
Tangan Marcel hendak meraih bahu Kiara yang tampak bergetar. Namun tangannya itu berhenti di udara. Takut akan penolakan dirasakan oleh Marcel.
"Kia, maaf. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk.." kalimat Marcel terhenti.
"Aku tidak papa kak. Kak Gio pergi saja ke kantor." Sela Kiara.
Marcel tak ingin mengusik Kiara lagi. Perlahan dia melangkah pergi meninggalkan Kiara sendirian di apartemen.
Mendengar bunyi pintu apartemen yang terkunci, tubuh Kiara langsung luruh ke lantai. Tangisnya pecah.
"Bodoh..bodoh..bodoh..!!" Rutuk Kiara sambil menepuk kasar dadanya.
"Aku kenapa murahan sekali. Sebegitu mudahnya kah aku disentuh lelaki."
Puas menangis, Kiara bangun lalu kembali ke kamarnya. Tubuhnya lelah, dia ingin istirahat. Setelah membaringkan tubuh ke ranjang, dengan mudahnya Kiara tertidur.
...
Marcel tidak pergi ke kantor. Melainkan ke rumahnya. Yang dibutuhkan saat ini adalah nasihat mamanya.
"Pagi Pa, Ma." Marcel menyapa orang tuanya yang berada di teras. Terlihat papanya hendak berpamitan untuk pergi ke kantor.
Kevin memicingkan matanya. Menatap putra sulungnya yang tampak tak bersemangat.
"Kamu tidak ke kantor?" Tanyanya.
"Izin ya pa." Marcel memaksakan senyumnya.
Kevin hanya memutar bola matanya malas. Lalu melanjutkan acara berpamitannya dengan sang istri.
Marcel sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah. Tak ingin menyaksikan keromantisan kedua orang tuanya yang tak pernah berkurang meski sudah berumur.
"Kamu kenapa lagi?" Tanya sang mama, mendudukan dirinya disamping Marcel.
"Ma, gadis itu hamil." Ucap Marcel lirih.
"Apa?" Tanya mama tidak yakin apa yang baru saja di dengarnya.
"Kia hamil ma."
Mama bukannya syok terkejut atau bagaimana, tetapi malah tertawa senang. Marcel heran dengan reaksi mamanya.
"Kamu agresif banget Cel. Asik, mama bentar lagi punya cucu."
"Ma, itu bukan anak Marcel." Sela Marcel, membuat mamanya tidak lagi bersorak.
"Apa!!" Sekarang teriakannya seperti kecewa.
Marcel menghela nafasnya pelan. Dan mulai bercerita.
"Ma, aku tetap menginginkannya. Aku ingin menjaga dan menjadi pendampingnya. Jika yang diceritakannya tidak benar, pasti dia akan menerima dengan senang hati tawaranku untuk menikahinya. Tetapi dia tetap saja menolak ma. Aku tahu dia gadis yang baik."
"Mama nggak tahu harus nanggapin ini seperti apa. Karena mama belum pernah bertemu dengan Kia. Mama tidak bisa komentar apapun sekarang. Mama akan bicara dengan papa. Dan untuk sekarang keputusanmu sudah benar dengan membantunya." Mama memijit pelan pelipisnya. Merasakan kisah cinta putranya yang rumit.
"Tapi yang semakin membuat aku kacau saat ini bukan itu ma. Tadi aku membuatnya menangis."
Mama mengernyitkan keningnya, seakan meminta penjelasan lebih.
"Aku tergoda untuk menciumnya ma. Aku pikir dia diam karena menerima ku, tetapi dia diam karena terkejut akan perlakuanku. Dan saat dia kembali tersadar dia langsung menolakku dan dia menangis ma." Marcel menundukan kepalanya.
"Ya ampun Cel. Terus setelah kamu buat dia nangis, kamu kabur kesini bukannya nenangin dia?"
__ADS_1
"Dia ngusir aku secara halus ma. Aku takut membuat kesalahan lagi. Aku takut dengan aku mendekatinya lagi, dia akan menolakku." Marcel frustasi.
"Usaha Cel. Masuklah disaat yang tepat. Sedikit memaksa itu tidak apa. Disaat dia rapuh seperti ini, dia pasti membutuhkan seseorang untuk tempatnya bersandar. Tapi jangan khilaf lagi, atau dia bakalan pergi. Karena dia fikir kamu tak ada bedanya dengan lelaki itu."
"Jadi mama tetap merestui aku untuk menikahinya kan ma?"
Sang mama jadi sadar akan sarannya tadi. Lalu menepuk keningnya sendiri.
"Taulah Cel. Mama jadi ikut pusing. Sana kembalilah ke apartemenmu, tenangkan dia. Mama juga mau nenangin diri juga." Mama langsung berdiri meninggalkan Marcel seorang diri di ruang tamu.
"Anak laki lakiku satu satunya, sekali jatuh cinta langsung cinta buta. Feeling aku sih gadis itu baik. Tapi kalau baik bagaimana bisa dia hamil." Gumam mama sambil terus melangkah menuju kamar.
Marcel tak langsung melakukan saran mamanya. Dia masih berdiam diri di ruang tamu. Memikirkan dengan baik baik, apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Sudah mendekati tengah hari Marcel baru kembali ke apartemen. Walau sudah mempersiapkan diri, tapi tetap saja dirinya takut kalau Kia marah dan sedih akan perlakuannya tadi pagi.
Tanpa menunggu lagi, Marcel masuk ke apartemennya. Melihat ke sekitar tampak sepi.
"Kia." Panggil Marcel. Tak ingin berspekulasi, Marcel langsung pergi ke kamar Kiara.
Marcel lega, mendapati Kiara yang tampak tertidur tenang. Lalu dia kembali menutup pintunya. Marcel pergi ke dapur. Matanya menangkap sarapan yang tadi pagi dibuat oleh Kiara tak tersentuh sedikitpun.
"Dia tidak sarapan, apa tidak ingat jika dia sedang hamil." Gumam Marcel. Lalu pergi ke kamar Kiara untuk segera membangunkannya untuk mengisi perutnya.
"Kia bangun." Marcel menggoyang lengan Kiara yang tertutup selimut. Namun Kiara tak bergeming.
Tak mendapat respon, Marcel lalu duduk di samping Kiara. Perlahan menyentuh puncak kepala Kiara.
"Bangun, ayo makan. Kia.." Marcel menyentuh kening Kiara, terkejutnya dia merasakan suhu tubuh Kiara yang sedikit panas. Memastikan dia menyentuh pipi yang juga terasa panas. Beralih ke tangannya juga terasa panas digenggamannya.
Panik, tentu saja. Marcel tidak pernah sekalipun merawat orang yang sakit. Jika Marcel sakit pun selalu bermanja pada mamanya. Tak ingin salah menangani Kiara, Marcel memilih menghubungi sang mama.
"Wanita hamil tidak bisa minum obat sembarangan. Kompres saja dengan air hangat. Jangan beri dia selimut tebal. Itu akan memperburuk demamnya. Panggillah dokter jika sampai sore nanti tidak membaik juga."
"Iya ma." Marcel langsung mengakhiri telfonnya.
Segera saja dia pergi ke dapur. Menampung air hangat dari dispenser dengan baskom dan mencari handuk kecil di kamarnya.
Marcel mengompres kening Kiara.
Marcel kembali ke dapur, ingin membuatkan Kiara bubur. Agar bisa diberikan saat Kiara sudah bangun. Rasa bersalahnya semakin besar. Baru saja kemarin Kiara tahu jika hamil. Dan tadi pagi perlakuannya sungguh tidak pantas. Pasti Kiara sangat sedih. Apalagi tadi Marcel perhatikan jika mata Kiara terlihat sembab.
Selesai membuat bubur, Marcel kembali menjaga Kiara. Duduk disampingnya sembari sesekali membenarkan kompresannya.
Kiara melenguh, dan perlahan membuka matanya. Marcel menyambutnya dengan senyuman.
"Akhirnya kamu bangun juga." Lantas tangannya memeriksa kening, pipi, bahkan leher Kiara. Suhu tubuhnya sudah nenurun.
"Kak Gio tidak bekerja?" Tanya Kiara pelan.
Marcel hanya menggeleng.
"Aku ke dapur sebentar." Marcel hendak mengambil bubur juga air untuk Kiara.
Marcel kembali, dan meletakan bubur juga segelas air ke nakas samping tempat tidur.
"Duduk ya. Kamu harus makan." Marcel membantu Kiara untuk duduk. Wanita itu terlihat sangat lemas.
"Minum?" Tawar Marcel. Dan Kiara mengangguk. Marcel membantunya untuk minum.
"Sekarang makan ya." Pinta Marcel. Dengan telaten Marcel menyuapi Kiara.
__ADS_1
Keduanya sama sama diam. Hingga bubur dalam mangkuk itu habis.
"Aku minta maaf." Ucap Marcel setelah membantu Kiara minum.
Kiara menggelengkan kepalanya, mengerti maksud Marcel minta maaf untuk perihal apa.
"Aku memang salah. Tapi mulai sekarang jangan berfikiran aneh aneh lagi. Kamu harus tahu, bahwa aku masih mencintaimu dan rasa itu bahkan tak berkurang sedikitpun walaupun setelah tahu kamu hamil. Dan keinginanku untuk menikahimu masihlah sama. Aku akan menunggumu untuk siap. Jadikan aku sandaranmu. Biarkan aku ikut memikul bebanmu." Pinta Marcel dengan menggenggam kedua tangan Kiara erat.
Air mata tak dapat dibendung lagi. Mengalir di pipi mulus Kiara. Marcel langsung merengkuh Kiara dalam pelukannya.
"Menangislah. Tumpahkan semua rasa kesedihanmu, marahmu juga kecewamu. Setelah ini tak akan ku biarkan kamu menangis lagi. Hanya akan ku berikan kebahagiaan padamu. Itu janjiku." Marcel mengusap punggung Kiara. Terasa dadanya juga sudah basah oleh air mata.
Kiara sedikit merasa lega. Walaupun masih menyimpan rahasia bagaimana dia bisa hamil. Setidaknya dia merasa tak sendiri lagi. Katakanlah ia egois, karena dia masih mengharapkan kebahagiaan akan menghiasi hidupnya di kemudian hari. Dia menaruh harapan pada Marcel.
Sekali lagi dia akan mencoba untuk membuka hatinya. Saat ini yang dia butuhkan adalah sosok seorang Marcel.
Keadaan Kiara sudah membaik. Marcel menyuruhnya tetap berbaring. Kiarapun menurut tapi dengan wajah yang cemberut.
"Istirahatlah. Aku akan menjagamu disini." Marcel duduk di samping Kiara berbaring.
"Kak, aku bosan. Seharian di kamar terus. Lagi pula, aku baru selesai makan kalau tidur lagi itu tidak baik untuk pencernaanku." Keluh Kiara.
"Ya sudah, ayo menonton tv di luar."
Senyum Kiara terbit, Marcel memapahnya keluar kamar. Sudah seperti sakit parah saja. Berjalan pun harus dibantu.
Marcel menemani Kiara menonton tv. Menyetel acara dengan asal.
Lalu terdengar dering ponsel Marcel, yang mengharuskannya masuk lagi ke kamar. Karena terdengar itu adalah dering untuk panggilan nomor khusus.
Kiara mendengar Marcel sayup sayup berbicara di dalam kamar. Hanya mengobrol sebentar. Kemudian Marcel bergabung dengan Kiara lagi.
Kiara tak begitu ingin tahu, siapa yang menelfon. Karena tak ingin ikut campur urusan pribadi Marcel.
"Kia, maaf nanti akan ada tamu kesini. Aku tak bisa melarangnya datang. Dia pemaksa sekali."
"Kenapa harus minta maaf kak. Nanti aku akan berdiam diri di kamar. Agar kak Gio bisa menemui tamu kakak dengan leluasa." Jawab Kiara dengan senyum manis.
"Eh, bukan tamuku. Dia ingin menemuimu."
"Aku?" Kiara menunjuk dirinya sendiri.
Marcel mengangguk yakin.
"Siapa?" Tanya Kiara lagi.
"Nanti juga kamu akan tahu." Jawab Marcel lesu.
Kiara jadi berfikiran aneh dengan ekspresi Marcel. Kiara takut kalau yang datang adalah Feril atau Exa. Apa mungkin Marcel sudah menyelidiki tentang kehidupannya, bathin Kiara.
"Kak, siapa? Aku tidak ingin bertemu jika kakak tidak mengatakan siapa orangnya." Ucap Kiara sedikit ketakutan.
Melihat gelagat Kiara, Marcel segera menenangkannya dengan memeluknya.
"Tenanglah, dia bukan orang yang jahat. Jangan takut. Dia hanyalah ibu tua yang selalu merecoki anak laki lakinya untuk segera menikah. Dan nanti dia ingin melihat keadaan wanita pilihan anak lelakinya, yang siang tadi dilanda kepanikan karena wanita itu sakit. Bahkan sampai harus menganggu istirahat siangnya karena anak lelakinya tak tahu bagaimana merawat orang sakit."
Kiara mendorong tubuh Marcel agar pelukannya lepas.
"Kak, jangan berbelit belit. Aku malah jadi bingung." Kiara mengerucutkan bibirnya.
to be continue
__ADS_1