
Marcel duduk di samping Kiara. Mengamatinya yang terlihat lelap sekali dalam tidurnya. TanganMarcel lalu mengusap perlahan pipi Kiara.
"Kia, bangun."
"Ayo bangun lah. Kamu harus makan dulu." Sekarang Marcel menggoyangkan tangan Kiara. Yang diusik tidurnya mulai menggeliat.
"Bangunlah, makan sebentar nanti lanjutkan tidurmu."
"Aku mengantuk sekali." Rengek Kiara yang masih setia memejamkan mata.
"Sayang ayo bangun dulu. Bayimu pasti lapar."
Kiara langsung membuka lebar matanya. Dia terkejut dengan apa yang didengarnya. Panggilan sayang yang diucapkan oleh Marcel.
"Kak Gio.." Kiara mengingat kejadian yang baru saja terjadi di antara mereka. Pipinya langsung merona.
"Ayo makan dulu." Marcel membantu Kiara untuk duduk. Kiara sendiri jadi gugup, apalagi dia ingat kalau masih belum memakai apapun di balik selimut yang dia pegang erat itu.
Tanpa meminta izin, Marcel langsung saja menyuapi Kiara. Kiara pun menerimanya walau sedikit ada kecanggungan. Marcel bergantian menyuapi mulutnya juga. Karena memang dirinya sudah sangat lapar.
Selesai makan, Marcel membereskan wadah bekasnya dan membawanya ke dapur.
"Lagi lagi, aku menyerahkan diriku tanpa ada ikatan apapun. Bagaimana nasibku nanti? Apa aku akan kecewa lagi dengan kenyataan yang akan muncul sebentar lagi." Kiara meremas sedikit keras pada rambutnya.
Walaupun dia tahu sudah disetujui oleh kedua orang tua Marcel, tapi ada sedikit keraguan di hatinya. Benarkah mereka tulus menerimanya atau hanya memberi harapan palsu. Bagaimanapun dia bukanlah wanita baik. Dia bahkan sudah hamil dengan pria lain.
"Nggak, aku harus percaya pada mereka. Pada kak Gio juga. Hanya mereka lah yang ada disaat aku terpuruk kemarin."
Kiara perlahan turun dari ranjang. Mengambil bajunya yang ternyata sudah di letakan di sofa oleh Marcel tentunya. Siapa lagi. Dia langsung memakainya saja, tak mungkin malam malam begini dia mandi lagi.
Disaat dia baru selesai memakai kaosnya, sepasang tangan melingkar dipinggangnya.
"Ayo tidur lagi." Bisik Marcel.
Kiara mengangguk, Marcel lalu menyeretnya untuk tidur di ranjang.
"Kak, aku tidur di kamarku saja." Kiara masih malu kalau harus secara sadar harus tidur di ranjang bersama.
Marcel menggeleng.
"Tidur disini, mulai sekarang kita akan selalu bersama. Aku tak akan membiarkanmu sendirian."
"Tapi kak, nanti kalau tante Lena tahu bagaimana?"
"Aku tidak peduli. Sebentar lagi kita juga akan menikah." Marcel menarik Kiara lagi dan membuat Kiara berbaring dengan pasrah. Lalu disusul Marcel yang ikut berbaring di sampingnya.
Marcel merapat pada Kiara lalu berada dalam pelukannya.
"Kak.."
"Hem.."
"...."
"Ada apa?" Tanya Marcel karna Kiara tak bersuara lagi.
"Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku dulu?"
"Aku tidak tahu." Jawab Marcel.
"Tidak mungkin tidak tahu."
"Aku memang tidak tahu, aku baru menyadari jika jatuh cinta kepadamu setelah kehilanganmu. Kalau kamu sendiri? Apa yang membuatmu menyukaiku dulu."
"Karena kak Gio tampan dan juga bintang basket."
"Apa aku sekeren itu dulu?"
Kiara tampak mengingat masa lalu.
"Emm, iya... dulu." Jawab Kiara menjeda kata katanya.
__ADS_1
"Sekarang? Apa aku masih keren??" Marcel sedikit memundurkan kepalanya agar bisa melihat wajah Kiara.
"Sedikit.." jawab Kiara sambil berfikir.
"Sedikit??" Marcel mengeryit tak percaya. Kiara mengangguk beberapa kali.
"Hah, baiklah. Aku akan berubah jauh lebih keren dari yang dulu. Jadi kamu tak akan bisa berpaling dariku." Marcel kembali memeluk erat Kiara.
Kiara tersenyum dalam pelukan Marcel. Dia merasakan kenyamanan disana. Merasa terlindungi.
"Ya, berusahalah." Ucap Kiara menyemangati.
"Dan aku akan berusaha untuk membuat di hatiku hanya ada dirimu. Marcel Gionino." Kata Kiara dalam hati.
Semalam keduanya tertidur dengan nyenyak sekali sampai alarm yang biasa di pasang oleh Marcel di ponsel pun tak mampu untuk mengusik tidur mereka.
Hingga mentari menunjukan sinarnya, Marcel agak terganggu tidurnya. Wajahnya terkena pancaran sinar mentari melalui celah tirai jendelanya.
Merasakan sedikit kram pada tangannya. Setelah dilihat ternyata sejak semalam, posisi tidurnya tak berubah. Masih memeluk Kiara dengan sebelah tangannya dia jadikan bantal untuk Kiara.
Marcel memandang wajah tenang yang masih tertidur di depannya. Membenarkan letak rambut yang sedikit menutupi wajahnya.
"Aku mencintaimu." Marcel lalu mengecup kening Kiara. Dan memeluknya kembali enggan untuk bangun. Tak ingin momen seperti ini berakhir. Bisa bersama dengan orang yang dicintainya.
Namun ingatan tentang ucapan sang ayah kemarin kembali mengusiknya. Entahlah, yang jelas untuk saat ini dia ingin segera mengurus pernikahannya dengan Kiara.
"Selamat pagi." Sapa Marcel ketika Kiara mulai membuka matanya.
"Pagi." Kiara lalu duduk dan menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal karena semalam pasti dia tak bergerak, terlalu nyaman itulah yang dirasanya.
"Ini sudah jam berapa?" Kiara menoleh Marcel yang ikut meregangkan tubuh.
"Entahlah. Aku juga baru bangun."
Kiara hendak bangun tapi Marcel malah menariknya kembali ke pelukannya.
"Mau apa?" Tanya Marcel.
Marcel bukannya menjawab tetapi langsung mencium Kiara penuh semangat. Bahkan hingga Kiara kehabisan nafas dan memukul pelan dada Marcel.
"Morning kiss." Ucap Marcel yang sukses membuat pipi Kiara merona. Kiara langsung bangkit dan berlari keluar kamar.
"Hei, jangan lari. Ingat kandunganmu." Teriak Marcel memperingati.
Kiara langsung memelankan langkahnya. Tak ingin sembrono, lalu membahayakan kondisi bayinya.
Pagi ini terasa seperti mimpi. Kiara berharap jika ini mimpi dia tak akan bangun lagi. Agar selamanya bisa merasakan kebahagiaan ini.
Kiara masuk ke kamarnya sendiri, segera membersihkan diri. Setelahnya dia keluar ingin membuat sarapan. Ah ternyata Marcel bahkan sudah duduk manis di meja makan. Dengan sepiring sandwich dan dua gelas susu.
"Ayo sarapan.." ajak Marcel.
"Terima kasih. Kak Gio tidak ke kantor?" Tanya Kiara, melihat Marcel yang memakai baju santai.
"Tidak, aku ingin pergi menemanimu."
Kiara mengernyit heran. Dia merasa tidak punya acara pergi keluar hari ini.
"Pergi kemana?" Tanya Kiara akhirnya.
"Terserah padamu, kemanapun aku ikut."
"Kak, yang bilang mau pergi tadi siapa? Kakak kan..lalu kenapa jadi aku yang harus memutuskan mau kemana. Aku tidak punya tujuan kemanapun." Jelas Kiara.
"Haha, iya iya. Aku ingin ke pusat belanja. Aku ingin membeli sesuatu. Dan kamu harus ikut."
"Hem baiklah."
Keduanya menyelesaikan makan sarapannya.
Di pusat belanja, Marcel mengajak Kiara masuk ke sebuah toko perhiasan. Jangan lupakan penampilan Kiara yang sudah seperti hendak mencuri. Masker, kacamata, topi, dan jaket besar milik Marcel. Itu dia gunakan agar tak seorang pun mengenalinya.
__ADS_1
Para pegawai toko terlihat sangat mengawasi Kiara. Marcel merasa tidak nyaman. Lalu membisikan sesuatu ke salah satu pegawai. Untunglah pembeli sedang tidak ada selain keduanya. Ternyata pegawai tadi di minta menutup sebentar tokonya. Agar membuat Kiara nyaman untuk membuka aksesoris untuk penyamarannya.
Setelah tertutup rapat tirainya, Kiara diminta Marcel untuk membuka semuanya. Sekarang terlihatlah, wanita cantik yang sebenarnya. Walau baju yang Kiara kenakan sudah termasuk longgar tapi tetap saja menampilkan sedikit lekuk tubuhnya yang seksi.
Mungkin karena hormon kehamilan, ukuran dada Kiara sedikit membesar. Perutnya juga terlihat lebih berisi. Kehamilan yang memasuki bulan ke 5.
"Kak, untuk apa kesini?" Cicit Kiara pelan.
"Ini tempat apa?" Marcel balik bertanya.
"Toko perhiasan."
"Lalu orang kalau kesini mau beli apa?" Tanya Marcel lagi.
"Beli perhiasan lah kak." Jawab Kiara kesal.
"Itu kamu tahu. Kesini mau beli apa. Kenapa masih bertanya." Marcel mencubit gemas hidung Kiara.
"Issh sakit." Kiara memukul pelan lengan Marcel kemudian mengusap hidungnya.
"Pilihlah yang kamu suka.!" Perintah Marcel.
"Aku tak bisa memilih. Karena aku tak suka memakai perhiasan kak. Terlalu mencolok."
Ya, Marcel bisa lihat sendiri jika Kiara tak punya satu perhiasan pun menempel di tubuhnya.
Marcel lalu menunjuk kalung dengan bandul bentuk bulat dari batu berwarna biru terang di sekelilingnya beberapa berlian kecil menghiasi. Pegawai yang melayani langsung mengambilkan yang dimaksud Marcel.
Marcel mengambil kalung itu dan menyandingkan di bahu Kiara. Marcel tersenyum lalu memutar kursi putar yang diduduki oleh Kiara. Marcel membantu mengenakan kalung itu ke leher Kiara.
Selesai itu, Kiara dihadapkan pada cermin. Kiara takjub melihat pantulan gambar kalung itu di cermin. Sungguh indah, bathinnya.
"Kak, indah sekali."
"Kamu suka?"
Kiara mengangguk.
"Mbak ini berapa harganya?" Tanya Kiara sambil mengelus kaling yang tengah dipakainya.
"Kaling itu edisi terbatas nyonya. Harganya 450 juta rupiah." Jawab pegawai itu.
"Mahal sekali." Gumam Kiara lalu mencoba untuk segera melepas kalung itu. Dia takut untuk merusaknya.
"Kenapa?" Marcel menghentikan tangan Kiara.
"Aku tidak suka. Terlalu mahal."
"Mbak bungkus yang ini ya." Marcel menunjuk kalung yang sudah diletakan kembali ke tempat perhiasannya. Kiara dibuat melongo dengan ucapan Marcel barusan.
"Kak, itu mahal sekali." Keluh Kiara.
"Biarlah. Aku ingin memberimu hadiah. Sekarang kita pilih ini." Marcel mendekatkan beberapa kotak cincin yang isisnya berpasangan.
"Untuk?"
"Pernikahan kita." Bisik Marcel.
Kiara tersenyum, lalu dengan semangat dia memilah cincin. Dia memilih cincin yang paling sederhana menurutnya. Tak ada berlian atau mutiara. Hanya bulatan biasa.
"Aku pilih yang ini saja kak."
"Wah nyonya, pilihan yang tepat. Itu juga edisi terbatas kami. Ukiran cincin itu dibuat langsing oleh desainer perhiasan terkenal dari perancis." Puji pegawai itu. Kiara kembali syok mendengarnya. Edisi terbatas pasti harganya juga mahal.
Kiara memastikan ucapan si pegawai. Dia mengamati ukiran yang ada di cincin. Memang terlihat sekali jika ukiran itu sangat indah.
"Kaak.." ucap Kiara sambil memasang wajah memelas.
Marcel tahu apa yang dipikirkan Kiara. Namun dia pikir hanya membeli ini tak akan menghabiskan uang hasil kerjanya sendiri selama ini.
to be continue
__ADS_1