkan dengan partner kerja sama ayahnya yang bernama Kevin Ardanta. Karena Kevin dan Mahendra asik mengobrol sendiri, Feril kemudian pepergi bersama kalau ada urusan bisnis, atau sekedar ke kantor.


Feril mendengar ada suara gadis kecil, tapi tak tampak wujudnya. Feril mencari arah sumber suara tersebut. Feril berdecak kaget saat mendapati seorang gadis kecil berada di atas pohon yang agak tinggi. Dia sedang menggapai seekor kucing yang sedang bertengger di salah satu dahan pohon itu.


Posisi kucing itu agak jauh dari gadis itu, tetapi gadis itu masih berusaha menggapainya. Karena tak sampai juga, dia melepaskan pegangannya dan merangkak perlahan di dahan yang dia yakini cukup kuat menahan bobot tubuhnya. Namun siapa sangka, dia jatuh bukan karena.dahannya yang tidak kuat. Tetapi gadis itu kehilangan keseimbangan karena dia tak berpeganganan, jadilah di meluncur bebas ke tanah.


Aaaaa..gadis itu sudah berteriak sekencangnya karena ketakutan akkan menghantam tanah. Tapi dia tak merasakan sakit apapun matanya yang tadi dia pejamkan saat jatuh perlahan terbuka.


Di depan wajahnya sudah nampak wajah pemuda tampan yang memandangnya lekat.


"Kamu tidak apa apa?" Tanya pemuda itu yang tak lain adalah Feril.


Pertanyaan itu sontak menyadarkan gadis kecil itu.


"Akh, aku tidak apa apa."


Feril menurunkan pelan tubuh gadis kecil itu.

__ADS_1


"Kakak siapa?" Tanya gadis itu.


"Feril. Kamu?" Feril mengulurkan tangannya.


"Natasya!!" Teriak Kevin dari dalam rumah sambil berlarian.


"Kamu kenapa berteriak? Kamu jatuh? Apa ada yang sakit?" Kevin membolak balikan tubuh Natasya.


"Pa, Nat nggak pa pa. Ini tadi ditolongin sama kak Feril." Jelas Natasya.


"Memang tadi kamu ngapain?" Kevin mengusap pipi Natasya.


"Itu.!" Tunjuk Natasya sambil berkedip manja pada papanya.


"Nat, lama lama papa jual kucing kamu nih. " Geram Kevin. Karena sudah beberapa kali kucing itu naik ke sembarang tempat dan Natasya beberapa kali juga sempat jatuh, walau tidak sampai terluka karena selalu ada saja yang datang menolong disaat yang tepat.


"Jangan pa, kasihan Molly." Rengek Natasya dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Huft, untung kamu anak kesayangan papa. Sudah berapa kali papa pesan, kalau Molly naik naik ke tempat tinggi kamu panggil orang dewasa yang bisa ngambilinnya buat kamu. Jangan kamu sendiri yang naik. Bahaya sayang. Papa sayang sama kamu, papa nggak mau terjadi hal buruk sama kamu sweetheart." Ucap Kevin melembut.


"Iya pa maafin Nat. Janji Nat tak akan ngulangin lagi. Papa nggak akan jual Molly kan?" Tanya Natasya dengan wajah memelasnya.


Kevin terkekeh, semarah apapun dia tak akan tega menyakiti hati gadis kecilnya.


"Tidak, sudah sana pangil Pak Didi buat ambilin tangga buat ngambil Molly." Ucap Kevin mengacak gemas rambut Natasya.


Natasya langsung berlari mencari salah satu penjaga rumahnya itu.


"Nak Feril, terima kasih ya sudah menolong Natasya. Pasti kalau tadi tidak ada kamu, Natasya sudah terluka." Ucap Kevin dengan wajah penuh terima kasih.


"Sama sama om." Jawab Feril seadanya.


Sejak pertemuan pertama itu, Natasya sering memikirkan Feril. Walau masih bocah, dia merasa sudah jatuh cinta pada Feril. Apalagi saat hari ulang tahunnya yang berjarak beberapa bulan setelah pertemuan pertama itu, Feril yang tak bisa datang malah mengirimkan kado yang sangat besar.


Natasya sangat terkejut melihatnya, dengan antusias dia membuka kertas yang membungkus kado tersebut. Natasya sampai tak menyangka isinya. Feril memberikan rumah kucing yang ada terselip kartu ucapannya. Natasya dengan segera membaca kartu ucapan itu.


"Maaf tidak bisa datang Nat, ini kakak belikan rumah kucing untuk Molly. Biar dia tak kabur kaburan naik ke atas pohon lagi."


Feril.

__ADS_1


"Nat, nat..Naattt..." Teriak Gea.


"Aduh, sakit kuping aku." Keluh Natasya yang berdengung pada kupingnya.


__ADS_2