Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 19


__ADS_3

Tampilan Kiara yang agak basah itu membuat Marcel sulit menelah ludahnya sendiri. Ada yang berdesir di dadanya. Segera saja Marcel menggeleng gelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya sebelum terlanjur. Disuguhi penampilan Kiara yang tampak seksi dimatanya, akan membuat naluri lelakinya bangkit.


Marcel lalu mengalihkan pandangannya.


"Kak Gio sudah pulang. Aku pikir tadi kakak pergi ke kantor." Kiara masih tak sadar juga dengan penampilannya.


Marcel menghela nafasnya kasar.


"Tadi aku memang ke kantor. Aku kembali membawakan makan siang untukmu. Dan lagi, sedang apa kamu di dalam kamar mandi? Tidak mandi tapi bajumu basah."


"Aku mencuci bajuku yang semalam kak, tapi sudah selesai. Karena bosan tak ada apapun yang bisa aku kerjakan."


"Ya sudah, cepat ganti bajumu. Letakan saja baju kotornya di kotak di samping lemari itu. Tidak perlu mencuci sendiri. Aku akan membawanya ke binatu. Cepatlah keluar, kita makan siang bersama."


Marcel akan keluar dari kamar, tapi kembali berhenti.


"Kamu pakai saja, pakaian di dalam lemari itu sesukamu. Itu pakaian lama milik saudaraku. Tak akan terpakai lagi." Ucap Marcel lalu menutup pintu kamar Kiara.


Kiara melakukan sesuai perintah Marcel. Kiara kembali menggunakan baju santai lagi. Karena yang ada hanya kaos dan celana pendek saja di dalam lemari itu.


Marcel sudah mengatur makanan di meja dapur. Melihat Kiara keluar dari kamar, tetap saja seksi tampaknya. Karena baju itu tampak pas sekali di badan Kiara. Kiara duduk di samping Marcel.


"Setelah ini kita ke toko baju. Baju baju itu terlalu kecil untukmu."


"Tidak usah kak. Antarkan saja aku ke rusun, aku akan mengambil bajuku sendiri saja." Tolak Kiara yang tak ibgin merepotkan Marcel.


"Bagaimana kalau orang yang sedang kamu hindari berada di rusun.?"


"Benar juga, mereka kan tahu rumahku. Karena aku menghilang bisa saja mereka mencariku di rumah." Gumam Kiara sangat pelan.


"Em baiklah kak." Kiara setuju ide Marcel.


Setelah makanannya habis, Kiara langsung mencuci piring dan sendoknya. Sedang Marcel ke kamarnya.


Marcel kembali dengan membawa celana tidur dan jaket hoodie.


"Pakailah ini. Ini terlihat lebih baik dari pada celana pendek itu."

__ADS_1


Kiara melihat celana pendek yang dipakainya, meringis sendiri. Memang terlihat seksi kalau keluar memakai pakaian seperti ini.


Kiara menerimanya lalu segera memakainya di kamar.


"Ayo berangkat." Ucap Kiara setelah keluar dari kamar.


Marcel mendekati Kiara, memakaikan masker juga memasangkan kerudung hoodienya.


"Kalau ingin menghindari seseorang jangan setengah setengah. Sekaliyan saja menyamar agar tidak ketahuan." Marcel tersenyum manis.


"Terima kasih." Kiara tersentuh dengan kebaikan hati Marcel.


Dengan menaiki mobil, keduanya sudah sampai di depan toko baju biasa. Karena permintaan Kiara tentunya. Kiara tak ingin pergi ke mall takut jika aada yang mengenali. Tak ingin di ajak ke butik, karena pasti akan menghabiskan banyak uang.


Setelah selesai membeli baju, Kiara juga mengajak ke pasar tradisional. Membeli beberapa bahan makanan segar untuk mengisi kulkas di apartemen.


Selanjutnya mereka kembali ke apartemen.


"Kak Gio, tidak kembali ke kantor?" Kiara melihat jam yang sudah lewat jam 2.


"Tidak, aku ijin hari ini."


"Apa yang kamu bicarakan? Aku sendiri yang bersedia, tidak merasa direpotkan olehmu. Memang kamu akan pergi kemana?" Tanya Marcel penuh selidik.


"Mungkin akan kembali ke kota asalku. Dan menerima nasibku apapun itu disana." Pasrah Kiara, mengira tak apa jika dia kembali dan menerima tawaran ayah tirinya. Toh diapun sudah tidak suci lagi. Dan kalau disana dia bisa menjaga kenangan keluarganya yang dulu indah tak menghilang begitu saja.


Kiara tersentak dari lamunannya. Marcel menatapnya tajam, tangannya memegang tangan Kiara erat.


"Aku tak akan membiarkan kamu pergi kemanapun. Bukannya kamu pernah bilang kalau kamu sudah tidak punya siapapun. Lalu jika kamu kembali?" Marcel menautkan kedua alisnya. Kiara kembali menunduk.


"Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi malam. Dan apa kaitannya dngan orang yang kamu hindari itu. Jelaskan." Ucap Marcel tegas.


Kiara terdiam, haruskah dia cerita.


"Aku menunggu." Marcel menanti dengan bertopang dagu di samping Kiara.


Kiara mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Semua bermula ketika aku datang ke kota ini. Aku secara tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang pernah aku tolong dulu. Ternyata dia mengingatku padahal aku melupakannya. Lalu setelah wawancara dengan perusahaan di tempat bekerjamu waktu itu, aku juga mendapat panggilan lainnya. Dan aku terima pekerjaan itu." Kiara menjeda ceritanya. Menghela nafasnya pelan agar tak terbawa perasaan.


"Atasanku, setelah beberapa hari bekerja sama dia mulai mendekatiku. Tampak tulus tapi aku tak berminat sama sekali menanggapinya. Karena sejak awal aku bekerja niatku adalah mencari uang bukan mencari pacar. Tapi semakin hari dia tak pernah lelah untuk menunjukan rasa sukanya terhadapku. Akupun jadi mulai terbiasa. Singkatnya aku membuka hatiku untuknya lalu aku pun jatuh cinta padanya."


"Kemarin malam, aku diajak temanku untuk menghadiri pesta. Nyatanya aku disana malah disuguhkan kenyataan bahwa atasanku itu sudah mempunyai kekasih. Hatiku hancur kak. Aku sudah menyerahkan segalanya, tapi kenyataan jika aku hanyalah orang ketiga. Membuat aku harus pergi dari hadapan mereka. Aku tak ingin kembali ke rusun, karena teman juga atasanku itu tahu tempat tinggalku. Dan aku juga tak mungkin kembali bekerja, kembali ke perusahaan itu hanya akan membuatku jatuh di lubang yang sama. Aku tak ingin menyakiti perempuan itu. Perempuan itu terlihat sangat baik, tak pantas jika harus tersakiti karena adanya aku." Kiara terisak. Menekan rasa sesak di dadanya.


Marcel merengkuh tubuh yang gemetar di hadapannya itu. Diusapnya punggungnya perlahan.


"Aku akan mendukungmu, melindungi, juga menyayangimu. Aku tak mengijinkan kamu pergi dari sisiku. Tetaplah disini, dan jadi pendampingku." Tegas Marcel.


"Kak, aku tak tahu apa bisa membalas perasaanmu."


"Aku akan menunggu, sekarang hanya cukup dengan kamu tidak menolak berada disisiku." Ucap Marcel final tanpa mau ada bantahan lagi.


Keduanya terdiam membisu. Masih dalam pelukan Marcel, Kiara meresapi kehangatan pelukan itu. Dia merasa nyaman. Semoga keputusannya tidak salah lagi.


"Cukupkah hanya dengan tidak menolakmu saja?" Kiara mendongakan kepalanya menatap sendu kedua manik mata Marcel.


Marcel mengangguk yakin. lalu kembali mengubur wajah Kiara ke dadanya. Dan dikecup puncak kepala Kiara.


"Aku akan menciptakan peluangku sendiri untuk masuk ke dalam hatimu. Akan perlahan aku ubah isi hatimu hanya dengan diriku saja disana. Aku yakin akan cintaku bisa membuat hatimu berbalik padaku." Kata Marcel dalam hati.


....


Setelah memasak bersama untuk makan malam, Kiara dan Marcel membersihkan diri di kamar masing masing. Kiara mengecek ponselnya dulu, yang dia lupakan sejak siang tadi.


Masih dalam keadaan mati. Langsung saja dia nyalakan ponselnya. Begitu nyala, segera saja dia mengirim pesan ke Exa memberitahu jika dirinya baik baik saja dan juga berbohong jika dia kembali ke kota asalnya. Dan juga menitipkan rumah kepada Selly dengan alasan yang sama pada Exa. Tak ada pilihan lain selain berbohong. Dia tak ingin ditemukan.


Kalau Feril, Kiara sama sekali tak berniat untuk memberi kabar apapun. Dia malah memblokir nomornya. Sebelum mematikan kembali ponselnya. Sederet pesan masuk, itu dari Exa dan Selly. Bahkan juga ada dari Gani, pasti tentang pekerjaan.


Kiara mengabaikan pesan pesan itu, lalu kembali mematikan ponselnya. Itu lebih membuatnya tenang.


Makan malam berdua, Marcel sudah merasa jika dia beristri. Makan bersama dengan orang yang dicintai meningkatkan nafsu makannya. Makannya diselingi senyum menatap Kiara. Kiara sendiri fokus menghabiskan makanan di piringnya.


Setelah makan malam, Marcel pamit pulang. Sejak kemarin dia tak pulang pasti orang tuanya khawatir apalagi hari ini dia juga tidak kembali ke kantor lagi setelah makan siang.


...

__ADS_1


"Kembali sendiri, hanya aku sendiri. Meratapi kesedihan hidupku. Ma, aku harus bagaimana sekarang? Aku bohong padanya tentang keadaanku sesungguhnya. Aku tak sanggup menceritakan aibku padanya. Dia terlalu baik, aku tak tega untuk menyakitinya. Dia pasti kecewa jika tahu itu. Mana ada laki laki yang menerima wanita yang sudah tidak suci lagi. Apalagi aku bukan korban, aku melakukannya bahkan tanpa paksaan." Kiara bergumam sendiri mencurahkan perasaan gundah dihatinya. Hingga dia terlelap dengan nyenyak.


to be continue


__ADS_2