Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 26


__ADS_3

"Tuan, waktunya makan siang." Ingat Gani. Akhir akhir ini Feril sering melewatkan makan siangnya.


"Pergilah. Aku masih belum selesai." Jawab Feril dengan masih fokus pada pekerjaannya.


Gani hanya bisa menghela nafasnya pelan. Tak tahu apa yang terjadi dengan bosnya itu. Bosnya sekarang bahkan lebih kalem sebelum ada Kiara. Gani tahu ada yang spesial antara Feril dan Kiara. Tak sengaja dia melihat bosnya itu memandangi foto Kiara yang di simpan di ponsel.


Mungkin karena hubungan yang rumit membuat mereka berpisah dengan berhentinya Kiara dari pekerjaan bahkan tanpa ada alasan yang jelas. Karena setahu Gani, Feril juga mempunyai hubungan dengan putri keluarga Ardanta.


"Huh, hubungan orang kaya memang rumit." Gumam Gani setelah keluar dari ruangan Feril.


Feril menutup pekerjaannya. Menyandarkan kepala ke sandaran kursinya. Feril memijit pelipisnya, beberapa hari ini dia terus merasakan pusing yang berulang. Walau tak terlalu parah namun tetap saja itu mengganggu pekerjaannya.


Sudah mencoba melupakan hubungan yang memang seharusnya dari awal tak terjadi. Namun bayangan wajah gadis yang beberapa bulan lalu selalu disampingnya terus saja terbayang.


"Lebih baik aku bekerja lagi. Pasti pikiranku teralihkan." Semangat Feril pada dirinya sendiri.


....


"Terima kasih atas makan siangnya dokter." Ucap seorang gadis.


"Seharusnya saya yang berterima kasih. Kamu sudah mengembalikan tas saya. Padahal tempat kerja kamu jauh kan dari sini."


"Iya, sama sama. Saya harus mengantarnya kan. Takut itu berkas berkas penting."


"Oh iya, kenalkan nama saya Exa." Exa mengulurkan tangannya.


"Saya Selly." Gadis itu menyambut uluran tangan Exa.


Selly sekarang sudah pindah tempat kerja. Dia bekerja di sebuah minimarket yang tak jauh dari rusunnya. Ini memudahkannya untuk pulang pergi juga punya banyak waktu luang untuk mencari sahabat barunya yang menghilang.


Walau sudah meninggalkan surat tetap saja dirinya khawatir. Teringat akan ceritanya yang tinggal sebatang kara. Dan tak ada tempat untuk pulang. Selly yakin Kiara masih berkeliaran di kota ini.


"Dokter, saya permisi dulu. Ini sudah terlalu lama saya meninggalkan pekerjaan." Ucap Selly sopan.


"Ah ya baiklah. Sekali lagi saya terima kasih. Oh iya. Jika kamu atau keluargamu sedang membutuhkan pelayanan kesehatan, datang saja ke rumah sakit ini. Dan temui saya."


"Terima kasih atas kebaikan dokter. Saya permisi." Selly beranjak meninggalkan Exa sendirian.


"Gadis yang baik." Gumam Exa melihat Selly yang sudah jauh.


"Dokter, ada pasien yang mengurung diri di kamar mandi!!" Seru salah seorang perawat.


"Apa??" Exa langsung bergegas berlari mengikuti perawat yang memberitahunya tadi.


Sampai di sebuah kamar rawat. Sudah banyak perawat juga beberapa dokter di dalamnya.


"Nona Hanum, ayo keluar. Tidak baik untuk kesehatanmu kalau terus menangis di dalam." Bujuk seorang dokter.


"Kalian tidak tahu apapun jangan ikut campur. Biarkan aku mati saja." Teriak gadis yang ada di dalam kamar mandi.


"Aduh bagaimana ini dokter. Sudah lama sekali saya bujuk, tetapi dia tidak mau keluar juga." Keluh dokter yang sedari tadi sudah lelah membujuk.


"Hei, kau yang didalam. Kau mendengarku kan!!" Teriak Exa.


Tak ada jawaban. Namun tangisannya tak meraung lagi.


"Ini rumah sakitku. Jadi jangan berbuat seenaknya. Jika kau ingin mati, jangan disini. Sembuhlah dulu, dan keluar dari rumah sakitku. Setelah itu terserah padamu mau mati dimanapun. Aku tidak peduli. Aku membuat rumah sakit ini untuk orang berobat dan sembuh. Bukan menyediakan tempat untuk orang mengakhiri hidupnya." Ucap Exa dengan kesal.


Orang orang yang mendengar disana tercengang mendengar ucapan Exa. Mereka tidak pernah melihat dokter yang selama ini selalu baik hati bisa juga marah seperti ini.


Tangisan di dalam kamar mandi terhenti. Tak lama pintunya terbuka. Gadis yang diketahui bernama Hanum itu keluar dengan menundukan kepalanya. Exa tak dapat melihat wajahnya dengan jelas.


Hanum langsung berbaring di ranjangnya kembali dan menutupi seluruh tubuhnya.


Exa lalu mengisyaratkan untuk semua orang keluar dari kamar itu.


"Kadang menghadapi orang yang keras kepala juga diperlukan sikap yang keras. Tapi bukan kekerasan. Kalian mengerti." Exa memandang rekan dokter juga perawat. Mereka mengangguk mengerti.


"Jaga dia dengan extra. Sepertinya dia butuh perhatian lebih." Perintah Exa.


"Baik dokter." Jawab mereka serempak.

__ADS_1


Terkadang hal seperti ini sering terjadi. Apalagi jika pasien sakit yang berawal dari penyakit hati. Harus extra menjaganya. Exa terus berjalan kembali ke ruangannya.


...


"Sayang..." Marcel mengusap pipi Kiara pelan.


Sejak pulang dari pusat perbelanjaan, Kiara yang kelelahan langsung tidur.


Marcel benar hari ini tak memikirkan pekerjaannya sama sekali. Dia ingin menikmati waktu bersama dengan Kiara.


Saat Kiara tidur, Marcel telah menyusun rencana pernikahannya menghubungi penghulu juga mencari data data yang dibutuhkan untuk menikah secara resmi.


Sayang sekali Marcel tak mendapatkan kartu keluarganya yang tentu berada di rumah besarnya. Dan itu sedikit membuatnya frustasi, tanpa itu dia tidak bisa menikah secara sah dimata hukum.


"Kak, kamu disini.." Kiara mengucek matanya yang terasa masih mengantuk.


"Heem.." Marcel masih setia mengusap wajah Kiara lembut.


"Apa aku terlalu lama tidur?" Tanya Kiara


Marcel hanya menggelengkan kepalanya.


"Ayo bangunlah. Bersihkan dirimu. Ini sudah sore." Marcel bangkit setelah sebelumnya memberi kecupan di kening Kiara.


Kiara tersenyum menatap Marcel yang menjauh, keluar dari kamarnya. Marcel juga segera membersihkan dirinya.


.....


Seminggu berlalu, Marcel mengatakan akan ada acara hari ini. Kiara diminta untuk merawat diri ke salon kecantikan.


Marcel selalu menemani Kiara kemanapun dia pergi. Apalagi hari ini adalah hari spesialnya. Dia akan menikahi Kiara, walau hanya secara agama. Marcel mempercepat rencananya, karena sang ayah kemarin memberi tahunya jika besok dia akan dinikahkan dengan wanita pilihan ayahnya. Makanya dia ingin menikahi Kiara lebih dulu. Karena dia ingin Kiara menjadi yang pertama. Dan lagi, besok dia tak bisa mengelak untuk pernikahan itu. Karena diancam oleh Kevin akan mencelakai Kiara.


Tiba tiba saja ponselnya berdering, mengharuskan Marcel berpaling dari Kiara. Suara yang tak jelas membuat Marcel pergi menjauh agar sinyal ponselnya lebih baik.


Setelah beberapa saat, dia kembali ke salon. Dan mendapati jika Kiara tidak berada disana lagi. Semua pegawai mengatakan jika setelah melakukan perawatan, Kiara keluar dan mereka tak tahu lagi setelah itu.


Dengan perasaan khawatir, Marcel mengitari pusat belanja itu untuk mencari Kiara. Namun tidak ketemu juga. Mencoba menghubungi ponsel Kiara, tapi tidak aktif. Setelah tanya ke beberapa orang dia lalu disarankan untuk pergi ke bagian keamanan. Mungkin saja bisa mencari melalui cctv.


Sampai disana untunglah, pihak keamanan mengijinkan. Dan bisa melihat rekaman di sekitar salon tepat Kiara menghilang. Marcel melihat Kiara yang keluar dari salon. Melihat kanan kiri lalu datanglah seorang pria berpakaian serba hitam.


Pria itu tampak mengajak bicara Kiara sebentar, lalu Kiara mengikutinya pergi. Marcel tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Dan juga tak mengenal siapa pria itu. Marcel kesal, bagaimana bisa dia kehilangan Kiara di hari pernikahannya.


Mencoba berfikir positif, Marcel sekali lagi melihat cctv. Mengikuti kemana arah pergi Kiara dan pria tak dikenal itu. Keduanya keluar dari gedung lalu masuk ke mobil hitam yang sudah meninggalkan gedung pusat belanjaan itu 10 menit yang lalu. Plat nomor mobilnyapun tak terbaca.


Marcel berdecak, dia benar benar tidak ada petunjuk. Yang tak habis fikir, kenapa Kiara mau ikut dengan pria itu. Marcel kembali ke apartemen dengan suasana hati kacau. Dia juga sudah menghubungi seorang pemuka agama yang awalnya akan menikahkannya dengan Kiara, memberi tahu bahwa acara pernikahan dibatalkan.


Sekarang ponselmya malah terus berdering. Namun Marcel enggan sekali mengangkatnya.


Orang tuanya bergantian menelfonnya. Apalagi tujuannya jika bukan menyuruhnya untuk pullang, karena besok adalah hari pernikahannya dengan wanita pilihan orang tuanya.


"Marceeell" teriak Lena saat pada akhirnya Marcel menjawab telfonnya.


"Ada apa?" Tanya Marcel dingin.


"Pulang sekarang. Atau kamu ingin sesuatu hal buruk terjadi pada Kiara??"


"Apa?? Jadi semua ini ulah kalian?" Marcel tak habis fikir, ternyata ancaman Kevin tempo hari tak hanya sekedar gertakan.


"Cepat pulang. Jangan semakin membuat papamu marah." Tegas Lena lalu mematikan sambungan telfonnya.


Marcel mengusap wajahnya kasar. Mencenaskan keadaan Kiara yang pasti sedang disembunyikan oleh papanya.


....


Dekorasi rumah yang indah, penuh bunga bunga yang menebarkan keharuman. Acara pernikahan putra sulung keluarga ardanta yang terkesan mendadak tak sedikit membuat mereka digunjingkan oleh para tamu.


Walau tamu hanyalah kerabat dan beberapa klien penting yang sudah dianggap sahabat. Tetaplah membuat acara ramai. Marcel memakai pakaian serba putih telah didudukan oleh papanya di depan penghulu. Tinggal menunggu mempelai wanita untuk datang dan duduk disampingnya.


Melihat ada rombongan yang masuk ke dalam rumah, membuat para tamu bertanya tanya. Siapa gerangan mempelai wanitanya yang terlihat cantik dan anggun dengan gaun pernikahan berwarna putih itu. Walau wajahnya tersamar oleh kain tipis yang menutupi tapi tak membuat kecantikannya tak terlihat.


Marcel melihat sekilas, dia tak mengenali siapa wanita yang akan menikah dengannya. Apalagi keluarga yang ikut datang bersamanya. Sepertinya papanya memilihkan calon istri dari anak klien yang berada di luar kota.

__ADS_1


Marcel kembali menatap datar ke depan.


Terdengar decitan kecil kursi di samping Marcel, calon istrinya telah duduk di sampingnya.


"Baik, semuanya sudah siap?" Tanya penghulu, melihat para saksi nikah.


"Siap pak." Jawab mereka serempak.


"Calon pengantin wanita, apakah anda siap?"


"Siap pak." Jawab wanita itu. Marcel langsung menoleh ke samping. Menajamkan penglihatannya. Suara yang dia dengar tadi begitu familiar di telinganya.


"Calon pengantin pria, apakah sudah siap?"


Hening.


Marcel, nasih mengamati wajah calon istrinya. Benarkah dia...


"Calon pengantin pria, apakah anda sudah siap?" Ulang penghulu.


Tak ada jawaban juga.


"Kak, kamu tidak mau menikah denganku?"


Marcel yakin sekarang.


"Mau, tentu saja mau." Ucap Marcel semangat. Bahkan langsung memeluk calon istrinya yang ternyata adalah Kiara.


"Eheem eheem.." penghulu berdehem keras untuk menyadarkan kedua calon pengantin di depannya ini.


"Kak, malu." Cicit Kiara pelan. Pipinya sudah memerah karena tingkah laku calon suaminya yang tetiba memeluknya.


Lena menepuk pelan keningnya.


"Apa tadi saat Kiara masuk dia tak mengenalinya? Kenapa baru sekarang kagetnya. Dasar."


"Inilah hasil perbuatan mama. Lihat, harga diri putramu. Dia terlihat senang sekali bisa menikah. Budak cinta." Keluh papa Kevin.


"Apa papa tidak bucin juga pada mama?"


"Tidak." Tegas Kevin.


"Benarkah?? Hem,, baiklah. Papa silahkan puasa satu minggu." Putus Lena.


"Maa.." ucap Kevin memelas.


Penghulu menghela nafasnya pelan.


"Apakah bisa dimulai sekarang?" Tanyanya.


"Bisa pak."


Pernikahan pun di mulai. Ternyata yang ikut mengiring Kiara adalah keluarga ayah tirinya. Entah bagaimana caranya calon papa mertuanya meminta mereka untuk menghadiri pernikahannya. Bahkan saat bertemu tadi pagi, Kiara sempat takut kalau dia akan dibawa pergi. Tapi nyatanya sang ayah tiri merestui pernikahannya dan akan ikut mendampingi.


Kiara bahagia, acara berjalan dengan lancar. Sekarang dirinya sudah sah menjadi istri Marcel. Dan tersemat sudah nama Ardanta di belakangnya.


"Aku bahagia, ternyata yang akan dinikahkan denganku adalah kamu. Kia, andai kamu tahu betapa cemasnya aku sejak kemarin sama kamu. Kamu menghilang dan aku tahu itu ulah orang tuaku. Aku pikir mereka akan menyakitimu untuk memaksa aku menikah."


"Kamu sudah kena kejahilan mereka, kak." Kiara tersenyum kecil.


"Kamu ikut andil juga?" Tebak Marcel. Dan anggukan Kiara membuat dia sedikit kesal. Ternyata, hanya dia lah yang dipermainkan disini.


"Siap siap mendapat hukuman dariku sayang." Marcel senyum menyeringai.


"Apa yang akan kakak lakukan?" Kiara sedikit ngeri melihat senyum Marcel.


"Nanti kamu juga akan tahu. Kia sayang, istriku. Bisakah kamu mengubah panggilanmu. Aku bukan kakakmu, sekarang aku suamimu."


"Kak, aku belum terbiasa. Jangan bahas sekarang, masih ada banyak tamu."


to be continue

__ADS_1


__ADS_2