Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 7


__ADS_3

Kiara dengan seriusnya langsung membaca berkas berkas yang diberikan oleh Gani. Sangat seriusnya hingga tak mendengar ada orang yang keluar dari lift.


Eheemm. Deheman itu mengejutkan Kiara.


Kiara melihat siapa yang datang, setelah melihatnya Kiara langsung berdiri dan menunduk hormat.


"Selamat pagi pak." Sapa Kiara.


"Pagi." Balas Feril singkat lalu pergi ke ruangannya.


Kiara kembali duduk dan membaca kembali berkasnya. Sejenak dia lupa akan tugasnya. Kiara menepuk keningnya. Lalu segera pergi ke pantry.


Kiara membuat kopi sesuai dengan penjelasan yang dikatakan Gani kepadanya kemarin. Setiap datang pagi, Feril harus segera dibuatkan kopi tanpa harus diminta.


Kiara mengetuk pintu ruangan Feril. Setelah mendapat jawaban dari dalam barulah Kiara masuk.


"Ini kopinya pak." Kiara meletakan secangkir kopi itu agak jauh dari berkas juga laptop Feril. Di sebelah kiri meja yang kosong.


"Kenapa kamu letakan disitu?" Tanya Feril. Karena itu sedikit jauh untuk digapai.


"Maaf pak. Tidak mungkin saya meletakan kopinya disisi lain karena takut tumpah mengenai berkas atau laptop anda." Jelas Kiara.


"Oh ya sudah. Keluar." Ucap Feril lalu kembali berkutat dengan laptopnya.


"Baik pak, saya permisi." Kiara undur diri dan segera keluar.


Feril memperhatikan Kiara yang berjalan keluar dari ruangannya. Penampilannya berubah. Tak seperti waktu datang untuk interview kemarin. Feril tersenyum tipis menatap Kiara yang hampir hilang di balik pintu.


Hari pertama Kiara sungguh sangat sibuk. Beberapa kali dia harus bolak balik keluar masuk ruangan Feril ataupun Gani. Lalu mengikuti Feril untuk meeting. Melakukan segala permintaan Feril ataupun Gani.


Lelah, pastinya yang dirasakan Kiara. Tapi Kiara tak boleh mengeluh. Dia meneguhkan hatinya jika dia harus semangat bekerja. Biarpun kakinya sudah terasa sakit karena terus berjalan kesana kemari.


Kiara diperbolehkan pulang tepat jam kantor usai. Dia menghela nafas lega, pekerjaan hari ini telah berakhir.


Kiara pulang menggunakan ojek online. Karena dia juga harus menghemat pengeluarannya sebelum dia mendapat gaji. Untuk memudahkannya pergi dan pulang kerja, Kiara meminta nomor ponsel ojek online yang dia tumpangi. Agar bisa berlangganan dengannya.


Si bang ojol tentu sangat senang kalau Kiara berlangganan. Setidaknya dia akan dapat pemasukan pasti setiap harinya.


Kiara pun merasa tidak enak jika dia harus merepotkan Selly. Walaupun Selly tampak tak keberatan sama sekali.


Kiara sampai dirumah langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Tubuhnya merasa pegal pegal. Kakinya juga masih terasa sakit. Ah...Kiara sampai lupa melepas heelsnya.


Kiara melepaskan perlahan, namun apa yang dia lihat membuatnya terkejut.


"Pantas saja sakit, ternyata sampai lecet begini. Semoga besok sudah sembuh." Gumam Kiara, lalu mengambil kotak obat untuk mengobati lukanya.


....


Hari kedua bekerja.


Kiara datang tepat waktu, tak sepagi kemarin


Kiara menyapa resepsionis yang juga sudah datang.

__ADS_1


"Pagi.." sapa Kiara.


"Pagi, mbak jadi diterima disini?" Tanya resepsionis itu yang mengingat Kiara yang datang lebih awal untuk interview.


"Iya kak. Panggil aja Kiara."


"Panggil aku Novi aja."


"Ok, aku ke atas dulu Nov."


"Iya, selamat bekerja Kiara." Balas Novi. Lalu Kiara segera naik ke ruangan direktur.


Kiara melanjutkan pekerjaan yang kemarin belum sempat selesai. Terdengar pintu lift terbuka, Kiara melirik siapa yang keluar dari sana. Saat tahu yang datang Gani dan Feril, Kiara langsung berdiri dan menyapa mereka.


"Selamat pagi."


"Pagi." Jawab keduanya bersamaan.


"Kiara, sekaliyan buatkan aku kopi juga ya. Tadi tak sempat dirumah." Kata Gani sesaat sebelum masuk ke ruangannya.


*Iya mas." Kiara langsung menuju pantry.


Kiara membuat 2 cangkir kopi. Selera keduanya berbeda, Gani cenderung suka pahit. Sedang Feril sedikit manis saja.


"Ini mas kopinya." Kiara memang sudah berbicara agak santai dengan Gani. Karena kemarin waktu jam makan siang keduanya mengobrol bersama sambil makan siang di kantin.


"Terima kasih."


"Pasti semalam habis lembur ya mas? Sampai bangun kesiangan." Goda Kiara. Karena Kiara tak sengaja melihat bercak keunguan di leher Gani.


"Maksud saya, lembur sama mbak Yunda." Kiara terkekeh sendiri. Kiara tanpa berucap lagi langsung keluar dari ruangan Gani.


Gani mengerutkan keningnya, melihat Kiara terkekeh. Perasaan Gani tak enak. Gani langsung beranjak mendekat ke dinding kaca dibelakangnya. Di ambilnya ponsel dan diarahkan kamera ponselnya ke wajahnya. Sampai tampak lehernya, Gani berdecak. Pantas saja Kiara menggodanya tadi.


Gani melihat ada tiga jejak keunguan di lehernya. Ini adalah ulah istri tercintanya semalam pasti. "Pantas saja Kiara mudah menebaknya pasti dia melihat jejak cinta istriku ini." Gerutu Gani.


Gani lalu melongokan kepalanya keluar pintu ruangannya mencari Kiara. Bertepatan Kiara juga baru keluar dari ruangan Feril.


"Ki, sini!!?" Pinta Gani.


"Ada apa mas?" Kiara mendekati Gani.


"Kamu ada foundation? Saya minta sedikit."


"Mas Gani sudah belok ya? Masa mau pakai fonudation sih." Goda Kiara yang sebenarnya tahu tujuan Gani meminta foundationnya.


"Udah nggak usah pura pura nggak tahu. Buat nutupin ini nih. Nanti aku ada meeting dengan klien penting." Tunjuk Gani pada lehernya.


"Hi hi, maaf mas. Bentar aku ambilin." Kiara menuju ke mejanya.


"Nih. Mas bisa pakainya?"


"Bisa." Jawab Gani singkat lalu segera masuk kembali ke ruangannya dengan membawa foundation milik Kiara.

__ADS_1


Feril melihat interaksi antara sekertaris dan asistennya itu. Feril hendak memanggil Gani tadinya. Untuk membicarakan meeting yang akan dihadiri Gani mewakilinya. Melihat Gani sedang sibuk, dia menundanya sebentar.


Feril akhirnya memanggil Kiara, Kiara lalu mendekat padanya.


Feril memicingkan matanya saat Kiara sudah berdiri di hadapannya, seingatnya kemarin tinggi badan Kiara sebahunya lebih. Tapi sekarang kenapa tingginya berkurang. Feril kemudian menatap sepatu yang digunakan Kiara hanya flat shoes.


"Kamu sudah tahukan kalau bekerja sebagai sekertarisku penampilan juga diutamakan.!" Tegas Feril tak mengalihkan pandangannya pada sepatu Kiara.


Kiara menyadari arah pandang bosnya itu.


"Maaf pak, kemarin terlalu bersemangat bekerja. Saya jadi tak memperhatikan kaki saya, jari kaki saya sakit. Untuk tak memperparah kondisinya jadi saya pakai sepatu ini. Maaf pak, besok saya akan pakai heels lagi." Ucap Kiara penuh sesal.


Feril berdecak, dia lupa jika kemarin dia sengaja membuat Kiara sibuk dengan memberinya tugas yang banyak, untuk menguji kesabaran karyawan barunya itu. Pasti kakinya lecet karena terus berjalan kesana kemari mengikuti perintahnya.


"Ya sudah, masuk ke ruangan saya." Pinta Feril.


"Baik pak." Kiara mengikuti langkah Feril ke dalam.


"Duduk." Perintah Feril.


Kiara memilih duduk di kursi di depan meja kerja Feril. Sedang Feril melangkah ke lemarinya, mengambil kotak obat disana. Feril merasa bersalah sudah membuat Kiara terluka.


Feril berlutut satu kaki di hadapan Kiara, membuat Kiara hendak berdiri.


"Duduk." Perintah Feril tegas.


"Pak Feril mau apa?" Tanya Kiara yang salah tingkah. Masak bosnya berlutut di hadapannya sih.


Namun Feril tak menjawab, dia langsung meraih kaki Kiara dan membuka sepatunya. Feril membulatkan matanya, melihat satu jari Kiara yang tampak melepuh, dan jari yang lain yang sudah terbuka lukanya tampak merah.


Kiara jadi tahu maksud bosnya. Kakinya tadi pagi memang hanya dia berikan obat oles saja tanpa membalutnya. Karena Kiara tak sempat beli plester.


"Nggak usah pak, biar saya sendiri." Tolak Kiara halus, hendak menurunkan kakinya daro atas lutut Feril saat tangan Feril hendak mengobati kakinya.


Feril tentu tak menggubrisnya.


"Kamu diam saja." Feril menatapnya tajam.


Kiara tak berkutik lagi. Feril mulai membubuhkan obat salep, dengan perlahan dia menyentuh luka Kiara. Kiara berdesis, karena merasa perih pada lukanya.


Feril yang mendengar desisan dari mulut Kiara, berinisiatif untuk meniup luka yang teah dia berikan obat. Agar ada sensasi dingin, dan agak berkurang perihnya.


Kiara memperhatikan wajah bosnya yang memang tampan. Apalagi dia diperhatikan seperti ini. Dia belum pernah dengar ceritanya seorang bos mau mengobati luka kecil karyawannya. Walaupun luka itu disebabkan olehnya.


Namun Feril nampak berbeda di mata Kiara. Dibalik sifatnya yang tegas, dia ternyata sangat baik, lembut dan perhatian.


Jentikan jari Feril di depan wajahnya menyadarkan Kiara dari lamunannya.


Kiara gelagapan dan melihat kedua kakinya, jarinya sudah berbalut plester dengan rapi. Kiara segera memakai sepatunya kembali. Feril sudah berdiri kembali dan mengembalikan kotak obat ke klemarinya.


"Terima kasih pak." Ucap Kiara tulus.


"Ok, keluarlah. Dan kalau Gani sudah selesai dengan urusan foundationmu, segera suruh ke ruangan saya."

__ADS_1


"Baik pak." Kiara langsung permisi. Tak ambil pusing bagaimana Feril bisa tahu kalau Gani meminjam foundationnya tadi.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


__ADS_2