
Sudah seminggu lebih Kiara tinggal di apartemen Marcel. Dan Marcel akan datang di sore hari sepulang kerja. Terkadang juga di pagi hari untuk meminta sarapan pada Kiara. Sekaliyan melihat keadaannya.
"Pakailah kartu ini, pergilah keluar. Nikmati harimu. Dan ingat selalu perhatikan penampilanmu, jangan sampai orang yang ingin kamu hindari mengenalimu."
Kiara menerima kartu itu. Karena ingat dengan pesan Marcel yang tak ingin ditolak.
"Baik."
"Aku kerja dulu. Bye." Marcel berlalu ke pintu.
Kiara melambaikan tangannya sembari tersenyum.
Kiara menatap kartu itu.
"Aku akan simpan. Aku masih punya uang di atm."
Siangnya, Kiara berniat pergi keluar. Dia ingin sekali makan es buah. Dia ingat di tepi jalan dekat gedung apartemen ini ada penjual es buah.
"Ah, aku harus pakai masker dan topi. Diluar sepertinya cuacanya sedang terik sekali." Kiara memandang keluar melalui jendela.
Sampai juga di penjual es buah. Kiara meneguk air liurnya.
"Bu, es buah satu ya. Disini aja." Kiara duduk di bagian terdekat dengan penjualnya.
Satu mangkuk es buah tersaji dihadapannya.
Kiara melepas masker juga topinya. Dan segera menikmati es buah yang menggiurkan itu.
Sepasang mata tengah mengamati Kiara dari jauh. Matanya berbinar saat tahu jika itu benar Kiara. Saat Kiara sudah selesai makan dan membayarnya. Kiara berniat kembali ke apartemen. Terlalu lama diluar sendirian membuatnya takut.
Dengan satu tarikan Kiara terjatuh ke dekapan seseorang. Kiara ingin berteriak tapi sebuah suara menghentikan niatnya.
"Ini aku. Aku merindukanmu. Apa kamu bohong jika kamu kembali ke kotamu. Padahal kamu masih disini dan menjauh dariku."
"Exa.." suara Kiara tercekat. Tak mampu untuk berbohong tentang keberadaannya yang sudah ketahuan.
"Kenapa kamu pergi?"
"Mau bagaimana lagi. Kalau aku tetap disana hanya akan membuat aku terluka. Maaf aku harus pergi." Kiara mencoba melepas dekapan Exa. Tapi malah semakin erat.
"Ku mohon lepaskan aku." Mohon Kiara.
"Tidak sebelum aku tahu alasan yang jelas kenapa kamu menghilang dariku. Dan sekarang dimana kamu tinggal. Setiap hari aku mengunjungi rusun tapi kamu tak pernah kesana. Dan beberapa kali juga aku ke perusahaan untuk mencarimu juga pun kamu tidak lagi datang untuk bekerja. Tanpa alasan apapun."
"Jadi dari awal kamu tahu jika aku bekerja pada kakakmu?" Kiara terkejut.
"Iya, saat aku datang menjemputmu sepulang kerja. Saat itulah aku tahu."
Kiara menghela nafasnya pelan. Sudahlah, mungkin ini sudah takdirnya. Pikir Kiara dalam hati.
"Ok, fine. Lepaskan aku dulu aku akan cerita." Kiara menyerah. Tapi tak mungkin dia ceritakan yang sebenarnya. Itu hanya akan membuatnya malu.
__ADS_1
Exa melepaskannya.
"Aku memang pergi dari rusun. Menghindarimu juga tujuanku."
"Apa yang salah denganku?" Sela Exa tak sabar.
"Salahmu cuma satu, kamu bersaudara dengan lelaki itu. Jika tidak, mungkin aku masih mau berteman denganmu. Maaf, aku memutuskan pertemanan kita sepihak. Tapi itu sudah yang benar yang aku lakukan. Aku tak mau berurusan lagi denganmu juga kakakmu. Terima kasih untuk perhatianmu selama ini. Jangan mengikutiku ataupun mencoba untuk mencari tahu keberadaanku. Aku mohon. Aku harus pergi sekarang." Kiara melepas paksa pegangan tangan Exa di lengannya. Pergi meninggalkan Exa yang termenung.
Exa berpikir keras, apa berarti semua ini ada hubungannya dengan sang kakak?
Saat Kiara tak terlihat lagi, Exa bergegas pergi ke perusahaan.
Braakk..Exa membuka dengan kasar pintu ruang kerja Feril.
"Ada apa?" Feril terkejut bukan main. Dia sampai langsung berdiri dan memegangi dadanya.
Bukannya menjawab, Exa dengan tatapan tajamnya langsung menuju Feril dan menarik kerah bajunya.
"Kakak brengsek!!" Teriak Exa lalu menghantam pipi Feril dengan tinjunya.
Feril langsung terjerembab ke lantai.
"What??" Pekik Feril sambil meringis. Darah segar mengalir di sudut bibirnya.
"Apa yang telah kakak lakukan di belakang Natasya hah? Berhubungan dengan Kiara tanpa mengakhiri kisah kakak lebih dulu dengan Natasya. Aku sudah pernah peringatkan kakak kan, untuk tidak bermain hati." Exa meluapkan emosinya kembali menarik kerah baju kakaknya.
"Sekarang ceritakan apa yang telah terjadi antara dirimu dengan Kiara. Kenapa dia sampai harus pergi." Exa menghempaskan tubuh kakaknya lalu berdiri dan berbalik. Mencoba menurunkan emosinya.
Feril terkejut, tak menyangka jika Exa mengenal Kiara dengan baik. Mau tak mau Feril menceritakan apa yang terjadi. Tapi menyembunyikan kisah semalam di kamar hotel itu.
"Apa kakak tahu? Secara tidak langsung kakak telah menghancurkan impianku untuk wanita yang selama ini aku cari. Kiara adalah orangnya. Dan baru saja dia masuk ke kehidupanku, dia harus menghilang dari pandanganku." Exa melemah. Sinar matanya meredup. Feril menatap sendu adiknya itu. Merasa sangat bersalah. Dia tak mampu mengendalikan hatinya. Perasaannya, cintanya kini hanya untuk Kiara.
Beberapa hari tanpa Kiara di kantor, membuat pekerjaannya kacau. Bahkan bukan hanya itu, hubungannya dengan Natasya terasa hambar. Feril malas sekali jika harus menemani kekasihnya itu. Ingin sekali pergi mencari Kiara, tetapi lagi lagi karena pekerjaannya mulai kacau. Jadi malah menambah banyak pekerjaannya.
"Maaf, aku akan coba memperbaikinya. Kau tahu dimana dia sekarang?"
"Tidak tahu. Dia tak mengijinkan aku untuk mengetahui apapun. Kalau kakak sungguh sungguh carilah dia. Jangan sakiti hatinya lagi." Exa pergi dari kantor Feril. Hatinya sakit mengingat cerita kakaknya. Kiara pasti merasa dipermainkan saat itu. Dan dia tak bisa berbuat apapun karena dia adalah adik lelaki yang telah membuat hatinya hancur.
Exa menghubungi rumah sakit. Dia ingin cuti beberapa hari, jadi kalau tak ada yang mendesak tak perlu memintanya ke rumah sakit. Exa ingin menenangkan diri.
....
Kiara sekarang lebih berhati hati lagi. Dia mengubah cara berpenampilannya. Dan selalu memakai masker. Dia tak akan membuka maskernya di tempat umum, tak ingin kejadian waktu itu terulang lagi. Exa mengenalinya.
Kalau tidak penting dia pun tak akan keluar apartemen sendirian. Dia akan menunggu Marcel mengantarnya.
Siang itu Kiara mencari cari sprei bersih di lemari, untuk mengganti sprei yang dipakainya. Tak sengaja tangannya menyenggol bungkusan plastik hitam hingga terjatuh. Kiara melihat isinya.
"Pembalutku masih penuh. Aku sampai lupa kalau belum mendapat tamu bulananku." Kiara menutup mulutnya syok.
Kiara memastikan dengan melihat kalender di ponselnya. Seketika tubuhnya luruh ke lantai. Kiara lihat jika dia sudah lewat dua kali siklusnya.
__ADS_1
"Apa mungkin?" Kiara mengelus perutnya dengan mata berkaca kaca.
"Aku harus pastikan segera." Kiara bangkit, membereskan kamarnya lebih dulu, lalu tidak lupa masker dan topi yang selalu menemani hari harinya belakangan ini.
Kiara pergi ke apotik terdekat. Setelah mendapat alat tes kehamilan, Kiara langsung meminjam toilet disana. Dengan wajah yang pura pura bahagia, seperti seorang istri yang sudah tak sabar untuk hamil anak suaminya.
Petugas apoteknya percaya dan mengantar ke toilet yang letaknya di dalam. Kiara segera mengeceknya saat sudah berada di dalam toilet. Harus menunggu beberapa saat, membuat jantungnya berdegub kencang. Takut sekali jika yang dikhawatirkan benar terjadi.
Semenit berlalu, dengan tangan gemetar Kiara mengangkat alat tes itu untuk melihat hasilnya. Seketika alat itu dijatuhkannya. Hasilnya positif dia hamil. Kiara bingung apa yang harus dilakukannya. Dia harus tegar.
Kiara memungut alat tadi lalu menyimpannya ke dalam tas. Kiara keluar dari toilet. Untung saja dia tak sampai menangis di dalam, ternyata petugas apotek menungguinya di luar toilet.
"Bagaimana mbak hasilnya?" Tanyanya.
Kiara mencoba tersenyum bahagia.
"Saya positif, tidak sabar ingin segera memberitahu suami saya. Dia pasti bahagia sekali." Sambil Kiara mengelus perutnya.
"Selamat ya mbak." Ucap apoteker itu ikut tersenyum bahagia.
"Terima kasih. Saya permisi." Kiara terus mengumbar senyumnya.
Keluar dari apotek, Kiara jadi muram. Dia lalu pergi ke rumah sakit saja. Ingin tahu keadaan calon bayinya.
Menggunakan taksi, Kiara akhirnya sampai di rumah sakit. Menunggu beberapa saat di depan poli kandungan. Lalu namanya di panggil. Kiara menenangkan hatinya, lalu masuk ke dalam ruangan periksa.
Sang dokter kandungan ternyata seorang laki laki.
"Selamat siang bu Kiara, ada keluhan apa?" Tanya dokter itu ramah, sembari membaca data Kiara saat mendaftar.
"Tidak ada keluhan dok. Hanya ingin memastikan ini." Kiara menyerahkan hasil alat uji kehamilannya yang menyatakan positif.
"Oh kalau begitu langsung kita USG saja ya bu. Mari." Dokter itu mempersilahkan Kiara berbaring di ranjang yang telah disediakan.
"Maaf ya." Dokter itu menyingkap sedikit baju Kiara ke atas untuk menampilkan perut Kiara.
Dokter memberi sedikit gel di perut lalu mulai pemeriksaan.
"Bu Kiara, anda lihat kantong ini. Ini adalah calon janin anda. Umurnya sudah masuk minggu ke 11. Dilihat keadaannya normal. Selamat ya bu." Dokter membersihkan sisa gel tadi lalu memperbaiki baju Kiara.
Dokter lalu mengajak Kiara duduk lagi.
"Bu Kiara, mana suaminya?"
"Emm suami saya bekerja dok jadi tak bisa menemani." Jawab Kiara gugup.
"Ya sudah tidak apa apa. Ini pertama kali anda kesini. Jadi lain kali, mintalah untuk menemani ya bu. Terkadang ada yang perlu saya sampaikan ke suami. Ini saya resepkan vitamin. Minum yang teratur ya bu agar kandungannya makin sehat. Jaga pola makan karena sekarang yang membutuhkan asupan gizi tak hanya anda tetapi juga calon bayi anda. Lalu istirahat yang cukup. Perkembangan janin tergantung dengan perlakuan sang ibu. Untuk trimester pertama, usahakan jangan melakukan pekerjaan yang berat. Lalu jika ada keluhan apapun anda bisa konsultasi gratis dengan saya melalui telfon. Saya siap 24 jam untuk membantu. Ini kartu nama saya." Dokter itu menyerahkan kartu namanya.
"Sus, mana hasilnya?"
Suster menyerahkan gambar hasil USG tadi.
__ADS_1
"Terima kasih dokter, akan saya ingat nasihat anda." Kiara keluar dari ruangan periksa. Berjalan gontai menuju ruang obat.
to be continue