Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 5


__ADS_3

Kiara menarik nafasnya dalam. Berharap semoga pekerjaan kali ini bisa dia dapatkan dan mendapat bos yang tidak seperti kemarin.


"Ma, doain Kiara dapat pekerjaan bagus." Ucap Kiara dalam hati lalu mulai melangkah ke dalam gedung.


"Permisi, saya peserta interview. Saya harus kemana ya?" Tanya Kiara sopan sambil tersenyum ceria kepada resepsionis.


"Lantai 3, ruangan di ujung lorong dari lift. Waktunya masih 30 menit lagi, pasti disana belum ada seorang pun. Lebih baik menunggu disini dulu." Jawab resepsionis itu juga diiringi senyum.


"Tidak apa apa, saya akan tunggu disana saja."


" Ya sudah, silakan." Resepsionis mempersilakan Kiara menuju lift.


"Terima kasih." Ucap Kiara.


"Sama sama. Semoga berhasil."


Kiara senang mendapat semangat dari beberapa orang hari ini.


Kiara segera menuju ruangan yang sudah ditunjukan resepsionis tadi. Memang benar ucapannya. Disana masih sepi. Tak ada seorang pun saat Kiara mencoba untuk membuka pintu ruangan itu dan melongokan kepalanya ke dalam.


Kiara lalu duduk di kursi yang berjejer rapi di depan ruangan itu. Kiara menggunakan waktu menunggunya untuk membaca buku. Bukan sejenis buku buku novel romansa seperti kebanyakan wanita yang sering baca. Namun Kiara malah membaca sebuah komik.


Ya kalau sebagai hiburan, Kiara memilih komik. Tapi sebagai sumber ilmu, Kiara akan membaca buku tentang bisnis. Itu sudah menjadi kebiasaannya sejak masih sekolah dulu. Selain buku sekolah dia juga akan membaca buku buku mamanya.


Mungkin darah bisnis sudah menurun dari keluarganya. Namun sayang nasib baik tak berpihak padanya. Kiara harus kehilangan semuanya dan harus meninggalkan yang seharusnya jadi miliknya.


"Ehem.." deheman seseorang merusak konsentrasi Kiara membaca komiknya. Walau sudah beberapa kali membaca komik itu tetap saja Kiara selalu sungguh sungguh dalam membaca.


Kiara mendongak untuk melihat siapa orangnya. Seorang pria berpenampilan rapi, dengan setelan jas, sepatu mengkilat. Tinggi putih juga sebuah kacamata bertengger di hidungnya.


"Apa kau serius untuk bekerja?" Tanya pria itu.


"Maksudnya?" Kiara mengerutkan dahinya. Tak mengerti maksud pria di depannya ini. Karena dia saja berusaha berangkat pagi, tentu saja serius bekerja.


Pria itu tidak menjawab. Kiara melihat ke arah mana tatapan mata pria itu. Mengarah pada komiknya. Kiara jadi paham. Lalu Kiara menyimpan komiknya kembali ke dalam tasnya lalu berdiri.


"Maaf jika itu mengganggu pemandangan anda." Ucap Kiara sambil menunduk meminta maaf. Setelahnya dia melihat jam tangannya.


"Saya sudah disini sejak 20 menit yang lalu. Jadi saya memilih membaca, karena tak ada seorang pun yang bisa saya ajak bicara." Ucap Kiara sopan.


"Kau memang datang terlalu awal. Ini juga masih 5 menit lagi. Tapi bagus, itu artinya kau benar benar serius ingin bekerja disini. Berikan salinan CV mu seperti yang diminta di email balasan kami." Pria itu menengadahkan tangannya.


Kiara meraih map di tasnya, lalu menyerahkannya ke pria itu. Pria itu segera membuka map yang diterimanya, dibaca sekilas.


"Nona Kiara Maharani. Silahkan menunggu lagi. Saya akan masuk lebih dulu." Kata pria itu.


"Baik pak." Jawab Kiara, setelahnya pria itu masuk ke ruangan itu.


Kiara sudah tidak mood membaca lagi, dia memilih memainkan ponselnya sembari menunggu. Hanya mengecek beberapa akun sosmednya lalu menyimpan kembali ponselnya.


"Selamat pagi," sapa Kiara saat ada beberapa orang datang.


"Pagi." Jawab mereka serempak.

__ADS_1


"Peserta interview?" Tanya salah seorang dari mereka.


"Iya pak." Jawab Kiara.


"CV?" Tanya seorang yang lainnya.


"Tadi sudah diminta oleh seseorang yang masuk ke ruangan ini." Kata Kiara sembari menunjuk pintu ruangan di sampingnya.


Tanpa berucap lagi, mereka masuk ke dalam ruangan itu.


10 menit berlalu dari waktu yang di tentukan. Kiara sudah ditemani dua wanita lain yang juga peserta interview. Kiara sedikit minder, karena penampilannya yang paling biasa saja.


Tak lama seseorang membuka ruang interview dan memanggil nama Kiara. Kiara segera masuk mengikuti orang yang memanggilnya.


Kiara duduk di depan penginterview yang berjumlah 4 orang. Salah satunya yang menegurnya tadi. Pria tampan berkaca mata.


Beberapa pertanyaan di berikan dengan tujuan menguji kemampuan Kiara. Tentu saja Kiara dapat menjawab dengan mudah, karena dia sudah pernah terjun mengurus bisnis mamanya.


Interview Kiara berjalan dengan lancar. Kiara diminta untuk menunggu lagi. Karena pesertanya memang hanya 3. Jadi keputusan akan langsung diambil hari itu juga.


....


"Nona Kiara, selamat anda yang terpilih untuk bergabung dengan perusahaan kami." Ucap salah satu penginterview tadi.


"Dan untuk yang lainnya, mohon maaf hari ini kalian belum beruntung. Jika nanti ada lowongan lagi silahkan.mencoba kembali." Ucap orang itu dengan sopan.


Dua wanita yang tidak diterima itu, pergi tanpa mengucap apapun. Wajah mereka tertunduk kecewa, sebelum pergi mereka bahkan melirik ke arah Kiara.


Di pandangan mereka, harusnya Kiara yang berpenampilan biasa saja harusnya yang di tolak kenapa harus mereka yang berpenampilan sempurna menurutnya malah ditolak.


Kiara mendengar dengan seksama penjelasan dari seorang. Lalu dia diberikan beberapa lembar kertas untuk dibaca dan di tanda tangani.


"Nona Kiara, bacalah. Jika anda setuju silahkan tanda tangan di halaman terakhir." Ucap si pria berkacamata.


Kiara membaca tulisan itu dengan teliti. Ternyata itu surat kontrak kerja. Kiara akan menjadi seorang sekertaris direktur. Gaji yang di tawarkan lumayan besar. Gaji pokoknya 5 juta, belum lagi bermacam tunjangan. Lalu cara berpakaian pun di tulis disana. Tidak di spesifikan seperti apa. Tapi harus cantik dan rapi.


Lalu dijelaskan poin terpentingnya. Kiara harus siap kapanpun saat dibutuhkan oleh perusahaan. Tak peduli waktu siang ataupun malam. Dan lagi yang membuat Kiara dengan senang hati akan menerima pekerjaan ini. Tidak ada sistem kontrak. Tidak ada penalti jika dia berhenti bekerja tanpa melakukan kesalahan dan mengajukan pengunduran diri secara baik baik.


Kiara tidak ragu ragu menandatangani perjanjian kerja tersebut.


"Selamat bergabung nona Kiara." Ucap Pria berkaca mata itu sambil tersenyum. Lalu pria itu melepas kaca matanya. Dan mengulurkan tangan untuk Kiara.


Kiara menyambutnya dengan baik.


"Saya Feril. Atasan kamu mulai sekarang." Ucapnya sekarang dengan nada tegas.


"Baik pak." Jawab Kiara juga dengan tegas. Yang sejujurnya dia terkejut. Tidak menyangka jika seorang direktur ikut serta memilih karyawan yang akan bersinggungan langsung dengannya.


"Saya pergi." Feril meninggalkan ruangan itu.


Yang lain hanya menunuk.hormat, begitupun Kiara.


Salah seorang diantaranya lalu mengenalkan diri.

__ADS_1


"Saya Doni, kepala HRD. Dan kamu bisa mulai bekerja besok. Ayo, saya tunjukan dimana tempat kamu di perusahaan ini." Doni melangkah lebih dulu lalu diikuti oleh Kiara.


Di lantai tempatnya bekerja, yang nyatanya hanya ada seorang saja, dia asisten dari direktur, namanya Gani. Dan lantai ini khusus untuk ruangan presdir saja.


Selesai dengan acara perkenalan. Kiara dipersilahkan pulang untuk mempersiapkan diri untuk mulai bekerja besok.


Kiara memilih untuk memesan taksi online. Cukup lama dia menunggu di depan perusahaan. Hingga akhirnya sebuah mobil berhenti di depannya.


"Non Kiara?" Tanya pria paruh baya yang menyetir mobil tersebut.


"Iya pak, taksi online yang saya pesan ya pak?" Tanya Kiara memastikan.


"Iya non, silakan masuk."


"Sesuai aplikasi ya pak." Ucap Kiara setelah duduk di kursi belakang.


"Iya non." Jawab sopir, lalu mobil mulai berjalan.


....


Brakkk..


Kecelakaan tak terhindarkan. Taksi online yang membawa Kiara menabrak seseorang. Dengan segera Kiara ikut turun untuk mengecek keadaannya.


"Mbak, mbak bangun mbak." Sopir itu terlihat panik melihat korban tabrakannya pingsan.


"Udah pak, kita bawa saja ke rumah sakit." Saran Kiara.


"Maaf ya non, saya tidak punya uang. Bagaimana ini?"


"Bapak tenang saja. Nanti saya bantu iya. Ayo cepat." Pinta Kiara.


"Iya. Makasih ya non." Ucap sopir taksi online itu lalau segera membopong tubuh wanita yang terkulai lemas itu ke dalam mobil.


Sampai di rumah sakit.


Kiara langsung turun meminta bantuan. Seorang perawat pria langsung mengangkat tubuh wanita itu ke atas brangkar. Lalu sgera didorongnya ke dalam UGD.


"Bapak tunggu disini iya. Saya akan urus administrasinya." Pinta Kiara.


"Makasih sekali lagi ya non." Ucap pria paruh baya itu sungguh sungguh.


"Iya pak."


Kiara berlalu, cukup lama dia mengurusnya. Karena tak tahu identitas korban kecelakaan tadi. Menunggu perawat mengecek kondisi juga mencari kartu identitas yang mungkin dibawa.


Kiara menunggu di lobi rumah sakit.


"Ara.." panggil seseorang yang tidak dikenali oleh Kiara.


Kiara menoleh, menatap penampilan orang yang menyapanya.


"Iya, maaf anda siapa ya? Kok tahu nama saya?" Tanya Kiara sopan.

__ADS_1


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


__ADS_2