
"Iya, maaf anda siapa ya? Kok tahu nama saya?" Tanya Kiara sopan.
"Ara, aku Exa." Jawab pria tampan berpenampilan dokter tersebut.
"Exa?" Kiara sungguh tak mengingat pernah mengenal nama Exa.
"Kamu lupa sama aku? Exa, lima tahun lalu di hutan kamu nyelamatin hidupku waktu terseret arus sungai." Jelas Exa.
Kiara mengingat kejadian itu. Membuat wajahnya memerah, karena malu.
"Ah iya, aku sudah ingat." Kiara tersenyum canggung.
Exa senang Kiara sudah mengingatnya.
"Aku selalu mencarimu, tapi aku tak tahu apapun selain namamu. Aku telah berhutang budi padamu."
"Tidak masalah. Jangan jadikan itu sebuah hutang. Aku ikhlas menolongmu." Ucap Kiara tulus.
"Ah btw kamu disini sedang apa? Ada keluargamu yang sakit?" Tanya Exa.
"Tidak, tadi aku dalam perjalanan pulang menggunakan taksi online. Dan tidak sengaja menabrak seseorang. Dan kami membawanya kesini. Sekarang sedang di tangani di UGD." Jelas Kiara.
"Oh begitu. Sebentar." Exa beranjak ke depan petugas rumah sakit yang mengurus administrasi. Entah apa yang dibicarakannya Kiara tak mendengarnya sama sekali.
"Kamu sudah makan siang?" Tanya Exa saat sudah mendekati Kiara lagi.
"Belum sempat."
"Ayo, kita makan siang bersama sambil mengobrol." Ajak Exa.
"Emm, lalu bagaimana dengan sopir taksi tadi. Aku meninggalkannya di depan UGD tadi."
"Ya sudah, kita kesana saja dulu."
Kiara mengangguk.
Lalu Exa dan Kiara ke UGD.
"Pak." Panggil Kiara.
"Iya non. Berapa biayanya non? Nanti saya ganti." Ucap pria pruh baya itu dengan rasa bersalah.
"Tidak pak. Saya belum bayar apapun. Tadi saya hanya diminta mengisi identitas saja."
"Bapak tenang saja. Biaya pengobatan disini gratis bagi korban kecelakaan. Jadi bapak nggak perlu khawatir." Ucap Exa menimpali.
"Benarkah itu dok? Syukur alhamdulillah."
"Iya benar." Jawab Exa.
"Ayo bapak ikut makan siang bersama kami." Ajak Exa.
"Tidak perlu dokter. Saya akan menunggu disini sampai dia siuman. Saya ingin meminta maaf." Tolaknya.
"Begitu, ya sudah kami tinggal dulu."
"Pak, saya tinggal sebentar iya."
"Iya non, maaf merepotkan non Kiara. Non Kiara pulang saja setelah makan siang."
"Benar? Bapak tidak apa sendirian?"
"Nggak papa non. Kan tadi pak dokter bilang kalau pengobatan gratis. Jadi saya nggak khawatir lagi." Ucapnya lega.
"Ya sudah, saya pamit sekalian ya pak."
"Iya non."
Exa dan Kiara lalu pergi. Keduanya makan siang di kantin rumah sakit.
__ADS_1
"Ara, kamu nanti aku antar pulang ya." Tawar Exa.
"Tidak usah. Nanti merepotkan kamu. Bukannya kamu harus bekerja?"
"Tidak, ini rumah sakitku. Aku dokter spesialis bedah. Dan aku sedang tak ada janji atau operasi yang harus dilakukan sampai sore nanti. Jadi aku free setelah makan siang."
"Emm baiklah jika tak membuatmu repot."
"Tentu saja tidak." Ucap Exa senang.
Keduanya melanjutkan makan. Setelahnya Exa benar mengantar Kiara pulang. Exa juga baru tahu jika Kiara baru tinggal di kota ini beberapa hari.
"Terima kasih." Kata Kiara setelah turun dari mobil Exa.
"Apa aku boleh mampir?"
"Kau yakin?" Kiara tak yakin Exa benar ingin masuk.
"Yakin, apa boleh?" Exa benar benar tak ingin menyia nyiakan waktunya. Setelah tahu alamatnya, Exa ingin tahu benar dimana tempat tinggal Kiara. Karena ini di rusun. Banyak sekali orang yang tinggal di dalamnya.
"Emm, baiklah. Ayo."
Exa semangat sekali turun dari mobil. Karena masih siang tentu saja rusun terbilang sepi. Hanya ada beberapa anak anak juga ibu ibu yang tidak bekerja.
Sampai di lantai tempat tinggal Kiara.
Kiara mempersilahkan Exa masuk ke rumahnya.
"Silakan duduk." Kiara menuju kamarnya dulu untuk meletakan tasnya.
"Aku buatkan minum ya. Mau teh atau kopi?" Tanya Kiara setelah keluar kamar.
"Kopi saja." Jawab Exa.
Kiara langsung ke dapur kecilnya. Meracik kopi untuk Exa.
Kiara membawa secangkir kopi buatannya ke ruang tamunya.
Setelah cukup lama, Exa kemudian pamit untuk pulang. Kiara mengantarnya sampai ke parkiran.
Exa pulang dengan hati bahagia. Setelah lima tahun akhirnya dia bisa bertemu dengan dewi penolongnya. Perasaannya tambah besar sekarang, Exa akan terus mendekati Kiara untuk mendapatkan hatinya.
....
"Gimama Ki hari ini?" Tanya Selly.
"Berhasil, aku mulai besok akan bekerja di perusahaan Kusuma yang kata kamu bagus itu."
"Wah selamat ya. Nggak dirayain nih??"
"Nanti kalau aku sudah terima gaji pertama aku. Aku traktir dimanapun kamu mau makan."
"Janji ya?"
"Iya janji."
"Bos kamu gimana? Udah kenalan belum? Ganteng tidak?"
"Sudah kenalan, malah ikut interview langsung loh. Awalnya ku kira bukan calon atasanku. Untung pas tegur aku nggak aku cuekin. Kalau gantengnya.." Kiara menggantung kalimatnya. Sambil membayangkan wajah bosnya Feril.
"Lumayan sih." Lanjut Kiara.
"Ihh, nggak ganteng banget gitu?"
"Nggak." Jawab Kiara santai.
"Namanya siapa?"
"Feril."
__ADS_1
"Aja?"
"Ya iya. Aku nggak tahu sih nama panjangnya siapa. Tadi dia kenalan, cuma Feril aja."
"Ooh, udah malam nih, aku pulang ya."
"Besok berangkat bareng lagi?" Tanya Selly sebelum dia benar keluar dari kamar Kiara.
"Emm, terserah kamu aja sih. Hehe. Kalau kamu nggak keberatan, iya deh. Bareng lagi." Kiara mengembangkan senyumnya.
"Ok. Aku pulang. Jangan lupa kunci pintu!!" Seru Selly.
"Iya."
Kiara bangun dari ranjangnya. Melihat suasana kantor kemarin . Penampilannya harus dia persiapkan. Kiara mengambil kopernya yang belum sempat dia bongkar. Memilih baju bajunya yang kiranya pas dan bagus dipakai untuk bekerja.
Setelah kebutuhannya untuk besok sudah siap, Kiara segera mengunci rumahnya dan pergi beristirahat.
....
Kiara bangun, karena masih terlalu pagi dia menyempatkan diri joging di area sekitar rusun. Sekaliyan mencari sarapan.
Setelah sarapan, Kiara bergegas pulang karena dia harus bekerja. Tak mau telat di hari pertamanya, Kiara segera mandi dan bersiap.
Dengan rok A line selutut berwarna biru dia padukan dengan kemeja putih. Lalu dia pakai juga blazer yang berwarna senada dengan roknya. Dan sepasang high heels warna putih bening. Make up tipis, biar kelihatan natural. Rambutnya dia jedai sebagian di bagian atas.
Sekali lagi memastikan penampilannya lewat cermin besar di lemarinya. Putar ke kanan juga ke kiri.
"Perfect." Puji Kiara pada dirinya sendiri.
Kiara mengambil tasnya dan segera menghampiri Selly untuk berangkat bersama alias nebeng.
Selly sempat terperangah melihat penampilan Kiara yang berbeda dari hari hari sebelumnya. Namun iya memang Selly akui, Kiara memang cantik. Bahkan dengan sedikit berdandan saja membuatnya tambah cantik. Kemarin kemarin Kiara tak pernah berdandan.
"Ki, kamu udah cantik lo. Yakin mau naik motor bareng aku? Nanti berantakan penampilan kamu." Selly memastikan.
"Iya nggak apa apa. Penampilan gini doang. Berantakannya sampe segimana sih. Nanti bisa aku benerin sampe kantor." Ucap Kiara meyakinkan Selly.
"Ok." Selly menyerahkan helmnya.
Selly mengantar Kiara hanya sampai jalan di depan gedung kantor Kiara. Karena Selly kemarin disuruh datang pagi oleh bosnya. Jadi dia buru buru.
"Makasih ya Sell. Hati hati.!!" Seru Kiara karna Selly langsung melajukan motornya setelah Kiara menyerahkan helm yang tadi dipakainya.
Kiara masih di pinggir jalan, mengambil cermin kecil di dalam tasnya. Kiara membenahi rambutnya yang agak berantakan. Setelah memastikan penampilannya sudah rapi, Kiara masuk ke pelataran gedung kantor barunya itu.
Kiara masuk loby, ingin menyapa resepsionis yang kemarin menyemangatinya. Ah rupanya masih pagi. Resepsionis itu belum datang. Kiara langsung naik lift untuk menuju ke ruangannya.
Rupanya sama, dia yang pertama datang ke kantor di lantai ini. Kiara masih belum tahu apa yang harus dikerjakan. Di mejanya pun masih kosong. Kiara memilih untuk membuat teh hangat di pantry. Di pantry khusus yang ada di lantai ini. Jadi Kiara tak perlu jauh jauh turun ke lantai bawah.
Sepuluh menit menunggu sambil berselancar di dunia maya menggunakan ponselnya, suara pintu lift yang akan terbuka menyadarkan Kiara kalau ada yang datang. Kiara segera menyimpan ponselnya ke dalam tas.
Kiara masih menyesap tehnya yang tinggal sedikit sambil menatap pintu lift yang akan terbuka. Ternyata yang datang adalah Gani.
Kiara segera bangkit dari kursinya lalu menyapa Gani.
"Selamat pagi pak Gani."
"Selamat pagi." Balas Gani. Gani menatap gelas yang tersisa sedikit teh milik Kiara.
"Kamu terlalu pagi datang. Ini saja masih belum jam kantor. Masih sepuluh menit lagi." Kata Gani.
"Tidak apa pak, lebih baik datang lebih awal kan daripada terlambat." Jawab Kiara sambil tersenyum.
Gani lalu masuk ke ruangannya. Memang hanya sekertaris yang tak memiliki ruangan khusus. Karena salah satu tugasnya harus segera melihat siapa saja yang keluar dari lift. Memastikan yang datang berkepentingan atau tidak.
Tak lama kemudian Gani keluar dari ruangannya dengan setumpuk map di tangannya.
"Ini beberapa berkas kamu pelajari. Ini bahan meeting nanti sore. Kamu harus bisa segera menguasai materinya." Jelas Gani.
__ADS_1
"Baik pak." Kiara mengangguk patuh.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...