
Selesai makan, Exa mengatur nafasnya. Ingin menyatakan cintanya, ternyata membuatnya sangat gugup.
"Ra, maukah kamu menjadi kekasihku?" Tanya Exa to the point.
Uhuk uhuk. Kiara tersedak minumannya.
"Kamu tidak apa?" Tanya Exa khawatir.
"Tadi kau bilang apa? Aku takut salah dengar."
"Ehem, aku mencintaimu Ara. Maukah kamu menjadi kekasihku?"
Kiara benar benar terkejut mendengar pernyataan cinta dari Exa.
"Xa, apa kau serius? Apakah kita tidak bisa berteman saja?" Tanya Kiara pelan takut membuat Exa kecewa dan marah.
"Hah, aku lega bisa mengungkapkannya. Tidak apa. Kita berteman saja." Ucap Exa sambil tersenyum, walau tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
Kiara tersenyum lega walau dia tahu pasti Exa kecewa dengan jawabannya. Sungguh Kiara hanya menganggapnya teman baik bahkan seperti adik.
....
"Kiara 😊 "
Kiara membaca pesan dari Marcel.
"Iya, ada apa?"
"Siapa nama lengkapmu?" Balas Marcel lagi.
"Kiara Maharani. Memang kenapa?"
"Apa kamu dulu tinggal di kota D?"
"Iya."
"Hey, tuan. Aku sudah bekerja. Jadi tidak perlu wawancara lagi. 🙄" Kiara mengirim pesan lagi.
"😁😁 Maaf. Apa kamu masih ingat aku??"
Kiara membaca pesan itu. Aneh pikirnya. Lalu ada pesan gambar yang masuk dari Marcel. Kiara segera membukanya. Setelah terdownload sempurna, Kiara membulatkan matanya. Segera saja dia keluar dari aplikasi pesannya bahkan mematikan ponselnya.
__ADS_1
"Oh ya ampun. Marcel adalah kak Gio. Ya pasti itu benar. Nama kak Gio kan Marcel Gionino. Tuhan, bagaimana bisa Engkau pertemukan aku dengannya lagi. Bahkan aku sempat menyukainya. Bukan CLBK tapi CM dobel BK. Akan kah??"
(Cinta Monyet Belum Kelar Bersemi Kembali)
Ingatan Kiara kembali pada saat ia masih di kelas 1 SMP. Waktu itu, hubungannya dengan salah satu idola sekolah sedang dekat. Kiara sering menyempatkan waktu untuk mengantarkan makanan juga minuman untuk pujaannya itu setelah bermain basket.
Hingga pada akhirnya harapannya hancur, ketika Kiara ingin menghampiri anak laki laki itu ke kelas.
Namun terdengar pembicaraan seru beberapa anak sambil menyebutkan nama Kiara. Kiara tak jadi masuk, dia menguping di balik pintu.
"Ternyata kak Gio tidak menyukaiku." Gumam Kiara pelan. Tak terasa juga lelehan air mata mengalir dipipinya.
"Tidak, pasti kak Gio hanya malu saat digoda teman temannya. Selama ini dia selalu baik padaku. Aku harus mengungkapkan perasaanku langsung padanya." Kiara menguatkan hatinya dan menghapus air matanya.
Kiara mendengar kalau Gio akan ke kamar mandi, jadi Kiara pergi lebih dulu kesana.
Setelah tampak Gio mendekat, Kiara langsung menghalangi jalannya.
"Kak Gio, aku menyukai kakak." Ucap Kiara dengan penuh semangat dan jangan lupakan senyuman cerianya.
"Berhentilah mendekatiku. Aku tidak menyukaimu. Mulai sekarang menjauhlah." Bentak Gio. Dan Gio langsung pergi ke kamar mandi. Meninggalkan Kiara yang terlihat menyedihkan.
Kiara menangis lagi, tubuhnya luruh ke lantai. Untung saja lorong itu sedang sepi. Sebentar dia bangkit lalu pergi secepatnya dari sana.
"Aku coba untuk melupakan segala kenangan tentangmu. Saat masuk ke SMA, aku sungguh berharap tidak satu sekolah denganmu lagi. 3 bulan pertama aku tak pernah melihat dirimu, aku lega sepertinya harapanku terkabul. Tapi harapan tinggallah harapan."
"Kau menghampiriku, membuatku syok. Aku bahkan tak mampu untuk berkata kata. Hatiku bergetar, saat kau memperlihatkan jarimu yang terluka. Padahal itu hanya luka kecil, tapi aku seperti ikut merasakan perihnya. Kau memintaku membelikan plester luka, aku tahu kau tidak suka berdesakan. Naluriku berkata belikan saja lalu pergi dan aku benar melakukannya."
"Aku berusaha mengatur emosiku. Aku tak mau masih terlihat menyukaimu. Lalu aku pergi, setelah memberimu plester itu."
"Sejak itu pula, aku menghindar lagi. Berusaha tak muncul ke jangkauan pandanganmu. Karena aku takut kecewa lagi."
"Fine. Sekarang aku juga merasakan getaran yang sama lagi. Bahkan tanpa tahu jika Marcel itu adalah kak Gio. Bagaimana aku harus bersikap? Tuhan bantu aku." Kiara mendesah berat. Dia takut terluka lagi. Semasa sekolah dia tak pernah bisa menyukai teman laki laki yang berusaha mendekatinya.
Ya walaupun saat kuliah, Kiara pernah berpacaran tapi hanya sebatas suka. Dan lelaki itu selalu mengejarnya, dia hanya ingin memberi kesempatan pada laki laki itu. Walau pada akhirnya ketika lulus kuliah, hubungan itu berakhir karena Kiara beralasan tak ingin hubungan jarak jauh.
....
Di tempat lain, Marcel tertawa terbahak bahak. Dilihatnya setelah pesan gambarnya terbaca, Kiara langsung offline. Marcel yakin jika Kiara adalah anak perempuan yang menyukainya dulu. Senyum imutnya tak terlupakan untuk Marcel.
Marcel ingat sekali kejadian 15 tahun yang lalu. Seorang gadis kecil menghampirinya, membawakan minuman dingin untuknya. Kala itu Marcel cukup berkeringat setelah bermain basket.
__ADS_1
"Kak Gio, ini minuman untuk kakak." Gadis mungil berwajah imut itu tersenyum manis pada Marcel.
Marcel menerimanya dengan senang hati. Kebetulan dia juga sangat haus dan langsung meminumnya.
"Terima kasih." Ucap Marcel setelah menegak separuh minuman itu.
Gadis kecil itu berlari kecil meninggalkan Marcel yang memandangnya aneh.
Sejak itu, gadis itu sering memberi perhatian untuk Marcel. Marcel juga sudah tahu nama gadis itu adalah Ara, Kiara Maharani. Karena sering terlihat bersama Marcel, maka muncullah desas desus kalau keduanya berpacaran.
Tentu saja Marcel langsung menepis gosip itu, saat salah satu temannya menanyainya.
"Aku tak mungkin pacaran dengan anak kecil itu." Sanggah Marcel.
"Tapi dia selalu ada dimanapun kamu berada." Ucap salah satu teman Marcel.
"Dia yang selalu mengikutiku. Sebenarnya aku risih, tapi ya lumayan lah irit uang jajan aku. Setiap hari dibawakan makanan dan minuman."
Marcel lalu pamit ke kamar mandi. Saat melewati lorong akan ke kamar mandi, Marcel dicegat oleh Kiara.
"Kak Gio, aku menyukai kakak."
"Berhentilah mendekatiku. Aku tidak menyukaimu. Mulai sekarang menjauhlah." Bentak Marcel.
Marcel lalu pergi ke kamar mandi.
Sejak saat itu, Kiara benar benar menjauh. Marcel merasa ada yang hilang, namun tidak begitu dipikirkannya. Lalu mulailah kehidupan sekolah yang baru, Marcel masuk SMA.
Dan ternyata keduanya kembali dipertemukan. Kiara masuk ke SMA yang sama 2 tahun kemudian.
"Terakhir kali aku bertemu denganmu, saat berada di koperasi sekolah. Waktu itu tanganku terluka dan ingin membeli plester luka. Koperasi yang penuh sesak membuatku enggan untuk ikut berdesakan. Aku menunggu sambil bersandar di tembok dalam ruangan itu."
"Aku melihatmu masuk, bercanda dengan temanmu. Kamu tak melihatku disana. Dan entah kenapa aku merasa terabaikan olehmu. Lalu aku mendekatimu dan menepuk bahumu."
"Sontak kamu menoleh ke arahku. Wajahmu sedikit terkejut, namun tak mengatakan apapun. Kamu menggerakan kepalamu, dan melebarkan matamu seakan bertanya ada apa. Aku bingung juga kenapa aku mendekatimu. Dan taraa, aku ingat tujuanku masuk kesana."
"Aku menunjukan luka pada jariku, kamu nampak mengeryit tidak paham. Lalu aku minta kamu belikan plester. Kamu tak mengatakan apapun, tapi kamu langsung menerobos siswa lain untuk segera mendapatkan plester."
"Setelah dapat, kamu menghampiriku dan menyerahkan plester itu. Tanpa berkata apapun. Sikapmu dingin, lalu pergi begitu saja sambil menyeret temanmu. Kamu bahkan melupakan tujuanmu masuk ke koperasi."
"Ya aku tahu setelah 2 tahun tak bertemu, kamu pasti masih marah dan kecewa padaku tentang pertemuan terakhir kita waktu SMP. Dan aku kini menyesal. Masihkah ada perasaan itu untukku saat ini. Karena sekarang aku sepertinya sudah benar benar jatuh cinta padamu. Kiara Maharani."
__ADS_1
Marcel terus teringat masa masa dulu. Sampai tak terasa dia tertidur sambil terus tersenyum. Wajah Kiara terbawa ke alam mimpinya.
TO BE CONTINUE..