Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 4


__ADS_3

"Nat, bisa minta tolong?"


"Apa?"


Teman Natasya yang bernama Gea ini malah senyum senyum.


"Hei, malah senyum senyum. Gila ya?"


"Ngarang kamu. Bilangin dong sama kakak kamu, balas chat aku. Dia kalau chat aku pas nanyain kamu aja. Pas aku tanya tentang hal lain pasti cuma diread aja."


"Males ah, ntar aku malah diomelin karena nyampurin urusan pribadinya." Tolak Natasya.


"Please donk Nat." Gea memohon.


"Nggak." Putus Natasya kemudian berlalu meninggalkan Gea.


Gea mengejar Natasya.


"Nat, please bantuin aku sekali ini aja. Kalau kamu nggak mau bicara sama dia. Kasih kesempatan aku bisa pergi berdua dengan dia. Aku akan bicara sendiri. Please Nat, bantuin ya. Ini pertama kalinya aku merasa jatuh cinta yang seperti ini. Rasanya beda nggak kayak sebelum sebelumnya. Aku bahkan bisa merasa bahagia saat melihat dia senyum padahal dia senyum nggak buat aku." Gea memegang lengan Natasya.


Ucapan Gea membuat Natasya menyerah.


"Ok, aku bantuin. Pokoknya jangan banyak tanya nanti. Kamu ikutin aja kata kata aku."


"Makasih Nat, makasih banget." Gea segera memeluk teman baiknya ini.


"Lepasin Ge, aku nggak mau ada gosip antara kita ya." Hardik Natasya. Karena Gea terus memeluknya erat. Bahkan mencium pipi Natasya.


"Haha, iya sorry. Aku seneng banget." Ucap Gea sambil meloncat loncat kegirangan.


"Dua minggu lagi, kak Marcel kesini. Kamu persiapkan diri kamu." Ucap Natasya lalu pergi.


....


Di dalam ruang interview, Kiara duduk agak jauh di depan orang orang yang akan menginterviewnya.


Pertanyaan yang diajukan seputar tentang visi dan misinya jika diterima di perusahaan ini. Kiara menjawab dengan tenang. Namun salah satu orang didepannya membuatnya merasa risih. Karena sedari tadi hanya melihatnya saja, bahkan tatapannya seperti ingin menelanjanginya saja.


Kiara melihat orang itu mengangguk saat yang lainnya meminta pendapatnya. Kiara yakin orang itu adalah atasannya nanti. Kiara tak ingin bekerja dengan orang itu. Tatapannya kepada Kiara seperti laki laki hidung belang yangsiap memangsanya. Apalagi melihat usia orang itu yang sudah paruh baya.


"Nona Kiara, selamat.."


"Maaf, saya permisi. Saya harus ke toilet sekarang." Sela Kiara, lalu segera beranjak dari kursinya.


Kiara berlari secepat kilat. Dan ia menuju ke toilet. Kiara berusaha menetralkan degub jantungnya habis berlarian.


"Alasan apa ya, aku tidak mungkin langsung pulang begitu saja. Siapa yang bisa membantuku." Gumam Kiara.


Dirasa terlalu lama di dalam toilet, Kiara segera keluar. Kiara masih ragu untuk melangkah. Dikagetkan oleh tepukan tangan dibahunya.


"Nona yang tadi di lift kan." Tanya seorang pria.


"Ah iya." Jawab Kiara canggung.


"Apa diterima disini?"


"Sepertinya iya, tapi.." Kiara agak enggan untuk bercerita.


"Ragu? Karena penilaian pertama kamu pada seseorang yang terkesan buruk?" Tebak pria itu.


"Eh,." Kiara terkejut jika tebakan pria itu bisa benar.

__ADS_1


"Apa aku benar? Jika iya, kamu orang yang pandai mengamati orang. Kalau memang kamu ragu, kamu bisa menolak pekerjaan ini." Saran pria itu.


"Tapi aku beri alasan apa?" Kiara akhirnya meminta pendapat pria itu.


"Kamu pergi saja. Aku akan mengatakan alasannya pada orang itu. Tenang aku tak akan membuat citramu buruk."


"Terima kasih kalau begitu aku pergi." Kiara hendak pergi namun pria tadi kemabli berucap.


"Hanya terima kasih.?" Tanya pria itu.


Kiara mengerutkan dahinya. " Maksudnya."


Pria itu tersenyum, lalu mengulurkan tangannya menngajak berjabat tangan.


"Bercanda.. Aku Marcel. Semoga lain waktu bisa bertemu lagi denganmu." Ucap pria itu.


"Aku Kiara. Terima kasih sekali lagi." Balas Kiara.


Kiara lalu pergi dari tempat itu. Marcel masuk ke ruang interview.


"Kenapa sepi?" Tanya Marcel.


"Pak Marcel, tadi pak Bondan sudah memutuskan untuk menerima seorang. Dan akhirnya menutup acara interview ini." Jelas seorang.


"Terus kemana sekarang karyawan baru itu?" Tanya Marcel seolah tak mengerti apapun.


"Tadi dia pamit ke toilet. Tapi ini sudah satu jam, dia belum kembali juga." Jawab seorang yang lain.


"Paman, seperti apa orangnya? Karena tadi saat kesini aku berpapasan dengan seorang wanita yang aku yakin dia salah satu pelamar disini. Dia pergi terburu buru, sambil menahan tangis." Marcel bertanya pada Bondan yang ternyata masih saudara jauhnya.


"Emm, dia seksi. Tingginya kira kira 160 cm. Berambut panjang lurus berwarna agak coklat, tadi dibiarkan tergerai. Kulitnya bersih kuning langsat." Jawab Bondan sambil membayangkan bentuk tubuh Kiara.


"Sepertinya memang dia yang pergi tadi. Coba telfon saja. Pastikan, dia ingin kerja atau tidak. Segera lakukan interview lagi jika dia tidak menanggapi." Perintah Marcel tegas. Dan diangguki oleh beberapa orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


....


"Ki, gimana interview kamu hari ini?" Tanya Selly yang habis pulang kerja langsung menyatroni rumah Kiara.


"Lancar sih, aku diterima. Tapi aku tolak." Jawab Kiara santai.


"Emang kenapa?" Tanya Selly yang tak mengerti dengan keputusan Kiara.


"Aku nggak suka sama calon atasan aku. Kelihatan banget kalau orangnya mata keranjang. Kalau ganteng masih muda sih mending. Lah ini sudah tua." Keluh Kiara.


"Wah bener tuh, kalau kamu tolak. Kalau sampe kamu jadi kerja disana terus digodain mau jadiin simpanan kan berabe." Selly mendukung keputusan Kiara.


"Yaps betul. Tapi disana aku juga kenalan dengan seseorang." Kiara membayangkan wajah Marcel yang tampan.


"Siapa namanya?"


"Marcel."


"Terus orangnya bagaimana?" Tanya Selly terus.


Kiara yang sedang melamunkan wajah Marcelpun tanpa sadar menjawabnya.


"Dia tampan, tinggi, putih. Baik hati, dia yang sudah bantu aku buat kabur dari perusahaan tempat dia kerja yang hampir jadi tempat kerja aku juga." Kiara memuji Marcel.


"Ciee, yang fall in love at first sight." Selly menggoda Kiara.


Kiara yang tersadar dengan kalimatnya tadi jadi malu, pipinya merona.

__ADS_1


"Apa mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama?" Bathin Kiara.


"Ah, mana mungkin. Aku hanya terpesona saja." Ucap Kiara menegaskan sikapnya.


"Terus besok jadi kamu datang buat interview ke Perusahaan Kusuma?"


"Jadi lah. Kamu bilang perusahaan itu bagus dan besar. Aku nggak akan menyia nyiakan kesempatan."


"Aku doakan kamu dapat pekerjaan yang bagus disana. Dan memiliki bos yang tampan muda dan baik hati." Ucap Selly sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas.


"Amin." Keduanya tertawa bersama. Kiara merasa punya saudara perempuan kalau begini.


....


"Selamat pagi." Ucap Kiara sambil memasuki rumah Selly.


"Pagi Ki, ayo ikut sarapan." Ajak Bibi Sari.


"Iya Bi, makasih ya. Tahu saja bibi kalau aku belum sarapan." Kiara bergabung.


"Mau berangkat bareng Selly ya?" Tanya Bi Sari.


"Iya bi, kemarin Selly yang bilang mau mengantar. Takut aku nyasar, soalnya harus pagi sampai sana. Kalau pakai ojek pasti lama." Jelas Kiara sambil memakan sarapannya.


"Oh begitu, habiskan. Makan yang benar. Bibi ke dalam dulu iya. Mau siap siap."


"Iya bi."


Belum juga sarapan Kiara habis Selly sudah keluar dari kamarnya.


"Sel, kamu sudah sarapan?"


"Sudah, tinggal berangkat." Selly mendudukan dirimya di samping Kiara.


Kiara mengangguk lalu mempercepat makannya.


"Ayo berangkat." Ajak Kiara setelah mengembalikan piringnya ke dapur.


"Bu, aku dan Kiara berangkat dulu iya!!" Teriak Selly, karena bi Sari masih di kamar.


"Iya kalian hati hati."


Selly mengendarai motor maticnya dengan kecepatan sedang. Karena masih sangat pagi jadi jalanan masih sepi.


"Ki, kemarin kamu kirim lamaran buat jadi apa?"


"Lowongannya sih sekertaris. Tapi ya nggak tahu juga sih, jadi sekertaris siapanya."


"Gajinya pasti tinggi tuh. Apalagi di perusahaan besar." Ucap Selly menimpali.


"Sudah sampai." Ucap Selly saat sudah berada di depan gerbang perusahaan Kusuma.


"Wah besar juga gedungnya." Ujar Kiara kagum.


"Ok, aku pergi ya. Semoga berhasil."


"Terima kasih ya Sel. Udah mau nganter."


"Sama sama. Bye.." Selly mulai melajukan motornya.


"Bye, hati hati." Teriak Kiara.

__ADS_1


Selly hanya mengangkat jempolnya tanpa menoleh lagi ke arah Kiara.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


__ADS_2