Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 28


__ADS_3

Kiara membuka matanya, pertama yang dilihat adalah wajah sang suami.


"Apa acaranya sudah selesai? Kenapa malah ikut tidur disini. Belum ganti baju lagi." Guman Kiara pelan mengamati suaminya.


Kiara memilih untuk bangun perlahan, agar tak mengganggu tidur Marcel.


Kiara keluar dari kamar itu, melihat keadaan sekitar yang sudah sepi pastinya acaranya sudah selesai. Kebetulan sekali ada seorang pelayan yang melewatinya.


"Nyonya." Sapanya sambil sedikit menundukan kepalanya.


"Emm, apa kamu bisa mengantarku ke kamar kak Gio?" Pinta Kiara.


Pelayan itu tampak tidak mengerti.


"Ah maksudku. Kak Marcel, suamiku. Aku baru pertama kesini jadi yidak tahu kan letak kamar kami. Bisa antarkan aku."


"Tentu saja nyonya. Mari." Pelayan itu mempersilahkan Kiara untuk berjalan lebih dulu.


"Tidak apa kamu didepan. Aku kan tidak tahu."


"Itu tidak sopan nyonya. Begini saja." Pelayan itu, mendekat dan berjalan sejajar dengan Kiara sambil membantu memegangi gaun yang menjuntai di belakang. Agar Kiara lebih mudah berjalan.


"Ya, itu lebih baik."


"Namamu siapa? Sepertinya juga kita seumuran."


"Saya Uli nyonya. Saya berusia 26 tahun."


"Nama yang unik, seperti nama makanan. Memang kita seumuran. Ya lebih tua aku sih. Aku 3 bulan lagi 28 tahun."


Uli tersenyum memandang nyonya barunya yang ramah sekali.


"Nah ini nyonya, kamar tuan."


"Terima kasih. Tapi bisakah aku meminta bantuan lagi?"


"Tentu saja nyonya."


"Ayolah ikut aku masuk ke dalam."


Ternyata di dalam, Uli di minta untuk membantunya melepas bajunya yang memakai banyak kancing belakang. Sehingga tak bisa kalau harus membukanya sendiri. Setelahnya Kiara bergegas mandi. Sedangkan Uli segera keluar dari kamar setelah memberi tahu jika baju Kiara sudah diletakan di lemari pakaian.


15 menit berlalu, Kiara keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Dia mencari letak lemari pakaian. Ternyata ada ruangan tersendiri di dalam kamar itu. Ada dua lemari besar, Kiara melihat isinya satu per satu.


Bajunya berada di dalam satu lemari penuh, ada baju lama tapi juga banyak baju baru. Pasti ibu mertuanya yang menyiapkan ini semua, batinnya. Kiara segera memilih satu pakaian, dress longgar dengan panjang selutut.


Selesai dia memakai baju, Kiara mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan itu. Terdapat banyak barang disana, tentu yang berhubungan dengan fashion. Dari tas, sepatu, jam tangan, juga aksesoris lainnya.


Kiara merasakan perutnya lapar, baru akan keluar dari kamar. Ternyata Marcel juga ingin masuk ke dalam kamar.


"Aku khawatir kamu tidak berada disampingku saat aku bangun tadi." Ucap Marcel ketika melihat Kiara.


"Maaf tidak membangunkanmu. Pergilah mandi, akan aku siapkan baju gantimu."


"Tidak perlu, kamu turunlah dulu. Kamu belum makan kan sejak siang tadi."


"Tidak apa apa, kita makan bersama nanti." Kiara menarik Marcel agar cepat pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Semakin lama bicara, tentu saja semakin lama juga dia akan makan. Kiara memilihkan baju santai untuk Marcel. Setelahnya dia duduk di sofa, menunggu suaminya selesai mandi.


Melihat lihat keseluruhan bentuk kamar barunya. Kiara tersenyum melihat banyaknya foto foto Marcel terjejer di dinding. Marcel sepertinya sangat percaya diri dengan penampilannya. Setiap Marcel berfoto dia akan berpose layaknya model pakaian di majalah.


Satu foto yang mencuri perhatiannya, foto Marcel dengan seorang gadis kecil. Dilihat dari penampilannya Marcel, foto itu diambil ketika Marcel masih di bangku SMA. Tapi Kiara tak mengenali gadis kecil itu.


Grep,.


Kiara agak terkejut ketika sepasang tangan kekar memeluk perutnya.


"Sedang apa?"


Tak menjawab, tapi Kiara menunjuk foto yang diperhatikan tadi.


"Itu foto saat aku lulus SMA, dan kembali tinggal disini. Gadis itu adalah adikku."


"Adik?"


"Iya, maaf belum mengenalkanmu padanya. Aku belum punya kesempatan. Dan hari ini pun dia tidak datang, karena masih ujian kata mama. Dia kuliah di luar negri."


"Siapa namanya?"


"Natasya." Marcel mencium harum tubuh Kiara yang menggodanya. Hingga hidungnya mengendus leher Kiara.


"Kak,." Kiara menggerakan tubuhnya untuk menghindari Marcel.


"Kenapa?" Tanya Marcel dengan mata yang sayu.


"Cepat pakai bajumu. Aku sudah lapar." Ucap Kiara lalu mendorong tubuh Marcel pelan.


Marcel dengan segera memakai pakaiannya, bahkan tanpa memikirkan Kiara yang tercengang di belakangnya. Wajah Kiara sudah memerah, walau sudah pernah melihat tubuh polos suaminya itu. Tapi tetap saja dia belum terbiasa dengan itu.


Kiara segera membalik badannya, memilih untuk mengalihkan perhatiannya ke beberapa foto Marcel yang terpajang di dinding.


"Ayo turun." Marcel meraih pergelangan tangan Kiara dan mengajaknya berjalan bersama keluar kamar.


Keduanya turun perlahan melewati tangga. Terkadang saling tatap dan memasang senyum bahagia.


"Bi, siapkan makanan untuk kami." Pinta Marcel ketika melihat salah satu maid di dekatnya.


"Baik tuan." Jawab maid itu sopan lalu pergi ke dapur.


"Kak, aku tadi melihat di kamarmu sudah banyak bajuku yang dibawa kesini. Apa setelah menikah kita tinggal disini?"


"Mama yang memintanya. Tapi jika kamu memang tidak nyaman, kita hanya akan menginap disini malam ini. Besok kita kembali ke apartemen." Marcel sungguh mengerti dirinya.


Kiara teesenyum.


Ya, memang Kiara merasa tidak nyaman jika harus tinggal disini. Selain karena belum terlalu mengenal orang tua Marcel yang kini jadi mertuanya. Tetapi juga banyaknya pelayan yang ada di rumah ini. Kiara belum siap jika dia ketahuan hamil. Kiara takut akan persepsi orang nanti tentang dirinya.


Keduanya duduk di ruang makan. Duduk berdampingan, Kiara melayani Marcel selayaknya seorang istri. Mengambilkan makanan untuknya juga menyiapkan minumannya.


Marcel bahagia, Kiara kini benar berada disisinya sebagai istrinya. Impiannya sejak berpisah di bangku SMA. Membiarkan takdir mempertemukan mereka kembali. Dan Marcel tak menyia nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan untuknya.


"Kalian baru makan." Tiba tiba Lena menghampiri keduanya.


"Maaf ma, tadi tidak mengikuti acara sampai selesai." Ucap Kiara menyesal.

__ADS_1


"Tidak apa sayang, kesehatanmu lebih penting." Lena mengusap rambut Kiara. Hingga membuat Kiara nyaman.


"Cel, jangan membuat Kia terlalu lelah. Ingat itu!" Lena memberikan tatapan tajamnya kepada Marcel.


Marcel melihat mamanya, dia jadi ingat dengan pengakuan tidak sengajanya tadi di depan keluarganya juga keluarga kusuma.


"Iya ma." Jawab Marcel pelan dan menunduk takut mamanya membahas lebih lanjut. Kalau sampai terjadi apa yang akan dikatakannya pada Kiara."


"Mama tinggal dulu. Makan yang banyak." Lena kembali lembut saat bicara dengan Kiara.


Melihat Lena berjalan menjauh, Marcel menggerutu.


"Sekarang sudah punya menantu, putranya sendiri seperti anak tiri." Marcel cemburu.


"Kak, jangan bicara seperti itu. Atau aku akan benar benar membuat mama hanya menyayangiku seorang." Goda Kiara.


Marcel semakin cemberut. Membuat Kiara tertawa lepas. Melihat Kiara yang tertawa, Marcel menerbitkan senyumnya. Tawa yang indah, ini baru pertama kali Marcel melihatnya sejak tinggal bersamanya di apartemen. Paling Kiara hanya akan tersenyum.


Usai makan, karena hari masih terang. Marcel mengajak Kiara untuk berkeliling rumah. Memperkenalkan pada Kiara seluruh ruangan yang ada di rumah besarnya.


"Apa kamu lelah?" Tanya Marcel karna melihat Kiara yang berjalan sangat perlahan.


"Sedikit."


"Kita duduk di sini dulu." Kebetulan di dekat mereka ada kursi panjang yang berdekatan dengan kolam renang dan taman disampingnya.


Kiara terus mengusap perutnya.


"Kenapa?"


"Agak tegang."


Marcel ikut mengusap perut Kiara, agar membuat si bayi tenang. Tetapi Kiara malah memekik, mengagetkan Marcel reflek langsung menjauhkan tangannya.


"Tidak apa apa kak. Tadi dia menendang terlalu kuat." Jelas Kiara, membuat wajah tegang Marcel menghilang.


"Benarkah? Apa boleh aku sentuh lagi?"


Kiara mengangguk.


Marcel meletakan tangannya perlahan di atas perut Kiara lalu mengusapnya. Kiara merasakan perutnya tidak tegang lagi. Namun malah bayinya mulai bergerak gerak.


"Hei, dia menendang lagi." Ucap Marcel girang.


Kiara mengangguk. Bayinya merespon sentuhan Marcel dengan baik. Tanpa membuatnya merasa sakit. Dia berharap anaknya bisa menerima Marcel sebagai ayahnya kelak.


Mengingat itu, Kiara jadi mengingat kejadian tadi pagi saat keluarga Feril datang. Apa yang akan di katakanya pada sang suami kalau ayah biologis bayi yang dikandungnya adalah salah satu kenalannya.


Kiara menatap Marcel yang masih sibuk dengan perutnya. Terdengar gumaman tidak jelas. Suaminya itu mencoba mengajak bicara bayinya, berbisik ke perutnya.


"Kak," Kiara mengusap rambut Marcel, membuat Marcel kembali menegakan badannya.


"Ada apa?"


Kiara mengatur nafasnya lebih dulu. Kedua tangannya dia remas di pangkuannya. Wajahnya lalu menunduk. Seakan menunggu penghakiman atas sebuah kesalahan.


"Jika suatu hari kamu bertemu dengan ayah biologis anakku, dan kamu juga mengenalnya. Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Kiara dengan takut.

__ADS_1


__ADS_2