Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 24


__ADS_3

Kiara jadi menunduk malu. Tadi dia mengucapkan ketersediaannya menjadi istri Marcel. Dan ternyata terdengar oleh Marcel sendiri.


"Bukan apa apa. Mana belanjaannya?" Sergah Lena menutupi kebenarannya.


"Ini," Marcel menunjukan dua kantong besar belanjaan yang masih ditentengnya.


Lena lalu mengambilnya dan membawanya ke dapur.


"Tadi kalian bicara apa?" Marcel sudah duduk di samping Kiara.


"Emm tadi tante.." belum sempat meneruskan kalimatnya. Tangan Kiara sudah ditarik oleh Lena.


"Kia, ayo bantu memasak. Akan aku ajarkan salah satu resep favorit Marcel."


"Iya tante.. aku tinggal ya kak." Kiara tersenyum kecil pada Marcel. Marcel lalu pergi ke kamarnya.


Di dapur


"Kia, rahasiakan dulu keputusanmu tadi. Kita buat kejutan untuk Marcel. Ok?"


"Iya tante."


Dan selanjutnya, Lena benar mengajari Kiara memasak masakan favorit Marcel kalau makan di rumah.


Walaupun Marcel juga pandai memasak sendiri. Tetapi tetap saja masakan ibunya yang paling dia sukai.


...


"Cel, papa rasa kamu lebih baik cari wanita lain yang lebih pantas untukmu." Tegas Kevin.


"Maksud papa apa? Bukannya papa sudah setuju dengan Kiara?"


"Tapi tidak dengan kondisinya yang sedang hamil. Apa kata orang nanti? Belum juga menikah tetapi sudah mempunyai anak." Ucap Kevin sinis.


"Pa, aku mencintainya. Aku ingin menjaganya."


"Itu, itulah yang kamu rasakan. Kamu hanya iba padanya. Kamu boleh menjaganya, tetapi bukan dengan menikah dengannya. Papa sudah menyiapkan calon untukmu. Lagi pula, aku dengar dari mamamu kalau wanita itu belum juga mau untuk menikah denganmu kan. Jadi jangan harap papa akan mengijinkan kamu menikahinya setelah papa tahu dia sudah hamil."


"Pa, ini hidupku jangan mengaturku.!!"


"Jangan mengaturmu?? Apa selama ini papa pernah mengaturmu ha??!! Jangan buat papa bertindak nekad pada wanita itu.!!" Tegas Kevin lalu keluar dari ruang kerja putranya.


"Ma, kau bahkan membuatku terlihat kejam di depan putra kita." Gumam kevin. Tak habis fikir dengan ide menjahili putranya sendiri, bahkan harus melibatkannya.


Sepeninggal ayahnya, Marcel merenung. Apa yang harus dia lakukan. Dia tahu jika papanya sudah marah, dia akan melakukan apapun yang sudah dikatakannya. Dan Marcel tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Kiara.


....


Hari berlalu, Marcel melihat Kiara yang sedang menikmati pemandangan kota di senja ini.


"Hai,."


"Kak Gio. Maaf tidak mendengarmu datang. Apa sudah lama?"

__ADS_1


"Tidak, aku baru saja masuk. Sudah makan?"


"Belum, nanti saja. Ini masih sore."


"Memangnya kenapa? Kamu hamil, harus banyak makan."


"Aku sudah makan beberapa buah tadi. Jadi belum lapar lagi. Kak Gio tenang saja, aku sudah lebih memperhatikan makanku sekarang."


"Syukurlah." Marcel ikut bersandar pada pagar balkon. Ikut menikmati langit sore. Pandangannya jauh, memikirkan apa yang harus dikatakannya pada Kiara jika dia akan dijodohkan.


"Kak Gio kenapa?" Kiara merasa Marcel sedang ada masalah. Biasanya dia selalu banyak bicara.


"Tidak apa apa, ayo masuk. Terlalu banyak angin, tidak baik untuk kesehatanmu." Marcel menuntun Kiara masuk ke dalam.


"Aku pulang ya." Marcel akan pergi.


"Ada apa?" Kiara menahan tangan Marcel.


Marcel tak tahu harus menjawab apa. Dia memang tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Tapi dia juga tak akan membuat Kiara bersedih.


"Hanya sedikit masalah pekerjaan." Marcel mencoba tersenyum.


"Tinggallah disini hingga makan malam." Pinta Kiara.


"Baiklah. Aku akan mandi dulu."


Kiara melepaskan tangan Marcel dan membiarkannya masuk ke kamar. Kiara merasa Marcel ingin menghindarinya.


Bahkan setelah 1 jam, Marcel tidak keluar dari kamarnya. Kiara memberanikan diri untuk mendatanginya.


Tak ada jawaban. Kiara memutar knop pintunya, ternyata tidak terkunci. Kiara lalu masuk. Tak melihat ada Marcel, Kiara mendekati pintu kamar mandi. Dan menempelkan telinganya pada pintu.


Tetapi tidak mendengar apapun. Tiba tiba pintu terbuka, membuat Kiara terkejut. Karena tak hati hati dia hampir terjatuh ke belakang. Untunglah Marcel dengan cepat menarik Kiara.


Kiara jadi reflek memeluk Marcel. Wajahnya menempel pada dada bidang Marcel yang masih ada sisa sisa air yang menempel.


Jantung keduanya berdetak cepat. Marcel karena dipeluk Kiara erat sekali, sedang Kiara terkejut karena akan jatuh tadi.


Keduanya hening. Kiara masih memeluk Marcel erat. Baru dia tersadar saat dia merasakan ada tetesan air, mengenai wajahnya. Kiara melirik yang ada di depannya. Otot dada yang keras. Dia malu sekali dengan posisinya saat ini. Marcel baru saja selesai mandi bahkan dia hanya menggunakan handuk saja untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.


Kiara memilih memejamkan matanya, lalu perlahan melepas pelukannya.


"Kak, maaf." Cicit Kiara. Tak mendapat sahutan justru yang dirasa adalah ada benda basah yang menempel pada bibirnya.


Hanya menempel, Marcel menunggu reaksi Kiara. Awalnya memang terkejut, Kiara membuka matanya dan menatap Marcel yang menantinya. Kiara memejamkan kembali matanya. Dan tetap diam ditempat.


Marcel lalu merapatkan tubuh Kiara padanya dan menciumnya lebih dalam. Kiara pun membalasnya. Kiara mengalungkan tangannya ke leher Marcel.


"Sejak aku mengatakan pada tante Lena, aku bersedia menikah denganmu. Aku telah menyerahkan seluruh hidupku padamu. Kak Gio." Bathin Kiara.


"Artinya mulai sekarang kamu hanya akan menjadi milikku. Dan aku akan memperjuangkan apa yang menjadi milikku. Walaupun aku harus kehilangan segalanya. Namun aku tak akan sanggup kehilanganmu. Kia." Bathin Marcel.


Keduanya terhanyut dalam ciuman itu. Sampai keduanya benar benar kehabisan nafas. Barulah tautan bibir itu terlepas. Belum juga Kiara mengatur nafasnya dengan baik. Marcel sudah kembali menyambar bibirnya. Lebih rakus dari sebelumnya.

__ADS_1


Marcel mengangkat tubuh Kiara, lalu duduk di sisi ranjang. Dan menempatkan Kiara dalam pangkuannya. Mengatur nafas masing masing yang tadi habis. Keduanya saling tatap, hanya diam menyelami pikiran masing masing.


Kiara tersenyum. Dan itu membuat hati Marcel bertambah bahagia. Marcel mengecupi seluruh bagian wajah Kiara, membuat Kiara tertawa geli.


"Kak, hentikan." Kiara menangkup kedua pipi Marcel agar berhenti menciumnya.


"Apa sekarang kamu sudah membuka hatimu untukku lagi? Kamu mau menikah denganku?"


Kiara hendak mengangguk, tetapi dia ingat akan janjinya pada mama Marcel tempo hari.


"Iya kak."


Marcel memeluk erat wanitanya kini. Dia berjanji akan melindunginya walau harus menentang sang ayah dan kehilangan segalanya.


Kiara melepas pelukan Marcel. Lalu bangkit dari pangkuan Marcel.


"Mau kemana?" Marcel menahan tangan Kiara.


"Keluar. Cepatlah pakai baju. Ayo makan malam."


"Bolehkah aku mendapat makanan pembukanya dulu?" Pinta Marcel.


"Boleh. Kak Gio ingin apa?"


Marcel menarik Kiara kembali ke pelukannya, dan segera melahap bibir Kiara yang masih basah itu. Walau terkejut, tetapi Kiara membalas juga.


Tangan Kiara yang terus bergerak di dada Marcel, malah semakin membangkitkan gairah Marcel yang sudah dia tahan dari tadi. Bibir Marcel mulai merambat ke leher jenjang Kiara. Menyesap kuat, dan mengecupnya terus.


Kiara merasakan darahnya berdesir, mencoba menahan getaran yang tak biasa. Namun pada akhirnya pertahanannya runtuh juga. Kiara mendesah, merasakan bibir Marcel yang terus menyesap lehernya. Apalagi kini tangan Marcel mulai bermain di seputar dada Kiara. Meremas perlahan.


Keduanya sama sama terbakar gairah.


Marcel membuka kaos longgar yang digunakan Kiara. Tampaklah sekarang dua punak yang masih tertutup kain merah. Dengan cekatan Marcel juga segera melepasnya.


Tak ingin menyia nyiakan waktunya hanya untuk mengagumi pemandangan indah yang berada di hadapannya. Marcel langsung menyesapnya. Bermain sepuasnya, menggunakan bibir juga tangannya.


Kiara hanya bisa pasrah. Diapun menginginkannya. Bahkan bagian bawahnya telah basah. Mungkin jika Marcel menginginkannya, Kiara tak akan mampu menolak.


Marcel mendorong pelan tubuh Kiara agar berbaring di ranjang. Dan Marcel mengungkungnya. Karena terus bergerak membuat balutan handuk Marcel mengendur dan terlepas. Tak sadar akan hal itu. Dia masih terus saja menikmati bagian atas tubuh Kiara.


Erangan Kiara menandakan jika dia sangat menginginkan lebih. Marcel bertindak mengikuti nalurinya.


Marcel dan Kiara menikmati malam pertama mereka, bahkan sebelum menjadi pasangan yang sah. Marcel yakin dengan begini, Kiara akan menjadi miliknya seutuhnya.


"Aku akan segera mengurus pernikahan kita." Ucap Marcel setelah membaringkan diri di samping Kiara dan memeluknya erat.


Kiara hanya mampu mengangguk saja. Tenaganya habis, apalagi belum sempat makan. Bahkan tak mampu lagi untuk tetap terjaga.


Marcel tersenyum kecil menatap wajah Kiara yang teduh. Nafasnya tampak teratur. Dia membenahi beberapa helai rambut Kiara yang menutupi sebagian wajahnya. Lalu tangannya turun ke perut Kiara.


"Mulai hari ini, akulah ayahmu." Marcel lalu mengecup perut Kiara dengan penuh kasih sayang.


Marcel lalu menyelimuti tubuh Kiara, sedangkan dirinya kembali membersihkan diri. Perutnya yang lapar, mengingatkan dia jika tadi belum makan malam. Melihat jam yang sudah pukul 9 malam, Kiara juga belum sempat makan.

__ADS_1


Marcel mengambil makanan di meja dapur, yang telah disiapkan oleh Kiara tadi. Lalu membawanya ke kamar.


to be continue


__ADS_2