Tak Bisa Tanpa Cinta

Tak Bisa Tanpa Cinta
Eps 15


__ADS_3

"Baik, tunggu sebentar pak." Kiara menerima kartu itu dan segera ke loby hotel.


Setelah mendapat kunci kamar, Kiara kembali ke Feril.


"Pak ini kuncinya. Ayo saya antar ke kamar." Kiara hendak membantu.


"Tak perlu. Cepat pulanglah. Ini semakin malam. Aku akan kesana sendiri." Tolak Feril.


Feril memegangi kepalanya yang semakin pusing. Bahkan saat berdiri dirinya hampir limbung jika saja tidak dipegang oleh Kiara dia pasti sudah terjatuh ke lantai.


"Tidak usah mengusir saya lagi. Saya akan segera pulang setelah memastikan anda sudah istirahat di kamar." Tegas Kiara.


"Dasar keras kepala." Gerutu Feril.


Kiara memapah Feril ke kamar. Untung saja mendapat kamar di lantai 2, jadi tak begitu lama Kiara membantu Feril sudah sampai ke kamar.


Feril langsung jatuh terlentang di ranjang.


"Apa dia pingsan?" Gumam Kiara yang melihat mata Feril yang terpejam. Kiara lalu mengecek suhu badan Feril.


"Normal. Mungkin memang benar hanya pusing." Kiara lalu membantu Feril melepas sepatunya.


"Cepatlah pulang!" Feril ternyata hanya memejamkan matanya.


"Iya iya. Saya pulang."


Kiara mendengus kesal. Kiara segera keluar dari hotel itu.


Sedang di kamar, Feril merasakan tubuhnya panas. Lalu dia pun membuka bajunya dan memilih segera tidur.


Kiara mencari tasnya, diapun menepuk keningnya sendiri. Tadi dia meletakannya di sofa. Dengan terpaksa dia harus kembali ke kamar Feril.


"Untung saja tidak di kunci, bisa bisa aku diusir lagi. Kalau begini kan aku bisa keluar masuk tanpa diketahuinya." Kiara membuka pintu kamar itu perlahan. Dan berjalan mengendap endap, seminimal mungkin tidak menimbulkan suara.


"Astaga.!" Decak Kiara dengan suara yang sangat pelan. Kiara syok apa yang telah dilihatnya. Seorang wanita cantik sedang melepas satu per satu bajunya sendiri di samping ranjang. Kiara lihat Feril sedang tidur.


"Wanita ini pasti ingin berbuat jahat pada Feril. Aku akan menghentikannya." Ucap Kiara dalam hati.


Kiara mengendap endap mengambil tasnya dan segera menghubungi nomor darurat polisi.


"Hei,!!" Teriak Kiara. Wanita itu terkejut saat melihat Kiara.


"Bagaimana kamu bisa masuk?" Wanita itu tampak ketakutan.

__ADS_1


"Cepat pergi atau kau akan ditangkap polisi." Kiara menunjukan panggilannya yang sudah tersambung.


Wanita itu langsung menyambar bajunya dan memakai sekenanya dan langsung kabur. Kiara segera menutup pintu kembali dan menguncinya.


Kiara memutuskan untuk menunggui Feril saja malam ini. Kiara membenahi selimut Feril dan menutupi tubuh Feril hingga ke dada.


Karena belum mengantuk, Kiara memilih untuk bermain ponsel di sofa. Tak lama kemudian, tampak tidur Feril tidak tenang. Feril menendang selimutnya. Feril berguling kesana kemari mencari kenyamanan.


Feril kemudian bangun terduduk, dia tak menyadari kalau ada Kiara. Feril merasa panas, dia akan membuka celananya.


"Pak Feril kenapa?" Kiara meraih tangan Feril. Feril membuka matanya, menatap Kiara sayu.


"Panas." Jawab Feril dengan bibir bergetar.


Kiara merasakan tubuh Feril yang dingin. Keringat membanjir di pelipisnya. Kiara mengcilkan lagi suhu AC. Namun tak membuat Feril nyaman juga. Kiara membantu Feril untuk berbaring lagi. Kiara mengelap keringat pada wajah juga tubuh Feril.


"Aku butuh kamu, Kiara." Desis Feril.


"Iya, aku disini. Tenanglah, kembalilah tidur." Kiara mengusap kepala Feril.


Feril yang merasakan sentuhan Kiara merasa sangat nyaman. Feril ingin lebih. Kiara yang duduk di ranjang di amping Feril terkejut saat tangan Feril menariknya dalam dekapan Feril.


"Ahh, kamu mau apa? Lepasin aku." Kiara berusaha bangun.


Pikiran Kiara melayang mengingat kejadian tadi. Dia memang selalu diusir, dan tadi juga ada wanita yang ingin menjebak Feril. Kiara berhenti berfikir saat merasakan sensasi aneh saat Feril menghisap lehernya.


"Ahh." Suara Kiara semakin membangkitkan hasrat lelaki Feril.


Feril mengubah posisinya menjadi menindih Kiara. Belum juga Kiara sempat berontak, kedua tangannya sudah di pegang erat oleh Feril. Feril kembali memberi tanda kemerahan di bawah leher Kiara.


Karena baju yang Kiara gunakan potongan kerahnya yang rendah sedikit mengekspos dadanya. Feril menjilat, menghisap bahkan menggigit di bagian dada dan leher Kiara.


Kiara merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan. Dia juga menginginkan yang lebih. Tangan Feril menyusup ke dalam baju Kiara, bermain di gundukan kembar milik Kiara.


Tak puas dengan itu, Feril segera membuka baju Kiara, dan melepas juga branya. Terpampanglah tubuh bagian atas Kiara yang polos. Feril menyergapnya dengan rakus. Kiara dibuat kelimpungan merasakan nikmatnya.


Bahkan Kiara menekan kepala Feril agar hisapannya semakin kuaogt. Entah kaplbihan Feril melakukannya, Feril sudah tak memakai apapun. Tangannya dengan lihai juga melucuti pakaian Kiara yang masih tersisa.


Susah sekali untuk masuk, dan dengan satu hentakan keras terakhirnya Feril berhasil menerobos pintu kenikmatan yang tadi tertutup rapat.


Kiara menjerit kesakitan. Feril berusaha menahannya saat Kiara mencengkeram erat bahunya. Feril memberi ciuman dan ******* pada bibir Kiara. Agar wanitanya bisa rileks lagi, dan kembali merasakan kenikmatan ini.


"Kau milikku Kiara." Ucap Feril kemudian memulai permainannya. Maju mundur perlahan, untuk menyesuaikan dengan milik Kiara yang berdenyut, memberi kenikmatan yang tak ada bandingannya kepada senjata Feril.

__ADS_1


"Ohh, Kiara milikmu sangat nikmat."


Kiara sudah bisa merasakan nikmatnya. Apalagi saat Feril menghujamnya begitu dalam. Kiara ingin merasakannya lagi dan lagi.


Feril mempercepat pergerakannya, membuat Kiara semakin mendekati puncaknya. Akhirnya keduanya keluar bersamaan. Feril menggulingkan tubuhnya ke samping Kiara, mendekap Kiara. Bukan hanya mendekap, tapi bibir Feril tak dapat berhenti memberi sentuhan untuk Kiara.


Bibirnya terus bermain di dada Kiara. Membuat Kiara kembali melenguh nikmat.


Feril mengulangi hubungan terlarang mereka hingga beberapa kali. Kiara yang terlampau lelah langsung terlelap saat permainan terakhir berakhir. Begitu pula dengan Feril.


Matahari sudah menjulang tinggi, Feril dan Kiara masih asik bergelung di bawah selimut mencari kehangatan. Kalau tidak karena suara bising ponsel, Feril tidak akan bangun.


Feril mencari ponselnya, ternyata ada di lantai. Masih berada di saku jasnya yang semalam.


'Gani calling'


"Halo."


"..."


"Kau atasi pekerjaan kantor. Saya tidak akan masuk kerja hari ini."


"..."


"Jangan banyak tanya. Dan iya lagi, Kiara sudah ijin ke saya dia tidak enak badan. Jadi dia libur hari ini dan besok." Tegas Feril lalu mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Gani.


Feril meletakan ponselnya ke nakas. Lalu menatap tubuhnya yang polos. Dia ingat sekali dengan kejadian yang semalam.


Lalu menatap Kiara yang masih terlelap. Feril kemudian kembali masuk ke dalam selimut. Memeluk tubuh Kiara. Kegundahan merasuk ke hatinya.


....


Kiara sudah terlihat lebih segar, setelah mandi. Kiara melihat Feril yang sepertinya sedang banyak pikiran. Kiara merasa jika kejadian semalamlah yang menjadi masalah untuk Feril.


"Fer, apa yang kamu pikirkan.??" Tanya Kiara tiba tiba yang sedikit mengejutkan Feril.


Feril tak menjawab hanya memaksakan sebuah senyum untuk Kiara.


"Kamu tidak perlu bertanggung jawab atas kejadian semalam. Aku yang menyerahkan diriku untuk menolongmu. Lagi pula aku sedang tak dalam masa subur, ini hanya sekali aku tidak akan hamil. Aku melepasmu dari tanggung jawab ini. Ya sudah aku pergi."


Kiara segera keluar dari kamar itu. Agak sedikit menyakitkan baginya karena dobel sakitnya. Semalam mereka melakukan berkali kali. Dan ditambah lagi Feril yang nampak gelisah. Itu artinya selama ini Feril tak mencintainya tulus. Pasti hanya sebuah maksud tertentu. Itulah yang ada di dalam benak Kiara.


Kiara akan melupakan kejadian ini. Bersikap biasa saja, seperti tak pernah terjadi apapun.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2