Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 17


__ADS_3

Feril menghentikan mobilnya di depan Kiara. Lalu menurunkan kaca mobilnya.


"Ayo masuklah." Teriak Feril.


Kiara tak mengindahkannya, dia malah berpindah tempat.


Feril menghela nafasnya pelan, kembali mendekatkan mobilnya pada Kiara, lalu dia turun dari mobilnya.


"Silahkan naik tuan putri, sendiri atau saya bantu?" Feril menyeringai sambil membuka pintu untuk Kiara.


Kiara mendengar ada nada ancaman, segera saja masuk ke dalam mobil.


Feril tersenyum samar melihat Kiara telah duduk manis disampingnya.


Kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, Feril menepikan mobilnya. Dia melihat ada penjual es krim keliling.


"Mau es krim?" Tanya Feril sembari menunjuk penjual es krimnya.


"Boleh." Jawab Kiara singkat.


Feril dan Kiara menghampiri penjual es krim itu. Kebetulan juga ada bangku di dekat mereka. Jadilah Kiara dan Feril menikmati es krim itu sambil duduk bersama di bangku itu.


...


Kiara semakin bisa menerima perhatian Feril, mungkin juga hatinya telah luluh bahkan mulai jatuh cinta padanya. Entahlah Kiara hanya ingin menjalaninya mengikuti alurnya saja.


Hari ini dia pulang agak sedikit terlambat. Pekerjaannya harus dia selesaikan, karena besok akan digunakan meeting untuk pagi hari. Untung Gani ada untuk mengingatkanya.


Kiara pulang sendiri menggunakan ojek online. Tidak tahu menahu keberadaan bosnya yang biasanya selalu memaksanya mengantar pulang. Sejak jam makan siang, Feril tak kembali ke kantor.


Baru saja masuk ke rumah, ponsel Kiara berdering.


"Halo Xa, ada apa?"


"Em, baiklah. Tapi jangan mengenalkan aku sebagai pasanganmu ya. Kita teman. Ok?"


"Iya baiklah. Aku akan bersiap." Kiara menutup telfonnya.


Exa mengajaknya ke sebuah acara. Karena tak memilliki teman dekat, memilihnya untuk menemani.


Kiara bersyukur, walau saat itu dia menolak perasaan Exa, Exa masih mau berteman baik dengannya.


"Aku pakai baju yang mana ya." Kiara memilah beberapa dress yang tergantung di lemarinya.


"Ah yang ini saja, simpel dan cantik." Kiara memilih dress selutut warna kuning tanpa lengan dan juga dihiasi beberapa manik manik di bagian atas dadanya.


Pukul 7 malam tepat, Exa sudah sampai di depan rusun Kiara. Exa menunggu saja di mobil, sesuai permintaan Kiara. Exa bersandar di mobilnya sambil memainkan ponselnya.


"Ayo pergi, aku sudah siap." Kiara datang dengan senyum manisnya.


Exa terpana dengan penampilan Kiara yang menurutnya sangat cantik malam ini.

__ADS_1


"Kamu cantik." Puji Exa.


"Terima kasih. Jangan menatapku terus seperti itu." Tegur Kiara sedikit cemberut. Kiara tahu kalau perasaan Exa masih sama seperti dulu kepadanya. Dan Kiara merasa sedikit terganggu.


"Maaf, ayo." Exa membukakan pintu mobil untuk Kiara.


Dalam perjalanan suasana sedikit canggung. Exa terus mencuri pandang ke arah Kiara. Sedang Kiara tak tahu bagaimana bersikap.


"Kamu mau mengajakku ke acara apa?" Akhirnya Kiara mendapat ide mengobrol.


"Kejutan ulang tahun untuk saudaraku. Kekasihnya yang merencanakan ini. Calon iparku itu datang jauh jauh dari luar negeri untuk membuat acara ini." Jawab Exa dengan hati gembira.


"Kenapa tidak bilang kalau acara ulang tahun. Aku tak membawa hadiah apapun." Sesal Kiara.


"Tak usah difikirkan. Aku saja tidak memberi hadiah." Exa tersenyum kecil.


Tak lama, mereka sudah sampai di sebuah hotel. Exa langsung mengajak Kiara ke tempat acara.


"Wah, siapa ini yang datang bersamamu kak?" Seorang gadis cantik datang menghampiri keduanya.


"Temanku, kenalkan namanya Ara."


Kiara menjabat tangan gadis itu.


"Kiara."


"Natasya."


"Kak, benar hanya teman? Kalau lebih boleh lho." Natasya menggoda Exa.


"Tidak kami memang hanya berteman." Kiara yang menjawab untuk menegaskan.


"Kak Ara, tidak menyukai kak Exa?" Tanya Natasya heran. Kiara hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Natasya lalu berbisik dengan Exa.


"Kak, pesonamu sepertinya sudah luntur. Atau penglihatan kak Ara saja yang terganggu. Sampai sampai dia benar tidak menyukaimu." Exa melotot mendengarnya. Dengan segera merangkulkan tangannya ke leher Natasya.


"Berbulan bulan tidak ketemu, kamu masih sama saja ya. Selalu berhasil membuatku kesal. Jaga ucapanmu, nanti Ara dengar. Dia bisa marah padaku." Exa memperingatkan.


"Sepertinya aku tahu disini kak Ara lah yang menebar pesonanya." Natasya melepaskan diri sambil tersenyum mengejek.


"Kalian bicarakan apa sih? Kok bisik bisik gitu." Tanya Kiara penasaran.


"Tidak apa apa." Jawab Exa cepat.


"Bagaimana acaranya? Kapan dimulai?" Exa mengalihkan topik pembicaraan.


"Kakakku yang mengajak bertemu disini dengan alasan pekerjaan. Nanti dia akan memberi tahu jika dia sudah sampai disini."


Ponsel natasya bergetar ada sebuah pesan masuk. Kakaknya memberi tahu jika kekasihnya sudah memasuki loby hotel.

__ADS_1


"Kita harus bersiap, mereka sudah sampai." Teriak Natasya kepada semua orang.


Lampu di ruangan itu di buat agak temaram. Yang terang hanya di sekitar pintu masuk. Semuanya berkumpul di bagian ruangan yang gelap. Sedang Natasya sendiri berdiri di dekat pintu dengan membawa kue ulang tahun dengan lilin yang sudah dinyalakan.


Pintu terbuka.


Deg.


"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun." Lagu selamat ulang tahun dinyanyikan beramai ramai. Yang berulang tahun tampak bahagia mendapat pesta kejutan ulang tahun.


Natasya mendekati kekasihnya menyuruh sang kekasih untuk mengucap permintaan dalam hati sebelum meniup lilinnya. Natasya langsung meletakan kuenya dan memeluk sang kekasih.


Tak jauh berbeda, Kiara juga ikut terkejut. Namun bukan ikut bahagia, melainkan merasakan sakit di hatinya yang teramat dalam. Lagi dan lagi, dia merasa dipermainkan oleh perasaannya lagi. Tak pernah beruntung dalam urusan cinta.


Tak terasa lelehan air mata mengalir dipipinya. Ternyata ini adalah jawaban dari keraguan yang dilihat Kiara pada hari itu. Inilah yang menyebabkan Feril termenung setelah melewati malam bersamanya di kamar hotel itu.


"Feril sudah punya kekasih. Dan sepertinya hubungan keduanya baik baikk saja. Lalu apa aku?" Ucapnya dalam hati. Kiara terisak. Menutup mulutnya rapat rapat agar tak ada seorangpun yang menyadarinya tengah menangis. Untunglah tempatnya berdiri masih gelap.


Perlahan Kiara melangkah mundur, lalu berbalik. Mencari jalan keluar lainnya. Dia ingin segera pergi dari sini. Setelah beberapa saat akhirnya dia bisa keluar dari ruangan itu.


Pecah sudah tangisannya. Tak dapat lagi dia menahan isakannya.


Ingatannya berputar, mengingat kembali nasib hidupnya yang begitu buruk. Kehilangan keluarga, harta, juga harapannya tentang masa depannya. Kehilangan kesuciannya sebagai seorang gadis. Kemarin dia berharap Feril bersungguh sungguh akan bertanggung jawab. Meyakinkannya akan cintanya.


Tapi setelah melihat apa yang dilihatnya tadi. Harapan Kiara hancur seketika. Melihat Feril begitu bahagia bersama Natasya.


"Aku harus pergi dari sini secepatnya. Pergi dari kehidupan mereka. Aku tak ingin lagi berurusan lagi dengan mereka. Exa, ternyata dia adalah adik Feril. Aku juga harus menjauhinya." Masih dalam kekalutan hatinya. Kiara meneruskan langkahnya meninggalkan hotel itu. Air matanya terus berderai.


Langkahnya seketika terhenti. Seseorang menghadang jalannya.


"Kak.." Kiara menatap nanar orang yang berdiri di hadapannya.


"Kamu kenapa menangis?" Ternyata Marcel yang menghadangnya. Marcel menatapnya dengan iba.


Kiara tak tahu harus menjawab apa. Dia mencoba menghentikan tangisannya. Mencari alasan yang tepat. Tak mungkin jika dirinya mengatakan yang sebenarnya. Dia belum siap menceritakannya.


"Maaf kak, aku harus pergi." Kiara memilih untuk menghindar.


Namun tangannya ditahan oleh Marcel.


"Aku tak akan membiarkan kamu pergi. Aku ingin menjelaskan sesuatu." Tegas Marcel. Dia ingin menceritakan perihal yang dia menghilang tanpa kabar. Entahlah, Marcel merasa perlu menjelaskan itu.


Marcel menarik Kiara untuk mengikutinya. Marcel meminta Kiara untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Aku minta maaf, tentang masa lalu kita. Aku merasa waktu itu aku sudah keterlaluan. Dan ternyata setelah kamu menghindariku, aku merasa.." Marcel berhenti bicara ketika Kiara menutup mulutnya dengan tangan Kiara.


"Kak, bisakah pergi dari sini dulu." Ucap Kiara memohon.


Ya, Marcel sampai lupa jika Kiara tadi keluar hotel dengan keadaan yang tidak baik. Dia malah mementingkan perasaannya dulu. Marcel menuruti kemauan Kiara untuk keluar dari lingkungan hotel itu.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2