
"Ki, kamu beli yang ini saja." Tunjuk Selly.
Selly menunjuk setelan kemeja putih dan rok hitam selutut. Keduanya kini berada di pasar, mencari baju kerja untuk Kiara.
"Boleh nih, bu kemejanya ada yang ukuran L nggak? Kalau roknya yang ukuran S sama M coba lihat dulu." Tanya Kiara pada pemilik toko.
"Em, iya ada neng. Sebentar saya carikan."
"Kecil banget tuh perut, tapi baju kamu kenapa ukuran L?" Tanya Selly.
"Lihatlah." Kiara menekan baju bagian perutnya dengan tangan yang menyangga dadanya.
"Ha ha ha.. ya ya aku mengerti." Postur tubuh Kiara memang besar di bagian dada tidak sepadan dengan pinggangnya yang kecil.
Pemilik toko membawakan baju yang diminta Kiara.
"Bu, ini aku bayar dulu semuanya. Aku akan mencobanya ke toilet. Nanti yang salah ukuran aku tukarkan kesini lagi boleh ya." Pinta Kiara.
"Iya boleh neng."
Kiara lalu membayar baju itu dan mengajak Selly untuk mengantarnya ke toilet.
"Aduh Sel, yang ukuran S nggak muat ini pinggulnya. Yang ukuran M lihat nih, masuk sih tapi pinggangnya longgar banget." Ucap Kiara setelah mengganti pakaiannya.
"Ya udah ambil yang M aja. Nanti beli belt sekalian. Bentuk badan kamu udah kayak gitar spanyol ya. Montok banget. Ha ha."
"Ya sudah, aku ganti baju lagi." Kiara kembali masuk ke bilik toilet.
Kiara dan Selly kembali ke toko yang tadi. Untuk menukarkan rok yang kekecilan.
Selesai berbelanja kebutuhannya untuk bekerja, Kiara meminta Selly mengantarnya ke bagian penjual bahan makanan. Ini hari minggu, dia ingin memasak sendiri. Niatnya.
....
Sampai di rusun, tempat tinggal Kiara.
Selly mengajak Kiara ke rumahnya lalu memasak bersama dengan ibunya. Karena ini hari minggu, maka bu Sari juga libur kerja.
"Ki, kata Selly kamu mau cari kerjaan ya?" Tanya Bu Sari sambil terus memasak.
"Iya bi, kemarin sudah kirim cv lewat email. Tinggal tunggu panggilan deh. Aku masukin ke beberapa lowongan jadi lebih banyak kesempatan buat ketrima kerja. Doain ya bi, Kiara berhasil."
"Tentu dong, semoga kamu dapat kerjaan yang bagus." Jawab Bi Sari.
"Oh iya Ki, kamu dulu kuliah jurusan apa?" Tanya Selly.
"Administrasi perkantoran. Kenapa?"
"Nggak pa pa sih, gimana rasanya kuliah?" Selly menatap jauh keluar rusun. Keduanya sedang duduk di kursi dekat jendela yang ada dirumah itu.
"Asik, beda banget sama suasana sekolah. Kuliah menuntut kita harus mandiri dan disiplin terutama waktu." Jawab Kiara.
"Aku dulu tuh pengen banget kuliah. Tapi waktu kelas 3 SMA bapak meninggal. Masih untung aku bisa lulus. Ibu bekerja keras banget buat biayain sekolah aku. Makanya setelah lulus aku langsung cari kerja. Apa aja aku kerjakan, aku kasihan sama ibu." Sahut Selly.
"Lalu kamu kesini tujuannya emang cuma merantau?" Tanya Selly kemudian.
"Eh, iya. Cari suasana baru aja. Soalnya juga aku cuma hidup sendiri, nggak ada keluarga."
"Orang tua kamu sudah meninggal?"
Kiara menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Selly segera memeluk teman barunya itu.
"Tenang ki, sekarang ada aku sama ibu. Kita yang akan jadi keluarga kamu sekarang." Selly mengusap punggung Kiara.
"Makasih ya Sel, kalian emang baik."
"Reunian apa nih? Pakai acara berpelukan segala." Bu Sari ikut nimbrung mengobrol dengan dua gadis itu.
__ADS_1
"Eh nggak kok bi."
"Bu sudah selesai masaknya?" Tanya Selly.
"Sudah, ayo lah kita makan. Ibu sudah lapar banget." Ajak bu Sari.
"Iya bi." Jawab Kiara.
....
"Dapat panggilan dari kantor mana aja Ki?" Selly sedang main ke rumah Kiara.
"Ini nih ada 3, untung aja harinya beda beda nih. Jadi aku bisa coba datangi semua tuh buat interview." Jawab Kiara.
"Coba lihat." Selly melihat ke laptop Kiara balasan dari perusahaan yang mengundang Kiara untuk interview.
"Bagus semua nih Ki. Terutama yang kedua ini nih. Perusahaan Kusuma Grub. Dia tuh perusahaan periklanan. Punya agensi model juga. Ih beruntung kamu kalau bisa ketrima disana bisa cuci mata. Pasti banyak tuh cowok cowok ganteng disana." Celoteh Selly sembari membayangkan cowok ganteng.
"Kerja woi, bukan cari cowok." Kiara menoyor kepala Selly.
"Ya kan sekalian say. Kali aja. Hehe. Atau kalau nggak kamu ngelamar jadi model aja Ki. Body kamu tuh kan bagus banget." Selly mengerakan tangannya menggambarkan bentuk tubuh Kiara yang meliuk liuk.
"Ogah, aku tuh gak suka jadi pusat perhatian orang. Apalagi kalau mereka tuh lihatnya tubuh aku." Tolak Kiara.
"Ok ok. Terserah kamu lah mau kerja apa. Oh iya besok bareng aku aja perginya. Searah juga sama kantorku." Selly menawarkan bantuannya.
"Nggak usah lah Sel, aku kepagian kalau berangkatnya bareng kamu. Nih undangannya aja jam 10. Kamu berangkatnya jam 6.30. Bisa lumutan nanti aku disana." Tolak Kiara.
"Hehe, kan sekaliyan ngecengin cowok cowok ganteng disana Ki." Jawab Selly cengengesan.
"Ngaco kamu ah."
"Oh iya Sel, pinjam setrikaan dong. Baju ku kusut nih."
"Bentar, aku ambilin dirumah." Jawab Selly bergegas keluar dari rumah Kiara.
....
"Eh Kiara, ayo masuk aja." Ucap Bi Sari karena melihat Kiara hanya berdiri saja di depan pintu.
"Ayo ikut sarapan." Ajak bi Sari.
"Eh nggak usah bi. Tadi aku sudah sarapan bubur ayam di depan sehabis joging. Sellynya udah berangkat bi?"
"Belum tuh, cari aja di kamar. Tadi baru habis mandi dia."
"Aku masuk iya bi." Kiara lalu ke kamar Selly.
"Sel, pinjam sepatu donk." Ucap Kiara sambil mengetuk pintu kamar Selly.
"Aduh." Selly mengusap keningnya yang tidak sengaja kena tangan Kiara yang tadi terus saja mengetuk pintu tanpa tahu kalau Selly telah membukanya. Alhasil tangannya mengetuk kening Selly.
"Ups, sorry." Cengir Kiara.
"Sepatu apaan?" Tanya Selly kemudian.
"Ya buat kerja, yang warna hitam tuh. Kamu punya banyak kan aku pinjam satu." Tunjuk Kiara pada sepatu Selly yang berjejer rapi.
"Pilih aja, yang pas sama kaki kamu. Ayo masuk." Selly kemudian melanjutkan berdandannya.
Kiara mencoba beberapa sepatu yang modelnya hampir sama. Dan Kiara memilih sepatu Selly yang terasa nyaman di kakinya.

"Ki, perasaan kemarin aku lihat kamu punya banyak sepatu."
"Iya, tapi heelsnya tinggi semua. Aku belum tahu di tempat kerja nanti suasananya gimana. Kalau semua pakai heel nanti kalau aku ketrima ya akan pakai heels. Aku pinjam ini buat interview hari ini sama besok ya." Kiara menenteng sepatu Selly.
__ADS_1
"Ok, santai aja."
"Ya udah, aku balik. Gerah nih mau mandi, tadi habis joging."
"Pantesan, dari tadi aku nyium bau asem." Selly menggoda Kiara sembari menutup ujung hidungnya.
Kiara spontan mencium ketiaknya, membuat Selly terkekeh.
"Ih nggak bau tau." Kiara mencebikan bibirnya.
"Iya, Kiara itu emang selalu wangi biarpun bangun tidur terus olahragapun tetap wangi." Ucap Selly memuji.
Kiara tersenyum lalu berlalu dari kamar Selly.
"Bi, aku pulang ya." Ucap Kiara saat bertemu bi Sari.
"Iya Ki." Jawab bi Sari.
....
Jam 09.30, di jalan depan rusun.
"Aduh abang ojeknya mana sih." Gerutu Kiara sembari terus menatap jam tangannya.
"Udah mepet banget nih waktunya."
Kiara mengecek ponselnya, untuk mengentahui posisi ojek online yang sudah dia pesan.
"Maaf mbak, dengan mbak Kiara?" Tanya seorang pemuda memakai jaket ojek online yang Kiara pesan.
"Iya mas, buruan ya mas. Aku nggak mau telat nih." Ucap Kiara sembari naik ke motor.
"Iya pakai dulu helmnya." Pemuda itu memberikan helmnya.
"Eh iya mas, lupa." Kiara segera memakai helm tersebut.
"Sesuai di aplikasi ya mas alamatnya." Lanjut Kiara.
"Iya mbak."
Dengan kecepatan sedang, pemuda itu mengendarai motornya. Karena tak berani ngebut, pasalnya penumpangnya duduk menyamping jadi takut kalau terlalu ngebut.
Setelah 20 menit, Kiara sudah sampai di perusahaan yang dituju. Kiara merapikan penampilannya sebentar meminjam kaca spion ojek tadi.
"Makasih ya mas. Ini ongkosnya." Kiara memberikan selembar uang seratus ribuannya. Pemuda itu menerima uang Kiara lalu merogoh saku jaketnya. Dilihat uangnya hanya ada uang 50 ribu dan 20 rb. Pemuda itu mengambil uang 50 ribu, hendak menyodorkan ke Kiara. Kiara memperhatikan raut wajahnya.
Kiara tahu ongkosnya 60 ribu, maka dengan segera Kiara menyahut uang yang 20 ribu. Pemuda itu nampak terkejut dengan ulah Kiara.
"Mas, aku buru buru. Sisanya buat mas aja." Ucap Kiara sambil berlari meninggalkan pemuda ojek online itu.
"Eh, makasih mbak." Teriak pemuda itu. Senang sekali dia, niatnya mau ikhlas harus rugi 10 ribu. Eh malah di bonusi 20 ribu.
"Alhamdulillah, rejeki anak sholeh." Ucap pemuda itu kemudian melajukan kembali motornya ke jalanan.
"Permisi, saya Kiara yang mau interview hari ini. Kalau boleh tahu saya harus kemana?" Tanya Kiara pada resepsionis.
"Mbak Kiara naik lift aja. Ke lantai 4, nanti cari saja ruangan interview. Tadi sudah ada beberapa yang datang. Jadi Mbak Kiara akan lihat orang orang yang duduk di depan ruang interview." Jelas resepsionis itu.
"Terima kasih." Ucap Kiara kemudian melangkah ke depan lift. Kiara segera memencet tombol buka.
Menunggu beberapa saat, Kiara masuk ke lift bebarengan beberapa karyawan. Kiara menekan angka 4. Salah satu karyawan laki laki yang berdiri di sampingnya menegur.
"Mbak mau interview ya?"
"Iya mas." Jawab Kiara sopan.
"Semoga berhasil." Ucapnya sembari tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih." Kiara balas senyum.