Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 12


__ADS_3

Hari ini pekerjaan Kiara sungguh melelahkan. Banyak sekali berkas berkas baru dari perusahaan yang mengajukan kerja sama.


Tak terasa sudah memasuki jam makan siang, Kiara hingga lupa waktu. Dirinya masih disibukan dengan pekerjaannya.


"Nona Kiara." Panggil seseorang.


"Ah iya mbak, ada apa?" Kiara melihat resepsionis kantornya berdiri di depan mejanya.


"Ini, makan siang nona." Resepsionis itu menyerahkan bungkusan yang dipegangnya dari tadi.


"Eh tapi saya tidak memesan makanan." Tolak Kiara, karena memang dia tak memesannya. Apalagi dilihat dari tasnya tertulis nama restoran yang cukup terkenal.


"Ini dari Tuan Feril. Saya permisi." Jawabnya.


"Tapi ini.." Kiara hendak menolaknya lagi tapi si resepsionis itu sudah pergi begitu saja.


Kiara lalu membuka bungkusan itu.


"Wah isinya banyak, tidak bisa aku menghabiskan semua sendiri. Aha..aku punya ide." Kiara memastikan bahwa Feril pasti sudah tahu kalau makanan itu sudah diterimanya.


Kiara lalu membawa makanan itu ke ruangan Gani.


"Mas Gani."


"Ada apa Ki?"


"Aku ada makanan banyak nih. Bantu aku menghabiskannya." Ucap Kiara sambil menunjukan makanan yang dibawanya.


Gani melihat jam tangannya lalu tersenyum lebar.


"Baiklah, ayo duduk kita habiskan makanannya." Gani beranjak dari kursi kerjanya dan kemudian duduk di sofa. Kiara segera menyusulnya.


Gani dan Kiara memakan habis makanan itu, sambil Gani bercerita tentang istrinya yang sangat dicintainya itu. Kali ini Gani tak tahu kalau persetujuannya makan bersama Kiara akan mendatangkan masalah baginya.


Tatapan tajam seseorang dari celah pintu seperti siap ingin menerkamnya dan menelannya hidup hidup. Siapa lagi kalau bukan Feril orangnya. Setelah mengetahui dari resepsionis jika makanannya sudah sampai Feril memberi tahukan untuk diberikan pada Kiara.


Menunggu Kiara masuk ke ruangannya untuk berterima kasih, tetapi yang ditunggu tak datang juga. Padahal Feril berharap bisa makan bersama, karena yang dipesannya tadi cukup banyak untuk dimakan berdua.


Feril mencari Kiara ke mejanya namun si empunya tidak ada. Namun lamat lamat Feril mendengar suara Kiara, dan itu berasal dari dalam ruangan Gani. Karena pintu yang tak tertutup rapat jadi Feril bisa mengintipnya.


Rahangnya mengeras, melihat makanan yang seharusnya dia harapkan bisa dimakan bersama dengan Kiara malah Kiara memakannya bersama Gani.


"Gani, awas kau. Aku akan membalasmu. Seenaknya saja kau memakan makanan yang aku pesan untuk Kiaku." Feril lalu kembali ke ruangannya.


Feril lalu segera menelfon Gani untuk segera ke ruangannya.


Kiara heran juga, padahal ini jam makan siang. Melihat Gani yang terburu buru pergi ke ruangan Feril setelah menerima telfon dari Feril tentunya.


Kiara lalu membereskan bekas makanan tadi. Lalu kembali ke mejanya.


Kiara melihat lagi Gani terburu buru keluar dari ruangan Feril lalu masuk ke lift, sambil menelfon seseorang.


"Apa terjadi sesuatu? Masa bodohlah, kalau memang mereka membutuhkan aku pasti akan bilang." Gumam Kiara.

__ADS_1


Feril mengerjai Gani, dengan memintanya mencarikan makanan kesukaan Feril untuk makan siang dalam waktu 15 menit harus sudah ada di mejanya.


....


"Ra, nanti aku jemput ya." Isi pesan Exa.


"Ada apa?" Balas Kiara.


"Aku ingin mengajakmu makan malam diluar." Jawab Exa.


"Em, baiklah."


"Oke, jam 7 aku akan sampai dirumahmu."


"Oke. See you."


Kiara membereskan meja kerjanya. Sudah jam 5, dia harus segera pulang. Karena sedang tak ingin bicara pada Feril maka Kiara hanya pamit kepada Gani.


"Mas, aku pulang dulu iya." Ucap Kiara sembari membuka pintu. Dilihatnya muka kusut Gani.


"Ya, hati hati." Jawab Gani dengan lesu. Gani juga mengharapkan segera pulang tapi bosnya yang sedang bad mood itu sepertinya memang sedang mengerjainya. Kalau dia melawan bisa bisa kata katanya tadi siang bisa jadi kenyataan.


"Pak, ini sudah saya periksa kemarin. Pak Feril sudah bisa tanda tangan." Keluh Gani, karena seharian kemarin dia sudah memeriksa setumpuk berkas itu. Dan sekarang dia harus mengulangnya lagi. Dasar bos gak ada akhlak, gerutu Gani dalam hati.


"Sekali lagi aku dengar kau mengeluh, gajimu aku potong separuh dan bonusmu bulan ini hangus." Tegas Feril. Langsung membuat Gani sulit untuk menelan salivanya.


Gani segera membawa tumpukan berkas itu ke ruangannya untuk kembali dia periksa. Kalau sampai gaji terpotong dan bonusnya hilang, dia bisa puasa lama karena uang belanja istrinya berkurang. Dan Gani tidak akan membiarkan itu terjadi, dia akan melakukan apapun agar adik kecilnya tidak berpuasa.


"Apapun demi kau adik kecilku." Gani menatap ke bagian bawah tubuhnya. Lalu mengepalkan kedua tangannya ke atas untuk menyemangati dirinya sendiri.


...


Kiara membeli 1 cup es krim rasa strawberry, tak sabar ingin menikmatinya. Kiara melihat ada bangku dekat dari tempatnya berdiri, dia lalu duduk disana dan menikmati es krimnya.


"Hai.. kita bertemu lagi." Sapa seorang lelaki yang berdiri di samping Kiara.


"Halo.. iya tidak menyangka kita akan bertemu lagi." Jawab Kiara dengan senyum yang merekah saat melihat lelaki itu.


"Boleh aku duduk?"


"Tentu boleh. Ini tempat umum kan."


"Bagaimana? Apa sudah mendapat pekerjaan yang kamu inginkan?"


"Sudah, setelah hari itu aku ada interview lagi dan lagi langsung diterima. Terima kasih atas bantuanmu waktu itu, tuan Marcel." Ucap Kiara dengan tulus.


"Kamu masih ingat namaku?" Marcel menunjuk dirinya sendiri.


Kiara tersenyum kecil. Bagaimana tidak ingat, Kiara bahkan sampai terbayang saat akan tidur hari itu.


"Tentu saja, anda orang baik. Tentu saja aku ingat."


"Jangan bicara terlalu formal padaku. Mulai sekarang kita berteman?" Marcel mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Ah, bolehkah. Dengan senang hati." Kiara menjabat tangan Marcel.


"Sudah hampir gelap, aku ingin pulang." Pamit Kiara.


"Ayo aku antar."


"Tidak usah. Rumahku dekat dari sini. Aku akan berjalan kaki dari sini."


"Kalau begitu, aku akan mengantarmu dengan berjalan kaki."


"Baiklah, terserah padamu."


Mereka terus berbincang sambil berjalan menyusuri trotoar. Tak lupa juga Marcel meminta nomor ponsel Kiara. Agar mudah menghubunginya.


"Kamu tinggal disini?" Marcel menatap rumah susun di hadapannya.


"Iya, apakah kamu malu punya teman seorang yang miskin?"


"Untuk apa aku malu. Selama temanku itu orang baik, aku tak mempermasalahkan masalah keuangannya." Jawab Marcel dengan yakin.


"Iya, aku percaya padamu. Kamu juga orang baik. Oke, aku masuk dulu." Kiara melambaikan tangannya, lalu berjalan masuk ke rusunnya.


Marcel terus menatap Kiara hingga tak tampak lagi di pandangannya. Mengingat senyum Kiara, Marcel seperti pernah melihatnya. Senyuman itu seperti tak asing baginya.


....


"Ra, aku sudah di depan. Apa aku naik saja?" Tanya Exa dalam sambungan telfon dengan Kiara.


"Tidak perlu, aku sudah siap. Aku akan kesana." Kiara langsung mematikan telfonnya.


"Ck, wanita ini. Aku belum jawab sudah dimatikan seenaknya." Gumam Exa lalu memasukan ponselnya ke saku jasnya.


"Hai.."


"Hai., Ayo masuk." Exa membukakan pintu mobil untuk Kiara.


"Terima kasih."


20 menit kemudian.


"Tempatnya bagus sekali. Tapi kenapa sepi ya." Gumam Kiara.


"Ayo duduk." Exa menarikan sebuah kursi untuk Kiara.


"Terima kasih."


Ternyata Exa juga sudah menyiapkan makanannya. Terhitung tak lama setelah dia duduk, pelayan langsung menyuguhkan makanannya.


Kiara moodnya semakin membaik, siang dia dibelikan makanan enak oleh Feril. Lalu sore tadi bertemu dengan Marcel kini dia ditraktir makan malam. Uhh, dia merasa hari ini hari keberuntungannya.


Selesai makan, Exa mengatur nafasnya. Ingin menyatakan cintanya, ternyata membuatnya sangat gugup.


"Ra, maukah kamu menjadi kekasihku?" Tanya Exa to the point.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2