Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 14


__ADS_3

Sejak semalam Kiara baru menghidupkan ponselnya saat akan berangkat kerja. Untung tidak ada telfon atau pesan penting. Dan Marcel juga tidak menghubunginya.


"Mungkin hubungan kita akan seperti dulu." Gumam Kiara sambil menatap foto Marcel yang semalam ia terima.


"Sudahlah. Aku harus semangat kerja hari ini."


Kiara masuk ke gedung kantornya. Terlihat sudah ramai, karena sejak hari pertama Kiara masuk kerja dia selalu ramah. Kini diapun sudah melihat imbal baliknya. Banyak karyawan yang menyapanya, biarpun dia OB atau OG sekalipun manager. Mereka ramah kepada Kiara, karena Kiara juga selalu menyapa setiap kali bertemu.


"Selamat pagi."


"Ahh.." Kiara sampai berteriak karena kaget. Kiara langsung beringsut mundur sambil mengelus dadanya. Setahunya tadi dia msuk ke lift sendirian, tahu tahu sekarang didepannya berdiri bosnya yang minim akhlak itu.


"Pak, bisa tidak jangan buat saya kaget. Lama lama sakit jantung saya pak." Bentak Kiara tanpa rasa takut.


Feril hanya terkekeh, tak lama lift berhenti. Saat pintunya akan terbuka tiba tiba...


Cupp.. Feril mencium bibirnya sekilas.


"Morning kiss." Ucap Feril.


Kiara tertegun. Lagi dan lagi dia dicium tanpa permisi. Saat dia kembali kesadarannya, Feril sudah hampir keluar dari lift.


"Ihh dasar bos.." teriak Kiara tapi langsung terhenti setelah melihat di luar lift, banyak karyawan yang memperhatikannya. Kiara melihat ke arah angka berapa lift ini berhenti. Kenapa diluar ramai sekali.


Lantai 4 ternyata, pantas saja ini adalah divisi marketing. Kiara menelan ludahnya, lalu menundukan kepalanya. Dengan segera dia menekan angka dimana tempat kerjanya.


Setelah pintu lift tertutup sempurna, Kiara menghela nafas lega.


"Malu maluin banget sih. Untung tadi aku cepat melihat keluar. Kalau tadi sampai aku keceplosan, bisa bisa nama baikku dan si bos jadi perbincangan di kantor. Bodoh. Bodoh. Ingat ini di kantor. Setelah ini aku harus waspada, jangan sampai dia mencuri ciumanku lagi." Gerutu Kiara.


...


"Ra, mungkin ungkapan perasaanku semalam begitu tiba tiba untukmu. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Bukankah kamu masih sendiri, jadi tak ada alasan untukku berhenti berusaha memiliki hatimu." Exa memandang foto Ara yang diambilnya secara diam diam beberapa waktu lalu.


"Ini sebentar lagi waktunya makan siang, lebih baik aku kirim makan siang untuk Ara."


Exa mengutak atik ponselnya, mencari restoran terdekat untuk delivery makanan ke kantor kakaknya.


...


"Nona Kiara, ini ada kiriman makan siang untuk nona." Ucap Novi sambil senyum senyum menggoda Kiara.


"Apaan sih Nov senyum senyum gitu."


"Ya, kemarin habis dibeliin sama si bos. Eh sekarang sudah beda lagi. Pengagum kamu banyak sih." Ucap Novi pelan takut si Bos dengar. Padahal juga nggak akan terdengar toh pintu ruangan si Bos tertutup rapat.


"Eh emang bukan dari dia lagi." Gumam Kiara langsung membuka bungkusan itu, mencari sesuatu mungkin saja ada tulisan pengirimnya.


Kiara menemukan card ucapan.


"Makan yang banyak. Ara."


Kiara tahu siapa pengirimnya, hanya satu orang yang selalu memnaggilnya hanya dengan sebutan Ara, siapa lagi kalau bukan Exa. Kiara tersenyum memandang card itu. Membuat Novi memicingkan matanya.


Novi sangat penasaran siapa pengirimnya, karena tadi kurirnya pun tak mau menyebutkan. Novi langsung merebut card yang di pegang oleh Kiara dan membacanya.


"Haish, nggak ada namanya juga. Kamu tahu siapa yang mengirim?" Tanya Novi sambil mengembalikan card itu.

__ADS_1


Kiara menganggukan kepalanya, lalu menyimpan card tadi ke lacinya.


"Siapa?" Tanya Novi tak sabar.


"Rahasia." Jawab Kiara membuat Novi mengerucutkan bibirnya.


"Aku kasih tahu pun kamu tak akan kenal. Ini dari temanku." Lanjut Kiara lagi.


Novi mendengus pelan lalu pamit untuk kembali ke lantai bawah untuk kembali bekerja.


"Ekhem." Suara deheman yang tak asing. Sebenarnya Kiara malas untuk melihatnya. Tetapi apa dayanya dia hanyalah seorang bawahan.


"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Kiara dengan sopan sambil menampilkan senyum terpaksanya.


"Ayo keluar, makan siang bersama."


"Tidak usah pak. Pak Feril pergi sendiri saja." Tolak Kiara.


"Saya tidak biasa makan sendiri. Ayo cepat bangun." Pinta Feril dengan tegas.


"Baiklah." Kiara bangun, namun berjalan menuju ke ruangan Gani.


Feril memandang aneh. Dari kemarin Kiara selalu saja menghampiri Gani, apa wanita itu suka dengan Gani? Pikir Feril.


"Ini tidak bisa dibiarkan." Feril malah kesal lalu menyusul Kiara ikut masuk ke ruangan Gani.


"Pak, ditemani pak Gani saja. Saya tidak bisa ikut." Kiara lalu keluar tanpa menunggu jawaban Feril.


"Ayo pak. Kebetulan saya juga sudah lapar." Ajak Gani dengan hati riang, pasti dia akan ditraktir si bos pikirnya.


Feril tak menghiraukan Gani, dia keluar mencari Kiara. Tadi dia tak memperhatikan, sekarang Feril melihat ada kotak makanan pasti itu alasan Kiara tak ingin makan siang dengannya.


"Ini makan." Ucap Feril.


Kiara kesal melihat Feril yang bertingkah seenaknya.


"Pak, itu kan milik saya."


"Sudah menjadi milik Gani. Ayo." Feril langsung menarik lengan Kiara untuk pergi bersama.


Kiara terus bersungut kesal. Sumpah serapah hanya mampu ia ucapkan dalam hati. Setelah masuk ke dalam lift dan pintunya tertutup, Feril mengungkung tubuh Kiara. Kiara reflek langsung menutup bibirnya dengan tangan.


"Kalau kamu nggak mau aku cium, menurutlah."


Kiara lalu mengangguk tanda setuju. Feril menjauh sedikit, membuat Kiara mendesah lega. Feril tersenyum licik.


Sedang Gani, yang ditinggal sendirian di kantor hanya bisa senang, ha ha.


"Lumayan tak jadi keluar makan siang ditraktir si bos, tapi dapat makanan gratis." Gani kembali masuk ke dalam ruangannya, untuk menikamati makan siangnya.


....


Kiara dengan sangat terpaksa selalu menuruti kemauan Feril. Dan sore ini juga diantar pulang olehnya. Sebelum pergi dia juga berkata akan menjemputnya besok.


"Huh, dapat sopir baru gratisan. Tapi sangat tidak nyaman satu mobil dengannya, hatiku selalu was was." Gerutu Kiara.


"Aku bahkan berbohong pada Exa. Saat dia bertanya apakah aku suka makanannya atau tidak. Untunglah tadi setelah kembali ke kantor aku langsung tanya mas Gani, bagaiman makanan yang ia makan tadi."

__ADS_1


Kiara mengecek ponselnya, tak ada pesan dari Marcel. Kiara merindukannya.


"Aku apaan sih. Jangan bodoh Kiara. Setelah dia tahu kalau kamu Kia yang dulu menyukainya dan membuatnya risih, apa kau pikir dia akan menyukaimu saat ini. Pasti dia akan menjauh lagi." Ucap Kiara dengan sedih di akhir kalimatnya.


....


Beberapa hari selalu bersama membuat Kiara jadi terbiasa dengan Feril. Walau belum mencintainya, setidaknya Feril tahu kalau Kiara sudah tidak kesal lagi dengannya.


"Kiara, nanti sore ikut saya meeting di hotel Shine."


"Eh, kenapa harus dihotel pak? Kenapa tidak di cafe saja." Tanya Kiara khawatir.


Feril tersenyum.


"Klien yang minta, karena dia harus segera kembali ke negara S nanti malam jadi dia tak ingin bolak balik ke hotel lagi. Jangan khawatir, kliennya seorang yang aku kenal lama. Dia orang baik."


"Baik pak." Kiara mencoba menghapus keraguan hatinya.


Sore harinya Feril dan Kiara berangkat bersama ke hotel Shine, tempatnya agak jauh dari kantor. Jadi sudah hampir gelap keduanya baru sampai.


Klien mereka sudah menunggu di cafe hotel.


"Malam tuan Jefri." Sapa Feril.


"Malam Feril. Lama ya tidak jumpa."


"Iya tuan. Anda terlalu sibuk dengan bisnis anda di negara S. Jadi melupakan saya."


"Ah, anda bisa saja. Ayo mari silahkan duduk."


"Baik terima kasih. Dan iya perkenalkan ini sekertaris saya. Kiara."


"Salam kenal tuan." Sapa Kiara.


"Iya, nona Kiara. Anda sangat cantik."


"Terima kasih tuan atas pujiannya." Jawab Kiara sambil tersenyum kikuk.


"Baiklah, mari kita bahas program kerja sama kita." Feril memberikan berkas berkas yang perlu di periksa oleh tuan Jefri.


Diskusi antara tuan Jefri dan Feril berlangsung hampir satu jam. Kiara hanya mendengar dan mencatat hal hal yang sekiranya penting. Tuan Jefri lalu mengajak keduanya sekalian menemaninya makan malam.


Setelah makan malam, tuan Jefri pamit lebih dulu karena waktunya sudah mendekati jadwal penerbangannya. Tinggallah Kiara dan Feril berdua.


Feril merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Keringat dingin mulai muncul di keningnya.


"Kiara, aku minta maaf sebelumnya." Ucapan Feril membuat Kiara langsung menatapnya.


"Pak Feril kenapa?" Tanya Kiara langsung karena melihat kening Feril yang berkeringat padahal suhu ruangan cafe itu cukup dingin.


"Kamu sepertinya harus pulang sendiri. Kepala saya tiba tiba pusing. Tidak mungkin berkendara dalam keadaan seperti ini. Akan sangat berbahaya."


Kiara jadi khawatir dengan keadaan Feril.


"Saya panggilkan dokter ya pak??"


"Tidak perlu, cepat pulanglah. Aku akan menginap di hotel ini malam ini. Istirahat akan segera membuat kondisiku membaik. Tolong pesankan kamar untukku." Feril memberikan kartu identitasnya.

__ADS_1


"Baik, tunggu sebentar pak."


to be continue


__ADS_2