
"Ma, Pa. Rencananya hari ini kami akan kembali ke apartemen." Ungkap Marcel.
Lena tentu saja tidak ingin itu terjadi. Dia ingin Kiara tinggal bersamanya di rumah besarnya itu.
"Kenapa Cel? Nanti Kiara akan sendirian jika kamu bekerja."
"Iya aku tahu ma. Tapi ini keinginannya. Dia masih terlalu takut jika semua orang tahu kalau dia hamil. Dia takut direndahkan. Dan aku mengerti perasaannya Ma. Lagi pula jika dia tidak nyaman, pasti juga bisa mempengaruhi keadaannya. Dan aku ingin dia baik baik saja." Jelas Marcel.
"Tapi Cel. Tetap saja membiarkannya sendirian di apartemen itu tidak baik."
Saat semuanya hening, Uli datang dengan beberapa cangkir teh. Setelah menghidangkan di depan majikannya. Uli kembali berdiri tegak dan menyingkir. Namun dia berhenti di samping Lena.
"Maaf nyonya. Jika saya lancang. Saya tidak sengaja mendengar pembicaraan ini. Saya menawarkan diri untuk bekerja di apartemen tuan jika nyonya dan tuan berkenan. Saya tahu nyonya Kiara adalah wanita yang baik. Saya akan menjaganya di saat tuan bekerja dan akan kembali kesini saat tuan sudah kembali."
"Apa kamu bisa kami percaya?" Lena menatapnya tajam.
"Saya memang baru disini nyonya. Tapi saya tidak lupa akan kebaikan nyonya dan keluarga terhadap saya. Saya berjanji akan mengabdi pada keluarga ini, dengan sepenuh hati saya. Karena hanya dengan ini lah saya bisa membalas budi baik anda. Dan sepertinya, hanya saya lah pelayan di rumah ini yang mengetahui keadaan nyonya Kiara."
"Emm, bagaimana Cel?" Tanya Kevin.
"Aku harus bicarakan ini dulu pada Kiara."
" Saya berjanji akan menjaga nyonya Kiara dan bayinya dengan baik. Terutama nama baik keluarga ini. Jadi saya akan menjaga rahasia kehamilan nyonya Kiara hingga beliau sendiri yang akan mempublikasikannya sendiri. Karena sepengetahuan saya, nyonya sangat takut jika kehamilannya diketahui banyak orang."
"Iya, itu harus. Dan kamu akan saya pertimbangkan. Pergilah." Ucap Marcel.
"Baiklah, saya permisi." Uli pergi meninggalkan mereka.
....
Setelah berunding dengan Kiara, dan Kiara setuju jika Uli ikut ke apartemen. Semakin sedikit orang yang mengetahuinya hamil maka akan lebih bagus pikirnya. Dan hari ini juga Marcel dan Kiara kembali ke apartemen. Karena Marcel masih libur, maka Uli bisa mulai datang ke apartemen lusa.
Karena kemarin begitu lelah, Marcel bahkan tak ingat untuk meminta penjelasan pada kedua orang tuanya perihal pernikahan yang diatur untuknya ternyata dengan Kiara.
"Sayang, apa kamu tahu rencana papa dan mama tentang pernikahan kemarin?" Tanya Marcel ketika keduanya tengah berbaring ke ranjang bersiap untuk tidur.
Kiara tersenyum kecil lalu mengangguk.
"Hei, kenapa tidak memberitahuku?" Marcel cemberut.
"Maaf, mama yang minta. Untuk merahasiakannya. Dia ingin membuat kejutan untukmu. Itu saja."
"Jadi, soal papa yang mengancam ingin menikahkan aku dengan wanita pilihannya. Apa kamu juga tahu?" Marcel memicingkan matanya.
Kiara langsung mendelik. Dia sama sekali tak tahu rencana itu. Yang dia tahu hanya merahasiakan persiapan pernikahannya sampai di hari pernikahan.
"Tidak..aku benar tidak tahu." Kiara seketika merasa bersalah.
Marcel tampak menghela nafasnya, menetralkan emosinya. Lalu merengkuh tubuh Kiara dalam pelukannya.
"Maaf, aku benar benar tidak tahu. Apa saat itu yang membuatmu khawatir dan ingin secepatnya menikahiku?"
"Sudah tidak apa apa. Tidak perlu dipikirkan lagi. Lagi pula tetap saja kan mereka menikahkan kita. Aku senang akhirnya kita menjadi suami istri."
"Ayo kita tidur. Ini sudah larut."
....
Marcel sudah kembali ke kesibukannya. Sedang Kiara di temani oleh Uli di apartemen. Uli bukan hanya pelayan. Kini Kiara menganggapnya teman. Apalagi umurnya yang masih tak beda jauh.
Uli banyak menceritakan kehidupannya, hingga berakhir menjadi pelayan di rumah meluarga Ardanta. Semua karena kebaikan hati sang ibu mertua.
"Aku bersyukur sekali, bisa menjadi bagian anggota keluarga mereka. Aku yang orang asing begitu disayang." Celoteh Kiara.
"Iya nyonya. Karena nyonya juga sangat baik. Jadi tak heran jika mereka menyanyangi nyonya." Walau sudah mulai akrab tetap saja Uli tak ingin merubah panggilannya terhadap nyonya mudanya ini
"Ah tiba tiba saja aku ingin makan bakso." Kiara meraih ponselnya, lalu menghubungi Marcel. Dia ingin sekali menyantap bakso langsung di kedainya.
__ADS_1
"Kenapa tidak dijawab." Kiara melihat layar ponselnya.
"Bagaimana kalau saya yang belikan saja?" Tawar Uli.
"Aku ingin makan di kedainya langsung. Tidak enak kalau dibungkus dibawa pulang." Keluh Kiara.
"Emm, temani aku kesana. Aku ingin makan sekarang." Pinta Kiara dengan sedikit rengekan.
Yahh, Uli tak dapat menolak permintaan Kiara. Akhirnya dia mengangguk pasrah. Menuruti keinginan ibu hamil itu.
Sebelum berangkat, Uli sudah terlebih dahulu menelfon sopir di rumah besar agar segera datang ke apartemen dengan membawa mobil. Agar tak perlu mencari taksi.
Sesaat mereka akan keluar gedung apartemen, sebuah mobil mewah sudah menunggunya. Uli yang mengenali mobil itupun, segera mengajak Kiara untuk naik ke mobil itu.
"Nyonya, inguin ke kedai bakso yang mana?" Tanya Uli untuk memastikan tujuannya.
Kiara tampak mengutak atik ponselnya.
"Aku tidak tahu tempatnya, tapi ini alamatnya. Kamu tahu?" Kiara menunjukan layar ponselnya.
Uli mengangguk, dia beberapa kali melewati kedai bakso yang memang terkenal itu. Namun sama sekali belum pernah mencoba masuk kesana. Uli lalu mengarahkan sopir ke alamat kedai bakso itu.
30 menit berlalu, kini Kiara dan Uli sudah duduk manis di dalam kedai bakso. Menunggu beberapa saat untuk dapat giliran menerima semangkuk bakso yang telah dipesannya saat datang tadi.
Tempatnya lumayan ramai. Untung saja saat Kiara datang tadi masih ada bangku yang kosong. Dengan cepat Uli menuntunnya untuk segera duduk.
Kiara sangat puas, bisa menikmati bakso langsung di kedainya. Bahkan dia sampai habis dua porsi, karena enaknya. Kiara juga tak lupa pada Uli juga sopir yang mengantarnya yang sudah dia tahu jika dia adalah sopir di rumah mertuanya.
Setelah membayar semuanya, Kiara ingin langsung pulang. Saat akan naik ke mobil, peehatian Kiara teralihkan saat ponsel Uli berdering keras menandakan ada telfon masuk.
"Saya angkat telfon dulu nyonya."
Kiara mengangguk setuju.
Uli berbalik lalu melihat nama pemanggil, ternyata Marcel.
"Halo tuan."
"Istriku ada dimana?"
"Ada bersama saya tuan, kami baru saja keluar dari kedai bakso. Tadi nyonya sangat menginginkannya." Jelas Uli cepat. Tak ingin dia kena marah. Uli dapat tebak jika tadi Kiara lupa meminta ijin saat pergi.
"Naik taksi?"
"Tidak tuan, tadi saya meminta sopir di rumah besar untuk mengantar kami."
"Hmm, ya sudah. Katakan pada istriku untuk mengangkat telfonku."
"Baik tuan." Uli langsung berbalik, dan langsung terbelalak saat mendapati mobil kosong.
"Nyonyaa!!" Panggil Uli dengan sedikit keras. Tak sadar jika ponsel yang digenggamnya masih belum terputus panggilannya.
"Uli, istriku kenapa??" Teriak Marcel yang kemudian menyadarkan Uli jika panggilannya masih terhubung.
"Nyo...nya..nyonya tidak ada di dalam mobil. Tuan."
"Bagaimana bisa??" Teriak Marcel lagi.
Uli tak menjawab, matanya terus bergerak mencari keberadaan nyonyanya. Malah dia melihat sopirnya datang.
"Pak Dudung, lihat nyonya tidak?"
"Nyonya? Bukannya tadi sudah masuk mobil. Kan setelah kalian datang tadi aku ijin pergi ke toilet sebentar." Ujarnya.
"Tapi sekarang tidak ada. Bagaimana ini?!!" Uli kembali melihat ke dalam mobil. Dia melihat tas kecil juga ponsel milik nyonyanya tertinggal.
Dengan ketakutan, Uli kembali bicara pada Marcel yang masih menunggunya.
__ADS_1
"Tuan, nyonya benar benar hilang. Tas juga ponselnya tertinggal di dalam mobil." Ucap Uli dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Pak dudung yang mendengar ucapan Uli pun ikut panik.
Tut tut tut. Panggilan langsung terputus.
Marcel di kantor langsung bergegas keluar, tak peduli jika dia masih ada rapat lagi. Istrinya lebih penting saat ini. Dia sangat khawatir dengan keadaannya. Pertama dia harus memastikan dulu ke tempat itu. Untunglah, ponsel yang dimiliki Kiara ada GPSnya yang langsung terhubung dengan ponselnya.
Uli mengitari kedai bakso itu, juga ke toilet. Berharap jika Kiara hanya sedang berkeliling. Namun nyatanya tak kunjung dia temukan juga. Uli tak tahu harus bagaimana, dengan langkah gontai dia kembali ke mobil.
Ternyata pak dudung juga berkeliling ke sekitar kedai itu untuk mencari Kiara. Berharap segera bertemu agar tak mendapat amarah dari tuannya.
Marcel sudah sampai ke kedai itu, mobil yang digunakan Kiara pun langsung terlihat olehnya. Karena Marcel sangat hafal mobil itu.
Marcel hendak marah, tapi saat melihat Uli yang duduk di tanah dengan wajah menunduk. Bahkan isakan tangis terdengar memilukan. Marcel tak tega untuk memarahinya, karena telah lalai menjaga istrinya.
Marcel memilih mengabaikannya. Dia langsung mengecek ke dalam mobil. Mengambil ponsel Kiara yang ternyata dalam mode tak bisa diganggu. Pantas saja sejak tadi dia menghubunginya tidak ada jawaban.
Uli yang mendengar pintu mobil terbuka langsung bangkit. Apalagi melihat Marcel, dia menjadi gemetar ketakutan lagi.
"Tuan, saya minta maaf." Ucap Uli dengan penuh penyesalan.
"Kalian pulanglah." Ujar Marcel datar, yang sebenarnya sedang menahan emosinya.
"Sekali lagi kami minta maaf tuan." Kali ini pak dudung yang menunduk bersalah.
Marcel hanya mengangguk saja.
Marcel bersandar pada mobilnya, menatap nanar pada tas dan ponsel istrinya.
Bingung, itulah yang dirasa Marcel. Harus kemana dia mencari Kiara. Pastinya Uli dan pak Dudung tadi sudah mencarinya di sekitar sini. Pandangan Marcel mengedar, berdoa dalam hati, semoga ada petunjuk.
Dapat..Marcel melihat ada cctv di toko sebelah kedai bakso. Semoga terlihat.
Marcel mendatangi toko tersebut. Dengan mengatakan alasannya, maka pemilik toko dengan senang hati membantu Marcel untuk melihat rekaman cctv itu.
Marcel melihat dengan jeli, mengingat waktu saat dia menelfon Uli tadi. Pelataran kedai bakso itu terlihat hanya sedikit, karena terhalang tembok pembatas toko itu sendiri.
Mobill yang digunakan Kiara tadi hanya terlihat bagian depannya saja. Marcel menatap tajam layar komputer saat melihat mobil itu dibuka seorang lelaki, dan iya langsung menyeret Kiara. Kiara tampak terkejut dan tak berbuat apa apa.
Kiara diminta masuk ke dalam mobil oleh orang itu. Dan dia hanya menurut saja. Marcel berpikir jika ini penculikan, kenapa istrinya diam saja tak berontak. Berarti istrinya itu mengenal laki laki itu.
Tubuh Marcel luruh, lemas melihat istrinya yang pergi dengan suka rela. Apa yang akan dia lakukan. Akhirnya Marcel menghubungi papanya untuk meminta bantuan. Pikirannya sedang buntu kali ini.
Selang beberapa lama, Kevin sudah sampai di lokasi Marcel. Dia melihat keadaan putranya yang sedikit kacau. Bahkan seorang wanita paruh baya yang diduga Kevin pemilik toko tampak enggan untuk menegur Marcel. Marcel termenung diam, pandangannya kosong.
Kevin memilih tak mengganggunya juga. Kevin tak datang sendiri, dia bersama seorang kepercayaannya yang sering dia suruh untuk mencari informasi tentang apapun. Dengan isyarat mata, orang itu pun sudah mengerti jika di harus segera memulai pekerjaan barunya.
Orang itu mengutak atik komputer yang tadi digunakan Marcel melihat rekaman cctv dengan seijin pemiliknya.
Setelah mendapatkan apa yang ingin dia cari, orang itu melapor pada Kevin dan pamit untuk segera melanjutkan pekerjaannya.
Kevin mendekati Marcel. Menepuk bahunya pelan.
"Apa kau tidak ingin pulang?"
Marcel mendongak menatap papanya sendu.
"Kemana aku akan pulang, sedang tempatku kembali saja sekarang entah berada dimana." Jawab Marcel datar.
"Kondisikan perasaanmu itu. Apakah seorang Marcel akan hancur hanya seorang wanita? Masih banyak wanita baik di luar sana." Kevin sedikit kesal. Menantu yang dikiranya baik, pergi begitu saja dengan seorang lelaki. Kebin menduga jika itu adalah kekasih dari Kiara yang juga ayah dari bayi yang Kiara kandung. Laki laki paruh baya itu bahkan berdecih kesal saat memikirkan kalau itu benar.
Marcel tentu tahu maksud papanya. Kepergian Kiara yang seperti itu tentu saja membuat orang berpikir negatif.
"Persiapkan dirimu untuk kemungkinan terburuk." Tegas Kevin.
"Nasib putraku sangatlah tragis jika wanita itu benar meninggalkannya. Kalau sampai itu terjadi aku tak akan membiarkan wanita itu hidup dengan damai." Gumam Kevin, beranjak meninggalkan Marcel.
Marcel mengusap wajahnya kasar. Tak ingin hanya berdiam diri. Dia ingin berusaha mencari keberadaan Kiara. Setelah mengucapkan terima kasih pada pemilik toko, Marcel bergegas kembali ke mobilnya dan memulai pencariannya.
__ADS_1