
Kiara kembali ke kantor dengan emosi yang memuncak. Ingin rasanya dia berhenti dari pekerjaannya saat ini juga. Namun dia fikir kembali. Mendapat pekerjaan yang bagus saat ini begitu sulit. Apalagi dirinya saat ini sedang dalam masalah keuangan.
Mencoba mengatur perasaannya, Kiara melanjutkan pekerjaannya.
Tak berapa lama, Feril datang. Kiara hanya melihatnya sekilas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Feril mendesah pelan, kemudian masuk ke ruangannya.
Feril menyesali tingkahnya tadi. Tak seharusnya juga dia memiliki perasaan terhadap sekertarisnya itu. Bukannya dia sudah tak mencintai Natasya lagi, tetapi perasaannya tak dapat diingkari kini hatinya terpaut pada dua wanita.
....
"Jadi kapan kamu berangkat?"
"Besok Pa. Tapi jangan bilang ke Nat ya Pa. Aku akan kasih kejutan buat dia." Jawab Marcel.
"Iya, terserah kamu. Oh iya, karena papa memang nggak pernah tanya pada Natasya ataupun Feril. Bagaimana hubungan mereka?" Tanya Kevin.
"Yang aku tahu baik sih Pa. Aku nggak pernah dengar mereka bertengkar dari teman Nat. Dan juga beberapa kali Feril juga mengunjungi Nat."
"Lalu kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan Kusuma?"
"Selalu berjalan sukses Pa. Property kita yang kita iklankan di perusahaan Kusuma selalu sukses terjual."
"Papa bangga dengan kalian. Bisa memajukan perusahaan dengan pesat. Seandainya Feril dan Natasya segera menikah dan perusahaan kita bergabung. Pasti perusahaan kita akan menjadi lebih besar lagi." Harap Kevin.
"Papa jangan membebani mereka. Jodoh siapa tahu, kalau mereka memang ditakdirkan bersatu pasti akan menikah nantinya. Jangan dipaksain pa." Tegur Marcel.
"Iya iya papa tahu. Kebahagiaan Natasya lah yang terpenting. Ya sudah papa akan kembali ke ruangan papa dulu."
"Iya pa."
Marcel kemudian melajutkan pekerjaannya. Sekelebat wajah tersenyum manis melintas dipikirannya.
"Kiara. Apa kita bisa berjumpa lagi?" Gumam Marcel.
"Kenapa waktu itu aku tak meminta nomornya." Gumamnya lagi.
"Pak, waktunya kita meeting dengan pak Feril. Beliau sudah menunggu di ruang meeting." Ucap sekertaris Marcel yang berhasil mengejutkannya.
"Emm, baiklah." Marcel pun segera beranjak dari kursinya.
Di ruang meeting.
"Maaf terlambat." Ucap Marcel dengan sopan.
"Tidak apa kak. Saya baru juga duduk." Jawab Feril.
"Mari kita mulai saja meetingnya."
Gani yang menemani Feril, sigap langsung membagikan dokumen yang harus dibahas kali ini.
....
__ADS_1
"Sudah waktunya pulang. Pekerjaanku juga sudah selesai. Sepertinya tidak usah menunggu pak Feril dan mas Gani, mereka pasti langsung pulang habis meeting tadi." Kiara membereskan mejanya.
Kiara kali ini sudah ditunggu seseorang di loby.
"Kii!!" Seru gadis itu yang tak lain adalah Selly.
"Hei, ngapain kamu disini?"
"Aku disuruh bos buat nganter barang kesini. Kan sekaliyan jalan pulang. Eh, tahunya sampai sini udah habis jam kantor. Sekaliyan aja nungguin kamu buat pulang bareng." Jelas Selly.
"Owh begitu. Ya udah yok pulang." Kiara menggandeng tangan Selly.
"Laper gak?" Tanya Selly saat keduanya sudah di atas motor.
"Lapar sih. Kenapa?"
" Jajan dulu yuk."
"Jangan deh. Makan dirumah aja. Tadi pagi sempat buat makanan. Nanti tinggal diangetin aja."
"Oke deh. Ntar bagi ya. Ibu pasti belum pulang kalau jam segini. Pasti dirumah nggak ada makanan."
"Sipplah. Kuy jalan neng." Ucap Kiara sambil menepuk pundak Selly. Karena sedari tadi tidak jalan juga motornya, malah mengobrol.
"Iya."
....
Braakk..
Feril terkejut mendengar pintu kamarnya yang dibuka dengan kasar. Melihat adiknya berjalan lesu ke arahnya.
"Kak." Panggil Exa sambil berbaring disampingnya.
"Hem." Feril kembali ke posisinya semula.
"Aku sudah menemukannya." Exa ikut menatap langit langit kamar itu.
"Gadis di sungai itu?" Tebak Feril karena Exa selalu bercerita jika selalu mencari gadis yang menyelamatkan hidupnya itu.
"Hem, iya. Aku benar mencintainya kak. Menurut kakak, jika aku menyatakan cintaku, akankah dia menerimaku?"
"Entahlah, kakak kan juga tidak tahu bagaimana perasaannya. Tapi coba saja."
"Emm, baiklah. Aku akan mengajaknya bertemu lagi. Lalu bagaimana hubunganmu dengan Natasya kak?"
"Baik. Oh iya. Apa menurutmu ada seseorang yang bisa mencintai orang lain lagi padahal dihatinya sudah ada yang dicintai?"
"Kenapa? Apa kakak mencoba untuk berselingkuh?" Kini tatapan Exa beralih ke kakaknya itu.
"Jangan berasumsi. Aku kan hanya bertanya." Feril memukul kepala Exa pelan.
__ADS_1
"Aku hanya khawatir kakak akan menyakiti perasaan Natasya. Natasya gadis yang baik. Lebih baik mengakhiri yang dahulu, barulah memulai kembali."
"Iya kakak tahu."
"Ya sudah, aku kembali ke kamarku." Exa beranjak dari ranjang Feril.
"Ingat pesanku kak." Exa kembali memperingati Feril saat sudah berada di ambang pintu.
...
"Apa saja jadwalku hari ini?" Tanya Feril. Kini di hadapannya Kiara berdiri sambil membaca di ponselnya.
"Sampai siang ini tidak ada jadwal meeting. Tetapi nanti sore jam 3 ada calon klien baru yang meminta dijadwalkan untuk bertemu dengan tuan langsung untuk membicarakan kelanjutan kerja sama dengan pihaknya."
"Baiklah. Setujui itu. Dan minta agar datang ke kantor ini saja. Saya sedang tak ingin berpergian."
"Baik pak. Ada lagi yang bisa saya bantu.?"
"Hem, kemarilah." Feril menggerakan tangannya isyarat agar Kiara mendekat. Kiara tanpa rasa curiga langsung mendekat, dia berdiri di samping Feril.
Dengan sekali tarikan, Kiara jatuh terduduk di pangkuan Feril. Matanya terpaku akan tatapan Feril. Sesaat setelah tersadar, Kiara akan bangkit. Namun tubuhnya ditahan oleh Feril.
"Lepaskan saya pak. Ini tidak pantas." Kiara mengalihkan pandangannya dan masih berusaha untuk bangkit.
"Anggap aku sebagai lelaki, bukan atasan kamu. Tatap aku." Feril memegang dagu Kiara.
"Maaf jika sikapku kemarin keterlaluan. Tidak seharusnya aku mengatur hidupmu. Ya kamu benar kita tidak dalam hububgan yang bisa saling mencampuri urusan masing masing. Tetapi.." Feril menjeda kalimatnya. Menatap dalam mata Kiara.
"Aku mencintaimu. Aku tahu pasti ini terlalu cepat untukmu. Tapi aku tak dapat lagi maenahan perasaan ini. Apa kamu mau jadi kekasihku?"
Kiara tentu saja syok. Permintaan maaf yang tampak tulus dari Feril meluluhkan hatinya. Tapi dia kembali berfikir dengan permintaan untuk menjadi kekasih bosnya itu.
"Bukankah tidak boleh ada hubungan asmara dengan rekan kerja di kantor?" Tanya Kiara karena seingatnya ada peraturan seperti itu.
"Apa itu yang kamu takutkan? Jadi jika tidak ada peraturan itu, kamu akan menerimaku jadi kekasihmu?"
"Ehh.. bukan seperti itu maksudku." Kiara jadi bingung sendiri. Bukannya ingin menolak, tetapi Kiara juga merasa kalau dia hanya menyukai bosnya itu belum ada perasaan cinta.
"Lalu?"
"Seperti yang aku ucapkan kemarin. Aku hanya menyukaimu, bukan berarti aku mencintaimu. Tidak mungkin aku menerima cintamu yang aku tidak cinta. Maaf aku tidak bisa."
"Baiklah, kali ini aku lepaskan. Tapi aku ralat kata katamu. Kamu menyukaiku dan belum mencintaiku. Dan segera akan mencintaiku." Feril melepaskan pelukannya pada pinggang Kiara.
Kiara langsung saja berdiri.
"Kembalilah bekerja." Perintah Feril.
"Baik pak saya permisi."
Kiara kembali ke mejanya.
__ADS_1
"Huhh. Kenapa harus seperti ini. Belum mencintainya dan segera akan mencintainya. Apa yang akan dia lakukan." Gumam Kiara.