Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 29


__ADS_3

"Jika suatu hari kamu bertemu dengan ayah biologis anakku, dan kamu juga mengenalnya dengan baik. Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Kiara dengan takut.


Marcel mengernyit, mencoba memahami maksud pertanyaan dan ucapan Kiara. Marcel meraih kedua tangan Kiara dan mengusapnya lembut.


"Asalkan dia tidak merebutmu dariku, aku tidak akan mempermasalahkannya. Kamu istriku sekarang, dan aku tidak akan mengijinkanmu juga anakmu untuk pergi dariku. Karena mulai hari ini, akulah ayahnya." Jawab Marcel yakin. Dalam benaknya, mungkinkah lelaki itu adalah salah satu rekan bisnisnya. Jikalau benar maka dia harus menyiapkan diri bila tiba saatnya mereka bertemu.


Untuk saat ini yang ada dalam pikirannya hanyalah mempertahankan Kiara disisinya.


"Terima kasih." Ucap Kiara, matanya sampai berkaca kaca mendengar jawaban Marcel.


Marcel lalu merengkuh Kiara ke dalam pelukannya. Menyalurkan rasa cintanya yang sungguh besar untuk wanita yang baru sehari menyandang status istri seorang Marcel.


....


Malam menjelang, Kiara dan Marcel berbaring bersama di sofa panjang yang terdapat di balkon kamarnya.


"Aku pernah memimpikan ini jika punya suami, menghabiskan waktu malam bersama melihat bintang."


"Jadi, impianmu sudah terwujud sekarang?"


Kiara mengangguk dan binar matanya yang bahagia terpancar. Walau tak terlihat oleh suaminya, dia tetap tersenyum. Posisinya yang tidur di dada Marcel, membuatnya nyaman.


"Lalu, apalagi yang ingin kamu lakukan?"


"Apa boleh aku meminta? Aku merasa kalau kamu sudah terlalu banyak memberiku. Dan aku masih saja memintanya, rasanya aku begitu tak tahu diri." Batin Kiara.


"Asalkan bersamamu dan kita bahagia. Aku sudah merasa cukup." Jawaban yang tepat, pikir Kiara.


"Jangan pernah ragu untuk mengatakan keinginanmu padaku. Karena kebahagiaanku sekarang bergantung padamu. Jika kamu bahagia, aku akan bahagia juga."


"Dan aku akan bahagia jika kamu bahagia. Jadi, aku tak mau jika kamu hanya membuatku bahagia. Sedangkan kebahagiaan kamu, kamu abaikan. Janji?" Kiara mengacungkan jari kelingkingnya.


Marcel tersenyum, walaupun dia tahu di hati Kiara belum mencintainya. Namun Kiara sudah berusaha sebaik mungkin untuk bisa mencintainya.


Marcel menautkan jari kelingkingnya.


"Janji. Kita akan bahagia bersama. Aku berdoa kepada Tuhan. Kita akan bersama sampai menua dan hanya maut yang memisahkan."


"Aku juga berharap yang sama." Sahut Kiara.


"Dan semoga, hatiku hanya akan terisi dirimu dan anak anak kita kelak." Tambah Kiara dalam hati.


Karena kenyamanan, akhirnya Kiara tertidur masih dengan posisi yang sama. Malam yang semakin larut, membuat udara juga semakin dingin. Marcel memindahkan tangannya perlahan agar bisa bangun. Dia tak ingin istrinya sakit, perlahan dia mengangkat tubuh Kiara dan memindahkannya ke ranjang.


Setelah memastikan pintu balkon terkunci rapat, Marcel ingin segera menyusul Kiara ke alam mimpi. Tidur bersama dibawah selimut yang sama. Marcel merapatkan tubuhnya pada Kiara. Memeluknya erat. Kiara juga memposisikan dirinya dengan baik. Tangannya ikut melingkar di pinggang Marcel. Memeluk erat juga untuk mencari kehangatan.


.....


"Selamat pagi bi." Sapa Kiara pada seorang pelayan di dapur.

__ADS_1


"Eh, nyonya. Selamat pagi. Ada yang anda butuhkan?"


"Emm, tidak ada. Bolehkah aku memasak?"


"Tidak perlu nyonya. Nanti saya bisa dimarahi nyonya besar kalau membiarkan nyonya melakukan pekerjaan saya." Ucap bibi dengan khawatir.


"Aku ingin memasak sarapan untuk suamiku sendiri. Kenapa tidak boleh? Aku ingin melayaninya dengan baik. Aku hanya ingin dia memakan masakanku." Ucap Kiara memasang wajah sedih.


"Baiklah nyonya, tetapi biarkan saya membantu." Akhirnya bibi menyerah, melihat wajah sedih nyonya barunya dia jadi tak tega.


Kiara langsung tersenyum sumringah. Dan mengangguk setuju.


Kiara memulai acara memasaknya. Menyiapkan segala bahan untuk masakannya. Gerakan Kiara sangat cekatan, untunglah sewaktu dulu sang mama masih ada, dia sering diajarkan memasak. Dan sekarang kemampuannya ternyata berguna.


Berselang 20 menit, Kiara mengusap peluhnya. Berhadapan dengan kompor membuatnya sedikit berkeringat. Menunggu masakannya matang, Kiara masih setia berdiri di dekat kompor.


Tiba tiba saja sepasang tangan melingkar di pinggangnya.


"Sudah aku bilang kan, kamu tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah. Aku tidak mau kamu kelelahan dan mengganggu kesehatanmu juga ....mmmm"


Kiara langsung berbalik dan membungkam bibir Marcel dengan jarinya, sebelum Marcel berhasil meneruskan kalimatnya yang Kiara tahu apa lanjutannya. Kiara tak ingin kehamilannya diketahui oleh orang lain.


"Bi, minta tolong ya. Masakan aku diselesaikan."


"Baik nyonya."


"Kak, jangan katakan apapun perihal kehamilanku. Nanti aku bisa malu." Tegur Kiara pelan.


"Kenapa harus malu. Kamu hamil pun, sekarang ada aku kan suami kamu. Dan lagi pula, yang kamu kandung adalah anakku." Tegas Marcel.


"Tapi kan ..."


"Sttt.. sudah. Yang menjadi masalah saat ini bukan itu. Kamu meninggalkan suamimu yang masih tidur, hanya untuk mengerjakan pekerjaan yang bisa dilakukan pelayan di rumah ini. Kamu tidak tahu, kalau aku mencarimu dari tadi. Aku pikir kamu pergi meninggalkanku."


"Isshh. Ngomong apa sih. Aku kan hanya memasak, tidak kemana mana." Keluh Kiara.


"Tapi kamu ijin nggak sama suami?"


Kiara tak bisa menjawab, memang sih tadi tidak ijin. Kiara lalu menunduk, merasa bersalah.


"Iya, aku minta maaf karena tidak ijin dulu." Ucap Kiara penuh sesal, tapi kemudian dia mendongak untuk menatap suaminya. Suaminya itu tampak menahan tawa.


"Ihh..kak Gio." Sadar Kiara tengah dikerjai. Kiara mencubit pelan perut Marcel, sedikit meluapkan kekesalannya.


"Aww, hahaha.. iya sayang. Ya sudah, ayo kembali ke kamar."


Kiara kembali merona pipinya saat mendengar panggilan Marcel kepadanya. Apalagi ajakan untuk kembali ke kamar. Namun dia tetap ikut saja ketika tangannya ditarik oleh Marcel. Dan keduanya kembali ke kamar.


Seseorang yang tadi bersembunyi di balik tembok, kini menampilkan wajahnya.

__ADS_1


"Nyonya bukan hanya ramah. Tetapi dia juga benar benar baik. Biasanya kalau sudah menjadi istri orang kaya, wanita akan menjadi sombong. Apalagi dia sudah hamil. Tapi nyatanya nyonya berbeda, dia malah malu jika diketahui hamil. Padahal dia sudah bersuami sekarang, bisa saja dia bertingkah sok berkuasa di rumah ini." Ternyata Uli tadi menguping pembicaraan yuan dan nyonya barunya. Awalnya tak berniat untuk menguping tapi saat dia ingin lewat tadi mendengar Kiara yang tampak berbisik bisik bicaranya, Uli jadi ingin tahu.


"Ayo mandi." Ucap Marcel setelah mengunci pintu kamarnya.


"Hah." Kiara tak salah dengar kan.


"Ayo kita mandi." Ulang Marcel.


Kiara memang tak salah mendengar. Tapi apa yang dipikirkan, mungkinkah Marcel mengajaknya mandi bersama.


"Mandilah dulu kak. Aku siapkan bajunya." Kiara menepis pikiran kotornya.


"Aku bilang kan kita. Jadi kita mandi bersama." Marcel langsung menarik Kiara tanpa persetujuan dulu. Membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Di awal memang Kiara menyangka akan lebih dari pada mandi. Tapi nyatanya, Marcel walaupun ingin dia berusaha menahannya. Keduanya benar benar hanya mandi, dengan saling membantu menggosok tubuh.


Setelah selesai mandi dan bersiap, keduanya keluar bersama untuk sarapan.


"Pagi ma, pa." Sapa Marcel dan Kiara lebih dulu, saat melihat keduanya sudah duduk di ruang makan.


"Pagi sayang." Jawab Lena.


"Pagi." Jawab Kevin.


"Kia, apa benar tadi kamu yang memasak sarapan?" Tanya Lena.


"Iya ma. Ada apa?" Kiara takut, kalau mertuanya marah karena telah memasuki dapurnya tanpa ijin.


"Mama senang kamu pintar memasak apalagi makanan kamu juga enak. Tapi untuk seterusnya, kamu tidak perlu memasak lagi. Ok!!"


Kiara merenungkan perkataan mertuanya. Masakannya enak tapi kenapa dilarang untuk memasak lagi. Pasti mertuanya itu tidak suka masakannya.


"Ma." Tegur Marcel pelan. Karena melihat Kiara yang langsung tertunduk sedih.


"Maksud mama melarang kamu masak, bukan karena tidak suka. Tapi untuk kesehatan kamu, mama tidak ingin kamu kelelahan sayang." Lena mengerti maksud Marcel, makanya dia menjelaskan.


Kiara mendongak, menatap Lena. Sang ibu mertua memang perhatian sekali padanya.


"Baik ma, tapi sesekali boleh ya ma?" Kiara memohon.


"Iya boleh, asal jangan terlalu sering. Nanti kalau kamu sudah melahirkan, kamu boleh masak kapanpun kamu mau. Tapi tetap harus utamakan kondisi kamu dulu." Jelas Lena.


"Iya ma."


"Ayolah kita mulai sarapannya." Ajak Kevin yang sebenarnya sudah tidak sabar mencicipi masakan menantunya itu.


Semuanya tersenyum, dan memulai sarapannya. Saat suapan pertamanya, Lena dan Kevin memuji rasa masakan Kiara yang lezat. Makanan sederhana, hanya berupa pancake dan lainnya tapi cukup membuat mereka menghabiskan hasil masakan Kiara.


Suasana hati Kiara pagi itu begitu baik. Dengan menerima perhatian dari semua orang dan pujian atas hasil masakannya.

__ADS_1


__ADS_2