Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 10


__ADS_3

Natasya masih mengusap kupingnya yang masih berdengung.


"Lagian kamu juga lagi enak cerita juga. Malah bengong." Gea mengerucutkan bibirnya.


"Sorry, habis aku jadi kangen kak Feril."


"Ya udah sih. Kita cari makan dulu aja. Perut aku udah laper banget nih." Ajak Gea.


"Ok, hayuk lah."


Keduanya keluar dari apartemen Gea, berjalan keluar gedung. Di sebrang jalan terdapat restoran kecil yang ramai, karena penghuni apartemen memang kebanyakan beli makanan di sana. Selain harganya yang terjangkau juga rasanya juga lezat. Sesuai dengan penghuni apartemen yang kebanyakan memang mahasiswa seperti Natasya dan Gea.


.....


"Ra, bisa makan siang diluar?" Pesan masuk dari Exa.


"Ada apa?" Balas Kiara.


"Beberapa hari ini kamu sibuk. Jarang membalas pesanku. Aku merindukanmu." Jujur Exa.


"Eh, maaf. Aku memang baru awal kerja jadi banyak kerjaan. Ok. Makan di Cafe pelangi." Balas Kiara to the points.


"Ok Ra." Balasan terakhir Exa.


Kiara kembali fokus pada kerjaannya. Sedang Exa di ruangan prakteknya melihat jarum jam yang sudah menunjuk pukul 11.30.


"Lebih baik aku berangkat sekarang. Aku tak ingin membuat Ara menungguku." Ucap Exa bersemangat.


Kiara sudah selesai dengan pekerjaannya, jam makan siang masih 10 menit lagi. Kiara ingin meminta ijin pada Feril dulu.


Tok tok


"Masuk." Titah Feril.


"Maaf pak, jam istirahat masih 10 menit lagi tapi saya ingin ijin untuk keluar lebih cepat. Ada sedikit urusan di luar. Apa boleh?" Tanya Kiara dengan nada lembut.


"Hem, pergilah. Jangan lupa kembalilah tepat waktu." Ingat Feril.


"Iya pak terima kasih. Saya pergi." Kiara lalu keluar dari ruangan Feril.


Feril masih serius mempelajari berkas yang akan dibawanya untuk meeting menemui klien baru. Kliennya minta bertemu setelah jam makan siang ini di tempat yang sudah diatur.


Kiara memesan taksi online agar lebih cepat sampai tujuan. 10 menit berlalu, Kiara sudah sampai di cafe Pelangi.


Kiara mencari letak duduk yang masih kosong. Belum juga dapat, ponselnya sudah berdering.


Exa calling

__ADS_1


"Halo Xa. Kenapa?"


"Aku duduk disini, arah jam 10 mu." Ucap Exa sembari melambaikan tangannya.


"Oh iya, aku melihatmu." Panggilan diputuskan oleh Kiara.


Kiara lalu berjalan mendekati Exa.


"Hai, udah lama kamu?" Tanya Kiara sembari duduk di depan Exa.


"Baru saja duduk. Ini untukmu." Exa memberikan satu bucket mawar putih dan kuning.


Kiara mengernyitkan keningnya tapi juga segera menerima bunga itu.


"Terima kasih. Harum bunganya. Dalam rangka apa?"


"Em tidak apa apa. Hanya tadi aku melihat penjual bunga saat akan kesini. Jadi aku ingin membelikan saja untukmu." Jelas Exa. Karena memang tadi dia melihat penjual bunga wanita yang sudah paruh baya menjual bucket bunga di pinggir jalan. Exa yang kasihan melihat wanita itu jadi dia membeli satu bucket bunganya.


Keduanya lalu memesan makanan. Mengobrol tentang dunia kerja masing masing. Diketahuilah oleh Exa kalau Aranya bekerja di perusahaan keluarganya. Namun Exa enggan mengungkapkannya.


"Oh iya, kamu disana bekerja di posisi apa?" Tanya Exa ingin tahu.


"Aku sebagai sekertaris direktur."


Exa agak terkejut, setahunya 2 Minggu yang lalu Kiara tidak ada di kantor kakaknya. Ah mungkin saja sekertaris lama baru saja mengundurkan diri.


"Baru, aku baru semingguan bekerja disana."


Akhirnya makanan mereka sudah habis. Exa menawarkan diri untuk mengantarnya kembali ke perusahaan tapi Kiara menolak. Nanti akan sangat merepotkan Exa, karena harus bolak balik. Karena jalannya berlawanan dengan rumah sakitnya.


Exa pun tak ingin memaksa. Kiara dibiarkan kembali sendiri menggunakan taksi online.


Exa ingin menunggu Kiara hingga naik ke taksi, namun tiba tiba saja ada panggilan darurat dari rumah sakit. Mengharuskan Exa harus segera kembali ke rumah sakit.


"Ra, aku harus segera kembali. Ada keadaan darurat di UGD."


"Pergilah, aku tidak apa sendirian disini. Lihat, taksinya juga sudah dekat."


"Baiklah, kamu hati hati. Aku pergi." Exa mengusap puncak kepala Kiara.


"Ok. Kamu juga hati hati." Teriak Kiara melambaikan tangannya karena Exa sudah akan masuk ke mobilnya dengan terburu buru.


Ponsel Kiara yang berdering mengalihkan perhatiannya dari mobil Exa yang sudah melaju.


"Pak Feril. Ada apa ya? Ini juga belum selesai jam makan siang." Gumam Kiara saat melihat nama penelpon di ponselnya.


"Iya, halo pak." Jawab Kiara saat sudah menggeser ikon hijau di layar ponselnya.

__ADS_1


"....."


"Eh, iya pak. Saya akan segera masuk."jawab Kiara lagi.


Sekali lagi dia harus mengcancel taksi onlinenya gara gara Feril. Kiara memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Perasaan tadi aku nggak lihat Pak Feril. Kenapa juga nada bicaranya ketus gitu tadi ya." Gumam Kiara sembari masuk kembali lagi ke dalam cafe.


Kiara bertanya pada seorang pelayan untuk mencari ruangan privat yang dipesan oleh Feril. Setelah diberitahu letaknya, Kiara segera ke tempat itu.


Setelah mengetuk pintunya, Kiara langsung masuk. Blamm..pintu langsung ditutup kasar oleh Feril.


Kiara disudutkan di balik pintu. Feril mengunci tubuhnya.


"Ada apa pak?" Kiara memberanikan diri untuk bertanya. Apalagi saat melihat sorot mata yang tajam dari Feril.


"Jadi ini urusan kamu, alasan kamu keluar lebih awal dari kantor. Menemui seorang pria di belakangku. Ha." Ucap Feril sedikit emosi.


Kiara tak percaya dengan apa yang sedang bosnya lakukan dan katakan itu. Feril marah padanya karena pergi makan siang dengan pria lain. Apa maksudnya?


"Maksud pak Feril apa? Anda memarahi saya seperti ketahuan selingkuh saja. Memang saya selingkuh dari siapa??" Kiara sedikit menaikan nada bicaranya.


Feril yang bertambah emosi langsung menyergap bibir Kiara. Sedikit kasar, bahkan sampai menggigit bibir Kiara agar mau membuka mulutnya. Disaat Kiara hampir kehabisan nafas dia memukul mukul dada Feril agar mau melepaskannya.


Tak dilepaskan juga, Kiara menggigit bibir Feril dengan kuat. Feril seketika langsung menjauhkan wajahnya, darah langsung keluar dari bekas gigitan Kiara.


"Kamu!!" Teriak Feril saat meraba bibirnya yang berdarah. Ingin melakukan hal yang lebih namun saat tatapannya bertemu dengan tatapan Kiara, emosinya langsung turun.


Mata Kiara berkaca kaca, dan saat Feril menatapnya jatuhlah air matanya. Kiara bingung, sedih, harus bagaimana dia bersikap terhadap bosnya ini. Beberapa hari ini bosnya itu selalu suka menciumnya seenaknya saja. Walau memang Kiara menikmatinya.


Tapi sekarang keadaannya berbeda, Feril marah padanya karena bertemu dengan pria lain. Dan menciumnya dengan kasar, Kiara tidak terima diperlakukan seperti itu.


"Harusnya kamu tahu, sejak pertama kali aku menciummu. Aku mencintaimu. Seharusnya kamu menjaga hati ku, perasaan ku." Ucap Feril sekarang nada bicaranya lebih lembut.


"Tapi anda tak pernah mengatakannya!! Selama ini saya menerima perlakuan anda karena memang saya menyukai anda." Kiara bicara sambil terisak dan masih saja berbicara formal pada Feril.


Feril berbinar mendengar Kiara menyukainya.


"Kamu mencintaiku juga? Jadi kau hanya milikku, tidak boleh bertemu pria lain di belakangku lagi mulai saat ini."


Kiara dengan kuat mendorong tubuh Feril sehingga bisa terlepas darinya.


"Menyukai bukan berarti mencintai!! Dan kita tidak ada hubungan apapun, jadi jangan mengatur kehidupan pribadi saya." Tegas Kiara lalu segera keluar dari ruangan privat itu.


Kiara juga tak lupa mengambil bunga dari Exa yang tadi sempat ia titipkan di meja kasir. Kiara dengan cepat berlari keluar menuju jalanan. Kiara menyetop sebuah taksi lalu menaikinya.


Feril sadar akan kesalahannya, jadi dia mencoba mengejar Kiara. Karena dia yang memang sudah membatalkan rencana meetingnya karena melihat Kiara tadi bersama pria lain yang tampak sangat dekat.

__ADS_1


Namun terlambat, saat Feril keluar dari Cafe, Kiara sudah naik ke dalam taksi. Feril kesal lalu meninju angin untuk meluapkan emosinya.


__ADS_2