
Feril datang ke kantornya, dengan tatapan tegas. Seluruh karyawan yang berpapasan dengannya menunduk hormat kepadanya. Feril naik ke ruangannya menggunakan lift khusus, menghindari berdesakan dengan para karyawannya.
Ting.. pintu lift terbuka di lantai 10. Lantai khusus CEO Kusuma Grub, tempat Feril.
Baru juga selangkah Feril keluar dari lift, dikejutkan dengan suara melengking sekertarisnya. Salah satu sekertarisnya sedang memaki petugas kebersihan.
"Kamu punya mata di pakai dong. Lihat sepatu sama rok saya, rusak gara gara kamu." Bentaknya.
Si petugas kebersihan, hanya bisa meminta maaf dan menunduk ketakutan.
"Maaf non. Maafkan saya." Ucap petugas kebersihan itu dengan suara bergetar.
"Maaf maaf, maaf kamu nggak akan bisa buat ini balik ke semula lagi. Gaji kamu aja nggak akan cukup buat ganti semuanya." Sekertaris Feril masih tak bisa menahan amarahnya.
Feril mendekati keduanya. Lalu berdehem.
"Ehem.."
Keduanya terlonjak kaget dan langsung menunduk saat tahu yang datang adalah Feril.
"Ada apa ini?" Tanya Feril dengan nada dingin.
"Tuan, lihatlah rok dan sepatu saya. Rusak karena ibu ini. Dia menumpahkan ember air kotor yang baru saja dipakainya untuk mengepel lantai ke saya." Keluh sekertaris Feril dengan nada agak manja.
Feril mendekati sekertarisnya itu, mengamati rok juga sepatunya. Feril merogoh saku jasnya. Mengeluarkan dompetnya. Feril memberi beberapa lembar uang kepada sekertarisnya.
"Untuk apa tuan?" Sekertarisnya tak mengerti tapi juga langsung menerima uang itu.
"Gunakan itu untuk membawa rok dan juga sepatumu ke Binatu itu tidaklah rusak hanya perlu dicuci beraih. Dan bereskan barang barangmu dan pulanglah."jawab Feril dengan senyum.
Tentu saja mendapat senyum dari bosnya membuatnya tebang ke awan.
"Baik Tuan. Terima kasih." Sekertaribya itu langsung menuju mejanya untuk mengambil tasnya.
"Ibu, masuklah dulu ke ruangan saya. Saya ingin bicara dengan ibu." Ucap Feril kepada petugas kebersihan yang masih menunduk takut kepadanya.
"Baik tuan." Lalu segera masuk ke ruangan CEO.
Saat sekertaris Feril akan pergi, dia kembali menunduk hormat pada Feril. Masih dengan senyumannya, Feril berbicara lagi.
"Sebelum kamu pulang, mampirlah ke ruang HRD." Titah Feril.
"Baik tuan. Terima kasih." Ucap sekertarisnya itu lalu berlalu dari hadapan Feril.
__ADS_1
Feril lalu masuk ke ruangannya.
"Ibu, bersihkan dulu ruangan saya. Setelah itu buatkan saya kopi." Feril kemudian duduk di kursi kebesarannya dan memulai pekerjaannya.
Ibu itu tercengang. Dia pikir dia akan dipecat. Namun dia tak ingin berlarut larut dengan pikirannya sendiri. Dia segera membersihkan ruangan itu walau tadi sebenarnya sudah dia bersihkan.
Di ruang HRD.
"Apa pak? Pesangon dan saya dipecat? Maksudnya bagaimana pak?" Sekertaris Feril terkejut bukan main. Saat masuk ke ruang kepala HRD justru dia langsung diberi surat pemecatan dan uang pesangon dan gajinya bulan ini.
"Iya, tuan Feril hanya mengatakan. Dia tak butuh karyawan yang beratitude buruk. Walaupun kamu sudah bekerja dengan baik. Saya tidak tahu, sikap kamu yang mana yang membuat dia kecewa. Pastinya kamu sendiri sudah tahu alasannya. Pergilah." Usir kepala HRD tersebut.
Sekertaris Feril menyadari kesalahannya. Pasti karena dia yang telah membentak ibu paruh baya petugas kebersihan tadi. Menyesali tindakannya tadi pun sudah tak berguna. Masih untung dia dipecat secara baik baik. Dapat gaji penuh padahal ini baru minggu pertama bulan ini, belum juga pesangon yang diberikan.
"Kalau begitu saya permisi pak, Terima kasih." Sekertaris Feril berjalan gontai keluar dari ruangan HRD.
Tring. Tring. Telfon di ruangan kepala HRD berdering.
"Halo, dengan Doni disini."
"Pak Doni, segera buat lowongan sekertarisku di media sosial. Dengan kriteria seperti sebelumnya." Titah Feril dari sebrang sana.
"Baik Tuan."
...
"Sorry kak, kayaknya aku nggak bisa pulang. Aku harus persiapkan ujian akhirku. Maaf ya." Natasya menampakan wajah menyesalnya.
"Its Ok, semua juga demi pendidikan kamu. Yang terpenting, kamu baik baik disana. Jaga diri kamu. Dan aku juga minta maaf ya bulan ini aku nggak bisa jenguk kamu disana. Aku sedang banyak proyek besar, dan harus aku yang mengurus sendiri." Feril pun menyesal, karena tak bisa pergi ke London. Biasanya sebulan sekali Feril selalu menyempatkan diri pergi ke London.
"Iya pasti kak. Nggak papa kok, aku ngerti. Lagi pula aku kan juga lagi sibuk. Kasihan kakak kalau nanti disini malah aku cuekin."
Keduanya saling lempar senyum.
"Kak,."
"Hem.."
"Miss you."
"Miss you too. Sya, udahan dulu iya. Aku ada meeting bentar lagi." Ucap Feril ingun menyudahi video call itu.
"Emm, bye kak.muach.." Natasya memberi kecupan jarak jauhnya.
__ADS_1
"Bye.." jawab Feril dengan senyumnya lalu mematikan ponselnya.
"Sya, aku kesepian banget nggak ada kamu disini." Keluh Feril, sembari mengusap foto Natasya di ponselnya.
"Bos, klien sudah datang dan menunggu di ruang meeting." Asisten Feril nyelonong masuk ke ruangan Feril.
"Haissh..kaget gue." Feril melempar bolpoin yang ada dimejanya ke arah Gani, asistennya. Untung Gani sempat menghindar, jadi tak mengenainya tepat di wajahnya.
Feril mengusap dadanya.
"Sorry bos, capek ketuk pintu. Ya langsung masuk saja." Gani cengengesan.
"Ayo." Feril berjalan lebih dulu ke ruang meeting.
...
"Akhirnya selesai juga." Gadis berparas cantik dengan kulit kuning langsat, berbaring setelah lelah membersihkan rumah sewanya. Yang baru saja kemarin dia tempati.
"Ki.." panggil seseorang dari luar pintu rumah sewanya.
"Iya, sebentar." Gadis itu bernama Kiara, 27 tahun.
Kiara segera beranjak dari ranjangnyadan melangkah mendekati pintu.
"Selly, ada apa?" Tanya Kiara yang membuka pintu mendapati Selly, tetangga sebelah yang kemarin dia kenalan.
"Eh ini, ibu masak banyak. Suruh kasihin ke kamu, makan gih. Pasti kamu belum sarapan kan." Selly menyodorkan sepiring nasi beserta lauk pauknya.
"Wah, makasih ya Sel. Sampaiin terima kasih banget buat bi Sari. Aku terima ya." Kiara menerima piring itu.
"Ayo masuk dulu." Ajak Kiara.
"Eh, nggak usah Ki. Aku mau berangkat kerja ini." Selly menunjukan baju rapi yang dikenakannya.
"Oh begitu, makasih iya sekali lagi."
"Ok, aku pergi ya."
"Hati hati di jalan." Pesan Kiara.
Kiara masuk kembali ke dalam rumahnya, lalu menikmati sarapan lezat yang sudah diberikan oleh tetangga baik hatinya.
"Bi Sari sama Selly baik banget, jadi inget mama. Mama yang tenang ya disana. Disini masih ada orang yang sayang sama Kia."
__ADS_1
Kiara mulai menyantap makanan dihadapannya itu.