Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 2


__ADS_3

Rumah Sehat Exa.


"Dokter, pasien kamar Melati no 5 meminta untuk rawat jalan dok." Ucap seorang suster lalu menyerahkan data pasien yang dimaksud tadi.


"Bukannya dia baru saja dioperasi 2 hari yang lalu."


"Iya dok, alasannya karena biaya dok. Dia menjelaskan jika biaya uang muka untuk operasinya kemarin saja sudah menjual seluruh harta bendanya dok. Dan sekarang tinggal ada sebuah rumah reyot, tak mungkin bila dijual. Dia memikirkan anak anaknya akan tinggal dimana nantinya. Ibu itu juga tak ingin berhutang, karena takut terlilit hutang dan tak bisa membayarnya. Kasihan sekali dok." Suster itu terus mengiba.


"Katakan padanya, dia mendapat santunan dari rumah sakit. Hingga dia sembuh, dan juga kembalikan uang yang sempat dibayarkannya. Nanti saya akan selesaikan administrasinya." Jelas Exa.


Suster itu langsung tersenyum riang. Dan berterima kasih mewakili pasien yang di bantu dokter Exa.


Memang setiap ada pasien yang kurang mampu, pasti para suster akan menceritakan pada Exa. Dan dengan senang hati Exa akan selalu membantu, tapi tanpa diketahui oleh orang yang telah dibantunya.


Dibelakang Exa, para suster selalu menggunjingnya. Bukan menggunjing tentang hal buruk. Tetapi selalu tentang ketampanan juga kebaikan hatinya. Selalu membantu semua orang yang membutuhkan.


Exa, John Alexan Kusuma. Putra kedua di keluarga Kusuma. Memilih menjadi dokter daripada pengusaha seperti saudaranya.


Exa bersandar di kursi kerjanya. Mengingat kejadian 7 tahun lalu. Saat dirinya sedang berlibur bersama teman temannya. Berlibur, menyatu dengan alam. Exa dan ketiga temannya menjelajah hutan untuk mencari air terjun tersembunyi.


Setelah perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya Exa dan teman temannya menemukan air terjun tersebut. Tanpa buang waktu lama, Exa dan temannya mandi air dingin di dekat air terjun itu. Exa berenang di bagian agak dalam. Mungkin karena terlalu lelah berjalan kaki dan langsung digunakan untuk berenang, kaki Exa menjadi kram.


Otomatis membuat Exa tenggelam, temannya tak begitu menyadari Exa yang akan tenggela karena tempat Exa yang agak jauh, juga suaranya kalah dari suara derasnya air terjun. Exa tak mampu bertahan lebih lama, dia kemudian terhanyut mengikuti arus sungai yang lumayan deras. Beberapa kali Exa mencoba menggapai bebatuan, namun gagal. Tubuhnya terus terhanyut.


Disaat Exa sudah pasrah akan keadaannya, tiba tiba tangannya tertahan oleh sesuatu. Exa merasa tubuhnya dipegangi oleh seseorang, orang itu berenang membawa tubuh Exa ke tepian sungai.


"Ya ampun, dia ini berat banget." Keluh orang yang menolong Exa. Exa menajamkan pandangannya. Dia melihat wajah orang yang memapahnya dengan susah payah yang ternyata seorang gadis.


"Ahh." Gadis itu menghela nafasnya yang terengah engah.


"Hei bangun," gadis itu menepuk pelan pipi Exa, namun Exa yang sudah kehilangan kesadaran pun tak merespon. Gadis itu mencoba menekan dada Exa, berharap air yang mungkin saja masuk ke tubuhnya bisa segera keluar.


Percobaan pertama gagal, nafas Exa sangat lemah dirasakan gadis itu. Gadis itu kembali menekan beberapa kali dada Exa lagi. Kemudian dia memberi nafas melalui mulut Exa. Gadis itu kembali menekan dada Exa lagi.


Uhukk uhukk. Air keluar dari mulut Exa. Gadis itupun menghela nafas lega, lalu membantu memiringkan tubuh Exa agar airnya benar keluar semua.

__ADS_1


"Sudah baikan?" Tanya gadis itu.


"Terima kasih."


"Its Ok, kamu sendirian?" Tanyanya lagi.


"Sama teman, mereka ada di air terjun. Kenalin, Exa." Exa mengulurkan tangannya.


Gadis itu menyambutnya dengan baik.


"Ara. Ayo aku bantu. Dari sini sudah dekat dengan pos kehutanan."


"Em, gue balik aja ke air terjun."


"Baju kita basah, letak air terjun lebih jauh dari pos, 2 kali lipatnya. Mending kita ke pos, ganti baju dan nungguin teman kamu disana. Teman kamu pasti akan segera keluar hutan dan melapor ke pos kalau tahu kamu hilang." Jelas Ara.


"Ya sudah, gue ikut lo."


Ara kemudian membantu Exa bangun. Dengan perlahan keduanya berjalan melewati jalan setapak menuju pos. Lama kelamaan keduanya merasa sangat kedinginan, apalagi Exa, dia hanya memakai kaos dan boxer. Ara juga merasa kedinginan.


Ara juga merasakan Exa mulai menggigil. Ara tahu apa yang harus dilakukannya disaat yang darurat seperti ini. Kalau dibiarkan Ara tahu akan berakibat fatal, dirinya juga Exa bisa saja terkena hipotermia. Apalagi tempatnya kini masih jauh dari pos.


Ara menghentikan langkahnya.


"Kenapa berhenti?" Exa menatap Ara.


Ara melihat bibir Exa yang sudah membiru.


"Kita kedinginan, berhenti dulu. Aku akan coba bantu buat tubuh kita hangat." Ara melepaskan pegangannya pada Exa.


Menuntun Exa untuk duduk bersandar di pohon.


"Kamu buka kaos kamu dulu." Titah Ara.


Exa menuruti saja. Kaos basahnya memang menambah kedinginannya.

__ADS_1


"Tutup mata kamu!!" Perintah Ara sekali lagi.


"Untuk apa?" Exa bertanya dengan nada bergetar karena semakin kedinginan.


"Udah tutup aja. Nggak ada waktu."


Akhirnya Exa mau menuruti Ara. Ara sebenarnya agak ragu, tapi tak ada cara lain. Tubuhnya sudah seperti ditusuk tusuk jarum. Tubuhnya gemetar karena dingin yang menusuk.


Ara melepaskan baju atasannya beserta dalamnya. Lalu segera duduk di pangkuan Exa. Exa yang terkejut hampir aja membuka mata.


"Jangan buka mata kamu!!" Ucap Ara memperingatkan.


Exa merasakan tubuhnya didekap, awalnya masih dingin. Exa lalu membalas pelukan Ara. Hangat mulai menjalar ke tubuh keduanya. Ada perasaan yang aneh yang muncul di benak keduanya. Namun keduanya sama sama menepis rasa itu. Mereka menikmati kehangatan satu sama lain.


Exa tahu gadis yang sedang duduk dipangkuannya ini sedang tak memakai apapun di bagian atas tubuhnya. Namun dia tak ingin mengambil kesempatan, gadis itu sudah menyelamatkan nyawanya. Exa merasakan debaran jantungnya yang bersahutan dengan jantung Ara.


"Dari mana lo mempelajari cara ini?" Tanya Exa memecah keheninganan antara mereka.


"Aku suka baca buku tentang kesehatan juga berbagai penyelamatan dan pemberian pertolongan pertama."


"Lo kuliah kedokteran.?"


"Nggak, IQ aku nggak cukup buat masuk jurusan kedokteran."


Mendengar jawaban Ara membuat Exa terkekeh.


Kehangatan tubuh mereka sudah kembali. Ara meminta Exa untuk tetap tutup mata, dan kemudian bangkit dari pangkuan Exa. Segera memakai kembali pakaiannya. Begitupun dengan Exa saat sudah diijinkan Ara membuka mata barulah Exa dapat memakai kaosnya lagi.


Ara membantu Exa berdiri dan kembali berjalan menuju pos. Di jalan Exa terus mengajak Ara bicara, mengenal tentang kehidupan masing masing.


Akhirya Exa mengetahui jika Ara bercita cita menjadi dokter dan memiliki rumah sakit sendiri. Namun seperti yang dia bilang tadi, karena kepintarannya nggak cukup untuk masuk jurusan kedokteran. Ara juga menceritakan impiannya jika menjadi dokter, akan selalu membantu orang yang membutuhkan. Memberi pengobatan gratis misalnya.


Exa kagum dengan sosok Ara. Sayang sekali setelah perpisahannya dengan Ara di pos, Exa tak bisa menghubungi gadis itu. Karena Exa lupa meminta nomor ponsel ataupun alamat rumahnya.


Hingga sekarang Exa hanya berharap bisa bertemu kembali dengan dewi penolongnya itu.

__ADS_1


__ADS_2