Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 32


__ADS_3

Pagi menjelang, biarpun di pagi buta tadi Feril sudah berusaha mencari makanan yang diinginkan oleh Kiara. Nyatanya Kiara tak memakan sedikitpun makanan itu. Feril mulai mendesah frustasi.


Kiara pun mendiamkannya, saat perawat datang membagikan makanan pasien. Kiara langsung memakannya tanpa meminta bantuan darinya.


Kiara terus saja memikirkan Marcel. Pasti sampai saat ini suaminya itu masih khawatir dan terus mencarinya yang menghilang. Kiara terus saja merutuki kebodohannya kemarin.


"Seharusnya paling tidak aku bicara pada Uli." Gumam Kiara.


Disisi lain, Marcel yang semalaman tidak pulang mencari Kiara. Masih tertidur telungkup di atas stir kemudi mobilnya. Karena lelah tak terfikirkan untuk pulang. Wajah kusut, baju yang acak acakan. Baru sehari saja dia ditinggal sang istri, penampilannya sudah kacau.


Marcel memandang kosong keluar mobilnya.


Marcel mengecek ponselnya, mungkin saja ada kabar tentang istrinya.


Beberapa panggilan tak terjawab, dari orang tuanya. Dan satu dari nomor baru. Dibuka aplikasi chatnya, sederet pesan dari sang mama. Lalu nomor baru tadi juga mengirim pesan.


"Maaf, apa benar anda suami dari mbak Kiara? Jika iya, sekarang dia berada di rumah sakit Aa di kota A. Dia sedang dirawat karena mengalami pendarahan. Dia mengaku dibawa pergi oleh teman dekat prianya sebelum menikah. Dan dia meminta tolong saya untuk memberi kabar anda. Cepatlah datang, itulah pesannya. Dia sedang ketakutan saat ini."


Setelah membaca pesan itu Marcel segera melajukan mobilnya ke rumah sakit itu. Letaknya diluar kota, pasti membutuhkan waktu beberapa jam.


...


Marcel menghubungi nomor yang memberinya informasi tentang Kiara.


"Dimana istri saya?"


"..."


"Saya sudah sampai. Saya akan masuk."


"...."


"Baiklah."


Marcel mengikuti petunjuk yang diberikan. Masuk ke lift dan menuju lantai 3.


Marcel melihat kanan kiri setelah keluar dari lift. Mencari letak kamar yang ditempati Kiara.


"Ini dia, akhirnya aku menemukanmu sayang." Marcel membuka pintu perlahan.


"Kenapa kembali? Aku butuh barang itu secepatnya." Geram Kiara, saat mendengar pintu terbuka dan langkah kaki mendekat. Dia tidur dalam posisi miring membelakangi pintu jadi tak melihat siapa yang datang.


Mendengar suara Kiara, Marcel yakin itu adalah istrinya. Tanpa bersuara, Marcel semakin mendekat lalu menyentuh bahu Kiara.


Secepat kilat, Kiara menepis tangan Marcel lalu membalikan badan.


Kia terkejut, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia mengedipkan matanya cepat bahkan menguceknya. Untuk memastikan dia benar benar melihat suaminya berdiri di hadapannya.


"Kak.." suara Kiara tercekat. Matanya berkaca kaca.


Marcel spontan langsung memeluk Kiara. Memeluknya erat, menumpahkan kebahagiaannya karena berhasil menemukan istrinya.


"Akhirnya aku menemukanmu. Kau tahu betapa khawatirnya aku? Sehari berpisah denganmu rasanya sudah ingin mati saja. Aku takut tak bisa bertemu lagi, kau tahu..!!" Marcel menatap dalam mata Kiara.

__ADS_1


"Maaf, maafkan aku kak. Aku pergi tanpa pamit. Dan membuatmu khawatir. Maaf aku memang bodoh. Tak seharusnya aku mengikutinya. Aku,..aku tak menyangka dia akan nekat seperti ini. Aku takut.. maafkan aku. Aku salah. Aku ceroboh. Maafkan aku kak. Aku ingin pulang bersamamu." Kiara tak mampu menahan air matanya. Dia terisak.


"Sudah. Jangan menangis. Mari kita pulang. Heem."


"Kak Gio memaafkanku?" Kiara ingin memastikan jika suaminya tak marah padanya.


Tak menjawab, Marcel hanya mencium sekilas bibir Kiara. Kiara tak mengatakan apapun, hanya diam seperti patung.


Marcel tersenyum samar, lalu kembali mencium Kiara berkali kali. Melihat ekspresi Kiara yang tak berubah membuat Marcel terkekeh, dengan gemas Marcel kembali mencium bibir Kiara. Tak hanya menempel tapi dia melakukannya lebih.


Barulah saat itu Kiara tersadar, suaminya menciumnya. Dengan perasaan membuncah, Kiara membalas ciuman Marcel.


Setelah beberapa saat, terlepaslah tautan bibir mereka. Saling menempelkan kening mereka sembari mengatur nafas yang sedikit tersengal.


"Mari kita pulang."


Kiara mengangguk senang. Lalu dengan sedikit sentakan, dia mencabut jarum infus yang masih melekat di lengannya.


"Kia sayang. Seharusnya meminta bantuan perawat saja. Kenapa harus dipaksa dilepas sendiri. Lihatlah keluar darah." Ucap Marcel cemas.


"Tidak apa apa. Tidak akan bahaya. Aku hanya ingin cepat pergi dari sini."


Kiara lalu dengan perlahan turun dari ranjangnya. Masih sedikit tidak nyaman di area perutnya. Membuatnya harus berjalan pelan. Namun tiba tiba tubuhnya melayang.


"Akhh." Kiara kaget. Rupanya Marcel menggendongnya.


"Mau cepat pulang kan?" Marcel tersenyum menatapnya.


Sebelum sampai ke lift, tak sengaja Kiara melihat perawat yang tadi pagi membantunya. Terlihat dia tersenyum hangat lalu membungkukan sedikit badannya. Kiara mengucap terima kasih tanpa bersuara balas tersenyum.


Perawat itu mengangguk dan terus melihat ke Kiara. Sampai Kiara menghilang dari pandangannya.


Marcel akhirnya tiba di samping mobilnya. Menurunkan tubuh Kiara perlahan lalu membuka pintu mobilnya. Setelah memastikan posisi duduk Kiara nyaman, barulah dia sendiri masuk ke mobil duduk di balik kemudi.


Keduanya terus saja tersenyum sepanjang jalan. Karena hari sebentar lagi gelap, Marcel memutuskan untuk membelokan mobilnya ke hotel. Dia akan menginap semalam untuk beristirahat. Tak lupa juga, Marcel mengabari orang tuanya jika dia sudah menemukan istrinya.


Marcel memesan kamar terbaik. Agar istrinya dapat istirahat dengan nyaman.


....


"Aku sedang tidak bermimpi kan?" Ucap Marcel. Membuat Kening Kiara berkerut.


"Melihatmu tidur disampingku seperti ini. Jika memang ini mimpi, aku tak ingin bangun lagi." Marcel mengusap pipi Kiara.


Kiara tersenyum, apakah dirinya sebegitu berartinya untuk Marcel. Sampai menganggap kehadirannya hanya mimpi.


"Tidak, aku nyata." Kiara mengecup singkat bibir Marcel lalu kembali menenggelamkan wajahnya di dada Marcel.


Marcel mengeratkan pelukannya.


"Aku lapar, bisakah kita bangun sekarang?" Keluh Kiara. Karena sepertinya Marcel enggan untuk bangun padahal sudah terjaga beberapa lama.


"Ya, baiklah. Ayo mandi dulu."

__ADS_1


Marcel turun lalu mengulurkan tangannya kepada Kiara.


"Apa?" Tanya Kiara.


"Ayo mandi bersama biar lebih cepat. Katanya lapar."


Kiara menatapnya curiga.


"Aku tahu, kamu belum sembuh. Dan aku juga tahu, anakku sudah lapar. Hanya mandi saja, aku janji." Marcel menjelaskan.


Kiara ahirnya menuruti kemauan Marcel.


Ya memang benar benar hanya mandi. Walau Marcel memang tergoda dengan tubuh Kiara, namun sekuat tenaga dia mencoba menahannya dan berhasil. Berhasil menahannya hanya sampai Kiara selesai mandi. Setelah itu dia menuntaskan hasratnya dengan sabun mandi. Hi hi kasihannya Marcel.


"Ingin makan apa?" Tanya Marcel.


Keduanya tengah berjalan memasuki restoran hotel.


"Apa saja." Jawab Kiara terus mengulas senyumnya.


"Duduklah." Marcel menarikan sebuah kursi.


...


Ditempat lain. Seorang pemuda tampak termenung di sebuah taman. Penampilannya kacau, badannya bau alkohol. Dia baru saja keluar dari club malam, setelah menenggak beberapa botol minuman keras dia terkapar disana.


Setelah mengetahui kenyataan jika wanita yang dicintainya ternyata telah menikah dengan orang yang sangat dia kenal. Iya, Feril melihat Marcel yang membawa pergi Kiara dari rumah sakit.


Hatinya sakit melihat senyum Kiara yang tertuju pada Marcel bukan untuknya lagi. Begitupun dengan hati dan cinta Kiara bukan padanya lagi, tetapi pada suaminya.


Mungkin akan mudah merebut Kiara dari orang lain, tapi kalau dari Marcel rasanya tidak mungkin.


...


"Akhirnya kalian datang. Mama sudah menunggu sejak tadi." Lena menyambut kedatangan Marcel dan Kiara. Marcel membawa Kiara pulang ke rumah keluarganya. Menurutnya tak akan aman jika kembali ke apartemen.


"Sayang kamu baik baik saja? Apa ada yang sakit?" Tanya Lena khawatir.


"Aku baik Ma. Maaf sudah membuat kalian khawatir." Sesal Kiara.


Lena langsung menarik Kiara ke dalam pelukannya.


"Sudah wajar jika kami khawatir, kamu adalah bagian dari keluarga ini. Yang penting sekarang kamu baik baik saja. Mama jadi lega." Lena melepas pelukannya


"Ma, kangen kangenannya di lanjut nanti. Ok. Kiara harus banyak istirahat. Kemarin bahkan habis di rawat di rumah sakit."


"Iya sudah. Segera ajak istrimu istirahat. Nanti mama minta dokter keluarga ya untuk datang. Memastikan saja keadaan Kiara." Lena mengusap bahu Kiara. Kiara hanya membalasnya dengan senyumnya.


"Iya Ma." Jawab Marcel.


"Ayo ke kamar." Marcel menuntun Kiara menuju kamarnya.


....

__ADS_1


__ADS_2