Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 18


__ADS_3

Kiara tak bisa menahan kesedihan hatinya, air matanya terus mengalir tanpa suara. Marcel terus memperhatikan. Marcel memberhentikan mobilnya.


"Katakan padaku, apa yang terjadi? Kenapa kamu terus menangis?" Marcel memegang tangan Kiara.


Kiara terkejut, tak sadar jika mobilnya berhenti. Segera menarik tangannya dari genggaman Marcel. Menghapus sisa air matanya.


"Oh iya, kak Gio kemana aja hampir sebulan ini? Aku pikir kak Gio tak ingin bertemu aku lagi setelah tahu jika aku adalah Kiara yang dulu."


"Maaf sudah membuatmu berfikir begitu. Setelah malam itu, aku paginya langsung pergi keluar negri untuk menjenguk adikku. Dan disana memang juga ada pekerjaan. Aku kehilangan ponselku saat sampai disana. Jadi aku tak bisa menghubungimu."


"Tahukah kamu, aku selalu memikirkanmu. Aku mencintaimu. Dari dulu sampai saat ini. Hati ini hanya tertuju padamu." Ucapnya jika Marcel sungguh sungguh.


"Maksud kak Gio?"


"Iya, sejak kamu menghindariku waktu sekolah dulu. Aku sebenarnya merasa kehilanganmu, dan baru aku sadari jika aku waktu itu telah menyukaimu. Saat kamu masuk ke SMA yang sama denganku, aku senang sekali. Aku sering melihatmu dari jarak jauh. Dan kita bertemu lagi, ternyata kamu menghindariku sejak saat itu. Aku minta maaf telah membuatmu kecewa waktu itu. Hingga aku pindah ke kota ini pun, aku masih terus memikirkanmu."


"Aku bahagia bisa bertemu kamu lagi. Mungkin kita memang berjodoh, selalu dipertemukan secara tidak sengaja oleh takdir. Aku mencintaimu, jika kamu menerima cintaku aku ingin segera menikahimu." Ucap Marcel serius.


"Seandainya kamu mengatakan perasaanmu lebih awal kak. Mungkin aku akan senang mendengarnya. Sekarang keadaanku berbeda, aku tak pantas untukmu kak. Aku minta maaf." Gumam Kiara sembari menundukan kepalanya. Kiara kini menyesali keputusannya untuk menyerah pada perasaannya dulu. Dan dengan bodohnya, membuka hati untuk Feril. Kiara meremas tangannya sendiri yng berada di pangkuannya.


"Berbeda? Tak pantas? Maksudnya bagaimana? Aku tahu kamu gadis yang baik. Apa masalahnya?" Marcel tak mengerti.


Kiara tak bisa mengatakan yang sebenarnya kan. Ini adalah aibnya, masuk ke tengah tengah hubungan sepasang kekasih. Kiara tak ingin lebih jauh lagi masuk ke dalamnya. Kiara harus pergi.


"Kak, aku tak bisa cerita, tapi bolehkah aku minta pertolonganmu? Aku tak punya siapa pun untuk berlindung."


"Berlindung dari siapa?" Marcel malah semakin bingung.


"Aku tak bisa bilang. Tapi yang jelas, aku ingin kak Gio membawaku pergi jauh, atau kemana pun. Yang penting aku ingin pergi. Kak Gio tenang saja, aku tidak berbuat kriminal kok. Aku hanya ingin menghindarinya saja. Aku mohon." Kiara kembali matanya berkaca kaca.


Marcel menarik kesimpulan jika Kiara sedang ada masalah besar. Baiklah, Marcel mengalah. Akhirnya Marcel menuruti kemauan Kiara.


Marcel membawa Kiara ke salah satu apartemen miliknya. Tempat itu sangat jarang sekali ditempati oleh Marcel. Karena dia lebih senang pulang ke rumah, dan bertemu keluarga.


"Istirahatlah, sepertinya kamu sangat lelah. Itu menjadi kamarmu sekarang." Marcel menunjuk salah satu pintu kamar.


"Lalu kamu?"


Marcel tersenyum kecil, lalu menunjuk pintu di sebelahnya.


"Ini kamarku. Untuk malam ini aku akan menginap disini."


"Baiklah. Terima kasih kak. Kak Gio sudah mau memberiku tumpangan." Kiara sangat merasa berhutang budi. Karena selanjutnya dia pasti akan sangat merepotkan Marcel kalau dia tinggal disana.

__ADS_1


"Sama sama, kamu jangan banyak pikiran dulu. Pergilah istirahat sekarang." Marcel cemas dengan keadaan Kiara.


Kiara mengangguk lalu masuk ke dalam kamar. Dia mengecek ponselnya, dan ternyata ponselnya mati. Kiara menghela nafas pelan. Mungkin ini jalan yang diberikan Tuhan agar dirinya bisa sedikit tenang.


Kiara langsung tertidur dengan cepat. Mungkin efek lelah menangisnya jadi bisa cepat tidur. Hingga esok hari, Kiara yang sudah terbiasa bangun pagi, kali ini dia agak sedikit malas untuk bangun.


"Oh ya ampun, kenapa aku masih mengantuk sekali. Padahal semalam juga tidak tidur larut. Hoooaaammm." Kiara tak dapat menahan kantuknya. Kiara melihat jam dinding yang baru menunjukan jam 4 pagi. Dia memilih untuk kembali tidur sebentar.


"Kia...Kia..apa kamu baik baik saja di dalam?" Teriak Marcel dari luar pintu kamar Kiara.


Tok tok tok... Marcel terus mengetuk pintu, cemas karena Kiara belum juga keluar kamar hingga pukul 9 pagi.


"Kia..Kia, ku mohon buka pintunya!!" Kali ini Marcel menggedor pintunya.


Akhirnya suara gedoran pintu itu mengusik tidur Kiara. Kiara langsung bangun dan membukakan pintu. Belum juga sadar sepenuhnya karena baru bangun tidur, Kiara langsung dikejutkan oleh pelukan Marcel.


"Syukurlah kamu akhirnya keluar juga. Kamu baik baik saja kan?" Tanya Marcel dengan nada penuh kekhawatiran.


"Maaf kak, membuatmu khawatir. Aku mengantuk sekali, jadi bangun kesianganan." Kiara tak membalas pelukan Marcel.


Marcel tersadar akan kelakuannya, langsung saja dia lepas pelukan tangannya pada tubuh Kiara.


"Maaf,." Ucap Marcel canggung.


"Kamu bersihkan dirimu, setelah itu sarapan. Aku sudah menyiapkannya di meja dapur. Aku juga harus pergi sekarang ke kantor. Kalau butuh apapun hubungi aku." Marcel menyodorkan kartu namanya.


Kiara menerimanya. Setelahnya Marcel pergi meninggalkan Kiara sendirian di apartemennya. Untuk keamanan Kiara, Marcel juga mengubah sandi pintu masuk apartemennya.


Selepas Marcel pergi, Kiara segera mandi. Dia lupa jika dirinya pergi tanpa membawa apapun. Sedang baju yang dia kenakan tadi sudah terlanjur dia rendam untuk dicuci nanti. Dengan berbalut bathrobes saja dia keluar kamar mandi.


Semalam dia tak begitu memperhatikan. Ternyata yang ditempati ini adalah kamar tamu, bisa Kiara tebak jika lemari di kamarnya itu tak ada sepotong baju pun. Tapi untuk memastikan Kiara membuka lemari itu.


Tapi tak disangkanya, ada beberapa baju disana. Dan itu baju wanita. Kiara jadi berpikiran aneh aneh tentang Marcel. Ahh, Kiara tak ingin ambil pusing, baju itu milik siapa. Yang terpenting dia bisa meminjamnya untuk hari ini.


Setelah memilih pakaian santai, ukuran badannya agak kekecilan jadi terlihat pas sekali di tubuh Kiara. Melekat, memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Tidak apalah, ketimbang tidak pakai baju." Kiara keluar kamar lalu menuju dapur.


"Apa kak Gio masak sendiri? Tapi dapurnya bersih sekali tak tampak kalau kak Gio habis masak."


Kiara melahap sepiring nasi goreng itu. Rasanya pas di lidah Kiara. Enak.


Setelah sarapan yang sudah kesiangan itu, Kiara langsung mencuci peralatan makan sehabis di pakainya. Berniat untuk memasak, tapi saat melihat isi kulkas ternyata tak ada bahan makanan apapun. Hanya berisi camilan dan minuman soda.

__ADS_1


Alhasil Kiara tidak jadi memasak.


Karena sendirian, pikiran Kiara jadi melayang kembali mengingat nasibnya. Ah sungguh malang sekali pikirnya.


"Sampai kapan aku harus bersembunyi. Exa pasti sangat mengkhawatirkan aku, karena tiba tiba menghilang di pesta semalam. Setidaknya aku harus memberitahunya kalau aku baik baik saja, juga pada Selly."


Kiara mencari charger di kamar Marcel. Agak ragu, merasa tidak sopan. Tapi dia tetap meneruskan tujuannya. Untunglah kamarnya tidak di kunci. Setelah menemukan apa yang dicarinya, Kiara kembali ke kamarnya untuk segera mengisi baterai ponselnya.


Tak ingin berlarut dalam pikiran yang sedih, Kiara berkeliling di apartemen ini. Ada ruang santai yang terhubung dengan balkon. Dari balkon Kiara dapat melihat suasana kota A dari ketinggian. Terlihat banyak sekali gedung tinggi yang dijadikan perkantoran.


Kiara kembali masuk ke dalam, dia ke dapur mengambil air dingin lalu mendudukan dirinya di sofa ruang santai. Tak ingin bosan hanya duduk saja, Kiara menyalakan TVnya.


....


Exa, kembali ke rusun Kiara. Apalagi tujuannya jika bukan untuk mencari Kiara. Sejak tiba tiba menghilang di pesta semalam, Exa begitu khawatir dengan keadaannya. Tapi tetap saja yang dicarinya tidak ada di rumah.


"Ra, kamu dimana? Kenapa kamu semalam tiba tiba pergi begitu saja tanpa memberitahuku. Apa kamu sedang ada masalah mendesak?" Exa mendesah frustasi di dalam mobilnya. Lalu memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.


....


Feril mencoba untuk menghubungi nomor Kiara, tetapi tidak aktif. Kalau tidak ada rapat yang mendesak, Feril pasti sudah mencari Kiara ke rumahnya. Feril cemas karena Kiara yang tidak masuk kerja juga tak dapat dihubungi.


"Pak, klien sudah menunggu kita di ruang rapat." Gani masuk ke ruangannya.


"Oke, kita kesana." Feril bangkit dari kursinya lalu keluar ruangan di ikuti oleh Gani.


....


Jam makan siang, Marcel tiba saja teringat kalau di apartemen tak ada makanan. Hanya ada beberapa snack camilan. Dia segera saja pulang sekaliyan membawa makanan.


Marcel langsung saja masuk setelah memasukan sandi apartemennya. Di cari cari ke penjuru ruangan. Marcel tak tampak ada Kiara.


"Kiara,.." panggil Marcel namun tak ada jawaban.


Setelah meletakan makanan di meja dapur, Marcel ke kamar Kiara, diketuk pintunya juga memanggilnya namun tak ada jawaban juga. Marcel membuka pintunya yang tak terkunci.


Dia lupa jika kamarnya kedap suara jadi kalau tidak teriak atau digedor, penghuni kamarnya tak akan mendengar.


Marcel mendengar suara aneh di dalam kamar mandi. Dia tahu jika Kiara ada di dalam, tapi entah sedang apa.


"Kiara, kamu di dalam kan?" Marcel sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Ceklek, pintunya dibuka. Tampak badan Kiara agak basah tetapi masih menggunakan baju lengkap. Baju yang digunakan sangat familiar, ah Marcel ingat jika itu baju adiknya yang terkadang sering menginap disini waktu sebelum kuliah diluar negri.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2