Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 31


__ADS_3

Sepanjang jalan, Marcel mengamati mobil yang sekiranya mirip dengan yang membawa Kira pergi. Setelah memastikan bukan Kiara penumpangnya, maka Marcel melanjutkan pencariannya lagi.


"Kiara, kamu dimana sayang? Aku sangat mencemaskanmu." Ucap Marcel lirih. Hingga malam menjelang dia tak mendapat petunjuk apapun.


....


"Kamu mau bawa aku kemana?" Tanya Kiara dengan ketakutan.


Pria yang masih saja mengemudikan mobilnya sejak siang tadi tak bergeming. Kiara baru sadar, kenapa tadi dia menurut saja saat dibawa pergi. Sekarang dia sendiri yang merasa ketakutan. Pria yang berusaha dia hindari, sekarang berhasil menemukannya.


"Kamu sudah menikah?" Pria itu memicungkan matanya menatap perut Kiara yang tampak membuncit. Sudah dapat ditebak jika Kiara sedang hamil.


"Sudah. Tolong hentikan. Suamiku pasti mengkhawatirkan aku. Aku harus kembali." Lirih Kiara.


"Tidak akan. Tidak perduli kamu sudah menjadi istri orang, bahkan kamu sedang hamil. Aku tidak perduli. Aku tidak akan melepaskanmu." Tegas pria itu marah.


Kiara meneteskan air matanya, tak menyangka jika pelariannya dari lelaki ini akan berakhir seperti ini. Hatinya kini sudah mulai terisi oleh suaminya. Dan lelaki ini kembali muncul.


"Andai saja, kamu tak sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis waktu itu. Aku pasti akan bersedia berada disisimu. Salahmu sendiri, kenapa menjadikan aku orang ketiga. Tanpa kamu sadari aku lah yang tersakiti disini."


"Jadi ku kohon berhentilah Ril. Bahagiakan gadis itu. Lepaskan aku. Aku ingin kembali kepada suamiku."


Pria itu yang tak lain adalah Feril langsung menginjak pedal remnya dengan kuat. Untunglah keduanya memakai sabuk pengaman, Kiara hanya terbentur sedikit ke dashbor mobil karena terkejut.


"Jangan mimpi." Feril menatap tajam Kiara. Kesal yang dirasanya, merasa perasaannya selama ini tak dianggap dan dengan mudahnya meminta untuk melepasnya.


Feril kembali menjalankan kembali mobilnya, dan berhenti di sebuah penginapan kecil.


Dengan sedikit menyeret Kiara, Feril memasuki penginapan itu dan memesan sebuah kamar. Setelah mendapatkan kuncinya, Feril segera menuju kamarnya.


Kiara tak begitu banyak berontak, dirinya cukup lelah, apalagi ini sudah waktunya makan malam. Dan dia terakhir makan hanya semangkok bakso tadi siang. Rasanya tubuhnya tak berdaya, berjalanpun rasanya enggan. Kalau tak diseret oleh Feril rasanya tak sanggup lagi untuk berjalan.


Sesampainya di kamar, Feril langsung menarik tangan Kiara hingga terjerembab ke ranjang. Lalu dia segera mengunci pintu kamar.


Kiara sedikit memdesis sakit, dirasakannya perutnya sedikit tegang. Feril tiba tiba datang kemudian mengungkungnya diatas ranjang.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Kiara sungguh takut.


"Mengulang malam nikmat kita berdua yang pernah terjadi." Tanpa membari kesempatan untuk bicara lagi, Feril langsung menyerang bibir Kiara.


Kiara berusaha memberontak sekuat tenaganya. Air matanya bahkan sudah mengalir deras. Merasakan Feril yang tak menghiraukan penolakannya. Kiara bahkan tak sanggup membuka matanya, dia tak ingin melihat lelaki di atasnya itu.


Hingga rasa nyeri diperutnya semakin kentara, Kiara memekik kesakitan. Feril masih tak memperdulikannya. Baru ketika Feril ingin melucuti bajunya, dia menyadari jika Kiara tak bergerak dan tak memberontak lagi.


"Kiara,.." Feril menepuk pelan pipi Kiara. Tidak mungkinkan dalam keadaan seperti ini wanita itu tertidur.


Feril juga menggoyangkan lengan Kiara yang lemas sekali. Pikiran waras mulai menghinggapinya kembali. Sekarang gairah dan marah yang tadi sempat memenuhi pikirannya berganti dengan cemas.


"Kiara, bangun..Please..maafin aku. Aku khilaf sayang. Aku mohon bangunlah." Feril menggosok tangan Kiara berharap bisa membuat wanita itu bangun. Namun tetap tak ada respon.


Saat akan membenahi selimut untuk dipakaikan ke Kiara, Feril memicingkan pendangannya, menatap cairan merah yang membasahi selimut. Pikiran was was seketika menyelimuti.


Feril mengecek bagian bawah tubuh Kiara yang kemungkinan mengeluarkan cairan merah itu. Benar saja, disana ada banyak darah. Feril mengutuk dirinya sendiri. Dengan mengutamakan emosinya, sampai tak memikirkan kondisi Kiara yang sedang hamil.

__ADS_1


Feril bergegas membenahi baju Kiara, lalu menutupinya dengan jasnya. Setelah membuka kunci kamar, dia segera membawa Kiara ke rumah sakit.


Feril terus saja mengutuk kelakuannya yang bisa saja mencelakai Kiara. Dengan duduk tertunduk di depan UGD, dalam hati Feril terus melantunkan doa untuk keselamatan Kiara.


Feril pun menghubungi Gani, memintanya untuk membereskan kamar hotel yang ditinggalkan tadi.


Selang 1 jam, dokter yang menangani Kiara keluar.


"Dok, bagaimana keadaannya?"


"Bisa kita bicara di ruangan saya?"


Feril mengangguk, dan langsung mengikuti jejak langkah dokter itu ke ruangannya.


"Begini pak, istri anda mengalami pendarahan. Tetapi untunglah tidak sampai berakibat fatal pada kesehatan janin. Saya sarankan untuk lebih berhati hati saat melakukan hubungan suami istri ya pak. Jangan terlalu bersemangat." Dokter itu tersenyum kecil.


Disangkanya Feril adalah suami Kiara. Feril hanya mengangguk paham. Lalu keluar dari ruangan dokter.


Kiara sudah dipindahkan ke ruang rawat. Dia diharuskan menginap, setidaknya untuk semalam. Untuk memastikan kondisinya.


Feril menatap wajah damai Kiara yang masih terlelap.


"Suster kapan dia akan sadar?"


"Tadi mbaknya sudah sempat bangun mas, tapi setelah saya membantunya makan meminum obat. Dia kembali tertidur lagi." Jawab suster yang sejak tadi menjaga Kiara karena tak ada orang lain yang mendampingi.


"Kalau begitu saya permisi dulu mas."


"Hem, terima kasih." Ujar Feril.


"Ssshh.." lenguh Kiara merasa perutnya sedikit sakit.


Feril yang mendengar rintihan segera terbangun dari tidurnya.


"Kia, ada yang sakit? Atau kamu butuh apa?" Tanya Feril khawatir.


Kiara berfikir cepat, bagaimana caranya dia bisa cepat pergi dari sini. Dia memikirkan Marcel yang pasti sedang mencemaskan kondisinya.


"Aku lapar." Ucap Kiara enggan.


"Sebentar akan aku carikan. Tidak apa kan, aku tinggal sebentar."


"Hem." Kiara memalingkan wajahnya. Lama pun boleh, batin Kiara tak kembali pun dia malah senang.


"Aku ingin makan nasi. Lauknya terserah." Pinta Kiara. Sengaja agar pria itu pergi lebih lama. Melihat jam yang masih terlalu pagi untuk warung makan buka.


"Oke. Aku pergi." Feril pergi dengan semangat. Mencarikan apa yang diinginkan wanita pujaannya itu.


Setelah memastikan Feril sudah pergi, Kiara berfikir ini kesempatannya untuk kabur. Berusaha bangkit, tapi tubuhnya ternyata masih terasa sakit. Dengan sedikit pertimbangan, Kiara memencet tombol darurat agar perawat ataupun dokter segera datang membantunya.


"Mbak, butuh sesuatu?" Seorang perawat datang langsung membantu Kiara untuk lebih nyaman saat duduk.


"Mbak, saya ingin pergi dari sini. Apa saya bisa minta bantuan mbak?" Pinta Kiara to the point.

__ADS_1


"Loh kenapa mbak? Mbak kan masih perlu dirawat. Lagi pula, suami mbak dimana?" Perawat itu mengedarkan pandangannya mencari pria yang sejak kemarin menunggui pasiennya ini.


"Dia bukan suami saya mbak. Suami saya pasti sedang mencari saya. Plis mbak bantuin saya." Kiara mengiba.


"Saya nggak mungkin bantuin mbak kabur. Bisa panjang urusannya dengan pekerjaan saya. Bagaimana kalau lapor polisi saja. Mbak diculik kan?"


"Bingung saya jelasinnya. Bukan penculikan, kemarin saya bersedia pergi dengannya karena merasa ada yang perlu kami bicarakan. Tapi tak disangka saya malah dibawa pergi jauh. Dia dulu dekat dengan saya mbak. Dan sekarang saya sudah menikah."


"Jangan lapor polisi mbak. Emm..mbak bawa ponsel tidak? Saya akan mengabari suami saya saja."


"Tertinggal mbak di ruangan. Sebentar saya ambilkan." Perawat itu segera saja pergi.


Baru akan keluar ruangan perawat itu melihat Feril dari kejauhan. Dia langsung kembali ke dalam.


"Mbak, pria itu sudah datang. Saya harus bagaimana?" Tanya perawat itu bingung.


"Emmm.." Kiara berfikir keras.


"Mbak ada kertas dan pulpen?"


"Ada." Perawat itu segera merogoh sakunya.


Kiara meraihnya dan menulis sesuatu.


"Itu nomor suami saya, minta tolong ya mbak. Kasih tahu dia keberadaan saya disini." Pinta Kiara penuh harap.


"Iya mbak. Mbak yang sabar ya. Maaf hanya bisa membantu seperti ini."


"Saya sudah sangat berterima kasih mbak mau membantu."


Ceklek. Feril langsung masuk begitu saja. Untung perawat itu sigap menyembunyikkan kertas dari Kiara tadi.


"Ada apa?" Tanya Feril menatap keduanya. Karena ini masih terlalu pagi untuk kunjungan perawat.


"Mbaknya tadi ingin ke kamar mandi. Saya ingin membantu." Kilah perawat itu.


"Biar saya saja sus."


"Nggak!!" Tegas Kiara.


"Ayo mbak, bantu saya." Kiara sudah menurunkan kakinya perlahan. Perawat itu sigap menyambut tubuh Kiara. Lalu beranjak ke kamar mandi.


Feril nampak pasrah, Kiara pasti membencinya setelah kejadian kemarin. Lalu dia menyiapkan makanan yang dipesan Kiara ke atas nakas dekat ranjang. Kemudian keluar ruangan lagi.


Terduduk lesu di kursi tunggu. Feril menyesali tindakannya. Tapi dia tetap akan menahan Kiara disisinya. Rasa itu sudah terlalu dalam hingga tak bisa ia hapus walau sudah berbulan bulan ditinggalkan Kiara.


Bahkan kehadiran Natasya tak mampu membuatnya goyah. Dia baru sadar jika perasaannya pada Natasya tak sama. Bukan cinta, hanya sayang kepada gadis kecilnya. Terlambat menyadari, hingga dia malah menyakiti hati dua wanita.


Walau Kiara hamil dengan lelaki lain, Feril tak perduli. Asal itu anak Kiara, dia akan menyayanginya. Pasti tak akan sulit menumbuhkan lagi rasa yang dulu mereka rasakan bersama. Feril akan menghapus perasaan Kiara untuk suaminya.


"Mbak, aku benar benar minta tolong ya. Secepatnya hubungi suamiku." Bisik Kiara.


Perawat itu tersenyum sembari mengangguk.

__ADS_1


"Saya keluar dulu ya mbak. Lebih baik mbak istirahat lagi. Biar cepat pulih." Ucap perawaat itu sebelum benar benar keluar dari kamaar rawat.


__ADS_2