Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 8


__ADS_3

Sore ini Kiara diminta Feril untuk lembur, karena ada meeting penting besok pagi. Berkas berkasnya masih belum lengkap. Kadi Kiara harus membantu Feril. Gani tak ikut lembur karena sudah ada meeting di luar kantor sejak siang.


Malam datang, Kiara yang masih berkutat dengan komputer dimejanya tak menyadari Feril mengamatinya dari pintu. Feril bersandar di pintu sembari bersedekap dada.


"Gadis ini lumayan kerjanya. Kemarin seharian aku buat sibuk, dia sama sekali tak mengeluh. Dan ini baru hari kedua sudah aku ajak lembur, dia ok aja. Patut di acungi jempol semangatnya bekerja." Gumam Feril pelan.


Ting ting. Bunyi ponsel Kiara, menandakan ada pesan yang masuk. Kiara hanya melihat sekilas notif di layar ponselnya, tersenyum tipis saat tahu siapa pengirim pesan tanpa berniat untuk membukanya. Kiara meletakan kembali ponselnya dan melanjutkan bekerja.


Kegiatan Kiara tak luput dari pandangan Feril. Menambah kekaguman Feril terhadap kinerja Kiara.


Feril mendekati meja Kiara.


"Kiara, apa pekerjaanmu sudah selesai?"


"Sudah pak, akan saya cek ulang untuk memastikan tidak ada kesalahan pengetikan sebelum saya print." Jelas Kiara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer. Karena dia ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang.


Melihat itu, tanpa bicara apapun. Feril berjalan ke samping kursi Kiara, menundukan sedikit badannya. Tangannya meraih mouse yang juga di pegang Kiara. Niatnya ingin mengirim berkas itu ke emailnya. Nanti setelah sampai rumah akan dia cek sendiri.


Kiara terus memandangi tangannya yang dipegang Feril bergantian dengan wajah Feril yang begitu dekat dengan wajahnya. Kiara merasakan perasaan yang aneh saat berada sangat dekat dengan bosnya ini.


"Selesai." Ucap Feril tanpa sadar kelakuannya membuat Kiara canggung.


"Sekarang ayo pulang." Kata Feril menegakan kembali tubuhnya.


"Baik pak."


Feril menunggui Kiara membereskan barangnya. Tak sampai hati dia membiarkan Kiara pulang sendirian saat sudah malam begini.


Feril LPdan Kiara keluar gedung bersama. Feril langsung menuju mobilnya. Sedang Kiara yang di tinggal sendiri, memilih untuk segera memesan ojek online. Kiara agak lama mengutak atik aplikasinya. Belum juga ada yang mengambil orderannya.


Setelah ada yang mengambil orderannya, Kiara berniat menunggu di dekat pos satpam, samping gerbang. Agar tak sendirian, ditemani satpam yang sedang bertugas.


Mobil Feril lewat di depannya, padahal gerbang sudah terbuka lebar namun mobil Feril malah berhenti. Feril membuka kaca pintu mobil di sampingnya.


"Ayo masuk." Perintah Feril tanpa menyebutkan siapa yang disuruh masuk. Tapi melihat tatapannya Kiara sudah tahu kalau yang di ajak adalah dia sendiri.

__ADS_1


"Tidak usah pak, saya sudah memesan ojek online." Tolak Kiara.


"Saya tidak suka di bantah. Cepat masuk." Ucap Feril tegas lalu langsung menutup kaca pintu mobilnya.


"Sabar sabar." Gumam Kiara pelan. Lalu menuju ke sisi lain dari kemudi. Kiara masuk ke mobil dan duduk di samping Feril.


"Dimana alamat rumah kamu?" Tanya Feril ketika memulai menjalankan kembali mobilnya.


"Rusun blok A jalan Melati pak." Jawab Kiara.


Feril baru beberapa meter menjalankan mobilnya namun sudah berhenti lagi.


"Ada apa pak?"


Feril tak menjawab, tapi tubuhnya memepet ke Kiara. Kiara syok langsung tahan nafas, lagi lagi wajah atasannya ini begitu dekat dengan wajahnya. Feril memasangkan sabuk pengaman pada Kiara. Kiara membeku, bahkan sampai lupa untuk bernafas.


"Bernafas!!" Titah Feril. Kiara langsung meraup oksigen sebanyak mungkin. Feril terkekeh melihat tingkah Kiara yang lucu itu. Hanya mendekat sedikit saja dia sudah membuat Kiara grogi dan canggung. Berbeda sekali dengan saat dia sedang bekerja.


Kiara merona malu, dia lalu memandang ke arah luar mobil. Tak mau wajahnya yang memerah terlihat oleh Feril. Hingga ia ingat belum membatalkan orderan ojek onlinenya. Kiara sadar jika pembatalan sepihak bisa merugikan pengemudi ojeknya. Maka Kiara tak lupa beri bintang lima juga tips sejumlah ongkos ojeknya.


"Terima kasih atas tumpangannya pak." Ucap Kiara.


"Heem." Jawaban dari Feril yang sebenarnya membuat Kiara kesal, entah kenapa.


Kiara lalu keluar dari mobil Feril, membungkukan setengah badan untuk menghargai atasannya itu. Lalu mobil Feril baru pergi.


"Hah, lumayan juga hari ini. Aku harus segera masuk dan beristirahat." Kiara melenggang masuk ke dalam rusun.


"Ciiee, dianterin siapa tuh?? Baru 2 hari kerja udah punya gebetan aja." Goda Selly sambil bersandar di daun pintu rumah Kiara. Kiara baru saja mendudukan dirinya di kursi ruang tamunya.


"Gebetan apa sih Sel? Tadi itu atasan aku." Ucap Kiara kesal.


"Eits kok kesel sih. Ahh aku tahu kamu pasti naksir tapi dia cuek ya ke kamu." Tuduh Selly sambil menunjuk wajah Kiara.


"Sok tahu, aku tuh lebih srek sama yang kemarin tuh. Yang namanya Marcel. Bisa ketemu lagi gak ya sama dia." Ucap Kiara lesu.

__ADS_1


"Kamu kemarin nggak nanya nomor hpnya?"


"Nggak. Malu lah Sel. Masa iya cewek minta nomor hp duluan. Udah aku mau mandi dulu." Kiara pergi ke kamarnya.


"Ya udah. Aku balik." Teriak Selly lalu pulang.


Sampai rumah Selly lalu ingat perkataan Kiara. Kalau tadi yang mengantarnya adalah atasannya. Maka tadi yang bernama Feril.


"Mungkinkah, Feril atasan Kiara itu memang pimpinan Kusuma Grup." Gumam Selly pelan.


....


Sesampainya Feril di rumah, dia segera membersihkan diri. Setelahnya dia mengistirahatkan tubuhnya. Berbaring di ranjang dan memandang langit langit kamarnya. Entah lah, dia malah senyum senyum sendiri mengingat wajah Kiara yang merona malu.


"Apa sih. Kenapa gue malah mikirin wanita itu? Harusnya yang ada dalam pikiran gue itu cuma Natasya. Ingat Ril, pacar lo itu Natasya." Tegas Feril pada dirinya sendiri.


Namun apa daya, saat dia mencoba mengingat wajah kekasihnya malah selalu muncul wajah Kiara yang serius bekerja, tersenyum manis, wajah tegasnya. Dan lagi wajah merona malu, dengan senyum yang tertahan seakan akan menari nari di pelupuk mata Feril.


Tak ingin membuat pikirannya dipenuhi wanita selain kekasihnya, Feril memilih memejamkan matanya mencoba untuk tidur.


....


Karena kemarin telah diobati oleh bosnya, kaki Kiara sudah membaik. Hari ini dia bisa bekerja memakai heels lagi. Kiara memilih heelsnya yang ternyaman. Heelsnya tidak terlalu tinggi, namun modelnya sangat elegan dan cantik.


Seperti kemarin, dia pergi bekerja menggunakan ojek online. Setelah menunggu beberapa saat di depan rusun, si ojek online datang. Kiara menerima helmnya dan segera duduk di atas motor sembari memakai helmnya.


Setelah memastikan penumpangnya siap, motor mulai melaju. Kegiatan Kiara pagi ini tak luput dari sepasang mata yang sedari jam 6 pagi sudah standby di jalan depan rusun. Seorang lelaki tetap duduk di dalam mobilnya dan mengamati Kiara dari jauh.


Semalaman lelaki yang tidak lain adalah Feril, tidak henti memikirkan Kiara. Hingga membuatnya nekat pagi pagi datang, hanya untuk melihat wajah Kiara. Dia sendiri merasa jika dirinya memang sudah gila. Disaat dirinya sudah punya kekasih, tetapi malah memikirkan wanita lain.


Feril mengacuhkan akal sehatnya, memilih mengikuti hatinya yang menginginkan Kiara. Sejak pertama kali bertemu Kiara, Feril sudah menyukai pribadinya. Apalagi kebersamaannya selama 2 hari ini, membuatnya semakin menyukai Kiara.


Feril mengikuti Kiara dari belakang, dengan jarak aman jadi tak mencurigakan. Saat sudah ada di sekitar kantor, Feril mendahuluinya. Walau sampai lebih dulu, Feril tak langsung masuk. Dia memilih untuk duduk sejenak di dalam mobil.


Kiara memasuki loby, dengan segera Feril keluar dari mobilnya dan bergegas ikut masuk. Senyum tipis tampak di bibirnya saat melihat Kiara menyapa beberapa pegawai yang dijumpainya. Lalu Kiara menuju lift untuk ke ruangannya. Feril mempercepat langkahnya ketika pintu lift sudah mulai terbuka.

__ADS_1


Kiara masuk ke dalam lift saat pintu lift sudah terbuka sempurna, baru saja berbalik badan. Wajahnya langsung merona.


__ADS_2