Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 16


__ADS_3

Kiara masih saja tak mendapat kabar apapun dari Marcel.


"Kak Gio, apakah perasaan ini akan terulang seperti dulu lagi? Sejak malam itu, kenapa kak Gio tidak menghubungiku lagi. Apa kak Gio kecewa jika aku adalah Kiara yang dulu?" Kiara terus bergumam sendiri di dalam kamarnya.


"Sudahlah. Kalau memang jodoh pasti akan bertemu juga. Tuhan pasti punya rencana baik untuk ku. Harus semangat, besok aku akan bekerja kembali."


.....


"Pagi Kiara."


"Pagi mas, maaf iya dua hari kemarin ijin. Pasti kerjaan mas Gani menumpuk." Ucap Kiara penuh sesal.


"Its ok Kiara. Suatu saat kalau aku yang ijin, kamu pun harus mendobel pekerjaanku."


"Iya mas. Terima kasih ya."


"Hm, aku ke ruangan aku dulu."


Kiara mengangguk. Tak lama kemudian Feril datang. Kiara mencoba bersikap biasa seperti sebelumnya.


"Pagi pak." Sapa Kiara setelah berdiri dan sedikit membungkukan badan.


"Pagi." Feril senang melihat Kiara yang bersikap biasa saja setelah kejadian malam itu. Feril kemudian memberikan sekuntum mawar putih yang tadi dia sembunyikan di balik jas.


"Untuk saya?" Tanya Kiara memandang bunga itu.


"Iya, ini sebagai ungkapan perasaanku yang benar tulus sama kamu." Jawab Feril.


"Terima kasih." Kiara menerima bunga itu.


Feril tersenyum kemudian masuk ke ruangannya. Sedang Kiara kembali duduk, masih memandang bunga yang dipegangnya.


"Mawar putih, adalah simbol kesucian dan ketulusan. Sedangkan aku sudah tidak suci." Bathin Kiara sambil tersenyum getir. Kiara lalu menyimpan bunga itu di laci mejanya.


Kiara mencoba untuk bersikap profesional saat di kantor. Selayaknya pekerjaannya sebagai seorang sekertaris. Kiara tak pernah sekalipun menyinggung masalah kejadian malam itu di hotel. Ia ingin ingatannya tentang itu menghilang.


Hari hari berlalu, Feril terus saja mencoba untuk merebut hati Kiara. Usahanya memang tak pernah ditolak Kiara, namun juga belum bisa dikatakan berhasil. Jika diluar jam kantor Kiara akan menjaga jarak dengan Feril.


....


"Sebelum perasaan ini semakin dalam. Lebih baik untuk ku akhiri saja. Lagi pula, dengan keadaan aku yang seperti ini. Apa mungkin dia akan bisa menerimaku. Sepertinya mustahil."


Kiara masih saja menunggu kabar dari Marcel, kak Gionya.


Baru saja Kiara meletakan ponselnya, ponsel itu sudah berbunyi. Segera saja Kiara mengambil ponselnya lagi. Wajah lesu langsung muncul saat Kiara membaca nama si penelfon.


Kiara menghela nafas lelah, sebelum menjawab panggilan itu.


"Iya halo pak."


"Kiara, kamu bisa keluar sekarang? Saya sedang ada di luar tempat tinggal kamu."

__ADS_1


"Ada apa.."


Tut tut tut. Belum juga Kiara selesai bicara, panggilan sudah diputuskan sepihak oleh Feril.


"Mau apa lagi sih.." gerutu Kiara, malas sebenarnya tapi Kiara penasaran juga apa yang akan dilakukan Feril.


Kiara pergi juga menemui Feril.


"Ada apa pak?" Tegur Kiara langsung saat melihat Feril.


Feril tersenyum manis, lalu menarik tangan Kiara. Memaksa Kiara untuk masuk ke mobilnya. Feril tak mengucapkan apapun, dan Kiara juga enggan untuk berdebat.


Feril mengendarai mobilnya, menuju sebuah cafe. Dengan terus menggandeng tangan Kiara, Feril masuk ke cafe itu. Masuk ke ruang privat, yang terletak jauh di dalam cafe.


Ruang private berdinding kaca gelap jadi tak kan terlihat siapa yang di dalam sana jika orang hanya melihatnya dari luar. Tetapi orang yang ada di dalam ruangan bisa bebas mengamati keadaan di luar.


Kiara menurut saja ketika dipersilahkan duduk oleh Feril. Ternyata di dalam sana sudah tersedia makanan. Pastinya Feril yang sudah mempersiapkan semuanya.


Kebetulan Kiara juga belum makan malam jadi saat Feril menyuruhnya makan diapun langsung makan. Feril senang saat melihat Kiara yang penurut. Tetapi Feril lebih senang jika Kiara ceria seperti dulu, sebelum kejadian malam itu. Sering mendebatnya, jika Feril sudah kelewatan batas bersikap.


Akhir akhir ini, Feril merasa jika Kiara menjauh darinya.


Usai makan, Feril mengantar Kiara pulang. Sebelum Kiara keluar dari mobil Feril, saat sudah sampai di depan rusun. Feril menahan tangannya.


"Kia, bisakah kamu tidak sedingin itu padaku?"


"Maksud pak Feril?" Kiara mengernyitkan keningnya.


Kiara jadi ingat kejadian malam itu.


*Seperti sebelumnya, saya menerima ciuman anda waktu itu karena menyukai anda tetapi menyukai bukan berarti mencintai. Dan malam itu, saya melakukan itu karena saya berniat menolong bukan karena saya ingin memiliki anda. Jadi jangan terbebani. Saya permisi." Kiara melepas pegangan tangan Feril. Lalu segera berlari ke dalam rusun. Hatinya masih sakit saat mengingatnya.


"Aaakh..!!" Feril memukul stir mobilnya. Dia tahu jika malam itu adalah kesalahannya. Yang tak bisa menahan diri. Imannya tak sekuat itu. Feril bukanlah lelaki yang suci. Setiap berpacaran dia memang selalu melakukan kontak fisik dengan pacarnya, namun memang tak pernah sampai berhubungan intim.


Malam itu adalah pertama kalinya juga baginya. Feril begitu menyesal, apalagi dia telah merusak wanita yang spesial baginya itu. Karena itu juga yang pertama bagi Kiara.


...


Feril selalu memberi perhatian pada Kiara, perlahan Feril bisa melihat senyum ceria Kiara lagi. Sebisa mungkin dia tak mengingatkan Kiara akan malam itu. Dan itu cukup berhasil. Lama kelamaan, Kiara mulai mau protes dan berdebat dengannya jika Feril selalu mengganggunya.


"Pak, pekerjaan saya sedang banyak. Bisa tidak jangan memanggil saya terus kesini dan melakukan hal yang tidak penting." Keluh Kiara, karena sedari pagi Feril terus memanggilnya ke ruangan Feril untuk melakukan hal hal kecil bahkan seharusnya Feril bisa melakukannya sendiri.


Yang paling menjengkelkan bagi Kiara adalah, dia diminta masuk ke ruangan Feril hanya untuk mengambilkan bolpoint yang terjatuh di bawah kursi kerja Feril. Padahal itu sangat mudah kan dilakukannya sendiri.


Dan saat Kiara mengeluh, Feril malah tersenyum tak menanggapi. Dan tak mengalihkan pandangannya pada dokumen dihadapannya.


"Untung bos, coba kalau tidak sudah aku jitak." Gerutu Kiara pelan sambil melayangkan kepalan tangannya di udara. Lalu keluar dari ruangan Feril.


Tak ingin diganggu lagi, Kiara mematikan telfon kantor selepas jam makan siang. Setelah memastikan tidak ada jadwal penting untuk bosnya. Lalu mengubah ponselnya ke mode pesawat. Kiara mulai fokus lagi ke pekerjaannya.


Baru juga berjalan 30 menit rencana itu. Feril sudah berdiri di depannya dan menatapnya tajam.

__ADS_1


"Kenapa kau matikan ponsel juga telfon ini?" Feril menunjuk telfon yang di meja kerja Kiara dengan tatapan matanya.


Kiara hanya menyengir tanpa dosa.


"Saya capek pak. Mondar mandir terus sejak pagi ke ruangan bapak." Kiara mengerucutkan bibirnya. Membuat Fetil genas ingin sekali menciumnya.


"Ikut ke ruanganku.!" Feril lalu berbalik dan berjalan ke ruangannya. Baru juga beberapa langkah dia berbalik lagi, menatap Kiara yang masih enggan bangun dari kursinya.


"Jangan buat aku menunggu."


Dengan segera Kiara bangkit dan berjalan mengikuti Feril.


Feril menyuruh Kiara untuk duduk di sofa. Sedang dia sendiri kemballi berkutat dengan pekerjaannya.


"Pak, saya disini mau apa?" Tanya Kiara karena sudah lelah duduk diam disana.


"Sebentar, pekerjaanku masih belum selesai." Feril menatap sebentar Kiara lalu kembali serius dengan pekerjaannya. Kiara yang tak melakukan apapun malah jadi mengantuk. Beberapa kali dirinya sudah menguap, tak tahan lagi akhirnya Kiara tidur dengan posisi setengah duduk.


Kiara menyandarkan kepalanya di bantal sofa, dengan kakinya masih menjuntai ke bawah.


Feril sudah selesai dengan pekerjaannya, melihat jam tangannya sudah hampir jam 4 sore. Feril memutuskan untuk pulang saja dengan mengantar Kiara lebih dulu.


Saat matanya melihat Kiara yang tertidur pulas, Feril jadi tak tega untuk membangunkannya. Feril membenahi posisi tidur Kiara agar lebih nyaman. Tetapi ternyata itu malah membuat Kiara jadi terbangun. Feril langsung menegakan lagi tubuhnya, tak mau bila Kiara akan berfikir dia akan melakukan sesuatu hal yang tidak pantas.


"Ah, aku jadi tertidur." Kiara duduk dengan benar sambil mengucek matanya yang terasa masih mengantuk.


"Ayo pulang."


Kiara mengerjapkan matanya, memfokuskan pandangannya ke asal suara yang mengajaknya pulang. Kiara agak tersentak, namun dia ingat jika tadi dia disini dan disuruh menunggu hingga akhirnya dirinya malah tertidur.


"Ayo pulang." Ulang Feril sekali lagi karena tak ada jawaban.


"Emm, iya." Kiara langsung bangkit.


Kiara menatap nanar pekerjaannya yang masih menumpuk di atas meja kerjanya.


"Karena bos yang gak ada akhlak nih, kapan selesainya." Gumam Kiara lalu mencebikan bibirnya, beralih menatap Feril yang ada di belakangnya dengan tajam.


"Ada apa?" Tanya Feril yang merasa horor dengan tatapan Kiara.


"Nggak ada." Jawab Kiara ketus. Lalu berjalan duluan menuju lift. Feril segera mengejarnya.


Kiara tak mempedulikan Feril yang terus menatapnya. Asik memainkan ujung kakinya untuk mengetuk lantai seakan tidak sabar menunggu lama berada di lift.


Setelah pintu lift terbuka, Kiara bahkan langsung berjalan cepat untuk keluar gedung. Kesalnya masih belum reda. Tampak sekali kantor bahkan sudah sepi. Kiara tak menghiraukan Feril yang masih mengikutinya.


Kiara menghentikan langkahnya saat sudah berada di luar gedung. Masih kesal yang dia rasakan, ragu untuk dengan senang hati mengikuti Feril menuju mobilnya. Kiara memilih untuk melanjutkan jalannya ke jalan besar. Dia akan mencari taksi saja.


Feril membukakan pintu untuk Kiara, namun saat melihat ke belakangnya ternyata Kiara tidak ada. Feril mengedarkan pandangannya mencari Kiara. Terlihat juga olehnya Kiara sudah hampir keluar dari gerbang perusahaan.


"Apa yang salah lagi?" Gumam Feril pelan lalu segera dia menutup pintunya dan beralih ke bagian kemudi.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2