Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 27


__ADS_3

"Oke, aku akan menunggu saat saat kita hanya berdua." Bisik Marcel dengan nada menggoda. Dan blush, pipi Kiara merona.


"Ara, ayah dan kerabat lainnya tidak bisa lama disini. Maaf, kami harus pergi sekarang."


"Eumm, iya. Terima kasih sudah menyempatkan waktu kalian." Masih ada sedikit ketakutan dalam hati Kiara.


"Baiklah, kami pamit. Jaga dirimu baik baik. Berbahagialah dengan suamimu. Mamamu pasti bahagia melihat dirimu bahagia." Ucap ayah tiri Kiara yang terlihat tulus.


"Nak Marcel. Aku serahkan hidup putriku padamu. Walau dia bukan putri kandungku. Tetapi hanya dialah satu satunya putri yang ku punya dan ku sayangi. Selalu buatlah dia bahagia." Pesan ayah tiri Kiara sambil menepuk bahu Marcel pelan.


Marcel hanya mengangguk saja.


"Ayah pergi." Ucapnya untuk yang terakhir kali sebelum benar benar meninggalkan acara pernikahan tersebut.


Kiara merasa ada yang aneh dengan sikap ayah tirinya. Benarkah dia berubah jadi baik sekarang. Kiara hanya memandangnya saja. Tak berniat untuk mengantarkan keluar. Tampak ayah tirinya juga berpamitan sebentar pada kedua orang tua Marcel.


.....


Acara masih berlangsung. Kiara diajak Marcel untuk berkeliling menemui para tamu. Disaat sedang asik berbincang ada rombongan tamu yang baru hadir. Sepertinya memang telat datang.


Kiara melihat ke arah mereka, tubuhnya langsung gemetar. Bagaimana bisa orang yamg selama ini dia hindari, sekarang muncul tiba tiba disini. Kiara belum siap bertemu mereka sekarang.


"Kak, aku sedikit lelah. Bolehkan aku istirahat dulu."


Marcel lalu mengalihkan pandangannya pada sang istri.


"Kamu sampai berkeringat dingin seperti ini." Marcel mengusap peluh yang ada di pelipis Kiara.


"Ya baiklah, aku antar ke kamar tamu dulu. Lebih dekat dari sini." Marcel menuntun Kiara pelan.


"Apa aku gendong saja?" Tanya Marcel khawatir, karena keringat masih terus saja keluar. Tangannya bahkan terasa dingin.


"Tidak perlu kak." Kiara mempercepat jalannya, sebelum Marcel nekad membuat mereka menjadi pusat perhatian para tamu.


Sesampainya di kamar tamu, Kiara langsung mendesah lega. Dirinya langsung saja merebahkan diri di ranjang.


"Aku panggilkan mama agar menelfon dokter. Sebentar ya."


"Tidak perlu kak. Aku tidak apa apa." Cegah Kiara.


"Tapi aku cemas sama keadaan kamu. Lihatlah keringat kamu terus keluar." Marcel mengusap kening dan pipi Kiara.


"Percayalah, aku tidak apa. Aku hanya kelelahan. Istirahat sebentar juga akan membaik." Ucap Kiara menenangkan.


"Baiklah. Istirahat saja. Aku akan menemanimu disini."


" Diluar masih banyak tamu kak.Tidak enak kalau kakak terus disini. Kak Gio keluar saja. Aku akan tidur. Jadi tidak apa kakak tinggal."

__ADS_1


"Yakin?"


Kiara mengangguk sebagai jawabannya.


"Tidurlah, aku akan keluar." Marcel mengusap puncak kepala Kiara dengan sayang.


Kiara segera saja memejamkan matanya dan mengatur nafasnya agar stabil. Agar Marcel yakin jika dia sudah tidur.


Marcel bangkit, lalu mencium kening Kiara. Setelahnya dia berjalan keluar perlahan. Mendengar suara pintu tertutup, Kiara membuka matanya. Nafasnya kembali tersengal, bahkan tangannya gemetar.


"Tuhan, kenapa bisa dia kesini. Walau ini sudah lama sekali. Tapi aku tetaplah takut. Aku takut dia menemukanku dan tahu jika aku hamil anaknya. Bagaimana ini. Sepertinya mereka saling mengenal." Kiara khawatir. Tadi dia melihat Feril juga Exa datang. Dan dua orang paruh baya, mungkin orang tuanya.


"Jika mereka datang kesini hari ini bisa jadi suatu hari mereka akan datang lagi. Kali ini aku bisa menghindar. Tapi lain kali." Gumam Kiara. Kiara meringkuk di ranjang.


Ceklek..pintu kamar terbuka. Kiara segera saja pura pura tidur lagi.


Sebuah tangan terasa mengusap keringatnya.


"Syukurlah tidak demam. Aku khawatir sekali saat Marcel bilang kalau kamu tidak enak badan tadi." Suara Lena yang terdengar. Kiara lega, ternyata yang datang ibu mertuanya. Senyum samar menghiasi wajahnya. Bahagia sekali mendapat perhatian dari ibu mertuanya. Yang sudah dia anggap seperti mamanya sendiri.


Suara pintu tertutup kembali terdengar. Sekarang Kiara memilih benar benar istirahat. Berharap semoga dia bisa mengatasi ketakutannya.


"Maaf tidak bisa mengenalkan istriku. Dia sedikit tidak enak badan."


"Tidak apa kak. Mungkin dia kelelahan." Jawab Exa.


"Kev, ternyata kamu duluan yang punya menantu." Sekarang Hendra yang menyahut.


"Iya mas Kevin. Kami sebenarnya juga sudah tidak sabar menimang cucu. Tapi kelihatannya anak anak masih belum mau menikah." Cicit mami Farah mamanya Feril.


"Maa." Tegur Feril pelan. Dia sedang tak ingin membahas hubungannya dengan Natasya sekarang. Ini bukan acaranya.


"Ah baiklah. Setidaknya kamu sudah punya kekasih. Sampai kapan aku harus mendengar celotehan teman mami kalau putra bungsu mami punya orientasi **** yang menyimpang karena tak pernah terlihat menggandeng seorang wanita." Keluh mami Farah lagi.


"Tuh kan ujung ujungnya aku juga yang kena." Gerutu Exa pelan.


Mereka lalu tertawa bersama.


"Makanya, kamu segeralah punya kekasih." Marcel ikut menimpali.


"Kak, aku hampir saja mendapatkan kekasih. Tapi ya mungkin kami tidak jodoh."


"Kamu di tolak." Tebak Marcel.


Exa tersenyum kecut.


Marcel tergelak mendapati tebakannya benar.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan menantumu Len?" Tanya Hendra ketika melihat Lena mendekat.


"Dia hanya kelelahan saja. Sekarang sedang tidur. Maklumi saja, pernikahan yang mendadak membuatnya sibuk dan agak sedikit mengganggu kesehatannya beberapa hari ini." Terang Lena.


Marcel menarik nafas lega. Jika mamanya sudah memastikan jika Kiara baik baik saja maka, dia pastilah benar.


"Syukurlah...Atau mungkinkah kita akan segera mendapat kabar baik??" Mami Farah berkata ambigu.


"Entahlah, aku lihat putraku yang tak pernah dekat dengan wanita. Apa mungkin dia bisa mencicil dulu sebelum mereka menikah?" Ucap Lena sambil menatap Marcel seakan meremehkan kemampuan putranya.


"Ma,.. jangan menghinaku." Kesal Marcel.


"Siapa yang menghina. Kau memang tak pernah dekat dengan wanita lain kan sebelumnya. Makanya aku meragukan kemampuanmu."


"Aku bahkan sudah beberapa kali melakukannya, jadi jangan meragukan aku." Ucap Marcel tanpa filter karena kesal.


Semua yang mendengar ucapan Marcel tercengang. Tak sangka perdebatan dengan sang mama berhasil memancingnya berkata jujur.


Marcel memejamkan matanya. Menyadari apa yang barusan dia ucapkan. Wajahnya memerah karena malu.


"Aku permisi. Aku akan menemani istriku di kamar saja. Siapa tahu dia butuh sesuatu." Ucap Marcel untuk kabur dari pertanyaan pertanyaan yang akan menyerbunya setelah mereka benar benar sadar akan ucapannya tadi.


"Len, aku tidak salah dengar tadi. Benar kah putramu sudah mencicil cucu untuk kalian." Mami Farah menyenggol lengan Lena yang bengong.


"Ehh.." Lena tak tahu harus menjawab apa. Kiara hamil sih benar tapi itu jelas bukan anak dari Marcel. Lalu dia harus mengatakan apa.


"Ahh, pii.. Suruh Exa untuk mencari perempuan baik dan membuatkan kita cucu." Pinta mami Farah seperti anak kecil yang merengek minta mainan.


Exa yang disebut namanya hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya.


"Mi, jangan ngaco deh." Kini Feril yang kesal karena maminya sudah benar benar keterlaluan.


"Kalau Exa tidak mau ya sudah. Kamu saja yang segera menikah dengan Natasya." Ketus mami Farah.


"Hei, sudah sudah..ini malah menjalar kemana mana." Kevin mencoba menengahi.


"Iya nih. Ayo kita makan saja. Sudah kami sediakan banyak makanan." Lanjut Lena.


"Makasih tante." Exa melenggang lebih dulu ke tempat makanan, disusul oleh Feril.


"Kak, aku tidak lihat Tasya dari tadi. Dia tidak pulang di hari pernikahan kakaknya?" Tanya Exa saat tahu Feril ada di dekatnya.


"Dia masih ada ujian kemarin. Mungkin hari ini baru berangkat. Kemungkinan besok dia baru sampai." Jelas Feril sembari mengambil beberapa makanan ke piringnya.


"Aku penasaran dengan istri kak Marcel. Tidak ada foto prewed, jadi tak tahu bagaimana rupanya."


"Namanya juga mendadak. Mungkin yang tidak sengaja dia ungkap tadi sudah membuahkan hasil. Makanya dia cepat cepat menikah." Ucap Feril asal.

__ADS_1


Exa mengangguk saja. Mengiyakan ucapan kakaknya, mungkin saja benar begitu.


to be continue


__ADS_2