Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 21


__ADS_3

"Dok, tumben beri konsultasi gratis?" Tanya susternya selepas Kiara keluar ruangan.


"Sepertinya wanita tadi tak bersuami. Ketika saya melihatnya saat menjawab perihal suaminya, dia gugup tak berani menatap saya. Saya khawatir jika dia tidak ada siapapun yang bisa menjaganya. Oh iya, di datanya tadi ada nomer telfonnya kan."


Suster langsung memeriksanya.


"Iya dok. Ini."


Dokter laki laki itu tersenyum dan langsung menyimpan kontak Kiara.


....


Kiara dilema, haruskah dia tetap tinggal. Kiara menatap ke seluruh penjuru ruangan apartemen yang telah ditinggalinya selama hampir dua bulan.


"Dengan adanya anak ini, pasti akan membebani kak Gio. Dia tak harus bertanggung jawab atas anak ini juga aku. Aku tak ingin menyusahkannya lagi. Ya aku akan pergi. Ke kota lain dan memulai hidup yang baru bersama anakku. Aku tak bisa kalau terus disini. Bisa bahaya jika Feril sampai melihatku dalam keadaan hamil." Kiara mengemasi barang pribadinya. Meninggalkan semua pemberian Marcel. Kiara juga meninggalkan gambar hasil USG tadi. Agar membuat Marcel sadar jika dirinya tak pantas buat Marcel.


Kiara kembali ke rusunnya yang sudah lama tak dia datangi. Rumah Selly masih sepi, semua pasti belum pulang bekerja. Kiara masuk ke rumahnya, tetap rapi. Pasti Selly selalu membersihkan rumahnya. Dengan kunci cadangan yang dia tinggalkan di pot bunga di luar pintu rumahnya.


Kiara segera mengemasi barang barang yang penting. Tak ingin terlalu bawa banyak baju. Di tempat baru dia akan bisa membeli lagi. Selesai itu, Kiara menulis surat perpisahan untuk Selly juga menyiapkan uang untuk mengganti uang sewa yang pasti dibayarkan Selly selama dua bulan ini.


Kiara menyisipkan ke dalam rumah Selly melalui celah bawah pintu tak lupa juga kunci rumahnya. Kiara bergegas pergi. Melihat jam di ponselnya yang sudah semakin sore. Takut tak ada lagi bus untuknya pergi keluar kota.


Tak disangka saat melewati pintu masuk rusun, sudah ada yang menantinya.


Feril yang dari kejauhan perlahan mendekat ke arahnya. Tapi yang lebih dekat jaraknya malah ada Marcel yang berdiri di samping mobilnya sedang menatapnya sendu.


Jantung Kiara berdegub tak karuan. Dia harus berfikir cepat. Dengan langkah agak gemetar, dia mempercepat langkahnya menuju pilihannya. Kiara memeluk orang itu. Dibalas pelukan yang lebih erat lagi.


Kiara menikmati pelukan itu, memejamkan mata tak ingin melihat orang lain yang pasti terluka dengan keputusannya. Setelah beberapa saat hening, akhirnya yang dipeluknya mengeluarkan suara.


"Kenapa harus pergi tanpa pamit? Kamu buat aku khawatir. Sedikit saja aku terlambat datang, aku tak akan bisa menemukanmu lagi."


"Maaf kak." Kiara mengurai pelukannya.


"Ayo kita menikah." Ajakan Marcel mengejutkannya.


"Kak, maaf aku harus pergi. Tadi aku memelukmu karena ada lelaki yang pernah aku ceritakan dulu. Dia adalah ayah dari bayi ini. Aku tak ingin dia mencariku lagi makanya terpaksa aku memelukmu tadi. Aku akan pergi, membesarkan anakku sendiri. Memulai hidup baru di kota lain. Maaf, sekali lagi aku membuat kamu kecewa." Kiara menunduk malu.


Marcel sedikit kecewa memang. Tapi dia tetap akan menahan Kiara di sisinya. Tak akan membiarkan Kiara mengalami ini sendirian.


"Tetaplah tinggal di apartemen. Aku tak akan membiarkanmu pergi, ingatlah calon bayimu. Jika kamu pergi siapa yang akan merawatmu? Bagaimana kamu membiayai hidupmu? Apa kamu akan bekerja dalam keadaan hamil?" Marcel mencecarnya.


Kiara tak berfikir sampai sejauh itu.


"Kak Gio benar, aku tak mungkin bekerja." Kiara pasrah.

__ADS_1


Akhirnya dengan membawa semua barangnya, Kiara diantar kembali ke apartemen.


"Kak, kebutuhanku pasti akan semakin banyak dengan keadaanku seperti ini. Apa tidak apa? Itu pasti cukup banyak mengurangi gajimu."


Marcel terkekeh. Dia lupa bahwa dia belum menceritakan apapun tentang dirinya.


"Tak perlu kuatir, kamu ingat perusahaan tempat kita bertemu waktu itu kan?"


Kiara mengangguk.


"Sebenarnya itu perusahaan milikku." Marcel tersenyum kecil.


"Haa, jadi kakak.." Kiara menutup mulutnya.


"Jadi, apa kamu berubah pikiran? Mau menikah denganku? Uangku tak akan berkurang banyak untuk membiayai hidupmu juga anakmu." Marcel menggoda dan duduk mendekati Kiara.


"Kak, aku bukan wanita seperti itu." Kiara mendelik.


"Ah...aku pikir akan ada kesempatan untuk pamer. Aku ingin sekali mengenalkanmu pada orang tuaku. Mereka pasti senang akhirnya anak bujangannya ini punya pasangan." Marcel menyandarkan tubuhnya ke sofa. Kiara hanya mampu tersenyum kecil.


"Carilah, wanita yang lebih baik kak. Aku tak pantas untukmu. Bahkan aku mengandung anak lelaki lain." Kiara insecure.


"Tidak, saat ini aku hanya akan fokus padamu." Marcel menggenggam kedua tangan Kiara.


Lagi lagi Kiara tak mampu untuk menolak. Dia terpana dengan kesungguhan dan ketulusan Marcel.


"Tunggulah disini. Bumil harus istirahat. Biarkan aku yang memasak untuk makan malam kita." Marcel menuju dapur.


Kiara membiarkan saja. Dan mengamati Marcel yang mulai sibuk dengan alat masak. Ternyata Marcel memang jago masak. Beberapa kali sering membuatkan Kiara makanan. Dan rasanya juga enak.


Tapi ada yang aneh kali ini. Marcel memasak sembari menatap layar ponselnya.


"Kak, tumben sih. Masak sambil lihat ponsel." Akhirnya Kiara bertanya karena penasaran.


"Aku harus memastikan gizi makanan untuk ibu hamil. Kalian harus sehat, tentunya dengan makanan yang cukup gizinya."


Ucapan Marcel, membuat Kiara terharu. Ada ya lelaki sebaik dia, pikir Kiara.


"Mulai sekarang, kamu harus lebih banyak istirahat. Jangan melakukan pekerjaan apapun." Ucap Marcel memperingati.


"Kak, selama tinggal disini aku tak pernah melakukan apapun. Aku hanya menyapu, mengepel, dan mencuci piring. Itupun kalau tidak keduluan kakak yang melakukannya." Kiara mencebikan bibirnya. Yang sebenarnya dalam hatinya sedikit berbunga karena selalu diperlakukan dengan baik dan perhatian istimewa. Dia sudah seperti istrinya saja.


"Iya baik, baiklah. Hanya itu saja yang boleh kamu lakukan."


Marcel sudah selesai memasaknya. Dia menata makanan di piring dan mangkuk. Saat melihat ke arah Kiara, ternyata malah tertidur. Senyum Marcel terbit melihatnya.

__ADS_1


Marcel mendekat perlahan. Membenahi posisi tidur Kiara yang sedang duduk menjadi berbaring di sofa.


"Entahlah. Magnet apa yang kamu punyai, padahal jelas sekali hatimu bukan untukku, anak ini bukan anakku. Tetapi hatiku tetap hanya tertuju padamu. Aku melakukan semua ini bukan karena kasihan, tetapi cintaku yang membuatku seperti ini. Maaf jika aku memaksamu untuk tetap disisiku." Marcel mengusap rambut Kiara, menatapnya dengan penuh damba. Marcel mencuri sebuah ciuman di kening Kiara.


...


Marcel sudah terlihat lebih segar setelah mandi. Kiara masih saja tertidur pulas di sofa.


"Kia, bangun." Marcel membangunkannya dengan lembut. Mengusap lengannya berharap yang tidur terganggu.


"Kiaa.." Marcel menyentuh pipi Kiara.


"Emm, iya. Aku bangun." Kiara mengerjapkan matanya.


"Makan yuk. Atau kamu mau mandi dulu?"


"Aku mandi dulu saja. Biar lebih segar. Maaf ya kak, bukannya ngebantu malah ketiduran disini." Kiara malu dengan sikapnya.


"Its ok. Kamu memang butuh banyak istirahat. Cepatlah." Marcel tersenyum manis.


Kiara berlalu ke kamarnya untuk segera mandi.


Menit berlalu, Kiara keluar dari kamarnya dengan piyama yang longgar. Dia ingat sekarang di perutnya ada calon bayinya jadi tak boleh pakai baju yang sempit. Lalu ikut bergabung dengan Marcel di meja makan untuk makan malam.


....


Semalam, Marcel menginap di apartemen. Hanya takut jika Kiara kembali berusaha untuk pergi.


Setelah sarapan, Marcel akan bersiap pergi ke kantor. Saat akan pergi, dia tak melihat Kiara di mana pun. Di kamarnya yang kebetulan pintunya terbuka juga tidak ada. Setelah mencari, akhirnya terlihat Kiara sedang berdiri di balkon. Tampak melamun sambil mengusap usap perutnya yang masih rata itu.


"Sedang memikirkan apa?" Tanya Marcel dengan suara yang selembut mungkin agar Kiara tak kaget. Posisi Kiara yang berdiri di dekat pagar balkon, sedang Marcel berdiri dibelakangnya dengan kedua tangannya ikut memegang pagar balkon.


Kalau dilihat orang lain, posisi seperti itu terlihat romantis. Apalagi Marcel nekat memiringkan kepalanya di bahu Kiara sambil menatap wajah Kiara.


Saat mendengar suara Marcel yang dekat dengan telinganya, Kiara jadi reflek menoleh ke arah Marcel. Secara tak sengaja bibir keduanya bersentuhan. Dalam keterkejutan, keduanya tak bergerak sama sekali. Hanya saling menatap dalam.


Ada yang bergetar di dada Marcel. Beginikah rasanya bersentuhan dengan orang yang dicintai, membuat darahnya berdesir. Ada sebuah dorongan untuk melakukan yang lebih.


Tangan Marcel menahan tengkuk Kiara, lalu dia mencium lebih dalam. Melihat Kiara yang tak menolak, seperti dapat dukungan untuk langkah yang selanjutnya. Tangannya yang masih bebas dia gunakan untuk memeluk tubuh Kiara lalu memutarnya agar berhadapan dengannya.


Pikiran Kiara kosong sesaat, namun kesadarannya berangsur kembali. Perlahan dia mendorong tubuh Marcel agar menjauh darinya. Kiara merutuki dirinya sendiri. Kenapa selalu mudah menerima ciuman dari seseorang. Kesalahan itulah yang membuatnya harus berjuang sendiri dengan keadaannya sekarang. Marcel menatapnya sayu. Kiara tak berani melihatnya.


Kiara melepaskan diri, lalu kembali menatap jauh ke depan. Kembali bersandar pada pagar balkon. Buliran air mata mengalir tanpa diminta. Isakan perlahan terdengar.


Marcel merasa sesak saat mendengar isakan pelan Kia. Merasa bersalah tentu. Dia pikir Kiara telah membuka hati untuknya. Tapi nyatanya, Kianya tadi diam pasti karena terkejut dengan perlakuannya yang tiba tiba.

__ADS_1


__ADS_2