Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 23


__ADS_3

Marcel gemas lalu mencubit hidung Kiara.


"Yang akan datang adalah mamaku. Dia khawatir sama kamu. Dan dia tidak bisa dibantah kalau sedang serius."


"Kok bisa?" Pertanyaan yang membuat Marcel bingung.


"Apanya?"


"Kok bisa mama kamu mengkhawatirkan aku?"


Marcel tersenyum kecil.


"Tadi siang saat aku tahu kamu demam, aku panik. Lalu aku telfon mama, karena aku nggak tahu gimana mengurus orang sakit."


"Mama kamu nggak marah kak? Nggak tanya tanya kenapa aku bisa tinggal disini, terus siapa aku gitu." Kiara jadi panik.


"Ssst. Nggak usah difikirin. Intinya mama aku baik. Nanti juga kalau kamu ketemu dia, kamu akan tahu sendiri." Marcel mengusap pipi Kiara lembut. Kiara hanya mampu mengangguk pasrah. Tak dapat menolak kedatangan mamanya Marcel.


Tak berselang lama, Kiara dan Marcel yang masih menonton tv mendengar bunyi bel pintu. Marcel segera bangkit untuk membukakan pintunya. Kiara menjadi sangat gugup. Dia ikut berdiri namun tak mengikuti langkah Marcel. Dia merapat ke dinding tak jauh dari pintu masuk, dia mengintip disana.


"Malam ma." Sapa Marcel saat sudah nampak mamanya di depan pintu.


"Hem, gimana keadaan Kiara?" Tanya mamanya sebelum masuk.


"Seperti yang aku katakan tadi. Aduuh duh...sakit ma.." keluh Marcel karena kupingnya tengah di tarik oleh tangan mulus mamanya.


"Kamu apain sih? Sampai bisa demam gitu. Kalau sampai dia demam tinggi itu bisa bahaya buat keadaannya juga bayinya." Tutur Mama dengan kesal.


Kalimat itu juga terdengar oleh Kiara, terkejut itulah reaksinya. Tak disangka jika mama Marcel tahu keadaannya. Apa Marcel menceritakan semuanya yang terjadi padanya pada sang mama? Bathin Kiara. Kiara masih setia mengintip di balik dinding.


Kiara tersentuh dengan perhatian mama Marcel yang diberikan kepadanya.


"Lepas dulu dong ma. Emang aku anak kecil apa? Yang kalau salah dijewer begini." Marcel bersungut.


"Ckk." Mama Marcel lalu melepaskan telinga putranya yang sudah terlihat memerah.


"Nggak aku apa apain ma. Ingat kan yang aku cerita tadi pagi. Mungkin karena itu." Ucap Marcel pelan.


"Ahh.. Mama sakit" Marcel mengusap lengannya yang kali ini menjadi sasaran tangan cantik mamanya.


Kiara sampai terkekeh pelan, melihat keakraban keduanya. Dia jadi ingat sang mama.


Kiara berbalik, berniat masuk ke kamarnya. Berjalan perlahan meninggalkan Marcel dan mamanya yang masih bicara di dekat pintu.


Kiara duduk di tepian ranjangnya, membuka laci dan mengeluarkan kotak kecil yang sudah usang dari sana. Perlahan dia membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah foto lama, seorang gadis belia dan wanita dewasa, itu adalah dia saat masih di bangku SMA dan sang mama. Dan sebuah gelang usang yang diberikan sang mama disaat dia lulus kuliah.


"Aku masih menjaga ini ma. Maaf aku tak memakainya lagi. Talinya hampir putus. Aku takut merusaknya. Aku merindukan mama. Hanya ini yang ku miliki, kenangan dari mama. Mama bilang gelang ini sangat berarti untuk mama. Dan aku akan selalu menjaganya dengan baik." Kiara memandang gelang itu.


"Ma, aku hamil. Maaf ma. Aku tak bisa menjaga diriku. Dan aku pun tak bisa meminta pertanggung jawaban. Karena aku.. aku hanyalah orang ketiga. Aku tak ingin menyakiti perasaan wanita itu. Aku berjanji pada mama, aku akan membesarkan anakku dengan kasih sayang seperti yang mama berikan padaku. Dengan atau tanpa suami sekalipun."


"Kenapa harus tanpa suami, anakku menyukaimu kan? Mengapa tidak kamu terima saja dia jadi suamimu?" Sahut seseorang.


Dan itu membuat Kiara terkejut, melihat mama Marcel yang berdiri di dekat pintu dengan wajah yang datar dan terkesan dingin. Kiara langsung berdiri dan menundukkan kepalanya takut.


"Maaf nyonya, saya merasa tidak pantas disandingkan dengan putra anda." Jawab Kiara.

__ADS_1


Mama Marcel melangkah mendekati Kiara. Kiara semakin gemetar gugup bahkan sampai memejamkan mata. Dan tersentak saat merasakan dagunya terangkat. Kiara langsung membuka matanya lebar, mengerjab beberapa kali.


"Bagaimana kamu akan pantas jika kamu tak memantaskan dirimu sendiri? Ha?" Tegas mama Marcel lalu sedetik kemudian tersenyum manis, sampai membuat Kiara terpana.


"Ayo kita duduk. Tak baik jika wanita hamil terlalu lama berdiri." Ucap Mama Marcel lembut menuntun Kiara duduk kembali di pinggiran ranjang.


Sejenak keduanya hening, Kiara canggung harus bicara apa. Sedang Mama Marcel mengamati Kiara, melihat dari ujung kaki hingga kepala.


"Ck, anak itu!!" Decak Mama Marcel. Kiara mengernyitkan keningnya tak tahu apa maksud perkataannya.


"Apa selama tinggal disini kamu tidak diberi makan?" Tanyanya seperti sedang kesal.


"Eh??" Kiara tambah bingung, kenapa mama Marcel bisa menyimpulkan seperti itu.


"Kamu kurus sekali. Lihatlah!! Ini!! Lingkar lenganmu saja kecil sekali. Apa kamu benar benar tidak diberi makan??" Tanya Mama Marcel masih kesal.


"Diberi makan kok nyonya. Kak Gio selalu memperhatikan makanan saya." Sergah Kiara.


"Huhh, baiklah. Tunggu, dari tadi kamu panggil saya apa?"


"Nyonya.."


"Apa saya terlihat kejam? Sehingga kamu panggil seperti itu?" Raut muka mama Marcel jadi suram.


"Bukan seperti itu. Tapi saya hanya ingin menghormati anda saja nyonya."


"Ahh begitu. Jangan panggil nyonya, mulai sekarang panggil tante Lena. Ok."


Kiara mengangguk saja.


"Sudah tante.''


"Bagaimana keadaan kamu? Apa sudah lebih baik? Apa Marcel merawatmu dengan baik hari ini? Aku dengar jika kamu demam." Lena mengusap pipi Kiara lembut.


"Terima kasih tante. Tante sudah peduli dengan saya. Kak Gio merawatku dengan sangat baik. Sehingga saya pun bisa sembuh dengan cepat."


"Syukurlah. Jaga kesehatanmu. Sekarang dirimu bukan hanya bertanggung jawab atas dirimu tapi juga bayi yang ada dalam kandunganmu."


"Iya tante."


Lena memeluk Kiara sesaat. Kiara tak bisa mengungkapkan rasa bahagianya. Dia merasa sedang dipeluk mamanya, penuh kehangatan.


"Ya sudah, kamu istirahat. Aku akan mengobrol dengan Marcel di luar."


"Baik tante."


Lena lalu keluar dari kamar Kiara.


Kiara tak begitu mendengar obrolan Marcel dan Mamanya. Memilih untuk membaringkan diri, memikirkan apa yang akan dia lakukan esok. Lambat laun matanya tertutup, dan terlelap dalam tidur.


....


Hampir setiap akhir pekan Lena akan mampir ke apartemen Marcel. Melihat keadaan Kiara, menjalin hubungan untuk lebih dekat lagi. Untuk mengetahui apa yang membuat putranya terjerat dengan pesona gadis itu. Apa kelebihan dari gadis yang bahkan sudah hamil diluar nikah. Bukankah gadis seperti itu bisa dikatakan punya attitude yang buruk.


Lena ternyata tak menemukan celah keburukan apapun selain hamilnya Kiara. Kiara tak pernah menceritakan apapun tentang bagaimana dia bisa hamil. Dan Marcel juga tak menceritakan hal itu padanya.

__ADS_1


Selain itu, tidak ada yang tidak baik pada Kiara. Walau sudah mencoba lebih dekat, namun Kiara masih nampak untuk membatasi dirinya. Lena bisa melihat itu, bila dia gadis tidak baik maka dia akan mencoba segala hal agar Lena bisa akrab dengannya. Tapi ini tidak, Kiara selalu bersikap sopan dan tak berlebihan.


"Kia,.." panggil Lena saat keduanya sedang duduk bersama sambil menonton tv.


"Iya tante."


"Pertimbangkan kata kataku. Menikahlah dengan Marcel. Untuk anakmu, dan dirimu juga. Jika kalian menikah, anakmu akan memiliki seorang ayah ketika dia lahir. Dan statusnya juga jelas, untuk masa depannya."


"Bayangkan jika nanti dia lahir ketika kamu belum menikah. Apa yang dikatakan orang orang nanti. Di sekolah, apa yang akan diterimanya dari perlakuan teman temannya jika tahu dia anak seorang ibu saja. Pikirkan itu juga. Mungkin kamu bisa menahan cemoohan orang, tapi anakmu?"


"Tante tahu, dulu kalian pernah saling mencintai. Tapi karena anakku yang bodoh itu, dia tak menyadari perasaannya dan membuatmu pergi. Tentu tidak akan sulit untuk menumbuhkan rasa itu lagi. Apalagi kalian selalu bersama. Aku dan suamiku sudah setuju jika Marcel ingin menikahimu. Kami tahu kamu wanita yang baik."


"Terima kasih tante. Kalian ada di saat aku memang tak punya siapapun. Tante, ada satu hal yang ingin aku sampaikan."


"Apa itu?" Lena menatap Kiara intens.


"Peristiwa yang membuat aku bisa hamil." Kiara menunduk.


"Kamu yakin? Apa tidak membuat kamu terluka lagi mengingat itu?"


"Mungkin tante. Tapi harus aku katakan. Agar tante dapat menilai, masihkah aku pantas menjadi istri dari kak Gio."


Lena diam, menunggu Kiara melanjutkan bicaranya.


"Malam itu, aku dan atasanku meeting dengan klien di sebuah hotel. Setelah meeting, dia mengeluh pusing dan ingin menginap di hotel jadi menyuruhku pulang sendiri segera. Namun sebelum itu dia meminta aku memesan sebuah kamar untuknya. Dia sudah memintaku pergi, namun aku tak tega melihatnya. Aku membawanya ke kamar yang telah aku pesan. Sampai disanapun, dia juga mengusirku untuk segera pergi. Aku pun pergi. Sialnya, tas ku tertinggal dikamarnya. Mengharuskan aku kembali kesana."


"Sampai didepan kamar itu. Aku bersyukur pintunya tidak terkunci, aku mengendap endap masuk tak ingin menganggu istirahatnya. Justru yang ku lihat adalah seorang wanita yang ingin berbuat tak senonoh dengan atasanku itu. Aku bertindak cepat, mengambil tasku dan menelefon polisi dan menggertak wanita itu untuk segera pergi. Dan usahaku berhasil."


"Aku pikir, pasti ada orang jahat yang hendak menjebak atasanku itu. Tak ingin itu terjadi, aku memutuskan untuk menjaganya sendiri." Kiara menghentikan bicaranya. Mengatur nafasnya sebelum bicarakan puncak ceritanya.


"Aku tak menyadari jika dia dalam pengaruh obat perangsang. Melihatnya gelisah tak nyaman aku malah mendekatinya. Dan terjadilah yang tak seharusnya kami lakukan. Dia tahu apa yang terjadi pada dirinya, sejak awal. Itulah mengapa dia menyuruhku untuk segera pergi. Tapi aku malah kembali, dan dia sudah tak bisa bertahan lagi. Ditengah kekagumanku padanya yang tak ingin merusakku, aku sudah terjatuh. Aku tak bisa menghindar lagi. Terpaksa memberikan apa yang selama ini aku jaga dengan baik."


"Awalnya ku pikir, setelah malam itu. Kami akan bisa merajut hubungan yang lebih, karena yang aku tahu, dia dari awal sudah mendekatiku. Dan aku pun mulai menyukainya. Tapi aku melihat ada keraguan dimatanya. Aku memutuskan untuk tak berharap banyak padany. Dan aku pikir ini cuma semalam, pasti tak membuatku hamil. Aku berusaha melupakannya. Tapi aku tetap bekerja dengannya, dan itulah kesalahan yang ku buat lagi. Semakin hari aku malah terjatuh dalam jerat cintanya. Dan disaat aku sudah mencintainya. Justru kenyataan pahitlah yang aku dapat. Aku hanyalah selingan baginya, dia sudah mempunyai kekasih. Maka itu aku pergi. Bersembunyi dengan meminta bantuan kak Gio. Meskipun sekarang aku tahu aku hamil. Tetap saja tak membuatku ingin memintanya untuk bertanggung jawab. Tante tahu kenapa aku melakukan ini?"


Lena menggeleng.


"Aku tak ingin menghancurkan hati wanita itu dengan kemunculanku. Dan lagi, aku merasa laki laki itu tidak baik. Dia saja bisa merayu wanita lain disaat dia sudah mempunyai kekasih. Dan itu bisa saja terjadi padaku, jika aku bersamanya."


"Tante sudah tahu sekarang, apa tante masih menginginkan aku menjadi menantu di keluarga tante? Masihkah aku pantas bersanding dengan kak Gio?"


"Aku malah semakin yakin." Lena menjawab dengan serius.


"Haa, tante..."


"Iya, kamu bahkan menyerahkan hal paling berharga untuk orang yang mulai kamu cintai, dengan terpaksa pada keadaan waktu itu kan. Dengan harapan bisa menolongnya, dan memulai hubungan dengannya. Dan aku yakin jika kamu menikah dengan Marcel, dia akan membuatmu mencintainya juga. Dan jika kamu sudah mencintainya, kamu akan menjaganya. Membuat apapun untuk membuatnya bahagia. Dan keingunanku hanya satu pada Marcel, yaitu melihatnya bahagia. Hanya bersamamulah dia bisa bahagia. Jadi menikahlah dengan Marcel." Ucap Lena dengan penuh harap.


"Tante..." Kiara mulai berkaca kaca. Direngkuhnya Lena ke dalam pelukannya. Mencurahkan kebahagiaannya. Dia akan memiliki keluarga lagi. Dia berjanji dalam hati, akan melakukan apapun untuk menjaga kebahagiaan dalam rumah mereka.


Kiara terisak pelan, Lena langsung melepaskan pelukannya.


"Hei, kenapa menangis?" Lena menghapus air mata Kiara yang mengalir di pipi.


"Kia, bahagia tante. Ya, aku bersedia menikah dengan kak Gio."


"Apa??" Suara Marcel mengejutkan dua wanita itu.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2